Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
22. PSK 04_02. Eksekusi.


__ADS_3

~ Feudal Palace ~


Berbeda dengan benteng Chen Daren yang terbuat dari bangunan semi permanen di gurun, Istana feodal kementrian pertahanan ini sudah terbuat dari bangunan permanen. Disinilah seluruh pedagang yang tertangkap dikumpulkan. Dan pedagang yang ditawan di benteng nantinya akan dieksekusi di Istana feodal ini.


Eksekusi pedagang juga bermacam macam, mulai hukum cambuk sampai hukuman mati tergantung dari tingkat kesalahan yang diperbuat.


Di dalam kurungan yang terbuat dari kayu, Deok Man dan para Pedagang di pisah menjadi beberapa kelompok. Deok Man di kurung bersama So Hwa dan para pelayan wanita, paman Cartan dan pedagang lainnya. Chil Sook ditawan dalam kurungan lainnya berisi para lelaki.


"Ibu, ibu! Ibu..." Deok Man berteriak. Deok Man panik melihat So Hwa yang gemetar ketakutan tampak kesakitan. So Hwa gemetar lemas, dalam dekapan Deok Man. Pada saat penjaga melintas di depan sel tahanan, Deok Man segera mendekat, dan memohon dengan gerakan seperti menyembah kepada prajurit penjaga itu.


"Tuan tuan Saya mohon. panggilkan tabib." Deok Man memohon kepada Prajurit penjaga, sambil menyembah. Prajurit berhenti di depan sel, dan memandang Deok Man.


"Kalian akan segera mati, Kenapa masih butuh tabib?!" Prajurit itu menjawab Deok Man, kemudian berlalu dan masuk barisan berjajar di depan meja kerja Chen Daren.


"Aku mohon padamu! Daren! panggilkan Tabib!" Deok Man berteriak sambil melambai lambaikan tangannya ke arah prajurit yang pergi tadi.


"Peduli amat." Prajurit tersebut berhenti sebentar, menoleh ke arah Deok Man dan kembali ke barisan sambil memalingkan kepalanya.


"Ibu!" Deok Man memandang ibunya yang ketakutan dan segera mendekat ke arah ibunya, memeluknya.


"Biarkan kami keluar, panggil tabib! Daren!" Paman Cartan berteriak panik ke arah para prajurit. Melihat kondisi So Hwa paman Cartan ikut ikutan panik, kemudian duduk di dekat Deok Man yang memeluk ibunya.


"Bertahanlah. Dia hanya melihat api. Kenapa dia seperti ini?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man. Paman Cartan mengambil sapu tangan dari balik bajunya, dan diserahkan kepada Deok Man.


"Waktu aku bayi, ada api besar, dan menurut Tabib, itu membuat paru-parunya rusak." Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan, dia meraih sapu tangan dan mengelap keringat di dahi So Hwa. Chil Sook dengan serius menyimak percakapan Deok Man dan paman Cartan dari balik jeruji tahanan sebelahnya.


"Dan kamu? Kamu tidak apa-apa?!" Paman Cartan bertanya, sambil memegang pundak Deok Man.


"Iya. Tapi, sejak hari itu... batuknya memburuk" Deok Man memandang paman Cartan. Tiba tiba So Hwa mengerang terbatuk batuk.


"Dia sering kesulitan bernafas, dan juga, setiap kali dia melihat api... dia selalu..." Deok Man kembali memandang ke arah So Hwa, sambil mengoyang goyang pundaknya.


"Ibu!" Deok Man kembali berteriak panik, melihat So Hwa kembali gemetar terbatuk batuk.


"Daren! Aku mohon, biarkan kami keluar!"Deok Man berteriak keras, berdiri dan memukul mukul pintu sel tahanan. Sedangkan Chil Sook kembali mengamati wajah So Hwa yang semakin terasa tidak asing baginya.


🌺🌺🌺


Di lantai atas Chen Daren memperhatikan semua yang terjadi di halaman. Dia berdiri dengan wajah marah, tangan kanannya memegang dua buah giok yang bertuliskan "Sei (Death)" ~.


"Apa?! Dia membakar semua barang buktinya?!" Chen Daren kaget mendengar laporan kepala prajurit yang menangkap Deok Man dan kawan kawannya.


"Iya, Tuanku." Jawab kepala prajurit yang memberikan laporan.


"Aku akan langsung menghukum mereka!" Yang Chen Daren berkata kepada kepala prajurit.


" Siap." Kepala Prajurit bergegas memimpin jalan.


"Yang Chen Daren segera menuruni tangga. Dengan wajah bengis memantau eksekusi yang dilakukan di halam istana feodal.


Para pedagang telah dikeluarkan dari tahanan. Mereka dipaksa duduk berjajar sambil berlutut. Ada dua belas pedagang yang duduk berjajar menanti hukuman sore itu. So Hwa duduk berlutut sambil bersandar pada Deok Man.

