
Di lain tempat, satu demi satu Seol Won Rang membunuh semua pengawal yang terlibat dalam penculikan Maya. Tak terkecuali kepala pengawal yang setia kepada Seol Won Rang ikut menjadi korban.
Mi Shil yang menyaksikan langsung, tersenyum lebar merasa sangat puas. Mi Shil mengangkat Baek Jeong menjadi Raja Jinpyeong dan membuat Jinpyeong sebagai Raja bonekanya.
Mi Shil mengajukan usul pernikahan karena Maya telah menghilang selama 6 bulan. Kerajaan tidak boleh tanpa seorang Permaisuri.
Raja Jinpyeong mengatakan ia tidak memiliki pendapat dan meninggalkan ruangan.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Di dalam ruang sidang istana. Raja Jinpyeong duduk termangu, So Hwa melihatnya dari kejauhan.
"Yang mulia, Kami sarankan kita secepatnya mengangkat Komisaris Dewan Militer." Perdana menteri Noribu berkata.
"Kami pikir Kim Hujik, Sueulbu dan Hwamun pantas untuk menjadi kandidat. Sebagai cicit Raja Jijeung, Saya yakin Kim Hujik akan menjadi calon yang paling pantas, Yang Mulia." Lady Mi Shil menambahkan perkataan Bangsawan Noribu.
"Lanjutkan saja." Raja Jinpyeong acuh tak acuh, dia benar benar merasa malas dalam sidang itu.
"Selanjutnya..." Lady Mishil berkata membahas bab baru.
"Kita harus menunjuk seseorang untuk mengurus urusan Diplomatik." Menteri Se Jong, memberi masukan kepada Yang Mulia Raja.
"Lanjutkan sesuai keinginanmu." Raja Jinpyeong berucap malas.
"Dan untuk masalah selanjutnya..." Menteri Se Jong melanjutkan perkataannya.
"Itu juga. Lanjutkan sesuai keinginanmu." Raja Jinpyeong tetap asal asalan berkata, dia benar - benar patah semangat, sejak kehilangan Permaisuri Maya.
"Yang Mulia. Ini menyangkut pernikahan kerajaan." Lady Mi Shil angkat bicara. Para menteri yang berada di ruang sidang istana menunduk, kemudian saling memandang satu sama lain.
"Yang Mulia, sudah hampir 6 bulan, hilangnya Putri Maya, tentu sangat menyedihkan..." Lady Mi Shil berbicara menatap Raja Jinpyeong.
Wajah sang Raja berubah dari malas menjadi tegang kemudian menatap kearah Lady Mi Shil.
"Status Ibu Negara tidak boleh dibiarkan kosong untuk waktu yang lama." Mi Shil melanjutkan kata katanya.
"Saya setuju, Yang Mulia." Kepala Bangsawan Noribu memberikan pendapat.
"Sesuai dengan adat Kerajaan suci kita, Dewan Bangsawan harus menyiapkan pernikahan Yang Mulia... akhir bulan ini." Bangsawan sambil membungkukan badannya ke arah Raja Jinpyeong.
Raja Jinpyeong mengalihkan padangannya dari Lady Mishil, ke arah Kepala Bangsawan Noribu, terus memandang berkeliling ke arah para menteri dan bangsawan yang mengikuti sidang siang itu.
"Baiklah, lanjutkan saja.. Lakukan sesukamu!" Raja bangkit dari Singgasananya dengan kemarahan.
Lady Mi Shil berdiri, di ikuti para bangsawan dan para menteri, memberi hormat. Raja Jinpyeong memandang mereka dengan marah, kemudian bergegas meninggalkan ruang sidang itu dengan kesal.
Raja Jinpyeong berjalan dengan marah, diikuti para kasim, dayang dan pengawal khusus Raja.
Lady Mi Shil tersenyum penuh kemenangan melihat Raja Jinpyeong keluar tanpa perlawanan.
__ADS_1
πππππππ
Setelah tiba di luar ruang sidang istana, Raja Jinpyeong berdiri pasrah, terbayang ketika dia mengalungkan belati kecil Raja Jinheung pada Permaisuri Maya.
π€΄π¬Flasback:π¬π€΄
"Aku berharap... Ini akan melindungimu dan bayi kita." Raja Jinpyeong berkata kepada Permaisuri Maya.
"Tentu saja, Aku juga berpikir begitu." Permaisuri Maya menjawab.
π€΄π¬Flasback off.π¬π€΄
Raja Jinpyeong masih berdiri ditempat itu dengan air mata meleleh membasahi pipinya, So Hwa dari kejauhan memperhatikan, Pangeran yang diasuhnya sedari kecil itu menangis.
So Hwa merasakan penderitaan Raja Jinpyeong, So Hwa menangis, dia berjalan mendekati Raja Jinpyeong. Namun belum sempat berbicara, sebuah suara yang tidak asing memanggil Raja Jinpyeong...
"Yang Mulia, Yang Mulia." Raja Jinpyeong menolehkan kepala mencari sumber suara tersebut.
"Eul Jae Dae deung, Eul Jae Dae deung." Raja Jinpyeong berucap setelah mengetahui Eul Jae Dae dunglah yang memanggilnya.
