
~ Kuil Kerajaan Shilla ~
Lady Mishil berdiri di dinding kuil yang bergambar diagram rasi bintang. Tangan Lady Mi Shil mengusap usap gambar rasi bintang utara. Seo Ri datang perlahan memasuki ruangan Lady Mi Shil berdiri, kemudian menyapa Lady Mi Shil.
"Apa Anda masih mengkhawatirkan rasi bintang utara itu?" Seo Ri menyapa Lady Mi Shil.
"Kamu datang." Mi Shil tersenyum, memandang ke arah Seo Ri.
"Gaeyang telah terpecah menjadi 2 bintang." Mi Shil mengalihkan pandangan ke arah diagram rasi bintang utara.
"Sehingga 7 bintang rasi bintang utara menjadi 8," Mi Shil berkata, sambil mengusap usap diagram rasi bintang.
"Tapi salah satu bintang Gaeyang telah kehilangan cahayanya," Pendeta Seo Ri berkata kepada Mi Shil,
"Sudah 15 tahun," Seo Ri berkata lagi kepada Mi Shil.
"Saat hilangnya Munno saat itu," Mi Shil menengok ke arah Seo Ri.
"Bersama dengan Chilsuk 15 tahun lalu." Mi Shil berjalan mendekati Seo Ri.
Mereka berdua berjalan beriringan, sambil terus berbincang.
"Kehilangan Chilsuk sangat menyedihkan," Seo Ri berkata kepada Mi Shil.
"Tapi bintang itu akan kehilangan cahayanya jika dia berhasil menyelesaikan tugas itu," Seo Ri menjelaskan lebih lanjut.
"Begitukah menurutmu?!" Mi Shil menghentikan langkahnya dan memandang ke arah Seo Ri.
"Iya," Seo Ri menjawab pertanyaan Mi Shil.
"Tujuh bintang rasi bintang utara akan selalu seperti itu." Seo Ri memandang ke arah Mi Shil.
"Lalu..." Mi Shil memutar badan menghadap ke diagram di dinding.
"Apakah pangeran ini juga akan... ditakdirkan sesuai ramalan." Mi Shil melirik ke arah Seo Ri.
"Semuanya terjadi seperti yang anda inginkan," Seo Ri menjawab keraguan Mi Shil.
"Tidak perlu khawatir." Seo Ri tersenyum kemudian menarik napas.
"Waktu selalu memihak pada anda," Seo Ri memperjelas pandangan batinnya.
"Jadi begitu," Mishil memandang Seo Ri, senyumnya mengembang.
"Waktu akan selalu memihak padaku. Tapi, jika dilihat lagi... Waktu tidak memiliki penjaga," Mi Shil berkata pada Seo Ri.
"Apa?!" Seo Ri bertanya kepada Mi Shil.
"15 tahun berlalu Bukankah waktu... merubah wajahku?!" Mi Shil melirik tajam ke arah Seo Ri.
"Itu wajar," Seo Ri menjawab Mi Shil sambil tertawa.
"Siapakah yang bisa mengalahkan kecantikan Anda di Seorabol?!" Seo Ri memuji kecantikan Mi Shil.
"Kamu bahkan memujiku di saat seperti ini," Mi Shil menjawab Seo Ri sambil tertawa.
"Langit akan mengejekku," Mi Shil melanjutkan perkataannya sambil tertawa.
Dengan gagah Seol Won memasuki ruang astronomi kuil suci istana. Dengan pakaian perang lengkap dengan pedang di tangan, Seol Won memberi hormat kepada Lady Mi Shil.
"Seju! Seju!" Seol Won melapor kepada Mi Shil.
Lady Mi Shil menyudahi pembicaraannya dengan Seo Ri, menengok ke arah Seol Won dan tersenyum.
"Apa yang membuatmu tergesa-gesa seperti itu?" Mi Shil bertanya kepada Seol Won.
"Takdir langit benar-benar berada di sisimu," Seol Won menjawab pertanyaan Mi Shil.
Mi Shil memadang heran kepada Seol Won.
"Pangeran ini juga... Tewas seperti yang lain," Seol Won melapor kepada Lady Mi Shil.
Dengan wajah datar Mi Shil beradu pandang dengan Seo Ri yang masih dengan senyumnya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Di kamar pribadi Yang Mulia.
Permasuri Maya menangis terisak isak memeluk jenazah pangeran ke 3. Empat orang dayang pribadi Permasuri berdiri di pintu masuk, menundukan kepala tidak berani berbuat apa apa.
"Anakku! Anakku! Kenapa kamu meninggalkanku seperti ini?! Kenapa kamu begitu tega meninggalkanku," Permaisuri Maya menangis, sambil memeluk jenazah Pangeran ketiganya. (Anak ke empat)
Yang Mulia Baginda memasuki ruang tersebut di kawal dua orang kasim. Gurat kesedihan begitu jelas tersirat di wajahnya.
