Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
18. PSK 03_07. Siapa Ayahku?!


__ADS_3

Deok Man berjalan menaiki tangga. Deok Man sampai di lantai 2, sambil memainkan kaca pembesar (Luv) yang baru pertama kali dia lihat.


Sampai di depan kamar penginapan, Deok man berpapasan dengan beberapa tamu yang menginap. Deok Man segera menyapa mereka.


"Salam," Deok Man menyapa para tamu penginapan, sambil membungkuk memberi hormat.


"Salam," Salah satu dari mereka menjawab salam Deok Man mewakili.


Deok Man melanjutkan jalannya.


"Jadi ini bisa membuat api?!" Deok Man bergunam, sambil memainkan kaca pembesar dan tertawa kegirangan.


So Hwa berjalan menuju ke kedai berpapasan dengan Deok Man dan tidak sengaja mendengar gunaman putrinya itu.


"Apa... api?!" So Hwa kaget mendengar perkataan Deok Man, segera menghampiri putrinya.


"Ini?!" So Hwa bertanya kepada Deok Man, tangannya menunjuk ke arah kaca pembesar.


"Ahh... bukan, Ibu!" Deok Man menjawab So Hwa, buru buru menyembunyikan kaca pembesar di balik punggungnya..


"Api yang mana?!" So Hwa bertanya, sambil berusaha merebut kaca pembesar dari tangan Deok Man di balik punggungnya.


"Itu tidak mungkin kan?!" Deok Man menjawab, dan tetap menahan tangan di balik punggungnya.


"Berikan padaku," So Hwa meminta kepada Deok Man.


"Itu pasti berbahaya atau semacamnya?" So Hwa bertanya dan tetap berusaha merebut kaca pembesar.


"Ini tidak mengeluarkan api!" Deok Man menjawab pertanyaan So Hwa.


"Ini hanya kristal." Deok Man mengeluarkan tangannya dari balik punggung, memperlihatkan kaca pembesar pada So Hwa.


"Aku mendapatkannya dari pedagang Yeoheonguk *." Deok Man tersenyum kepada So Hwa.


[*Yeoheonguk \= Cara lama Korea menyebutkan Mesir Kuno.]


"Aku akan pergi mandi." Deok Man berbalik meninggalkan So Hwa.


"Deokman!" So Hwa memanggil putrinya yang berlalu. So Hwa tersenyum.


🌺🌺🌺


Beberapa saat kemudian.


Deok Man memasuki kamar tidur, handuk mandi masih tergantung di leher. Deok Man terus memainkan kaca pembesar di tangan kanan, tangan kirinya memegang buku dari pedagang berkulit hitam.


Sambil bermain penuh senyum Deok Man berjalan ke arah lampu minyak, kemudian meniupnya.


Deok Man berjalan menaiki tangga kecil menuju kamar tidurnya di lantai 3.


So Hwa tersenyum memandang Deok Man, sambil duduk menjahit pakaian di ranjang. Deok Man berjalan menuju meja belajarnya.


"Ehh... Apa kamu sudah mandi?" So Hwa bertanya kepada Deok Man, tersenyum sambil terus menjahit.


"Iya," Deok Man menjawab So Hwa, sambil membuka buku di meja belajar.


"Kalau begitu jangan keliaran, tidurlah," So Hwa menyuruh Deok Man, sambil menyulam.


"Baik," Deok Man menjawab So Hwa, tetapi pandangan matanya tetap pada buku.

__ADS_1


Deok Man merapikan bukunya, meletakan dalam almari. Deok Man menggeser cermin di samping almari kemudian kembali memainkan kaca pembesar di tangannya.


"Ngomong-ngomong, Deokman," So Hwa berkata pada putrinya.


"Uh?!" Deok Man menjawab pertanyaan So Hwa.


"Pelanggan yang tadi..." So Hwa melihat ke arah Deok Man.


"Dia berbicara bahasa Gyerim?!" So Hwa bertanya kepada Deok Man, matanya kembali pada jahitan di tangannya.


"Iya, dia prajurit," Deok Man menjawab pertanyaan So Hwa.


"Dia berbicara bahasa Gyerim dan dia juga prajurit?!" So Hwa bertanya dengan nada datar kepada Deok Man.


"Yeah!" Deok Man menjawab pertanyaan So Hwa.


"Ahh! Ibu." Deok Man bertanya kepada So Hwa, meletakan kaca pembesarnya dan bergegas mendekati So Hwa.


"Kamu tahu, pria itu?! Maksudku, yang tadi." Deok Man berjalan ke arah So Hwa.


"Orang itu dan ayahku berasal dari tempat yang sama." Deok Man duduk di tepi ranjang memegang tangan So Hwa.


"Ayahmu?!" So Hwa bertanya kepada Deok Man dengan kaget.


"Yeah! Gyerim, dia bilang begitu!" Deok Man menjawab pertanyaan So Hwa.


"Dunia mungkin luas, tapi bisa terasa sangat kecil?!" Deok Man bertanya penuh semangat.


"Jadi?! Kamu beritahu dia?" So Hwa bertanya kepada Deok Man.


