Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
13. PSK 03_02. Pelarian.


__ADS_3

So Hwa berjalan pelan memperhatikan situasi sambil menggendong bayi mungil di dekapan nya. Dengan waspada, dia berjalan meng endap endap dan langsung sembunyi di rumpun bunga. Satu pasukan prajurit berlalu lalang, mondar mandir berpatroli. Setelah beberapa saat, para prajurit berlalu dan keadaan kembali sepi So Hwa kembali berlari menuju lubang pelarian rahasia di dinding istana. ( ingat episode 3. PSK 02_01. Penculikan Permaisuri Maya.)


So Hwa berjalan secepat mungkin, namun tanpa dia sadari sepasang mata memperhati- kan gerak geriknya.


Setelah pergantian tugas, seorang penjaga gerbang bergegas meninggalkan tugasnya kembali menuju kediamannya. Di tengah perjalanan tanpa sengaja melihat sosok dayang yang mencurigakan. Dan bergegas menghampiri dayang tersebut.


"Kenapa malam malam begini dia berkeliaran sambil menggendong bayi." Penjaga tersebut bergunam, tangannya memegang pundak dayang yang sebagian tubuhnya sudah menerobos lubang di dinding istana.


So Hwa yang sudah memasuki lubang pelarian merasa kaget, pundaknya dipegang seseorang dari belakang dan menarik tangannya ke belakang, menjorokannya duduk di kotak kayu di samping lubang pelarian.


Bayi kecil di pelukan So Hwa terbangun dan mulai menangis.


"Siapa kamu, apa yang kamu lakukan." Penjaga gerbang itu berteriak lantang. So Hwa perlahan berdiri mendekati penjaga tersebut.


"Kamu,... kamu.... bukankah kamu So Hwa pelayan pribadi Yang Mulia Raja. Tapi,..." Penjaga gerbang itu berucap sambil mengamati wajah So Hwa memastikan.


So Hwa langsung menyerahkan bayi yang di gendongnya kepada penjaga gerbang. Penjaga gerbang kaget, dengan cepat membuang tombak di tangan kanannya dan meraih bayi itu, karena melihat bayi mungil itu hampir terjatuh.


"Woul Ja, jaga bayi ini untukku." So Hwa berucap dengan gemetar ketakutan.


"Apa." Woul Ja menjawab sambil memandang bayi kecil di gendongannya.


"Bisakah kamu menjaga bayi ini untukku." So Hwa berucap kepada Woul Ja memperjelas, wajahnya pucat. Ketakutan terlihat jelas, dan keringat dingin membasahi dahinya.


"Aku tidak bisa melakukannya." Woul Ja menjawab sambil memaksakan bayi kembali ke gendongan So Hwa.


"Itu bukan bayiku." So Hwa kembali memaksa- kan bayi ke pelukan Woul Ja.


"Jadi bayi ini milikku... kenapa aku harus melakukannya." Woul Ja kembali memaksakan bayi ke pelukan So Hwa.


"Aku mohon jaga bayi ini." So Hwa memelas, padangan matanya sayu memohon.


"Aku sudah punya istri dan anak." Woul Ja menjawab sekenanya.


"Jaga bayi ini untukku, ku mohon." So Hwa memaksa bayi ke pelukan Woul Ja.


"Kamu menyakitiku, hai kamu..... kamu melakukannya dengan seorang pria dan aku harus menjaga bayinya?!" Woul Ja berteriak mulai emosi.


"Bukan, sudah kubilang ini bukan bayiku." So Hwa semakin panik.


"Bagaimana bisa.... ini bukan bayimu.... kamu... bagaimana kamu yang hanya seorang pelayan mencoba menipuku. Sudah pergi." Woul Ja mendorong So Hwa pergi ke arah lubang pelarian.


"Pergi keluar dari sini, ingat kamu adalah ibunya.... jaga baik baik bayimu!!" Woul Ja berteriak sambil menyerahkan bayi ke tangan So Hwa.


"Benar.... benar... mulai sekarang kamu adalah putriku, sekarang aku adalah seorang ibu." So Hwa berguman, segera meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pertemuan di aula raja telah usai. Mi Shil ditemani Se Jong dan para dayang kembali ke kediamannya, ketika tiba di tepi kolam istana, mereka berjalan dengan perlahan.


