
Kedatangan Sang Permaisuri, membatalkan sidang dewan terbuka. Bangsawan Noribu memimpin penutupan sidang. Para peserta sidang satu demi satu membubarkan diri dan kembali ke tempat masing masing.
Demikian pula dengan rombongan keluarga Raja. Demikian pula lady Mi Shil, mereka tergabung menjadi satu rombongan. Iringan pasukan pengiring, terdiri dari para prajurit, dayang, pembawa bendera dan pasukan berkuda. Pengawal terlihat berbaris rapi memenuhi jalanan.
Dalam rombongan itu ada dua tandu besar, satu berwarna emas milik keluarga Raja dan satu lagi berwarna ungu milik lady Mi Shil.
Dua belas pasukan berkuda memimpin di depan. Delapan pasukan pembawa bendera berjalan di belakangnya. Dua belas dayang berbaris rapi mengikuti pasukan pembawa bendera.
Tandu berwarna emas dipikul sekitaran empat puluh pengawal. Disambung delapan dayang, tandu berwarna ungu dipikul sekitar 12 orang diikuti beberapa pasukan berkuda di ujung belakang iringan.
Mi Shil duduk terdiam di dalam tandu berwarna ungu, wajahnya terlihat kusam. Dia memandang ke arah tandu emas di depannya. Raut wajah kecewa terlihat nyata, beberapa kali terlihat dia menggelengkan kepala.
💮💮💮💮💮💮💮
Di dalam tandu besar berwarna emas.
Raja Jinpyeong, Permaisuri Maya, Eul Jae Dae deung, Gukseon Moon Noh dan seorang pelayan wanita yang sedang menyeduh teh.
"Ini semua adalah hasil kerja kerasmu," Raja Jinpyeong berucap.
"Aku tidak percaya, aku tidak mengerti apa apa,.. Terimalah ucapan terima kasihku." Raja berterima kasih.
Dayang menuang teh, dan menghidangkan untuk semua yang ada dalam tenda tersebut.
"Saya tidak melakukan apapun untuk mendapatkan pujian itu. Itu semua hasil dari tekad Yang Mulia Permaisuri !" Gukseon Moon Noh, menolak ucapan Raja Jinpyeong.
Dia menggeser duduknya sejajar dengan Eul Jae Dae deung. Sedang Eul Jae Dae deung serius memperhatikan situasi di luar tandu.
"Jangan seperti itu," Permaisuri menjawab.
"Aku punya belati di pakaianku, tapi jika Gukseon tidak memotong tali pengikat dan membawa kita ke daratan, maka tidak akan ada hari ini." Permaisuri Maya tersenyum, tangan mengelus perut besarnya.
Pandangan matanya, memandang Raja Jinpyeong yang duduk di sampingnya.
"Mungkin saya hanya perantara saja," Gukseon merendah. Raja Jinpyeong menarik napas, melihat ke arah Gukseon.
"Itulah sebabnya, anda harus bertahan dari semua ini, sampai anda mampu, tapi kemauan anda saat ini akan membiarkan anda kalah dari mereka." Gukseon melanjutkan ucapannya.
"Aku bahkan tidak sadar, tekad apa yang aku miliki?!. Mungkin itu datang dari calon anak kita." Permaisuri Maya berkata sambil memandang Raja.
__ADS_1
"Aku terus merasakan anak kita meronta, aku merasakan napasnya. Dia anak yang kuat. Dia akan mengalami kesulitan, dan dia akan selamat dari kesulitan itu." Permaisuri Maya terus menatap ke arah Raja Jinpyeong.
"Anakku, aku akan mengatasi semua masalah. Aku akan mengatasinya untukmu!" Raja Jinpyeong mengelus lembut perut Permaisurinya, matanya berkaca kaca.
"Aku harap kalian berdua membantu dan mendukungku, aku akan melakukannya... Aku akan melakukan. Bahkan hingga saat terakhir." Raja Jinpyeong mengalihkan pandangan kearah dua pengikut setianya.
"Saat itu Almarhum Yang Mulia Raja Jinheung dipenuhi keringat dingin, dan mengkhawatir - kan nasib negara ini, mengkhawatirkan orang orang yang lemah, malang, yang mungkin akan diperbudak Baekje dan Gogureyo." Raja Jinpyeong menangis.
"Itu semua telah direbut Mi Shil, Ini saatnya merebut balik, Bantulah aku." Raja Jinpyeong menemukan semangat baru, setelah kembalinya Permaisuri Maya.
"Baiklah Yang Mulia," Gukseon Moon Noh berseru, mengangguk penuh hormat.
"Siap Yang Mulia, hamba siap berkorban apa saja, demi anda, demi rakyat, demi kerajaan." Di samping Gukseon, Eul Jae Dae deung menangis.
