
Taklamakan.
Sebuah kota kecil di tengah gurun tandus, kota perdagangan dalam jalur sutra. Di kota kecil ini Putri Inmyeong menjalani hidup sebagai rakyat jelata bernama Deok Man. Karena kerasnya hidup yang dijalani, Deok Man tumbuh menjadi gadis tomboy yang kuat.
Seperti biasa Deok Man akan melakukan apapun untuk membantu ekonomi keluarga, dia sangat berkeinginan pergi ke Roma. Bukan untuk berwisata, namun demi menyembuhkan penyakit paru paru yang di derita oleh So Hwa.
So Hwa berhasil membangun penginapan dan kedai sederhana atas bantuan paman Cartan. Paman Cartan adalah pedagang baik hati yang berasal dari Roma. Paman Cartan bertemu So Hwa dan bayinya ketika tersesat di Gurun Sahara yang tandus.
Deok Man sangat menyayangi paman Cartan. Deok Man sudah menganggap paman Cartan seperti ayah kandungnya sendiri, apalagi sejak bayi Deok Man tidak memiliki sosok ayah. Demikian pula paman Cartan sangat menyayangi Deok Man seperti putrinya sendiri, apalagi sebagian besar hidupnya di habiskan berpindah dari satu kota ke kota lainnya.
Paman Cartan sudah dianggap keluarga oleh So Hwa dan Deok Man. Sejak kecil paman Cartan mengajari banyak hal kepada Deok Man. Mulai dari cara berdagang, berhitung, membaca dan menulis dalam berbagai bahasa. Dan yang paling penting paman Cartan mengajarkan berpikiran terbuka dan menerima hal baru bagi Deok Man.
Pagi itu Deok Man mengunjungi pasar Taklamakan. Kebetulan hari ini di pasar Taklamakan sedang ada pertunjukan sirkus keliling. Deok Man sangat ingin menyaksikan pertunjukan sirkus keliling itu.
Terdapat banyak ragam pertunjukan yang disajikan dalam pergelaran sirkus keliling kali ini. Ada permainan ketangkasan, kecermatan, kekebalan juga ada permainan ilusi.
Deok Man memasuki jembatan kecil sebagai pintu masuk lingkungan pasar, tempat pertunjuk sirkus keliling di gelar. Di ujung jembatan seorang petugas memungut biaya masuk ke Pasar. Deok Man membayar uang masuk pasar, kemudian menuju ke tempat pertunjukan sirkus. Deok Man memilih melihat pertunjukan kekebalan tubuh.
"Wow!" Deok Man bertepuk tangan, menyaksikan dua orang bertubuh kecil membengkokan tombak besi. Tombak besi itu masing masing ujungnya di letakan di leher pemain sirkus, kemudian mereka berdua berjalan maju, saling mendorong tombak besi tersebut hingga bengkok.
"Ajeosshi!" Deok Man terkejut ketika pakaian di ujung leher belakangnya di tarik oleh Chil Sook. Ternyata Chil Sook mengikuti Deok Man sejak masuk ke lingkungan pasar Taklamakan tadi.
"Bukankah kamu berjanji akan memperkenalkanku pada seseorang?!" Chil Sook menarik pakaian Deok Man. Dia berjalan sambil menarik Deok Man sampai di tengah jembatan pintu masuk lingkungan pasar.
"Ahh... Yang itu?!" Deok Man menjawab tanpa memperhatikan Chil Sook. Pandangan matanya masih tertuju pada pertunjukan kekebalan tubuh di depannya.
"Penuhi janji yang kau katakan kemarin?!" Chil Sook menoyor pelan kepala Deok Man, karena Deok Man masih asik melihat pertunjukan sirkus daripada memperhatikan Dia berbicara.
"Ahh... iya, begitukah?! Ikuti aku." Deok Man berkata kepada Chil Sook, pandangan matanya memutar mencari seseorang. Deok Man menarik tangan Chil Sook, setelah melihat paman Cartan.
"Cartan Ajeosshi!" Deok Man memanggil paman Cartan. Paman Cartan melakukan transaksi beberapa barang dagangan, dengan pedagang setempat.
"Ohh... Deokman! Jadi... dia orangnya?!" Paman Cartan menoleh ke arah Deok Man. Deok Man menarik Chil Sook mendekati paman Cartan. Paman Cartan memandang Deok Man dan Chil Sook sambil tersenyum.
