
Yang Chen Daren berdiri, mengibaskan tangannya penuh kemarahan. Berjalan menuruni tangga berundak, menuju tempat Deok Man berlutut. Yang Chen Daren berhenti tepat di hadapan Deok Man.
Bergegas Kepala pasukan, berjalan mendekat berdiri di samping Yang Chen Daren, sambil menghentakan tombaknya di tanah.
Yang Chen Daren menurunkan tubuhnya, berjongkok di depan Deok Man yang berlutut. Yang Chen Daren tertawa, Tangan kanannya dimasukan ke dalam balik bajunya, kemudian di keluarkan tepat di depan wajah Deok Man.
Tangan kanan Yang Chen Daren yang tergenggam perlahan lahan di buka, di atas telapak tangannya terdapat dua buah giok berwarna aquamarine dengan tulisan yang menghadap ke bawah.
Deok Man memandang giok itu penuh kebingungan, kemudian memandang wajah Yang Chen Daren.
"Pilihlah satu. Pilih 'Saang (Hidup)' maka kamu dan semua yang ada di sini akan hidup Jika, pilih 'Sei (Mati),' Maka kamu dan semua yang ada di sini akan langsung ke bunuh!" Yang Chen tersenyum mengejek ke arah Deok Man.
Yang Chen memandang Deok Man dengan rasa kemenangan, karena apapun pilihan Deok Man, mereka semua pasti di penggal.
Deok Man kebingungan mendengar perkataan Yang Chen Daren. Deok Man memandang ke samping, ke arah paman Cartan.
"Dia ingin kamu memilih satu. Pilih 'Saeng (Hidup)' dan kita akan hidup, Pilih 'Sa (mati)' dan kita akan mati." Paman Cartan menjelaskan apa yang di katakan Yang Chen Daren kepada Deok Man.
Dengan pasrah paman Cartan merebahkan kepalanya di alat eksekusi. Deok Man kembali memandang ke arah Giok penuh kebingungan, kemudian memandang ke arah Yang Chen Daren.
"Orang rendahan sepertimu mempertanyakan kemampuanku sebagai penguasa?! Mari kita lihat... Kemampuanmu dan keberuntungan yang kamu miliki. Apakah beberapa lembar buku yang kamu baca... Bisa menyelamatkanmu dari hal ini. Pilih! Sekarang!" Sambil menggoyangkan tangan kanannya di depan wajah Deok Man.
Yang Chen berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Deok Man. Deok Man hanya diam dan memandangi giok dan wajah Yang Chen Daren penuh kebingungan.
"Apa yang kamu tunggu? Cepat pilih! Dia bilang cepat pilih!" Paman Cartan kembali mengartikan ucapan Yang Chen Daren kepada Deok Man.
"Perlihatkan padaku. Bagaimana aku bisa tahu jika keduanya tidak sama?!" Deok Man gemetar ketakutan sambil memandang ke arah giok di tangan Yang Chen Daren.
Yang Chen Daren langsung melirik ke arah paman Cartan, dengan isyarat meminta paman Cartan mengartikan perkataan Deok Man.
"Dia khawatir jika keduanya bertuliskan 'Sei (Mati),' Jadi dia memintamu untuk memperlihatkannya lebih dulu." Paman Cartan berbicara mengartikan perkataan Deok Man.
__ADS_1
"Ini takdirmu untuk memilih. Pilih!" Yang Chen Daren mengalihkan pandangannya dari paman Cartan menuju Deok Man sambil menggoyangkan tangannya.
"Yang Mulia...Maafkan saya. Yang Mulia..." So Hwa bergunam pelan, dia bersandar pada pedagang berperut buncit, So Hwa merasa bersalah kepada Raja Jinpyeong.
Melihat Deok Man dalam bahaya, tanpa sadar So Hwa memanggil nama Raja Jinpyeong dalam bahasa Gyerim, bahasa nasional Shilla. Chil Sook yang berlutut di samping pedagang berperut buncit terkejut, padangan matanya tak lepas dari memperhatikan So Hwa.
Deok Man memandang wajah Yang Chen Daren dengan gemetar, sepertinya dia menyadari kecurangan penguasa tersebut. Deok Man mengambil giok di sebelah kiri dengan perlahan, lalu menggegamnya dengan erat.
"Sekarang, perlihatkan padaku. Perlihatkan!" Yang Chen Daren tersenyum penuh kemenangan. Tangan kanannya segera di masukan di balik baju, menyimpan giok satunya.
Deok Man yang sedari tadi memperhatikan ekspresi wajah Yang Chen Daren, perlahan mendekatkan giok ke mulutnya tanpa membukanya. Kemudian dengan cepat menelan giok tersebut.
