Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
1. PSK 01_01. Narasi.


__ADS_3

Ep 1 narasi.Ketika Surga dan Bumi belum dipisahkan. Ketika masih ada 2 matahari dan 2 bulan. Ketika matahari menjadi Bintang Utara dan bulan menjadi Bintang Pembajak. Sisa dari pecahan bintang menjadi manusia. Bintang yang lebih besar mewakili penguasa. Yang terbesar dari antara mereka menjadi Raja Jinheung, mengangkat sebuah kerajaan yang lemah bernama Silla menjadi kerajaan yang besar.


Ketujuh bintang yang paling terang dalam Ursa major juga dikenal sebagai pembajak.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Raja Jinheung (540-576) adalah raja ke-24 dinasti Silla. Satu dari Tiga Kerajaan di Korea. Dia mengikuti Raja Beopheung(514-540) dan diikuti Raja Jinji (576-579). Jinheung adalah keponakan Raja Beopheung. Raja Jinheung adalah salah satu Raja terbesar dinasti Silla dan bertanggungjawab memperluas wilayah Silla. Dia dan Raja Seong, Raja ke-26 dari Baekje, bertempur diatas lembah sungai Han. Raja Jinheung memenangkan pertempuran dan berhasil memperluas wilayah Silla. Dia dikenang oleh rakyat Korea sebagai salah satu penguasa terbesar Silla dan Korea.


Tanpa pengawalan Raja Jinheung melakukan pemeriksaan wilayah. Raja Jinheung menunggang kuda, menjelajahi wilayah kerajaan Shilla. Beliau berkuda dengan gagahnya. Melewati padang rumput dan juga hutan belantara. Tanpa terasa beliau sudah sampai di perbatasan. Ini adalah perbatasan Shilla dengan Baekje.


🌺🌺🌺🌺


Pada saat yang sama, Gukseon Moon Noh sedang melakukan persembah di gunung jonggak. Moon Noh ditemani dua pendeta wanita dan beberapa pendeta pria. Moon Noh duduk menghadap diagram pakua yang tertulis di dinding bukit. Disaat mulai Moon Noh membuka kitab suci, belum lama Moon Noh membaca mantra tiba - tiba diagram pakua di dinding bukit itu retak.


🌺🌺🌺🌺


Di saat yang sama Raja Jinheung mendapat serangan. Dua anak panah melesat kearahnya, Raja Jinheung menarik tali kekang kudanya, sepasang kaki depan tersebut terangkat ke atas. Akhirnya dua anak panah yang melaju tersebut melukai kedua kaki depan kuda Raja Jinheung.


Raja Jienhung jatuh dari kuda, beliau terguling guling di tanah. Beliau bangkit mencabut pedangnya.


Satu pasukan berpakaian hitam, memakai cadar hitam datang mengurung Raja Jienhung.


Raja Jienhung bertanya sambil terus memperhatikan keadaan, "Kalian dari Baekje?"


"Benar!" Jawab satu dari mereka.


"Kami datang untuk membalaskan dendam mantan Raja kami*" Jawabnya lagi.


[*Raja Seong dari Baekje, dikalahkan oleh Shilla dalam peperangan tahun 554 A.D.]


Kemudian, Satu dari pasukan itu memberi aba aba.


"Bunuh dia!" Teriak salah satu prajurit.


Raja Jinheung dikeroyok, dan dikelilingi oleh pasukan berjubah hitam itu. Raja Jinheung terdesak, Beliau terjatuh akibat tidak kuat menahan serangan pedang, tatkala pedang musuhnya kembali menyerang, beberapa anak panah melesat ke arah pasukan berjubah hitam tersebut.


Tiga orang prajurit bertopeng datang menyelamatkan Raja Jinheung, pemimpin dari tiga prajurit bertopeng melompat menerjang ke arah pasukan berjubah hitam. Raja Jinheung hampir saja tertebas pedang, dengan cepat prajurit bertopeng itu menarik Raja Jinheung ke belakang, sedangkan dia melompat diatas Raja dan bersiaga dengan pedangnya.


