Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
26. PSK 04_06. Terungkap.


__ADS_3

Taklamakan.


Di halaman luar penginapan Deok Man duduk bersama paman Cartan, di meja kedai. Deok Man bersedih, matanya berkaca kata, dia memandang paman Cartan dengan sedih.


"Aku tidak bercanda!" Dengan wajah sedih, Deok Man memandang ke arah paman Cartan. Deok Man duduk menghadap meja di samping kiri paman Cartan. Deok Man masih merasa terkejut atas kejadian tadi siang.


"Jika bukan begitu, Kenapa kamu menyelamatkan ku?" Paman Cartan berbicara dengan tenang dan memandang teduh wajah Deok Man, yang gelisah di depannya.


"Jika kamu tewas karena aku, aku mungkin akan menyusul." Deok Man merengut mendengar ucapan paman Cartan. Paman Cartan menyesalkan kecerobohan Deok Man.


"Tapi itulah akhirnya. Semua orang di bawah langit ini lemah dan tak berdaya." Paman Cartan mengelus lembut rambut Deokman.


"Jika aku tidak melakukannya, anda akan mati!" Deok Man masih dengan ngambeknya, berbicara kepada paman Cartan.


"Yang ingin kukatakan adalah, hidupmu itu sangat penting! Apa masalahnya buatmu kalau aku mati?" Paman Cartan menyela, dan bertanya kepada Deok Man.


"Itu. Hidupku dan hidup anda sama pentingnya! Maksudku... itu... Tidak semudah itu. Tapi... Orang-orang tidak akan menyalahkanku. Mungkin tidak mudah, Tapi mereka yang membuatku ingin melakukannya!" Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan sambil tertunduk.


"Orang-orang?! Siapa?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man.


"Iya, yang di buku itu..." Deok Man menjawab pelan wajahnya menunduk.


"Buku?! Kisah Pahlawan itu?" Paman Cartan kembali bertanya kepada Deok Man.


"Iya..." Deok Man menjawab singkat.


"Kamu... dasar ******** kecil. Aku tidak akan pernah membawakanmu buku lagi. Buku adalah buku, Kenyataan adalah kenyataan!" Paman Cartan baru menyadari ternyata tindakan heroiknya siang tadi, adalah pengaruh dari buku buku yang sering dibawakannya untuk Deok Man.


"Itu benar. Deokman harus ditegur." So Hwa menyahut sambil meletakan beberapa makanan ke meja didepan mereka. So Hwa datang dari meja sebelahnya.


"Aiyoo..." Deok Man mengeluh pelan,, kepalanya di toyor So Hwa yang berlalu menuju meja sebelahnya, untuk meletakan makanan lainnya.


"Itu tidak benar! Deokman... Melakukannya dengan baik." Pedagang berperut buncit yang baru tiba sambil meminum arak dari botol.


" Terima kasih, Deokman." Pedagang berkulit hitam berkata pelan, dia berterima kasih kepada Deok Man. Dia datang bersamaan dengan Pedagang berperut buncit.


"Sama-sama." Deok Man menjawab sambil tertawa memandang Pedagang berkulit hitam yang berdiri di samping paman Cartan.


"Kamu sangat pintar! Iya kan, iya kan?!" Pedagang berperut buncit berjalan memutar, berdiri di samping Deok Man dan mengelus elus rambutnya.


Pedagang berperut buncit itu, kemudian duduk di sebelah kiri Deok Man menghadap paman Cartan. Sedang Pedagang berkulit hitam duduk di kanan paman Cartan menghadap ke arah Deok Man. Mereka Duduk bersama mengelilingi meja.


"Aiyoo... Pintar kata mereka." Paman Cartan berbicara lembut sambil mengelus rambut Deok Man, Deok Man tertawa kegirangan. Marah paman Cartan sudah mereda.


"Ngomong-ngomong Chilsuk pergi kemana? Kemana dia?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man.


"Benar... Kenapa dia bisa ada disini?" Pedagang berperut buncit mengulangi pertanyaan paman Cartan.


"Chilsuk Ajeosshi?" Deok Man bertanya, dan bengong.


"Chilsuk Ajeosshi...! Mendekatlah kalian... Sebenarnya, Chilsuk Ajeosshi... Ahh... Aku tidak boleh mengatakan hal ini!" Deok Man tertawa ringan, kemudian dengan gerakan tangan meminta mereka bergerumbul, mendekatkan kepala.


"Katakan saja! Cepat." Pedagang berperut buncit berkata dengan tergesa karena penasaran.


"Baiklah! Sebenarnya, Chilsuk Ajeosshi datang dari seberang gurun pasir yang jauh, Gyerim. Dan di sana dia adalah prajurit yang hebat." Deok Man mulai bercerita kepada mereka.


Tanpa mereka sadari Chil Sook memperhatikan perbincangan Deok Man dan para pedagang dari jendela kamarnya di lantai 2.


"Prajurit?! Benarkah? Pedagang berperut buncit bertanya memastikan.


"Iya... prajurit." Deok Man menjawab pertanyaan mereka.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Di dalam penginapan.


Chil Sook memperhatikan perbincangan Deok Man dan para pedagang dari jendela kamarnya di lantai 2. Tidak berapa lama, Chil Sook menutup tirai jendela kamarnya yang terbuat dari kain.


Chil Sook menyalakan lilin penerangan, kemudian berkeliling memeriksa kamar pribadi So Hwa. Chil Sook membuka lemari pribadi So Hwa.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di meja kedai halaman luar penginapan.