Beliau tertegun menyaksikan Permaisuri memeluk jenazah putranya. Dengan langkah gontai, Yang Mulia Baginda Raja, meninggalkan ruang tersebut.
__ADS_1
Yang Mulia Baginda Raja berhenti, memutar tubuhnya dan memandang istrinya sekali lagi. Baginda menarik napas, kemudian berlalu keluar ruangan.
Baginda Raja teringat kejadian 15 tahun lalu, Kelahiran Putri Inmyeong.
๐ฅ๐นBaginda Raja flash back๐น๐ฅ
Sambil menangis Permaisuri Maya memeluk Putri Inmyeong. Berusaha menghalangi Baginda Raja mengasingkan putrinya. Baginda Raja penuh kesedihan berusaha mengambil Putri Inmyeong dari pelukan Permai suri.
[~ Raja Jinpyeong ~(Penguasa Shilla ke-26, Ayah Seondeok)]
[~ Maya ~(Permaisuri Jinpyeong, Putri Kim)]
"Kenapa... Kenapa ini terjadi?!" Permaisuri Maya menangis memeluk Putri Inmyeong.
"Anakku... Yang Mulia, Jangan!" Permaisuri berteriak kepada Raja, berusaha mempertahankan putrinya.
"Berikan dia padaku!" Raja Jinpyeong berkata sambil berusaha mengambil putrinya.
"Tidak," Permaisuri Maya menolak, tetap memeluk Putri Inmyeong.
"Sekarang!" Baginda berteriak kepada Permaisuri.
"Bukankah dia adalah darah dagingmu?!" Permaisuri menangis, mempertahankan putrinya.
"Berikan bayi itu padaku," Baginda berteriak, berusaha mengambil putrinya.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Permaisuri menangis, putri di gendongannya berhasil di rebut Baginda Raja.
"Sekarang!" Baginda Raja berkata sambil mengendong Putri Inmyeong.
"Yang Mulia." Permaisuri menangis, berusaha menggapai putrinya.
"Yang Mulia.,Yang Mulia... Jangan..." Permasuri berusaha menggapai putrinya.
๐น๐ฅ Baginda Raja flash back off๐ฅ๐น
Baginda Raja Jinpyeong tersadar dari lamunannya, ketika Permaisuri tiba disampingnya, langsung jatuh terduduk.
"Yang Mulia!" Permaisuri jatuh terduduk di samping Baginda Raja.
"Yang Mulia..." Permaisuri bersujud di samping Baginda Raja.
"Permaisuri.. Apa yang kamu lakukan?" Raja Jinpyeong meraih bahu istrinya, membantunya berdiri.
"Yang Mulia. Hukumlah aku." Permaisuri menolak berdiri, kemudian duduk bersimpuh di depan Raja.
"Aku kehilangan tiga pangeran anda." Permaisuri berkata sambil menangis.
"Dan kenapa hal itu menjadi kesalahanmu?" Baginda berkata sambil berusaha menenangkan Permaisuri.
"Yang Mulia, tidak ingat?!" Permaisuri berkata sambil masih terus menangis.
"Anak kembar yang kuberikan," Permaisuri berujar kepada Baginda Raja.
"Permaisuri," Baginda Raja memotong perkataan Permaisuri.
"Tinggalkan kami sendiri." Baginda memberi perintah kepada kepala kasim.
"Baik, Yang Mulia," Kepala kasim menjawab perintah Baginda Raja.
"Semuanya, Pergi!" Kepala kasim memberi perintah kepada seluruh yang ada di situ.
"Baik," Mereka menjawab serempak.
Semua yang hadir segera berlalu dari tempat itu. Para dayang pergi lebih dulu, di ikuti para kasim, hwarang, prajurit, pengawal dan penjaga istana. Kemudian Baginda Raja duduk di hadapan Permaisuri. Meraih bahu istrinya, kemudian memeluknya erat.
"Sayangku," Baginda Raja berkata lembut kepada Permaisuri.
"Eochul Ssangsaeng, Jika kerajaan mendapat anak kembar." Permaisuri berkata sambil menangis di pelukan Raja.
"Seonggol Namjin, Garis keturunan suci akan rusak," Permaisuri berkata sambil menangis yang semakin terisak.
"Alasan kenapa kita kehilangan pangeran... itu karena... Anak kembar itu," Permaisuri berkata kepada Baginda Raja.
"Permaisuri," Baginda Raja memotong perkataan Permaisuri.
"Jadi, mungkin anda ingin menghukum penjahat, ini karena perbuatanku," Permaisuri memohon hukuman kepada Baginda Raja.
"Permaisuri," Baginda Raja berkata, menekan intonasi ucapannya.
"Aku dengan senang hati akan mengorbankan hidupku. Cheonmyeong dan aku harus dikorbankan..." Permaisuri berkata kepada Baginda Raja, kembali menangis terisak.
"Aku tidak akan melakukan hal itu," Baginda Raja menenangkan Permaisuri.
"Yang Mulia!" Permaisuri berkata sambil menangis.