Dua orang rekan prajurit bertopeng segera bertindak, mereka menyerang pasukan berjubah hitam. Raja Jinheung lagi lagi dalam bahaya. Dengan bersenjatakan cambuk berpisau, prajurit bertopeng itu menghabisi seluruh pasukan berjubah hitam.


Prajurit bertopeng itu memandang, mayat pasukan berjubah hitam, dia membuka helem perangnya. Dia berbalik ke arah Raja Jinheung, kemudian membuka topengnya. Ternyata dia adalah seorang perempuan. Dia adalah Mi Shil.


Si pejuang bertopeng Mi Shil yang meminta pengampunan pada Raja Jinheung karena ketidakmampuan mereka menjaga Raja. Raja berkata dia tidak bersalah karena ini karena dia keras kepala dan tidak mendengarkan Mi Shil, seharusnya dia tidak memeriksa perbatasan sendirian. Mi Shil ingin membawa Raja kembali ke istana tapi Raja menolak. Raja ingin cucunya Baek Jeong melihat Bukhansan diseberang Silla.


Dua orang rekan prajurit bertopeng berlutut di depan Raja Jinheung. Disusul oleh Mishil berlutut di depan Raja Jinheung.


"Yang Mulia!, Yang Mulia!, Ini adalah kelalaian saya." Serentak mereka bertiga memohon ampun.


"Jangan begitu, Aku tidak menuruti kata-katamu dan hampri tewas." Raja Jinheung berdiri dengan tenang di depan ketiga prajuritnya.


"Anda seharusnya tidak berkuda sendirian di perbatasan, Yang Mulia. Sudilah Anda menghentikan perjalanan dan kembali ke istana." Sambil berlutut Mi Shil memohon.


"Tidak." Dengan tersenyum Raja Jinheung menjawab.


"Tapi, Yang Mulia!!" Mishil mendongakan kepala dalam keadaan berlutut.


"Aku akan mengajak penerus takhta Baekjeong menuju Gunung Bukhan, dan memperlihatkannya keagungan Shilla." Raja Jinheung berkata dengan penuh wibawa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bukhansan atau Gunung Bukhan adalah gunung di sebelah utara Seoul. Seoul dibatasi oleh gunung Bukhan. Di puncak gunung ini Raja memuji semua usaha yang dilakukan anak buahnya dalam menaklukkan Bukhansan. Raja memuji Eul Jae yang berhasil mengatur dan menstabilkan kondisi istana, memuji Se Jong dan Noribu atas keberhasilan mereka mengatur rumah tangga istana. Memuji Mi Shil sebagai Kapten Kolonel Pasukan Wanita Hwa Rang yang menjaga keluarga Raja. Memuji Seol Won Rang dan Moon Noh, tapi Moon Noh tidak hadir. Raja menyerahkan Silla dalam perlindungan mereka, karena keberadaan mereka-lah Silla menjadi seperti ini.


"Tempat kalian berdiri sekarang adalah Shilla ku." Raja Jinheung Penguasa Shilla ke-24 dengan tersenyum, disamping Pangeran Baek Jeong dan Pangeran Geumnyun.


"Dan dimanakah akhirnya?!" Lanjut Raja Jinheung.


"Memanjang dari Hwalchoryeon di utara, menuju Benteng Danghang di barat." Mi Shil menjawab sambil menunduk dengan posisi menghormat.


"Itu semua hasil kerja keras kalian. Kalian membuka Era Baru, Shilla yang baru." Berkata Raja Jinheung memandang keadaan sekitar.


Raja Jinheung memandang ke arah Eul Jae terus memanggilnya.


"Eulje." Panggil Raja Jinheung.


Eul Jae menunduk menghormat.


