
Andre duduk di ruang tamu bersama papanya, yang memandangnya dengan pandangan serius. Mereka berdua baru saja mengetahui fakta bahwa Alaska tidak hanya tinggal di apartemen, tetapi juga diam-diam bersama seorang perempuan. Andre merasakan kemarahan memuncak di dalam dirinya, dan ekspresinya menjadi tegang.
Papanya memulai pembicaraan dengan penuh kehati-hatian, "Andre, aku harus memberitahumu sesuatu yang mungkin sulit untuk diterima. Seseorang memberi tahu aku bahwa Alaska tinggal di apartemenmu, dan dia bukan sendirian. Dia tinggal bersama seorang perempuan."
Andre merasa seperti dunia runtuh di hadapannya. Rasa amarah membakar di dadanya, dan suaranya penuh dengan kekecewaan, "Apa? Dia tinggal bersama seorang perempuan? Kenapa dia tidak memberi tahu aku tentang ini? Bagaimana dia bisa melakukan ini? Aku merasa sudah tidak memiliki martabat lagi sebagai seorang kakak!"
Papanya mengerti kemarahan dan kekecewaan yang dirasakan oleh Andre. Dia mencoba menenangkan putranya dengan penuh pengertian, "Anakku, aku tahu perasaanmu. Namun, kita harus tenang dan mencari tahu lebih banyak tentang situasi ini sebelum kita membuat kesimpulan. Mungkin ada penjelasan yang belum kita ketahui."
Andre tetap marah dan frustrasi, tapi dia merasa perlunya mendengarkan nasihat papanya. Dia menghela nafas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, Papa. Aku akan mencoba mengatasi emosi ini dan berbicara dengan Alaska secara langsung. Tapi, aku merasa sangat terluka dan kecewa."
__ADS_1
Papanya mengangguk, menunjukkan empati. "Andaikan begitu, Andre. Aku mendukungmu untuk menyelesaikan masalah ini dengan bijaksana. Jaga pikiran terbuka dan bicarakanlah perasaanmu dengan Alaska. Mungkin ada alasan yang bisa dia berikan. Ingatlah, persahabatanmu dengan Alaska telah bertahan lama, dan mungkin ada hal-hal yang harus kita pahami lebih dalam."
Andre mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan perasaan marah dan kecewa. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk menghadapi situasi ini dengan kepala dingin dan mencari pemahaman yang lebih dalam. Dalam hatinya, dia berharap bisa menyelesaikan masalah ini dengan Alaska dan memulihkan kepercayaan mereka satu sama lain.
Andre duduk di ruang tamu, gelisah dengan rencananya untuk menjemput Alaska dan membawanya pulang secara paksa. Dia merasa frustasi dan ingin mendapatkan dukungan dari papanya. Tapi sebelum dia bisa mengutarakan rencananya, mamanya tiba-tiba muncul dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Andre dan papanya saling pandang, terkejut dengan pengetahuan mamanya tentang rencana mereka. Andre mencoba menjelaskan, "Mama, aku tahu ini terdengar drastis, tapi aku khawatir dengan keadaan Alaska. Aku ingin membantu dan melindunginya."
Mamanya mengangguk, memahami kepedulian Andre, tetapi dia mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Andre, aku mengerti perasaanmu. Tapi sebagai seorang ibu, aku juga mengerti bahwa setiap orang memiliki kebebasan dan hak pribadi mereka. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk hidup sesuai dengan keinginan kita. Alaska harus diberikan kebebasan untuk membuat keputusan dan hidup dengan bebas tanpa kekangan dari siapapun."
__ADS_1
Andre merasa dilematis. Dia mencoba merangkul pemikiran ibunya, meskipun hatinya masih penuh kekhawatiran. "Mama, apa yang seharusnya aku lakukan? Aku khawatir dengan Alaska. Aku takut dia terluka atau merasakan kesulitan."
Mamanya mendekat dan memegang tangan Andre dengan penuh kasih sayang. "Cintailah Alaska dengan ikhlas dan dukunglah dia dalam perjalanan hidupnya. Bicarakan perasaanmu dan kekhawatiranmu dengan dia, tetapi akhirnya keputusan hidup ada di tangan Alaska sendiri. Kita harus menghormati itu."
Andre merenung sejenak, merasakan kebijaksanaan dan kehangatan dalam kata-kata ibunya. Dia tahu bahwa mamanya berbicara dari hati yang penuh pengalaman dan cinta. Dengan hati yang lebih tenang, Andre mengangguk, "Terima kasih, Mama. Aku akan menghormati keputusan Alaska dan tetap menjadi teman yang mendukungnya dalam perjalanan hidupnya."
Papanya menambahkan dengan nada lembut, "Andre, kita harus belajar menerima bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup sesuai dengan pilihannya sendiri. Mari kita dukung Alaska dengan cinta dan kesetiaan, tanpa memaksakan kehendak kita."
Andre merasakan kedamaian dalam kata-kata papanya dan mamanya. Meskipun hatinya masih penuh kekhawatiran, dia tahu bahwa dia harus melepaskan kendali dan membiarkan Alaska menemukan jalannya sendiri. Bersama dengan dukungan keluarganya, dia berharap Alaska dapat hidup dengan bebas dan bahagia, tanpa kekangan dari siapapun.
__ADS_1