"Kamu... Apa yang kamu lakukan?! hentikan dia!" Yang Chen Daren menyaksikan Deok Man berusaha menelan Giok pilihannya, segera memerintahkan para prajurit menghentikan perbuatan Deok Man.
Segera beberapa prajurit mendekat, beberapa memegang bahu Deok Man, dan seorang berusaha membuka mulut Deok Man. Namun terlambat, Deok Man terlanjur menelan giok tersebut.
Deok Man terbatuk batuk setelah berhasil menelan giok, matanya memandang ke arah Yang Chen Daren penuh keberanian. Yang Chen Daren terkejut, matanya melotot memandang Deok Man. Kemudian dengan isyarat tangan memerintah Para prajurit melepaskan Deok Man.
Yang Chen Daren terdiam, ketegangan tampak di wajahnya, antara malu dan menjaga wibawanya. Belum sempat berkata paman Cartan segera berkata.
"Dia bertanya pada anda... untuk memperlihatkan apakah yang ada di tanganmu itu 'Saang (Hidup)' atau 'Sei (Mati).' Perlihatkan!" Paman Cartan segera berbicara memanfaatkan kondisi yang terlihat menguntungkan.
"Ayo! Perlihatkan!" Deok Man berbicara dengan sedikit memohon kepada Yang Chen Daren. Karena mati kutu, antara malu dan menjaga wibawa akhirnya Chen Daren memperlihatkan giok di tangannya. Giok tersebut bertuliskan 'Sei/Sa (Mati).' (Dialek Utara).
"Itu Si (Mati)! Deokman memilih Sheng (Hidup)! Dia menyelamatkan kita!" Paman Cartan berteriak kegirangan dari alat eksekusi.
Para pedagang yang ditangkap bersama Deok Man semua tersenyum gembira, menyaksikan batu giok di tangan Yang Chen Daren.
"Itu Si! Si!" Pedagang berperut buncit tertawa kegirangan, So Hwa masih bersandar pada pedagang berperut buncit itu ikut tersenyum.
"Kasihani kami. Ini semua karena aku. Kumohon kasihani kami!" Deok Man berdiri dengan bertumpu pada lutut yang di tekuk, tangannya menyembah kepada Yang Chen Daren.
__ADS_1
"Kenapa kamu menelan itu?" Yang Chen Daren berkata lembut pada Deok Man, Dia menyadari kecerdasan anak kecil di depannya ini. Wajah bengis Yang Chen Daren menghilang, dan tersenyum melihat kepolosan tingkah Deok Man. (Dialek Guangdong)
"A..aku tidak tahu. Aku hanya berpikir.. Itu akan menyelamatkanku. Aku mohon... Bebaskan Ibuku dan semua yang ada di sini!" Deok Man memohon tetap berdiri dengan bertumpu pada lututnya yang ditekuk.
"Apakah kamu tidak takut padaku?!" Yang Chen Daren bertanya sambil tersenyum menatap kearah Deok Man yang berlutut di depannya.
"Aku... takut." Deok Man menatap Yang Chen Daren dengan bengong.
"Mungkin kamu ceroboh, Langit memihak padamu, Langit membiarkanmu hidup. Aku akan memenuhi perjanjian kita." Yang Chen Daren berkata sambil tersenyum ke arah Deok Man, kemudian berpaling ke arah Kepala prajurit yang berdiri di sampingnya.
"Bebaskan semuanya!" Yang Chen Daren memberi perintah kepada kepala prajurit, kemudian bergegas meninggalkan ruang eksekusi diikuti para dayang dan pengawalnya.
"Bebaskan semuanya!" Teriak kepala pengawal kepada para prajurit bawahannya.
"Baik!" Para prajurit menjawab serentak, bergegas membuka ikatan yang mengikat para pedagang.
Para pedagang yang sudah bebas saling bersorak, berpelukan. Paman Cartan memandang ke arah Deok Man yang masih tertegun. Tidak berapa lama paman Cartan dan Ketiga pedagang dibebaskan dari alat eksekusi.
"Ibu... Ibu!" Deok Man memekik, berlari ke arah So Hwa. So Hwa masih lemas terkulai bersandar pada pedagang berperut buncit.
"Deokman..." So Hwa memanggil lemah kepada Deok Man. Pedagang berperut buncit menyerahkan So Hwa kepa Deok Man.
"Ibu... ibu! Kamu tidak apa-apa?" Deok Man segera memeluk So Hwa sambil menangis.
"Aku.. tidak apa-apa. Jangan menangis." So Hwa bersandar lemah di pelukan Deok Man yang menangis tersedu.
Semua yang terjadi di situ tidak lepas dari pandangan Chil Sook. Chil Sook menatap ke arah Deok Man dan So Hwa yang berpelukan. 15 tahun pencarian akan segera berakhir.
Bersambung.
sahabat jangan lupa jempolnya nya buat semangat penulisnya.
__ADS_1