"Aku memuji usahamu dalam mengatasi konflik Internal." Raja Jinheung memuji.


"Kasih anda tidak terukur, Yang Mulia." Jawab Eul Jae Dae deung.


Pandangan Raja Jinheung beralih ke Se Jong dan Noribu lalu memanggilnya.


"Dan juga, Noribu dan Sejong." Ucap Raja Jinheung.


Keduanya menunduk memberi hormat.


"Kalian berjasa mengatur dan memandu Pemerintahan serta Militer kita. Aku memberikan penghargaan yang sangat besar kepada kalian." Ucap Raja Jinheung.


"Kasih anda tidak terukur, Yang Mulia." Mereka berdua serempak menjawab.


"Dan Mishil." Raja Jinheung mengalihkan pandangannya.


"Iya, Yang Mulia." Mi Shil tersenyum kemudian membungkuk dan menjawab.


"Sebagai wonhwa*, Kamu memimpin Hwarang dan mengembangkan bakat baru." Raja Jinheung mengucap.

__ADS_1


[*Whonhwa adalah Ketua Wanita dari wHwarang (Prajurit Shilla)]


"Seolwon." Raja Jinheung beralih pandangan ke Seol Won dan memanggil.


"Iya, Yang Mulia." Seol Won menunduk hormat.


"Dan, Munno." Raja Jinheung memanggil Moon Noh.


"Munno masih ada di Jungak (Gunung Suci) untuk menyelasaikan upacara kita." Jawab Mi Shil dengan menunduk hormat.


"Mishil, Seolwon, Munno. Aku bangga atas kerja keras kalian." Raja jinheung melanjutkan.


"Kasih anda tidak terukur, Yang Mulia." Mi Shil dan Seol Won menjawab serempak.


"Mulai saat ini, Shilla akan berada di tangan kalian. Karena usaha kalian semua Mimpi ku selama ini, Yang terlihat mustahil, sekarang akhirnya telah mendapat hasil." Ucap Raja Jinheung.


"Kasih anda tidak terukur, Yang Mulia." Semua yang hadir di puncak gunung Bukhan serempak menjawab.


Raja berkata pada cucunya Baek Jeong yang kelak menjadi Raja Jinpyeong untuk melanjutkan harapannya, bahwa orang-orang yang hadir di sini sekarang akan membantunya mewujudkan mimpinya. Tapi Pangeran Geum Ryun, kelak menjadi Raja Jinji merasa tidak senang. Pangeran Geum Ryun adalah putra ke-2 Raja Jinheung.


"Baekjeong*. Kamu akan mewarisi Takhtaku, dan mewarisi mimpi yang lebih besar. Apa kamu paham?" Raja Jinheung berkata, mengelus kepala Pangeran Baek jeong yang berdiri disampingnya.


[*Penerus Kerajaan adalah Baekjeong ~(Cucu Jinheung, akan menjadi Raja Jinpyeong)]


"Ya, Yang Mulia." Pangeran Baek Jeong menjawab, memandang kakeknya dan tersenyum.


Raja Jinheung mengangguk, kemudian pandangannya memutar ke arah seluruh pengikutnya.


"Baiklah. Semua orang yang ada di sini, akan mendukung mimpimu. Tidak akan ada yang melarangmu memerintah mereka." Raja Jinheung tertawa.


Mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Pangeran Geumnyun ~(Anak ke-2 Jinheung, Akan menjadi Raja Jinji) merasa iri, dia merasa dialah yang berhak atas tahta bukannya keponakannya.


Mi shil memlihat perubahan pada wajah Pangeran Geumnyun, dari tenang berubah geram,..


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dalam perjalanan kembali ke istana, Mi Shil menemani Raja Jinheung di dalam keretanya. Mi Shil berkata kalau bukan Raja Jinheung pasti tidak akan memiliki mimpi besar seperti ini. Raja berkata Mi Shil juga dapat mencapai mimpi seperti itu. Tiba-tiba kereta berguncang dan teh Raja Jinheung tumpah. Mi Shil memeriksa dan ternyata salah seorang pemegang tandu tegelincir, Mi Shil memberi isyarat dengan matanya agar orang itu dibunuh. Kemudian dia berkata pada Raja bukan apa-apa, cuma masalah kecil.