"Iya, dia, Chilsuk Ajeosshi. Cukup luar biasa, aku dengar dia dari Gyerim?! Cukup luar biasa, aku dengar dia bekas tentara?! Aku merasa dia kurang mahir memakai bahasamu." Deok Man berdiri di samping Chi Sook, memperkenalkan Chil Sook kepada paman Cartan
"Ehh... coba tanya dia langsung!" Deok Man berbicara kepada paman Cartan, tangannya bergerak memegang lengan Chil Sook menariknya ke depan dan mepersilakan.
"Namaku Cartan." Paman Cartan memandang ke arah Deok Man, sebelum meperkenalkan diri. Kemudian memandang ke arah Chil Sook sambil menyebutkan namanya.
"Aku Chilsuk." Chil Sook menundukan kepala menghormat kepada Cartan. Sikap profesional prajurit masih terbawa sampai sekarang.
"Aku mengandalkanmu." Paman Cartan memeluk Chil Sook dari kiri, kemudian berpindah memeluk dari kanan. Kedua tangan paman Cartan menepuk pungung Chil Sook, sambil bergeser ke bawah sampai pant*t. Paman Cartan Merem@s panta* Chil Sook.
"Apa yang kau lakukan?" Chil Sook spontan melepas pelukan paman Cartan, memegang pedangnya melakukan kuda kuda tengah. Paman Cartan cuma tertawa.
"Itu adalah cara dia menyapa, di tanah airnya." Deok Man tertawa, melihat tingkah konyol Chil Sook. Deok Man berjalan ke tengah, di antara Chi Sook dan paman Cartan. Deok Man berdiri di samping paman Cartan memandang Chil Sook.
"Bagaimana?" Deok Man berucap sambil memandang ke arah paman Cartan, memastikan pendapatnya.
"Wow... Dia cukup terampil! Aku yakin dia akan berguna?!" Paman Cartan manggut manggut memandang Chil Sook, kemudian memandang Deok Man dengan tersenyum.
__ADS_1
"Sudah kubilang kan?" Deok Man tersenyum ke arah Chil Sook yang berdiri mematung.
Beberapa pedagang tiba di tempat itu.
"Deokman." Pedagang berperut buncit memanggil Deok Man. Mereka semua terdiam, beberapa orang prajurit Chen Daren melakukan patroli pemeriksaan.
"Yang lain sudah menunggu, ayo kita berangkat. Keadaan di sini semakin tidak baik." Pedagang berperut buncit menoleh ke kiri dan kanan, memastikan keadaan aman.
"Di mana tempatnya?" Pedagang berperut buncit mendekatkan kepala kepada Deok Man dan memperkecil volume suaranya.
"Semuanya, ayo ikut." Deok Man berbicara pelan, tangannya melambai isyarat agar mengikutinya.
"Ayo, ikuti dia." Pedagang berperut buncit mempimpin para pedagang lainnya mengikuti langkah Deok Man. Demikian pula paman Cartan, setelah beberapa langkah berjalan dia berbalik. Tangan paman Cartan melambai mengajak Chil Sook bergabung. Chil Sook mengikuti paman Cartan yang berjalan di depannya.
Setelah kepergian mereka, satu batalyon pasukan Chen Daren tiba di tempat tersebut. Pasukan tersebut berpakaian perang lengkap. Berbaju besi dan bersenjatakan tombak.
"Geledah semua tempat! Cepat!" Kepala Pasukan memberi komando kepada para prajuritnya.
"Siap!" Pasukan menjawab serempak, bergegas menyebar ke seluruh pasat Taklamakan.
🌺🌺🌺🌺🌺
Deok Man memimpin para pedagang menuju tempat yang di tentukan. Di belakang penginapan sederhana milik So Hwa. Mereka menuju ke sebuah tumpukan batu bata yang sudah mengering. Deok Man tertawa, membersihkan jerami yang menutupi tumpukan batu bata kering tersebut.
"Lewat sini." Deok Man berjalan lebih dulu, meminpin jalan para pedagang di belakangnya.
"ini Tidak mungkin dikenali, iya kan?" Deok Man memperlihatkan batu bata yant tersusun rapi di halaman belakang.
"Iya. Ini... dinamakan.. teh batu bata. Teh kering dalam batu!" Deok Man menjawab sambil tersenyum kepada para pedagang.
"Wow! Benar-benar mirip." Paman Cartan terkagum melihat kreatifitas Deok Man.
"Ini batu batu asli! mereka tidak akan bisa menemukannya." Pedagang berperut buncit kagum melihat pemandangan di depan matanya.
"Wow... ini benar-benar luar biasa." Pedagang berkulit hitam tersenyum, sambil memegang teh batu bata buatan atas usulan Deok Man.
