
Di kuil suci kerajaan, empat orang pelayan suci berseragam atasan putih dan bawahan hitam, berjajar rapi. Mereka bertugas menjaga dan mengurusi semua urusan kuil kerajaan. Kuil kerajaan ini dikepalai seorang pendeta suci perempuan bernama Seo Ri, dan wakil kepala pendeta seorang Sanchicheong bernama Seol Mae.
[Sanchicheong adalah Pelayan suci kuil kerajaan yang mempunyai tugas khusus masalah kesehatan ibu dan anak. Semacam bidan.]
Lady Mi Shil mendatangi kuil suci kerajaan untuk mencari ketenangan. Pikirannya kalut mencoba mencerna informasi yang disampai - kan Gukseon Moon Noh tadi.
๐นFlash back ๐น
"Selama 7 bintang utara tidak berubah menjadi 8, maka Mi Shil adalah penerima mandat langit." Gukseon tersenyum.
๐นFlash back off๐น
Sesampainya di kuil, Lady Mi shil disambut empat pelayan suci. Mereka menunduk memberi hormat, setelah Mi Shil mengangguk, mereka meneruskan tugasnya masing - masing. Salah satu dari mereka mengantar Mi Shil ke ruang meditasi, seorang lagi melaporkan kedatangan Lady Mi Shil kepada kepala pendeta suci Seo Ri.
Di ruang semedi, Mi shil berdiri menghadap altar. Dia membakar dupa, kemudian duduk bersila menghadap altar tersebut. Tidak berapa lama, kepala pendeta Seo Ri datang memberi salam.
Kepala pendeta Seo Ri berdiri menekuk lutut, menundukan kepala tanda memberi hormat.
"Seju Mi Shil, apakah sepanjang malam ini anda akan berada di sini. Merenung selama itu, membutuhkan konsentrasi bila membutuhkan sesuatu, Anda dapat memanggil saya." Kepala pendeta Seo Ri memberi salam.
"Iya, baik... aku pasti mencarimu." Mi Shil tersenyum lalu menjawab.
"Seju, mengapa anda begitu terobsesi dengan hal itu." Seo Ri berdiri di belakang Mi shil yang masih bersila menghadap altar.
"Anda mampu menguasai semuanya, meskipun anda tidak menjadi Permaisuri." Seo Ri melanjutkan.
"Karena, bahkan... Jika semua ciptaan berlutut di hadapanku," Mi Shil menarik napas kemudian melanjutkan.
"Aku tidak bisa menerimanya, bila mahkota tidak menghiasi kepalaku." Dalam posisi bersila Mi Shil Mi Shil menjawab.
"Tapi, anda memang seorang wanita,..." Seo Ri tersenyum.
"Tidak perlu khawatir, bahkan langit tidak mampu menekan pesona anda." Pendeta Seo Ri tersenyum.
Seju Mi Shil menengok kearah pendeta Seo Ri.
"Saya tidak dapat mengatakan dengan jelas, tapi menurut pandangan batin saya akan terjadi sesuatu dengan Permaisuri Maya." Kepala pendeta Seo Ri meneruskan.
Perubahan wajah Mi Shil begitu jelas, lalu menoleh lagi ke arah Seo Ri... ingatan nya kembali.
๐ฉ๐ฌflash back๐ฌ๐ฉ
"Kecuali 7 bintang rasi bintang utara berubah menjadi 8, tidak ada seorang pun di bawah langit, yang mampu menandingi ke agungan Mi Shil." Gukseon tersenyum.
๐ฉ๐ฌflash back off๐ฌ๐ฉ
Tidak berapa lama, Seorang pelayan kuil menghadap mereka. Pelayan itu melapor kepada kepala pendeta Seo Ri.
"Yang Mulia Raja memanggil anda ke Istana." Pelayan melapor pada Seo Ri.
Mendengar itu Lady Mi Shil menenggok ke arah mereka, membuyarkan lamunannya tentang ramalan Gukseon Moon Noh.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Di dalam istana Permaisuri, enam orang dayang berdiri berjajar di depan pintu masuk ruang pribadi Raja.
Di dalam ruang pribadi tersebut, Permaisuri Maya duduk bersandar di ranjang. Raja Jinpyeong berdiri cemas di sisi kiri ranjang tersebut.
Tampak dengan cekatan kepala pelayan Sanchiceong Seol Mae memeriksa denyut nadi Permaisuri Maya. Kepala pendeta Seo Ri berdiri di sebelah Seol Mae.
"Baik, bagaimana keadaannya." Raja Jinpyeong bertanya tidak sabar.
Seol Mae merapikan peralatannya, kemudian bangkit dari duduknya. Dia membungkukan tubuhnya, melirik ke arah Seo Ri.
"Yang Mulia Permaisuri dan jabang bayi dalam keadaan sehat." Seol Mae menjawab setelah Seo Ri mengangguk padanya.