Di dalam tenda Raja jinheung, lady Mi Shil menuangkan teh dan menyajikannya kepada Raja Jinheung. Kemudian berkata.


"Jika bukan karena yang mulia bahkan dalam mimpi terliar sekalipun hal ini tidak mungkin terjadi." Mi Shil memuji Raja.


Raja Jinheung duduk tenang menghadap meja kecil di dalam tenda, setelah meneguk teh lalu menjawab.


"Apakah seperti itu menurutmu?." Meletakan cangkir teh.


"Tentu saja seperti itu." Sambil menuangkan teh kembali Mi Shil menjawab.


"Dan bagaimana kamu akan mencapai itu?." Raja jin heung menyahut.


Raja Jinheung tertawa, mengambil cangkir teh, mengangkatnya... Setelah cangkir itu dekat dengan mulut, tandu tersebut tergoncang dan tumpah lah teh dalam cangkir Raja Jinheung.


"Apa Anda Baik-baik saja?" Mi Shil mengambil sapu tangan, dan membersihkan tumpahan teh di pakaian Raja Jinheung."


"Ohh... tidak apa-apa. Coba lihat apa yang terjadi." Raja Jinheung tertawa kemudian menjawab.


"Ya, Yang Mulia." Jawab Mi Shil dengan panik.


Dengan cekatan Mi Shil membuka jendela tandu. Dia melihat pengawal sedang memegang penyusung tandu yang terjatuh. Pengawal tersebut melihat ke arah lady Mi Shil.


Kemudian lady Mi Shil memberi tanda dengan gelengan kepala. Seolah mengerti dengan perintah lady Mi Shil, pengawal tersebut memenggal kepala penyusung tandu di tempat itu juga.


Kemudian tandu kembali diangkat dan berjalan, wajah sadis lady Mi Shil masih terpampang di jendela tenda. Setelah berjalan normal beberapa saat, lady Mi Shil melapor kepada Raja Jinheung.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Yang Mulia." Wajah lady Mi Shil penuh senyuman.


Raja Jinheung bercerita tentang pengalamannya ketika berburu dan membunuh harimau dengan pisau kecil. Mi Shil heran bagaimana Raja mampu membunuh harimau hanya dengan belati atau pisau kecil, Raja berkata karena harimau itu menggigitnya, maka ia mampu menusuk tenggorokan harimau itu dengan belati sehingga harimau itu mati. Dia juga berkata bahwa saat berburu ia pergi sendirian tapi dia berhasil meyakinkan orang untuk mengikutinya sehingga dengan bantuan mereka, ia berhasil dalam perburuan. Penguasa tidak diberikan oleh surga tapi rakyatlah yang memberikannya. Mi Shil berterima kasih atas pelajaran hidup yang dalam dari Raja.


Lady Mi Shil kembali menyajikan teh kepada Raja Jinheung.


"Saat kecil, aku pernah diterkam Harimau." Raja Jinheung meminum tehnya, meletakan cangkir, kemudian berkata.


"Bagaimana Saya bisa tidak tahu Kisah keberanian yang terkenal itu?!" Ucap lady Mi Shil.


"Aku menggunakan belati ini untuk melakukannya. Apakah kamu mengetahui ini?" Raja Jinheung mengambil belati kecil miliknya, lalu tersenyum.


"Maksud anda, dengan belati kecil ini?" Lady Mi Shil setengah tidak percaya.


"Akan sangat sulit untuk melukai Harimau dengan belati kecil ini." Raja Jinheung bercerita.


"Lalu?!" Jawab Mi Shil.