__ADS_1
"Meskipun garis keturunan suci menghilang," Baginda Raja berkata tegas kepada Permaisuri.
"Aku tidak akan pernah mengorbankanmu dan Cheonmyeong di altar!" Raja Jinpyeong berkata dan menatap lembut Permaisuri.
"Dia selamat dari perbuatan Mishil. Cheonmyeong akan mampu menandingi kekuasaan Mishil," Raja Jinpyeong menjawab keraguan Permaisuri.
Yang Mulia Permaisuri membenamkan wajahnya di pelukan Baginda Raja. Putri Cheonmyeong menyaksikan kedua orang tuanya duduk di serambi duduk berpelukan yang terlihat menyedihkan.
Putri Cheonmyeong menghampiri kedua orang tuanya tersebut.
"Ayah," Putri Cheonmyeong memanggil Baginda Raja.
Mendengar panggilan putrinya, Raja Jinpyeong melepaskan pelukannya. Raja membiarkan Permaisuri duduk istirahat, kemudian berdiri memandang putrinya.
[~ Cheonmyeong ~(Putri tertua Jinpyeong, saudara kembar Seondeok)]
"Bagaimana bisa saudara ketigaku..." Putri Cheonmyeong menangis menatap ayahnya.
"Cheonmyeong." Raja Jinpyeong menjawab sambil menatap putrinya.
Putri Cheonmyong menangis.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Di kediaman Mi Shil.
Hajong berdiri di tengah ruangan sambil tertawa tawa, berjalan mendekat kearah meja. Mi Saeng duduk tenang menyaksikan keponakannya, tangannya mengambil kipas bulu merak lalu di kipas kipaskan.
"Ketiga pangeran itu sekarang telah lenyap." Ha Jong mendekat ke meja sambil tertawa.
"Jadi sekarang apa yang akan terjadi?" Ha Jong duduk di depan Mi Saeng, kemudian menepuk tangannya.
[~ Hajong ~(Putra Mishil & Sejong, Pungwolju ke-11)]
"Uh?! Keponakanku," Mi Saeng berkata sambil mengipaskan bulu meraknya.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita harus menghormati ini," Mi Saeng berkata dengan tenang kepada Ha Jong.
"Kenapa, Anda tidak gembira dengan hal ini?" Ha Jong bertanya sambil mendekatkan kepalanya ke Mi Saeng.
"Yang Mulia mungkin punya rencana dengan menyembunyikan kembar yang lainnya." Mi Saeng berkata sambil tertawa.
"Tapi tidak semua garis keturunan suci meninggal?!" Mi Saeng berkata kepada Ha Jong.
"Iya kan?!" Ha Jong menjawab kepada Mi Saeng.
"Kamu juga gembira kan?!" Mi Saeng bertanya kepada Hajong.
"Iya kan, hahaha?!" Ha Jong menjawab Mi Saeng sambil tertawa.
Ha Jong dan Mi Saeng berpandangan sesaat. Kemudian mereka tertawa bersamaan.
"Seonggol... Namjin!" Mi Saeng berkata sambil tertawa.
Ha Jong tertawa sambil menepuk nepukan tangannya.
Di tengah tawa mereka, Mi Shil memasuki ruang di ikuti Se Jong, kedua pengawalnya berhenti langsung berjaga di pintu masuk.
"Ibu!" Ha Jong memanggil Mi Shil.
Ha Jong berdiri mendekat kepada Mi Shil.
"Bahkan hingga pangeran ketiga..." Ha Jong berkata sambil tertawa.
"Istana sedang berkabung. Bagaimana bisa kamu menghina, Upacara sakral ini dengan tertawa seperti itu?!" Mi Shil memarahi Ha Jong.
Mendapat teguran ibunya Ha Jong terdiam.
"Ahh... apa yang kubilang tadi?!" Mi Saeng berkata sambil tertawa, kipas menunjuk Ha Jong.
"Kamu juga sama." Mi Shil melirik tajam Mi Saeng.
Misaeng terdiam. Ha Jong menahan tawa melihat Mi Saeng. Mi Saeng melotot ke arah Ha Jong. Mereka berempat duduk tenang melingkari meja.
"Haruskah kita mencalonkan putra mahkota?" Se Jong bertanya kepada Mi Shil.
Ha Jong masih menggoda Mi Saeng dengan menjulurkan lidahnya. Mi Saeng meresponnya dengan gerakan menggigit.
"Tidak perlu tergesa-gesa. Kita akan melakukannya setelah Upacara." Mi Shil menjawab pertanyaan sambil menatap Se Jong.
"Ohh... Tapi, Seju," Se Jong bertanya kepada Mi Shil.
"Akankah Maya, melahirkan anak laki-laki lagi?!" Mi Shil tersenyum memotong pertanyaan Se Jong.
Mereka manggut manggut mendengar kata kata Mi Shil.
__ADS_1
"Seorabeol sekarang... tidak memiliki pangeran dari garis keturunan suci." Mi Shil berkata sambil tertawa penuh kemenangan.
Bersambung.