Deok man dan para pedagang masih asik dengan cerita mereka.


"Anak itu menjerit! Kalian tahu, dia menangis." Deok Man bercerita sambil memandang wajah mereka satu persatu.


"Benar... Semua anak di dunia! mereka menangis!" Pedagang berperut buncit berucap, mencoba menjelaskan dengan mengerakan kedua tangannya.


"Lalu, dia pikir sudah berhasil! Yang perlu dia lakukan hanya mencari dimana tangisan itu." Deok Man bercerita memandang mereka bergantian.


"Lalu dia datang. Tapi.. kali ini anak itu tidak menangis." Deok Man bercerita, jari telunjuknya ditaruh di bibir menandakan diam, kemudian tangannya ditaruh di telinga seperti orang yang mencoba mendengar sesuatu.


"Kenapa?" Hampir bersamaan para pedagang bertanya karena penasaran.


"Itu, aku tidak tahu." Deok Man menjawab pertanyaan sambil tertawa kecil.


"Lalu?" Pedagang berperut buncit bertanya, lagi lagi dia dibuat penasaran.


"Jadi... dia mendekati gua itu.. Mendekat... mendekat... sampai dia menemukannya!" Deok Man bercerita sambil memainkan mimik mukanya. Mereka yang mendengar terbawa suasana.


"Tapi?!" Pedagang berperut buncit memotong cerita Deok Man dengan antusias.


"Tapi! Gua ini kecil. Orang-orang tidak bisa masuk kesana! Mereka hanya punya ranting dan tanah, Lalu, dia sembunyi di dalam gua." Deok Man bercerita sambil menggerak gerakan tangannya.


So Hwa yang melayani pembeli kedai hanya tersenyum sambil memandang Deok Man bercengkrama dengan para pedagang sahabatnya.


"Apa lagi?! Jadi? Tapi, kenapa dia mencari anak dan pelayan itu?" Paman Cartan dengan serius bertanya kepada Deok Man, alasan Chil Sook mencari bayi dan pelayan.


"Ahh... Dia tidak pernah mengatakan hal itu." Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan.


So Hwa menghentikan kegiatannya, lalu berjalan mendekat ke arah Deok Man. So Hwa terdiam melihat Deok Man. Dan memperhatikan mereka dengan serius.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.


Chil Sook memeriksa secara teliti, satu demi satu barang milik So Hwa di periksa. Dari satu lemari ke lemari yang lainnya. Membuka lemari pakaian So Hwa, membuka buffet, dan semua yang ada disitu, namun tidak menemukan apa apa.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


"("Pasang api!") katanya. Berbicara seolah itu hal mudah, di dalam gua itu, saat malam... Bagaimana caranya membakar ini?!" Deok Man berdiri sambil mempraktekan gerakan gerakan dengan tubuhnya.


"Lalu, dia membuat api?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man. Perlahan So Hwa mendekati mereka dengan wajah tegang.


"Seorang anggotanya menggosok-gosokkan batu, seperti ini!" Deok Man yang berdiri segera mengambil sumpit dan mempraktekan cara membuat api dengan sumpit tersebut.


"Seperti ini... begitu... begitukah." Paman Cartan berbicara pelan.


"Dia akhirnya berhasil membuat api... mereka mengumpulkan kayu bakar di mulut gua, dan melemparnya, satu demi satu." Deok Man berbicara dengan semangat.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.

__ADS_1


Chil Sook menemukan pintu rahasia.. Kemudian mengambil obor.. dan berjalan memasukinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


"Tapi anak itu tetap tidak menangis! mereka putus asa. ('Apa di sini ada orang?!') Lalu, akhirnya dia melihat pelayan itu." Deok Man melanjutkan perkataannya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.


Chil Sook yang memeriksa ruang rahasia kamar So Hwa, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kotak.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


Tanpa sengaja So Hwa menjatuhkan teko tanah di meja sampingnya.


So Hwa berlari ke arah Deok Man.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.


Chil Sook memandang ke arah bawah, ke arah kotak yang terjatuh itu.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


So Hwa memegang tangan Deok Man.


"Apa yang kamu bilang tadi?" So Hwa bertanya dengan wajah tegang, tangannya memegang lengan Deok Man dengan erat.


"Pelayan yang bodoh itu Tanpa sadar dia terluka ,dan membantu anak itu bernafas dari mulut ke mulut..." Deok Man menjawab pelan pertanyaan So Hwa. Deok Man melihat wajah So Hwa yang ketakutan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.


Chil Sook melihat isi kotak yang terbuka, di depan nya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


"Ayo pergi." Dengan tubuh gemetar dan bersuara gugup, So Hwa menarik lengan Deok Man.


"Ibu... kenapa... kenapa?!" Deok Man terkejut melihat perubahan wajah ibunya.


🌺🌺🌺🌺🌺


Di dalam penginapan.


Chil Sook melihat kain tirai ranjang bilik bersalin istana seorabol, kain yang menyelimuti Putri Inmyeong sewaktu bayi.


Chil Sook terperanjat, mulutnya menganga sambil melihat ke arah kain tersebut. Kemudian dia membongkar isi kotak yang lainnya. Chil Sook menemukan surat bertuliskan.~ Munno ~.


Chil Sook memegang surat itu dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya mencengkeram lilin yang dia pegang. Wajahnya masih terlihat terkejut.


Chil Sook menengok dengan tiba tiba karena.... **Bersambung.

__ADS_1


mohon dukungan jempolnya dong buat penyemangat penulis... ikuti juga karyaku yang lainnya**.



__ADS_2