Permaisuri Maya mengangguk mendengar sumpah setia kedua bawahannya, kemudian menoleh kearah Raja dan tersenyum, memandang wajah tegas Raja Jinpyeong yang dipenuhi semangat.
💐💐💐💐💐💐💐
Hari telah berganti menjadi malam, Di sebuah serambi istana kediaman Yang Mulia Raja, Gukseon Moon Noh bertemu dengan Eul Jae Dae deung. Mereka membicarakan tentang kembalinya Gukseon.
Dengan tenang Eul Jae Dae deung mengungkap kan kegembiraannya.
"Aku gembira kamu telah kembali, ini adalah keuntungan... waktu itu... zaman yang makmur itu... saya memuji usahamu..." Eul Jae Dae deung berjalan mendekati Gukseon, dan menepuk nepuk bahunya.
Melihat Lady Mi Shil tiba, Gukseon dan Eul Jae Dae deung menghentikan langkahnya ketika tepat di halaman istana, memberi hormat. Demikian pula Lady Mi Shil, mereka beradu pandang tepat di tengah halaman.
"Ada apa ini?" Lady Mi Shil bertanya.
"Aku mendengar kamu mendapatkan wahyu dari langit, saat semedi di gunung Junggak!! Di hari meninggalnya Raja Jinheung." Lady Mi Shil tersenyum ramah.
"Jadi apa isi dari wangsit tersebut?!" Mi Shil Memandang Gukseon lalu bertanya.
Hwarang Chil sook diam, dia memperhatikan wajah Gukseon dan Eul Jae Dae deung secara bergantian.
"Mi Shil tidak akan pernah menjadi Permaisuri, apakah seperti itu?!" Mi Shil tersenyum.
"Begitukah." Mi Shil mengulangnya.
"Bukan seperti itu, Lady...." Gukseon menjawab dengan tenang.
__ADS_1
"Lalu apa?!" Mi Shil bertanya penasaran.
"Wahyu yang aku terima, bahwa, kecuali jika 7 rasi bintang utara terpisah menjadi 8." Moon Noh tersenyum.
"Tidak ada seorang pun di bawah langit ini, yang mampu menandingi keagungan Mi Shil." Gukseon berkata penuh wibawa.
"Kudengar kamu mendapatkan 2 wahyu sekaligus, waktu itu. Lalu wahyu yang kedua itu apa?!" Wajah lady Mi Shil menjadi serius.
Pandangannya turun ke bawah, memperhati - kan kaki Gukseon Moon Noh.
"Apa isi mandat surga itu." Mi Shil mengulangi pertanyaanya.
"Anda mendapatkan mandat dari langit." Gukseon Moon Noh menjawab.
Gukseon bergegas meninggalkan Mi Shil, Chil Sook masih mematung. Eul Jae Dae deung segera mengikuti Gukseon Moon Noh yang telah pergi dari halaman istana Raja.
Mi Shil masih bergumam di dalam hatinya, ("Jadi itu alasannya, kamu tampak gelisah?! Dia tidak mendapatkan mandat dari langit.")
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Sesampainya di luar pintu gerbang istana Raja, Eul Jae Dae deung dan Gukseon Moon Noh melanjutkan perbincangan yang sempat tertunda tadi.
"Jadi karena itu kamu gelisah?! Dia tidak mendapatkan mandat langit, tapi penuh kemauan. Dan kemauan itu hanya mampu mendatangkan kehancuran dan bencana?!" Sambil berjalan Eul Jae Dae deung membuka percakapan.
"Apa itu?!" Eul Jae Dae deung menarik napas dan melanjutkan.
"Aku bermimpi, Mimpi itu menunjukan siapa yang akan mendapatkan mandat surga, tapi aku bingung. Apakah mandat itu ditujukan kepada diriku?!" Gukseon berhenti dan memandang Eul Jae Dae deung.
"Kamu jangan terlalu khawatir, ingatlah peribahasa *geo geo geo jungji." Eul Jae Dae deung tersenyum.
"Haeng haeng ri gak." Menatap wajah Gukseon lalu melanjutkan.
[*Pepatah bijak dalam ajaran Tao, yang berarti "Di sepanjang jalan yang sulit dan panjang, kamu akan mendapat pengakuan. Berlarut dan berulang akan membawamu menuju pencerahan!!!".]
Mereka berpandangan, kemudian Gukseon berucap, "Mari kita pergi."
****bersambung.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
ikuti karyaku lainnya...Balada Perjaka Tua ( Old Virgin Ballad Guild), Legenda Ponorogo ( The legend of Reyog City ) Gusku Suamiku (Robb Maafkan Aku Menikung Cinta MU ) dan The king's Wasted Princess (Putri Yang terbuang**).