Ketegangan tampak di wajah Mi Shil. Tidak berapa lama, Pasukan pengejar Moon Noh tiba. Mi Saeng dan Seol Won memimpin mereka, mereka berjalan tergesa menjumpai Mi Shil.


"Nunim!.... Nunim!.... Nunim!!" Mi Saeng Bergegas menuju Mi Shil.


"Bukan munno yang membawanya, anak itu tidak ada padanya." Seol Won berjalan di samping Mi Saeng dan berhenti kemudian memberi hormat kepada Mi Shil.


"Munno... bukan dia?!" Se Jong berdiri disamping kanan Mi Shil.


"Lalu..." Mi Shil bertanya melanjutkan, memandang ke arah Seol Won.


"Tidak mungkin..." Seo Ri tiba tiba berbicara memotong pembicaraan Mi Shil.


Semua yang hadir langsung merespon memandang ke arah Seo Ri yang berdiri di belakang Mi Shil.


"Mungkinkah pelayan yang ribut tadi?" Seo Ri menjelaskan kepada mereka.


"Sekarang aku berpikir, dia tidak pernah keluar." Seol Mae bicara melanjutkan pembicaraan Seo Ri.


"Apa para penjaga diberitahukan mengenai bayi kembar? Apa mereka tahu kalau kita sedang mencari seorang bayi?" Mi Shil memperjelas pertanyaannya.


"Mereka tidak tahu." Mi Saeng menjawab kepada Mi Shil.


"Tapi aku sudah mengatakan pada mereka agar tidak membiarkan apapun lewat." Se Jong berkata, memukulkan tinju ke telapak tangannya sendiri.


"Mereka tidak akan bisa lolos!... Pasti!" Mi Saeng berucap sambil mengibaskan kipas bulu meraknya.


"Berikan perintah baru." Se Jong meminta petunjuk.


"Siapapun, Orang, Hewan, Serangga tidak boleh melewati gerbang." Mi Shil memberi perintah kepada semua yang hadir di situ.


"Baik." Mereka menjawab dengan serempak.


"Seolwon Rang, Segera cari Pelayan itu." Mi Shil memberi perintah kepada Seol Won.


"Baik." Jawab Seol Won.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Di tempat Woul Ja.


Di dinding luar lubang pelarian, tampak Woul Ja berdiri sendirian mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


🌹flash back🌹


"pergilah..." Woul Ja memberi perintah pada So Hwa.


"Apa kamu tidak tahu kalau sekarang ini saat genting! Sebelum kamu kutangkap, cepat perlihatkan wajahmu! Sekarang! Wul ja semakin marah.


Tiba tiba So Hwa menyerahkan bayi di pelukannya kepada Woul Ja.


"Hey... Hey! Hey! Hey! Pelayan! pelayan!!" Woul Ja berteriak kepada So Hwa.


So Hwa berusaha kabur dari tempat itu.


"Pelayan... Pelayan!!" Woul Ja menarik baju So Hwa dari belakang sambil mengendong bayi. Kemudian memaksakan bayi ke pelukan So Hwa.


"Aku mohon, jaga bayi itu untukku! Rawat dia dengan baik!". So Hwa kembali memaksakan bayi kepada Woul Ja.


"Terserah! Ambil saja bayi ini! Kamu! Kalau kamu kembali ke sini, akan kebunuh kamu!" ini sudah tidak tertolong. Mulai sekarang, kamu sudah menjadi Ibu... Ibu!" Woul Ja berteriak menyadarkan So Hwa.


"Benar... ini bayiku. Sekarang aku adalah seorang ibu." So Hwa bergunam sambil berlalu.


🌹flas back off🌹


"Aku akhirnya menyelamatkanmu bayi kecil.... Akhirnya... sudah selesai." Woul Ja bergunam sendirian.


"Apa yang harusnya kamu lakukan?! Saat kamu sudah punya anak..." Woul Ja masih asik dengan pikirannya sendiri.


Tiga orang prajurit penjaga gerbang tiba di tempat tersebut tanpa di sadari oleh Woul Ja.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Kepala prajurit berteriak kepada Woul Ja.


"Apa yang kamu lakukan disini?!" Ulang kepala prajurit itu penuh emosi.