__ADS_1


"Ibu Ibu! Ibu... kamu tidak apa-apa?" Deok Man panik melihat tiba tiba So Hwa, gemetar ter batuk batuk. Deok Man segera memeluk So Hwa dengan erat.


"Tuanku Yang telah hadir!" Pengawal pribadi Yang Chen Daren berteriak. Yang Chen Daren memasuki tempat eksekusi di iringi para prajurit nya. Dua orang dayang sudah berdiri disamping singgasananya.


"Hidup Tuanku! Panjang umur!" Semua pengikut Yang Chen Daren memekik bersama.


Yang Chen Daren duduk di singgasana dengan wajah bengisnya.


"Penggal mereka!" Yang Chen Daren mengangkat tangan dan mengayunkan tangan seperti menebas leher. (Dialek Guangdong)


"Siap." Kepala prajurit menggangukan kepala. (Dialek Guangdong) Kepala prajurit berjalan ke arah pasukannya.


"Penggal semua kriminal!" Kepala prajurit memberi perintah ke semua bawahannya menggunakan dialeg utara.


"Siap!" Serentak seluruh pasukan memegang senjata, bergegas ke arah para pedagang yang berlutut.


"Ajeosshi... Ajeosshi!!" Deok Man menyaksikan paman Cartan dan tiga pedagang lainnya di seret dimasukan ke dalam alat eksekusi.


Empat orang pedagang dengan cepat ditangkap dan kepalanya dimasukan ke alat eksekusi berbentuk Guillotine. Paman Cartan termasuk kedalam orang yang akan di eksekusi saat itu.


[Guillotine adalah sebuah alat untuk memancung seseorang yang telah divonis hukuman mati dengan cepat dan 'manusiawi'.]


Dalam suasana tegang Chil Sook bersiap, diam diam dia mengambil pisau kecil khas Hwarang yang tersimpan di balik bajunya.


"Semuanya sudah siap, tuanku." Kepala prajurit memberi laporan kepada Chen Daren yang duduk di singgasana.


Tangan Yang Chen Daren naik ke atas bersiap memberi aba aba eksekusi. Deok Man melihat paman Cartan yang akan dipenggal berteriak lantang.


"Jaga ibuku." Deok Man menyandarkan tubuh ibunya ke arah pedagang berperut buncit.


"Deokman!" Pedagang berperut buncit, melihat Deok Man berdiri dan berlari menuju ke depan. Chil Sook menyaksikan keberanian Deok Man sambil mencengkeram erat gagang pisau kecil khas Hwarang miliknya.


"Sa..saya yang melakukannya" Deok Man berdiri di samping alat eksekusi paman Cartan. Chen Daren memandang tajam ke arah Deok Man. (Dialek Guangdong)


"Apa yang kamu lakukan?!" Seorang prajurit memegang pundak Deok Man dan menekannya. Memaksa tubuh kecil Deok Man untuk berlutut.


"Anda hanya perlu membunuh saya!" Sambil berlutut Deok Man berteriak keras ke arah Yang Chen Daren yang berdiri di depan singgasananya.


"Deokman! Apa yang kamu lakukan?" Paman Cartan yang terbaring di alat eksekusi, berkata pelan kepada Deok Man. Setiap saat kepala paman Cartan bisa terputus bila pisau eksekusi terlepas dari tempatnya.


"Ini bukan tempat untuk membual." Paman Cartan menatap ke arah Deok Man dan berkata pelan. Paman Cartan ingin melindungi Deok Man yang sudah dianggap seperti putri kandungnya.


"Tapi memang seperti itu. Saya yang melakukannya." Deok Man berlutut di samping alat eksekusi paman Cartan. Tubuhnya gemetar, memandang ayah angkatnya itu. Tidak terasa air mata turun di pipinya.


"Aku yang melakukannya,Teh batu itu, Api... Saya yang melakukan semuanya!" Dengan posisi berlutut Deok Man menatap tajam ke arah Yang Chen Daren. (Dialek Utara)


"Apa yang dia bicarakan?!" Yang Chen Daren kebingungan, menatap tajam ke arah Deok Man.(Dialek Guangdong)


"Tuanku, apapun yang dia katakan...." Kepala prajurit yang berdiri di samping Deok Man, menundukan kepala kepada Yang Chen Daren memohon untuk mengampuni kesalahan Deok Man. (Dialek Guangdong)


"Dia hanya anak kecil... Dia mengatakannya tanpa berpikir. Mohon maafkan dia." Paman Cartan juga memohon penampunan atas kesalahan Deok Man dari dalam alat eksekusi.

__ADS_1


"Tidak! Saya yang melakukannya! Mereka tidak salah!" Deok Man berteriak, sambil menggoyangkan telapak tangannya isyarat tidak setuju. (Dialek Guangdong)


"Terjemahkan perkataannya!" Yang Chen Daren menujukan jarinya ke arah paman Cartan, setelah melihat Deok Man.


"Aku bilang terjemahkan... Apa yang kamu tunggu?!" Yang Chen Daren kembali menatap ke arah paman Cartan yang masih tertelungkup terikat di alat eksekusi.