Raja Jinpyeong tersenyum bahagia. Demikian juga dengan Permaisuri Maya, senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Benarkah." Raja Jinpyeong berseru.
"Juga, kelahiran semakin dekat, maka kita harus segera mempersiapkannya." Seol Mae tersenyum.
"Kepala kuil Seo Ri, aku perintahkan kepadamu... Beritahu Sanshiceong mengenai kelahiran ini." Dengan senyum mengembang Raja Jinpyeong memberi perintah kepada Seo Ri.
"Dan juga kalian harus menjaga Permaisuri."
__ADS_1
Raja Jinpyeong memeluk Permaisuri.
"Baik Yang Mulia," Pendeta Seo Ri mengangguk.
"Kami akan mengurus semua dengan baik." Pendeta Seo Ri melanjutkan.
Raja Jinpyeong dan Permaisuri berpandangan. Seluruh petugas dari kuil suci istana segera meninggalkan ruang pribadi Raja.
Seo Ri dan Seol Mae berjalan keluar kamar, melewati pelayan yang berjajar di pintu. Tiba di ruang keluarga istana, Seol Mae menghentikan jalan Seo Ri.
Seol Mae mendekatkan bibirnya ke telinga Seo Ri. Dia berbisik agar para pelayan, tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Baru saja ingin membisikan sesuatu, Seol Mae dan Seo Ri dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Dia berpakaian biru laut, Mereka beradu pandang sesaat.
Kemudian dengan tenang Seol Mae dan Seo Ri berjalan melewati pria itu. Pria itu memberi jalan sambil membungkuk memberi hormat.
Setelah menatap kepergian kedua pendeta suci kerajaan itu, kemudian pria tersebut segera berjalan ke arah ruang pribadi Yang Mulia. Sebelum masuk ruangan, Pria itu membungkuk memberi hormat. Melangkah masuk, berdiri di hadapan Raja dan Permaisuri.
"Saya mendengar berita yang menggembirakan. Hwarang telah mempersiapkan upacara untuk acara kelahiran ini." Pria itu membungkuk memberi hormat.
"Kami pasti datang Gukseon, baiklah terima kasih atas perhatiannya." Yang Mulia tersenyum sambil memegang tangan Permaisuri.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Seo Ri menatap seseorang yang baru tiba dari luar. Melihat orang itu Seol Mae menghentikan bisikannya, lalu bergegas keluar mengikuti langkah Seo Ri yang berjalan lebih dahulu.
Mereka berjalan dengan tergesa, sambil memperhatikan sekitar mencari tempat yang sepi. Setelah menemukan tempat yang aman, Seo Ri berhenti kemudian menarik Seol Mae ke balik dinding Istana.
"Ada masalah apa?" PendetaSeo Ri bertanya.
Seol Mae tampak kebingungan, dia ragu untuk menjawab. Matanya masih memperhatikan ke sekitar mereka.
"Ada masalah apa?!" Seo Ri mengulangi pertanyaannya.
Setelah memastikan keadaan aman Seol Mae mendekatkan bibirnya ke telinga Seo Ri. Raut wajah Seo Ri berubah, mulut nya menganga terlihat terkejut.
"Kau yakin dengan itu!!" Seo Ri menatap Seol Mae.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Mi Saeng berjalan mondar - mandir mengibas ngibaskan kipas bulu merak miliknya. Sementara ketiga lainnya duduk tenang mengelilingi meja.
"Bagaimana bisa usaha kita jadi sia sia." Mi Saeng sambil mondar - mandir.
"Pada saat yang penting..." Se Jong menyahut.
"Gukseon, orang itu memegang mandat langit di sisinya. Gukseon... Moon Noh... atau apalah namanya. Haruskah kita membiarkan penghinaan ini?! haruskah?!" Mi Saeng duduk dengan kesal.
"Membiarkan Gukseon hanya akan membawa kita pada kesulitan, apakah dia tidak melarikan diri dari cengkraman kematian?!" Se Jong mengetukan jarinya ke meja.
"Setengah dari pasukan hwarang, menyerahkan diri mereka seutuhnya pada Gukseon. Tidak ada cara melenyapkannya saat ini." Seol Won berpendapat.
"Jadi apa yang kamu sarankan?!" Mi Saeng bertanya.
"Kita harus bertahan dari keadaan ini. Situasi sudah berubah, kita tidak bisa memastikan kemenangan." Seol Won menjawab pertanyaan Mi Saeng.
"Dia benar, ini menjadi tidak masuk akal." Se Jong geram.
"Belum lagi kerusuhan yang akan ditimbulkan dalam dewan. Angin segar bisa menjadi pilihan. Raja Jinji sudah mengalami itu, kenapa tidak kita coba lagi." Mi Saeng mencengkeram kipasnya.