"Mereka mengambil daun teh dan tanah lalu memasukkanya dalam cetakan, setelah dibentuk menjadi balok lalu di keringkan." Deok Man mulai menjelaskan proses pengemasan teh oleh pedagang Sui.
"Lalu, bagaimana cara meminum ini?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man.
"Seperti ini." Deo Man menjawab pertanyaan paman Cartan sambil memotek teh batu bata buatan pedagang Sui tersebut.
Para pedagang mengambil teh dari patahan batu bata tersebut. Mereka memeriksa keaslian teh yang tersimpan dalam batu bata tersebut. Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka terdengar oleh Prajurit yang sedang melakukan patroli.
Para Prajurit mengepung mereka dari berbagai penjuru. Deok Man segera menutup kembali batu bata tersebut dengan jerami.
"Daun teh?! di sini Tahan mereka semua!" Kepala Prajurit memberi komando kepada prajurit untuk menahan dan menyita teh sebagai barang bukti.
"Siap!." Para Prajurit segera menyudutkan mereka pada satu sisi.
"Kami menerima informasi... bahwa kalian ingin menyelundupkan teh." Kepala Prajurit menghardik para pedagang disitu.
__ADS_1
"Teh?! Tidak mungkin." Paman Cartan beralibi kepada Kepala Prajurit.
"Geledah semua tempat!" Kepala Prajurit memberi komando kepada bawahannya.
"Kami telah menangkap Pedagang Sui, setelah dia menjual teh padamu! Geledah sekeliling rumah!" Kepala Prajurit kembali memberi perintah, setelah di dalam rumah tidak ada barang bukti.
"Siap! Mereka tadi bilang ada teh di sekitar sini. Cepat temukan!" Tangan Kanan Kepala Prajurit menerima perintah, lalu memerintahkan orang kepercayaannya bertindak.
🌺🌺🌺
Di dalam penginapan.
"Siap! Minggir! Pergi!" Prajurit membentak para pelayan yang menghalangi jalan. Mereka memeriksa dengan teliti di setiap sudut penginapan milik So Hwa.
So Hwa mengetahui hal itu segera mengikuti mereka ke lantai 3 dan hampir terjatuh di tabrak para prajurit.
🌺🌺🌺
Di luar penginapan.
"Kami tidak menemukan apapun di dalam. Di sana juga tidak ada." Para Prajurit melapor kepada kepala Prajurit.
"Tidak mungkin! Apa kalian mencarinya dengan teliti?" Kepala Prajurit bertanya kepada bawahannya.
"Iya, kami memeriksa di setiap sudut. Memang tidak ada. Itu pasti informasi yang salah." Tangan kanan Kepala Prajurit melapor setelah keluar dari penginapan dan tidak menemukan apa apa.
🌺🌺🌺
Di dalam penginapan lantai 3.
Para Prajurit memasuki kamar So Hwa dan membongkar isi alamari miliknya. Barang peninggalan Baginda Raja Jinpyeong yang tersimpan di dalam kotak ikut berantakan.
🌺
Di Halaman belakang penginapan.
So Hwa keluar perlahan dari dalam penginapan. Diam diam Deok Man mengambil kaca pembesar dari sakunya dan diarahkan ke arah matahari. Dia bermaksud membakar barang bukti menggunakan percikan api.
"Minggir! Apa itu?" Kepala Prajurit melihat tumpukan batu bata mengeluarkan asap. Dia mendekatinya, namun para pedagang menghalanginya.
Dia melempar para pedagang satu demi satu., kesamping. Tersisa Deok Man berdiri di depan tumpukan batu batu yang mengeluarkan asap.
Batu bata di belakang Deok Man tiba tiba terbakar. So Hwa yang mempunyai Phobia api segera berteriak ketakutan.
"Ibu!" Deok Man berteriak sambil berlari menuju ke tempat So Hwa. Deok Man segera memeluk So Hwa yang kebingungan karena ketakutanya dengan api.
Chil Sook menyaksikan semuanya dengan mata tajam, mulai mencurigai sesuatu.
Setelah melihat batu bata yang terbakar. Kepala Prajurit menyadari itu adalah teh dalam kemasan. Segera memerintahkan prajuritnya dengan berteriak, "Tahan mereka semua!"
"Siap!" Para Prajurit bergerak mengepung para Pedagang di depannya. Deok Man dan So Hwa yang ketakutan juga di bawa ke Benteng Chen Daren untuk di eksekusi.
__ADS_1
Bersambung.