"Kalau Ayahmu juga dari Gyerim?!" So Hwa bertanya kepada Deok Man dengan tegas.


"Tidak," Deok Man menjawab So Hwa sambil menggelengkan kepala.


"Benar," So Hwa menjawab Deok Man, memastikan.


"Kamu tidak boleh mengatakannya pada siapapun." So Hwa menatap tajam Deok Man, wajahnya berubah tegas.


"Tidak peduli apa yang terjadi!" So Hwa berkata tegas kepada Deok Man.


So Hwa kemudian menarik napas panjang sambil mengalihkan pandangan. Nampak menahan beban yang besar.


"Yahh," Deok Man menjawab perkataan ibunya.


"Bagaiamana bisa orang Gyerim bisa berada di sini?!" So Hwa bergunam, sambil meneruskan sulamannya.


"Ngomong-ngomong, Ibu," Deok Man bersuara, menatap ibunya.


So Hwa menengok ke arah Deok Man.


"Bukankah itu memalukan?!" Deok Man bertanya kepada So Hwa, penuh rasa ingin tahu.


"Apa?" So Hwa bertanya. Wajahnya kembali serius memperhatikan Deok Man.


"Aku lahir darimu dan orang Gyerim," Deok Man menjawab So Hwa dengan berhati hati.


So Hwa mengalihkan pandangan kemudian menundukan kepala.


"Kamu tidak pernah cerita tentang ayahku." Deok Man bertanya kepada So Hwa sambil menundukan kepala.

__ADS_1


So Hwa melirik kecil ke arah Deok Man.


"Bukankah itu membuatmu malu?" Deok Man bertanya pelan, takut menyinggung perasaan So Hwa.


"Bukan begitu," So Hwa menjawab dengan gugup, wajahnya menatap Deok Man kebingungan.


"Ibu..." Deok Man melihat kebingungan di wajah So Hwa.


Dalam kebingungannya So Hwa terbatuk. Luka paru paru kambuh, mengakibatkan sesak napas. Luka itu diperoleh sewaktu menyelamatkan Deok Man, dari asap api di dalam goa.


"Kenapa?! Kamu tidak apa-apa?!" Deok Man bertanya, khawatir terhadap kondisi ibunya.


Deok Man berdiri mengosok gosok punggung So Hwa yang terbatuk batuk. Air matanya meleleh sambil memeluk ibunya.


"Bukan," So Hwa terbatuk batuk, tangan kirinya melambai.


"Aku bisa hidup meski tanpa ayah." Deok Man berucap pada So Hwa, memegang tangan ibunya.


So Hwa melirik Deok Man.


"Tidak apa apa..." Deok Man mengeratkan pelukannya. Kemudian berdiri menjauh menghapus air matanya.


"Ibu. Ayo kita ke Roma," Deok Man berkata, air matanya kembali mengalir, tapi berusaha tersenyum.


"Kenapa?" So Hwa bertanya. Air matanya mengalir memandang Deok Man.


"Karena kamu menyukai Cartan Ajeosshi?!" So Hwa bertanya kepada Deok Man lagi.


"Bukan..." Deok Man membungkukan badan bertumpu pada tepi ranjang di depan So Hwa.


"Jika kita pergi, kita bisa mencari Dokter untukmu." Deok Man duduk di depan So Hwa.


"Jika kita ke sana, Kamu bisa sembuh," Deok Man menjawab pertanyaan itu lagi.


So Hwa menatap haru ke arah putrinya, air matanya kembali meleleh.


"Kita harus ke Roma, Kita akan mengumpulkan uang, dan menyembuhkan paru-parumu yang sakit karena api itu." Deok Man menatap So Hwa.


"Kamu gemetar, Jatuh, Pusing... Hidungmu berdarah... Aku akan menyembuhkannya untukmu," Deok Man berkata kepada So Hwa, matanya berkaca kaca.


So Hwa memandang penuh haru ke arah putrinya.


Deok Man berdiri membelakangi So Hwa, merentangkan tangannya, melepas semua beban di dadanya. Kemudian berjalan ke arah jendela, membukanya.


Deok Man mengatur napas, air mata masih meleleh membasahi pipi, di pandanginya rasi bintang utara.


Dengan senyum Deok Man melirik ke arah So Hwa yang masih memandanginya dengan air mata yang masih meleleh. Lalu Deok Man memandang ke arah rasi bintang utara kembali.


("Bahkan tanpa Ayah... Aku akan melakukannya,") Deok Man berkata dalam hati, kembali menarik napas dan memandang ke arah So Hwa.


So Hwa tersenyum ke arah Deok Man. So Hwa menarik napas panjang.


🌺🌺


Diluar penginapan Chil Sook, melepas pelana dari ontanya, tanpa sengaja memandang ke arah Deok Man yang memandang bintang, di ujung jendela.


Agak lama Chil Sook memperhatikan Deok Man yang tersenyum ke arah bintang.


Kemudian Chil Sook mengikuti arah pandangan Deok Man, tampaklah bintang utara yang bersinar terang.

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2