Eul Jae Dae deung memasuki gerbang istana. Eul Jae Dae deung memberi hormat pada Raja Jinpyeong.
Raja Jinpyeong dengan terburu buru menghampiri Eul Jae Dae deung yang baru kembali dari Cina.
"Eul Jae Dae deung." Raja Jinpyeong memegang tangan Eul Jae Dae deung.
"Yang Mulia, hamba telah kembali ke istana." Eul Jae Dae deung membalasnya.
"Yang Mulia, sudikah memaafkan aku. Karena telah meninggalkanmu selama ini." Eul Jae Dae deung menangis, memegang tanga Raja.
"Memaafkan ?! Jangan seperti itu." Baginda Raja menangis terharu.
"Aku sangat senang Eul Jae akhirnya kembali." Raja menatap Eul Jae Dae deung, penasehatnya.
Mi Saeng tanpa sengaja melihat kehadiran Eul Jae Dae deung, lalu dia berhenti dan menutup wajahnya dengan kipas bulu merak.
Dia mencuri dengar apa yang dibicarakan Yang Mulia Raja dan Eul Jae Dae deung.
πππππππ
Di kediaman Mi Shil.
Mi Shil mengadakan pertemuan antara Se Jong, Mi shil dan Seol Won Rang.
"Untuk 9 anggota Dewan Bangsawan yang lain, aku tidak punya keraguan apapun. Tapi masalahnya adalah Eulje. Kenapa kamu menunjuknya untuk masuk lagi dalam dewan?!" Se jong mengawali pembicaraan di antara mereka bertiga.
Se Jong khawatir akan kehadiran Eul Jae.
"Tenanglah, Tidak perlu khawatir! Tidak perlu khawatir." Mi Saeng yang baru tiba, langsung memotong pembicaraan Se jong.
__ADS_1
"Eulje tidak akan menyebabkan masalah." Mi Saeng adik Mi Shil mengambil tempat duduk di samping Seol Won Rang.
"Apakah musyawarah tadi menguntungkan?!" Mi Shil tersenyum memandang Mi Saeng, adik lelakinya tersebut.
"Tentu saja. Melawan orang seperti dia harus dengan sedikit tipuan. Tapi ...Meyakinkannya bukan hal yang mudah..." Mi Saeng tertawa.
"Bagaimana kamu bisa berhasil?" Se Jong menimpali ucapan Mi Saeng.
"Aku memberikannya kesempatan untuk kembali ke Seorabel, dan melayani yang Mulia. Hanya dengan persetujuan Eulje maka pernikahan kerajaan dapat dilaksanakan." Mi Saeng melanjutkan.
"Meski begitu, membiarkan Eulje berada di sisi yang Mulia..." Se Jong memikirkan kemungkinan terburuk.
"Tak perlu cemas karena ini berbeda dari 4 tahun lalu. Banyak hal yang telah berubah dalam 4 tahun ini. Apa yang kita takutkan?!" Lady Mi Shil tersenyum.
"Dan bukankah kesepian yang akan menjauhkan Yang Mulia dari jalan yang benar!" Lady Mi Shil berucap, sambil tersenyum.
"Hahahahahahaha." Mi Saeng tertawa lepas.
"Kakak, Jangan katakan... hahahahaha.... Kamu menemui pembantu mu, Nunim?!" Mi Saeng tertawa.
"Saudaraku." Mi Shil menyadarkan Mi Saeng.
"Maafkan aku. Bagaimanapun, kita harus menyimpulkan rapat Dewan ini secara resmi." Mi Saeng merasa harus segera dilaksanan.
"Terlalu buru-buru." Seol Won yang dari tadi diam membuka suara.
"Buru-buru?!" Mi Saeng bertanya kepada Mi Saeng.
"Langkah terbaik untuk masalah ini adalah... membiarkan semua bangsawan Seorabol untuk menyaksikannya. Bersama dengan Yang Mulia." Seol Won menyakinkan mereka.
Lady Mi Shil terus mengumbar senyum memandang dua orang kepercayaannya ini beradu pendapat.
"Kenapa harus melakukan hal rumit seperti itu?." Mi Saeng bertanya kepada Seol Won.
"Untuk membuat semua orang ikut serta dan juga, untuk menunjukkan keterlibatan mereka. Sehingga Yang Mulia akan meningkat kekuasaannya di mata rakyat." Seol Won Rang menjawab pertanyaan Mi Saeng.
"Semua anggotaku akan membantu, dan Tuanku Putri akan segera diresmikan. Ini seperti membunuh 3 burung dengan satu batu." Seol Won menjelaskan strateginya sampai akhir.
"Bagaimana bisa! tidak ada seorang pun yang menyadari cara ini?" Mi Saeng tertawa keras.
Mi Saeng memijat mijat tengkuk Seol Won Rang.
"Jadi, Tuanku Putri!?" Seol Won Rang bertanya pada Mi Shil.
"Kita buka rapat dewan ini untuk umum." Mi Shil tersenyum puas.
**bersambung.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
ikuti Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild), Gusku Suamiku (Robb Maafkan Aku Menikung Cinta MU) dan Legenda Ponorogo** (Legend of The Reyog City). Pertarungan si Kembar.
οΏΌ