"Harimau itu menggigit lengan ku. Jika aku mencoba melepaskan diri dari rahangnya, Aku pasti akan kehilangan lenganku." Raja Jinheung melanjutkan.


Mi Shil menyimak pembicaraan Raja Jinheung dengan mulut terbuka.


"Tapi aku mendorong lenganku ke dalam mulut Harimau." Raja Jinheung melanjutkan.


"Apa?!" Mi Shil terkejut.


"Dan dengan belati ini... Aku menebas tenggorokan harimau itu." Raja Jinheung menyahut.


"Anda mampu membuat keputusan yang cepat dalam situasi itu?" Tanya Mi Shil lagi.


"Aku pikir itu hanya karena kecemasan yang timbul saat itu. Binatang itu membunuh seorang kawan saya Tapi, orang-orang mungkin tidak akan mempercayai hal itu. Jadi aku selalu memberitahu bahwa aku menggunakan pedang besar untuk melakukannya." Raja Jinheung tersenyum.

__ADS_1


"Tapi, Kamu tahu apa yang menghiburku? Saat lengan seseorang berada di dalam mulut Harimau... Mungkin itu adalah takdir seorang Raja." Raja Jinheung meneguk teh.


Mi Shil tertegun.


"Kadang-kadang, Harimau itu bisa berarti Baekje, bisa juga berarti Goguryeo, Atau bahkan para bangsawan di dalam istana. Aku selalu memikirkan hari itu, saat peristiwa itu terjadi." Raja Jinheung melanjutkan.


"Itu adalah keberanian yang patut dikagumi... Sehingga Yang Mulia mampu memimpin Cahaya menuju era kita." Mi Shil kemudian menyahut.


"Jika hanya butuh keberanian, orang lain akan mudah merebut warisanku." Jawab Raja Jinheung.


"Lalu... Apakah itu karena pemikiran Yang Mulia? Mungkin saja!?. Apakah anda... Melimpahkan semuanya kepada Takdir?!" Mi Shil bertanya.


"Baik itu Mahkota kerajaan atau apapun. Ketidak percayaan pada takdir akan membuat seseorang menjadi buta." Raja Jinheung menjawab.


"Kalau begitu... Apakah itu karena sifat Yang Mulia, untuk tetap waspada terhadap bahaya yang mendekat?" Mi Shil bertanya.


"Tidak seperti itu." Ucap Raja Jinheung.


"Lalu..." Mi Shil bertanya.


"Itu karena Rakyat." Jawab Raja Jinheung.


"Saat aku berhadapan dengan Harimau, Aku sendirian. Tapi mulai hari itu. Rakyat mulai menerima dan mengikutiku." Raja Jinheung menatap lady Mi Shil.


"Dalam setiap rintangan yang kuhadapi. Aku memiliki ratusan orang untuk membantuku menghadapi binatang buas, dan Ratusan orang bertambah keesokan harinya. Pada akhirnya, keberanian, keburuntungan, kecerdasan... Mereka semua bergabung denganku Sehingga aku mampu melawan binatang buas apapun." Raja Jinheung melanjutkan.


"Ini bukan karena takdir dari tuhan yang membawa kejayaan bagi penguasa. Tetapi karena rakyatnya. Dia yang bisa membawa kepercayaan rakyat... Akan menciptakan era yang baru." Raja Jinheung tersenyum.


"Selir anda yang rendah ini sekali lagi mendapat pelajaran yang berharga." Mi Shil tersenyum.


Setelah berbincang bincang cukup lama, Raja Jinheung merasakan dadanya sesak, kemudian terbatuk batuk, tangan kanannya mendekap mulutnya. Mi Shil mengambil sapu tangan, menyerahkannya kepada Raja Jinheung. Raja Jinheung mengambil sapu tangan Mi Shil kemudian menggunakannya untuk menutupi mulutnya.