"Ahh... iya, Anda tidak tahu?!" Woul ja segera bangun dari duduknya diatas kotak kayu di samping lubang pelarian.


"Maksudku, pelayan tadi." Kepala prajurit itu berteriak lagi.


"Pelayan mana yang kamu maksud? Ahh... pelayan itu, Pelayan Yang Mulia Raja, yang kelihatan bodoh itu." Woul Ja menjawab pertanyaanya sendiri, sambil memukul ringan pelipisnya.


"Ehh Ehh! Penjaga, Apa yang kamu bilang tadi?" Kepala prajurit bertanya kepada Woul Ja.


"Aiyoo... Pelayan itu pasti melakukan sesuatu dengan seorang pria..." Woul Ja berkata kepada Kepala prajurit.


"Apa, pelayan?!" Mi Shil tiba tiba bertanya kepada mereka.


Mereka yang berada di situ langsung berjajar memberi hormat kepada Mi Shil.


"Jadi, apa yang terjadi dengan pelayan itu?!" Seol Won bertanya sambil berjalan tergesa mendekat. Tak lama Mi Shil dan rombongan menyusul Seol Won mendekati mereka.


"Pelayan mana yang kalian bicarakan?" Mi Saeng berkata pelan menjaga wibawa.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


So Hwa dalam pelariannya.


So Hwa secepat mungkin berlari membawa bayi kecil keluar dari istana. Di tengah dinginnya malam di temani bulan purnama, So Hwa terus berjalan dan berjalan tanpa tujuan, hanya satu yang pasti harus membawa bayi itu pergi sejauh mungkin dari Seorabol.


So Hwa berhenti sejenak, di kepalanya teringat perintah Yang Mulia Raja;


🌹flash back🌹


"Bawa bayi ini, dan pergilah sejauh mungkin dari Seorabeol, dan.... jaga bayi ini. Kamu harus menyelamatkannya!" Perintah terakhir Yang Mulia Raja kepada So Hwa.


🌹flash back off🌹


So Hwa melanjutkan pelariannya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Kembali ke tempat Woul Ja.


Mi Shil berdiri mematung, sedangkan Mi Saeng berjalan mondar mandir diantara para parajurit dan rombongan Mi Shil yang saling berhadapan. Kemudian Misaeng berhenti dan menoleh ke arah Woul Ja.


"Lalu, dia sudah pergi berapa lama?! Mi Saeng bertanya kepada Woul Ja sambil berteriak marah.


"Tidak lebih dari 1 gak (15 menit), Tuanku." Woul Ja ketakutan kemudian menundukan kepalanya.


"Kita tidak boleh membuang-buang waktu." Seol Won berkata tenang. Sambil memandang ke arah Mi Shil, sedang Mi Shil memandang ke arah langit.


"Kita harus memanggil pasukan dan mengejarnya... Nunim." Mi Saeng, merasa kesal melihat Mi Shil mengacuhkan Seol Won.


"Apa yang kamu pandangi?" Mi Saeng kemudian menatap ke arah langit.


"Apa..." Mi Saeng berucap ketika melihat ke arah langit.

__ADS_1


Semuanya kemudian memandang ke arah langit.


"Itu?!" Mi Saeng bertanya tangannya menunjuk ke arah rasi bintang.


"Ahh... itu?!" Se Jong menambahkan tangannya juga menunjuk ke arah rasi bintang.


"Jumlahnya bukan 7..." Mi Saeng berucap lagi. Menoleh ke arah Se Jong.


"Itu bintang Gaeyang dari rasi bintang utara..." Se Jong berkata menjawab pertanyaan Mi Saeng.


"Apa yang bersinar di sebelahnya?!" Mi Sae bertanya kepada Se Jong.


"Bintang lain muncul di rasi bintang utara?!" Se Jong menjawab kepada Mi Saeng.


"Apa?! Jadi, 7 bintang rasi bintang utara... sekarang menjadi 8?" Mi Saeng berteriak kaget, melihat rasi bintang utara berjumlah 8.


Mi Shil memandang langit, melihat rasi bintang orion yang menjadi 8, ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Moon Noh.


🌹flash back🌹


"Kecuali 7 bintang rasi bintang utara menjadi 8, Tidak ada seorangpun di bawah langit yang bisa menandingi keagunganmu, lady Mi Shil." Gukseon Moon Noh berseru kepada Mi Shil.