"Dia... bilang, dia bertanggung jawab atas semuanya, dia yang membuat teh balok itu, Jadi anda hanya perlu menghukumnya." Paman Cartan gemetar menjawab pertanyaan Chen Daren, sambil sesekali menoleh ke arah Deok Man.


"Kenapa kamu melakukan itu?" Chen Daren bertanya sambil menunjuk ke arah Deok Man. Deok Man yang tidak mengerti pertanyaan Chen Daren hanya bengong, sambil memandang ke arah Chen Daren dan paman Cartan secara bergantian.


"Dia bertanya kenapa kamu melakukan ini." Paman Cartan berkata kepada Deok Man, menjelaskan pertanyaan yang di ajukan Chen Daren.


"It...itu, maksudku... Jika saya boleh jujur.." Deok Man gemetar duduk berlutut di samping paman Cartan.


"Jangan, Deokman!" Paman Cartan memotong perkataan Deok Man. Paman Cartan mengkhawatirkan keselamatan Deok Man.


"Diam monyet..!" Yang Chen Daren berteriak sambil menunjuk ke arah paman Cartan.


"Karena semua ini tidak masuk akal." Deok Man menarik napas dalam dalam, semua kegugupannya menghilang. Sambil berlutut dengan tenang Deok Man menjawab pertanyaan Chen Daren.


"Terjemahkan?!" Chen Daren kembali menunjukan tangannya ke arah paman Cartan. Chen Daren sama sekali tidak mengerti perkataan Deok Man.


"Dia melakukannya karena... ini semua tidak masuk akal." Paman Cartan dengan gemetar mengartikan perkataan Deok Man kepada Yang Chen Daren.


"Tidak masuk akal?!" Yang Chen Daren berteriak, matanya melotot ke arah Deok Man yang kebingungan dengan bahasa Chen Daren.


"Iya. Semua pedagang melakukan perjalanan selama 12 bulan untuk sampai kesini. Tapi, saat mereka sampai ke sini, mereka di larang berdagang? Itu tidak masuk akal. Semua pedagang akan menyia-nyiakan 2 tahun jika itu terjadi. Mereka akan kehilangan mata pencaharian mereka! Belum lagi cuaca yang buruk di Padang pasir. Bukankah itu benar?! Semua orang di sini hidup dengan berdagang.. Tapi menyuruh mereka pulang tanpa membawa apapun... Itu..." Dengan penuh ketenangan Deok Man menjelaskan padangannya kepada Yang Chen Daren.


"Apa kamu mempertanyakan kebijakanku?!" Yang Chen Daren berteriak marah, matanya melotot dan tangannya menunjuk ke arah Deok Man.


"Deokman. Dia bertanya apakah kebijakan yang dia lakukan patut disalahkan... Deokman. Aku mohon, meminta maaf lah selagi masih bisa!" Paman Cartan gemetar ketakutan dam memandang ke arah Deok Man. Namun bukannya takut Deok Man malah merasa inilah kesempatan untuk menyalurkan pendapat para pedagang yang diberlakukan semena mena.


"Orang yang tidak bisa menjaga kepercayaan rakyat... Juga tidak akan bisa menjaga tahtanya!" Dengan penuh ketenangan dan penuh keberanian Deok Man berteriak keras kepada Yang Chen Daren. Semua pedagang yang mengerti pembicaraan Deok Man terkejut. Mulut mereka serentak terbuka.


"Deokman!" Paman Cartan berteriak ketakutan, mendengar apa yang dikatakan Deok Man, yang dengan terang terangan menyinggung kebijakan seorang penguasa.


"Terjemahkan!" Yang Chen Daren berteriak ke arah paman Cartan yang ketakutan.


"Orang yang tidak bisa menjaga kepercayaan rakyatnya...Tidak akan bisa... naik ke tahtanya." Paman Cartan ketakutan mengartikan ucapan Deok Man kepada Yang Chen Daren.


"Siapa yang mengatakan hal itu? Yang Chen Daren memandang ke arah Deok Man.


"Darimana kamu tahu kalimat itu?" Paman Cartan menatap Deok Man sambil menejemahkah pertanyaan Yang Chen Daren.


"It... itu. Aku membacanya di buku..." Deok Man bergumam pelan, Dia bicara untuk dirinya sendiri kemudian menjawab.


"Saya percaya siapapun yang tidak bisa menghargai rakyatnya....Tidak layak untuk berdiri sebagai Pemimpin. Mungkin dia memiliki banyak pasukan dan menindas orang lain dengan kebijakannya, Tapi dia tidak akan bisa menjadi pahlawan untuk suatu zaman." Deok Man menjawab dengan gemetar, entah kemana perginya keberanian yang dimilikinya tadi. Wajah Yang Chen Daren tampak merah padam, menahan marah. Chen Daren menarik napas kemudian,...


bersambung.


__ADS_1


__ADS_2