"Ohh ohh hati hati dengan mulutmu." Se Jong, berucap.
"Penurunan Raja Jinji berhasil karena Gukseon dan Dewan berada di pihak kita." Seol Won melanjutkan.
"Dan siapa yang menolak itu, kita telah mengikuti siasatmu selama ini, tapi apa yang terjadi." Mi Saeng marah menggebrak meja.
๐น
"Pendeta agung Seo Ri telah hadir, Seo Ri datang memberi hormat." Pelayan melaporkan kedatangan Seo Ri.
"Katakan berkunjung lain kali saja, ini bukan saatnya ritual." Mi Saeng menyahut dengan marah.
"Tidak." Mi Saeng berteriak.
"Apa." Mi Shil melihat Mi Saeng.
__ADS_1
"Masuklah, suruh Pendeta Seo Ri masuk." Mi Shil mengangkat kepalanya.
Pendeta Seo Ri memasuki ruangan, memberi hormat menekuk lutut dan membungkukan badannya.
"Selamat datang, ada masalah apa," Mi Shil tersenyum.
"Tuan Putri, bisakah kita bicara berdua." Pendeta Seo Ri mendekatkan bibirnya ke telinga Mi Shil.
"Apa katamu, kau menyuruhku pergi." Mi Saeng mengumpat setelah mendengar kata kata Seo Ri.
"Bisakah kalian diam." Mi Shil memandang mereka.
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Rombongan Yang Mulia Raja memasuki ruang persalinan istana. Rombongan itu terdiri dari dayang dan petugas sanchiceong.
"Yang Mulia, bisakah kalian berhenti. Yang Mulia anda tidak diperkenankan ikut. Anda bisa menunggu di ruang tunggu istana." Seol Mae yang menjadi ketua Sanchiceong menghentikan rombongan.
Raja Jinpyeong memandang Permaisuri Maya yang duduk dalam tandu terbuka di sampingnya.
" Yang Mulia kami akan segera mengabari anda." Seol Mae memberi hormat.
"Yang Mulia jangan khawatir, aku akan mengikutinya," Permaisuri Maya menahan sakit.
"Baiklah. Jaga dirimu sayang." Raja yang tidak tega melihat Permaisuri, memaksa ikut. Tetapi setelah mendengar kata Permaisuri, menjadi tenang.
"Baiklah ayo kita lanjutkan." Seol Mae memerintahkan bawahanya.
Tandu Permaisuri kembali berjalan menuju ruang bersalin.
"Yang Mulia jangan khawatir, aku akan menjaganya." So Hwa pelayan pribadi Yang Mulia mendekat ke pada Raja.
"Jadi kamu ingin membuat keributan dan mengganggu." Raja Jinpyeong berucap.
"Tentu saja tidak... Yang Mulia saya banyak menangani persalinan dan aku dapat melakukannya dengan baik." So Hwa menjawab.
"Benarkah itu." Raja Jinpyeong memastikan.
"Saya tidak bisa menjamin kelahirannya, Tetapi anda bisa mempercayai saya mengurus anak anak." So Hwa tersenyum.
"Apa kamu bilang," Raja tersenyum.
Kemudian So Hwa berlari menyusul rombongan Permaisuri. Raja berdiri menyaksikan rombongan itu menjauh darinya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Pada saat yang sama, di kediaman Lady Mi Shil, setelah kedatangan Seo Ri, dan setelah menerima laporan yang dikatakan Seol Mae pada Seo Ri.
"Apa kamu bilang, Apa yang baru saja kamu katakan, apa yang terjadi pada Permaisuri." Lady Mi Shil berteriak kaget.
"Seol Mae mendeteksi ada dua denyut kehidupan dalam rahim Permaisuri, dia akan melahirkan anak kembar." Seo Ri menjawab.
"Kembar." Mi Shil kaget, dia memandang Hwarang Chil Sook yang berjaga di pintu.
"Jika kembar..." Mi Shil memegang dahinya.
"Jika lahir kembar. Ingat ramalan keluarga kerajaan oleh leluhur Hyeokgose. memberikan geoseogan?!" Seo Ri memotong perkataan Mi Shil.
[Hyeokgose adalah penguasa statetet Saro (dari konfederasi Jinhan) Pendiri Shilla.]
[isi geoseogan : Eochul Ssangseng Seonggol Namjin artinya bila Raja memiliki keturunan kembar, maka garis keturunan pria akan terputus.]
"Jika Raja memiliki anak kembar, ( Eochul Ssansaeng) garis keturunan suci kerjaan pria akan terputus selamanya (Seonggol Namjin)."
Mi Shil tersenyum.
"Tidak ada orang yang bisa lepas dari ramalan ini tuanku." Seo Ri menambahkan.
"Apakah ini mandat dari langit itu." Mi Shil memegang dahinya.
bersambung.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1