🌹flash back off🌹


Seo Ri yang mengetahui mengerti petunjuk langit, segera menatap ke arah Mi Shil. Demikian pula Mi Shil menatap ke arah Seo Ri. Di saat mereka saling memandang, tiba tiba seorang prajurit berlari ke arah mereka, melapor.


"Tuanku!" Prajurit memekik sambil berlari mendekat.


"Gukseon Munno lolos dari kepungan kami, dan berhasil melarikan diri." Prajurit itu melapor setelah tiba dan memberi hormat kepada Mi Shil. Mi Shil hendak menjawab tetapi dipotong oleh Seol Won.


"Berapa banyak orang kita di sana?!" Seol Won berteriak marah.


"Mereka bahkan tidak bisa mengurus 1 orang?" Seol Won Marah, di sampingnya Mi Saeng membuang muka, sedang Chil Sook seperti biasa selalu memperhatikan semua dengan seksama.


"Maafkan aku." Prajurit itu memoho pengampunan dan memberi hormat pada Seol Won.


"Tapi dia meninggalkan pesan untukmu Tuanku." Prajurit itu mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya kepada Mi Shil.


Dengan dingin Mi Shil mengambil gulungan kertas, dibuka pelan pelan dan membacanya.


🌺Isi gulungan🌺


"Aku akan memberitahu Wahyu kedua yang aku terima." Moon Noh berucap dalam tulisan.


"Kecuali 7 bintang rasi bintang utara menjadi 8, Tidak ada seorangpun di bawah langit yang bisa menandingi keagungan Mishil." Lanjut Moon Noh dalam tulisan.


"Lanjutan kalimat itu adalah...," Moon Noh menulis..


"Hari dimana rasi bintang utara menjadi 8, seseorang yang dapat menandingi Mishil... akan menolong kami." Gukseon Moon Noh berbicara dalam tulisan.


"Si kembar..." Ungkapan terakhir Gukseon Moon Noh dalam tulisan.


🌺gulungan berakhir🌺


"Si kembar..." Mi Shil berteriak menahan marah.


"Si kembar..." Mereka berteriak bersamaan kaget.


"Setiap orang bisa saja gagal." Mi Shil berkata pelan mulai berjalan.


"Setiap orang bisa lalai." Mi Shil tetap berjalan pelan.


"Setiap orang... Bisa membuat kesalahan." Mi Shil tiba di hadapan Woul Ja. Mi Shil menarik pedang Woul Ja.


"T...Tuanku! Tuanku... Tuanku!" Woul Ja ketakutan.


Mi Shil membantai 4 penjaga gerbang yang ada di situ tak bersisa. Bagaimanapun Mi Shil adalah Whonhwa, ketua hwarang wanita. Memegang pedang adalah hal biasa baginya.


Semua terdiam, semua membisu melihat Lady Mi Shil, yang biasanya anggun berubah menjadi kejam. Dengan pedang dan baju penuh darah Lady Mi Shil memandang ke arah pasukannya.


"Setiap orang bisa melakukannya. Tapi... Tidak dengan orangku!" Mi Shil berteriak dan membuang pedang ketanah.


"Chilsuk!" Mi Shil berteriak penuh amarah. Dia mengusap pipinya yang terkena cipratan darah. Kemudian berjalan kearah para pengikutnya.


"Baik, Tuanku!" Hwarang Chil Sook menjawab penuh hormat. Kemudian berlutut di depan Mi Shil.


"Cepat temukan pelac*r itu dan bayi yang satunya." Mi Shil, memberi perintah kepada Chil Sook.


"Baik, tuan putri." Hwarang Chil Sook tetap berlutut dan mengepalkan tangan menyilang di dadanya.


"Berapa lama pun, Berapa kali kamu mati, aku tidak peduli!.. Kamu harus menemukan mereka dan membawa mereka kehadapanku, Kamu mengerti?!" Mi Shil berteriak penuh emosi.


"Baik! Hwarang Chilsuk Menerima perintah anda!" Chil Sook menganggukan kepala dan langsung berlalu dengan cepat.


Mi Shil memandangnya dari kejauhan


bersambung...

__ADS_1



__ADS_2