Sapu tangan itu, telihat banyak bercak darah dari Yang Mulia Raja Jinheung.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kembali ke Gyeongju (Ibukota Silla). Mi Shil kaget dengan kondisi Raja yang memburuk. Raja Jinheung meminta Mi Shil menyediakan kertas dan tinta. Raja mendiktekan surat wasiatnya kepada Mi Shil.


"Aku memutuskan bahwa penerusku adalah cucuku Baek Jeong. Dengan Eul Jae sebagai penasihat. Mengenai Pangeran Geum Ryun dan Sae Ju Mi Shil, mereka tidak dapat mempengaruhi keputusan dalam politik pemerintahan. Mereka harus mengikutiku dalam keabadian*." Raja Jinheung berkata.


[ *bukan ikutan mati tapi menjalani hidup agamawi. Silla adalah negara dengan agama Buddha, jadi mereka jadi hwesio atau biksuni ]


Mi Shil yang sedang menulis kaget dan tercekat. Raja bertanya apa ia merasa bahwa itu tidak adil.


Mi Shil membantah bahwa Raja akan pergi, Mi Shil berkata ia akan meninggalkan hidup duniawi. Raja bertanya apa Mi Shil akan mematuhi perintahnya.


Mi Shil berkata ia akan menjalankan agama Buddha dan berdoa untuk Raja. Mi Shil meninggalkan kediaman Raja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Raja memanggil Eul Jae dan Baek Jeong ke kediamannya. Kemudian Seol Won Rang datang.


Raja berkata tentang testimoninya pada Mi Shil. Seol Won Rang berkata agar Raja tidak berkata hal-hal yang tidak benar.


Raja berkata Seol Won Rang dan Moon Noh pasti tahu kondisi kesehatannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Raja menurunkan titah rahasia pada Seol Won Rang dan memintanya untuk mendekat dan menerima surat.


Raja meminta Seol Won Rang untuk membacakan perintahnya. Raja memerintahkan agar Mi Shil dibunuh. Seol Won Rang kaget.


Raja berkata Mi Shil tidak akan pernah mengikuti perintahnya sesuai testimoninya. Saat ia hidup, Mi Shil adalah harta berharga untuk Silla.


Tapi setelah ia meninggal, Mi Shil adalah bencana yang akan mengancam Silla. Raja bertanya apa Seol Won Rang akan mematuhinya, dan Seol Won Rang bersumpah untuk mematuhinya.


Raja merasa tenang. Seol Won Rang mengambil surat perintah dan pergi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Raja batuk keras dan menolak saran Kasim untuk memanggil dokter istana. Raja heran mengapa cucunya Baek Jeong dan Eul Jae belum datang setelah dipanggil sekian lama.


Kasim berkata mereka akan segera datang. Raja meminta Kasim dan dokter istana pergi, dia hanya ingin melihat Baek Jeong.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Seol Won memberikan perintah rahasia itu pada Mi Shil dan memintanya untuk membaca perintah itu.


Seol Won* berkata bahwa Raja sudah terlalu jauh, Mi Shil berkata Raja adalah Raja besar dinasti Silla jika Raja tidak bijaksana tidak mungkin mencapai posisi ini.


[*Seol Won Rang adalah kapten ke 9 dari pasukan Hwa Rang dan dia adalah kekasih Mi Shil.]


Seol Won bertanya pada Mi Shil apa yang akan dilakukannya, Mi Shil berkata apa lagi yang bisa dia perbuat.


Mi Shil heran mengapa Eul Jae belum juga tiba di istana. Pendeta Moon Noh masih berdoa di gunung, Mi Shil berkata ini kehendak langit, dia meminta Seo Won Rang bersiap.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara itu Moon Noh di gunung berdoa, membaca bintang, dan mencoba melihat apa yang akan terjadi.


bersambung.


********"***"*"*"**************


ikuti Balada Perjaka Tua, Gusku Suamiku dan Legenda Ponorogo.

__ADS_1





__ADS_2