Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
17. PSK 03_06. Deok Man.


__ADS_3

Tengah malam di tempat Chen Daren, penguasa wilayah taklamakan.


Sebuah benteng tentara dengan bangunan tingkat 2 membentuk huruf U, namun di kelilingi pagar. Bagian tengah merupakan tempat latihan tentara. Di sini terdapat berbagai peralatan tentara dan juga berfungsi sebagai tempat eksekusi.


Ramai lalu lalang prajurit menangkap para pedagang yang terbukti melakukan penjualan teh ilegal. Banyak pedagang yang dikurung dalam penjara kayu.


Di lantai 2 Chen Daren duduk di kursi kerjanya, sambil memantau eksekusi pedagang di pelataran. Seorang prajurit berjalan mendekat menghadap Chen Daren, membungkuk hormat, kemudian menepi.


Di belakangnya seorang pedagang membawa peti berisi perhiasan, membungkuk memberi hormat. Para tentara berjajar di sepanjang jalur di depan Chen Daren. Mereka memakai pakaian perang lengkap. Dua orang pelayan berdiri di belakang Chen Daren.


Dengan wajah bengis, Chen Daren berdiri menatap ke arah pedagang tersebut.


"Jadi..." Chen Daren mengangkat wajahnya, menatap pedagang yang membawa kotak. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kamu ingin meminta ku untuk menutup pelarangan perdagangan teh di area ini?!" Chen Daren berkata pedagang itu. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Apa?!" Pedagang itu tersentak kaget, memandang Chen Daren. [Bahasa China Dialek Utara/Mandarin]


"Tuanku anda menggunakan dialeg Guangdong?!" Pedagang berucap kepada Chen Daren. [Bahasa China Dialek Utara/Mandarin]


"Jika anda datang dari Guangzhou di selatan." Pedagang sambil membawa kotak, berjalan mendekat. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Aku yakin Tuanku akan tertarik dengan ini." Pedagang meletakan kotak, dan membukanya di depan Chen Daren. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


Pedagang tersenyum kepada Chen Daren. Chen Daren memandang ke arah kotak. Beberapa kain sutra kualitas tinggi, kalung mutiara dan perhiasan berharga lainnya, tampak berkilauan di dalam kotak tersebut.


Chen Daren tersenyum, tangannya mengambil 2 buah giok dari sakunya. Giok tersebut dimain mainkan di tangannya.


"Jika Tuanku berkenan, bisakah memberikan grasi kepada kami.." Pedagang berkata sambil menyerahkan kotak hadiah berisi perhiasan tersebut. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


Tanpa menyentuh kotak hadiah, wajah Chen Daren berubah, senyumnya menghilang. Tangannya meremas giok, kemudian di bagi pada kedua tangan dan digenggamnya.


"Pilihlah satu, Satu keping bertuliskan saang(hidup), dan yang satunya sei(mati)." Chen Daren berkata bengis. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Pilih satu." Chen Daren memajukan kedua tangannya yang menggenggam. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Tuanku." Pedagang memohon sambil berlutut. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kenapa... Kenapa aku harus memilih?!" Pedagang bertanya kepada Chen Daren, dirinya ketakutan. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Pilih saang dan kamu akan tetap hidup." Chen Daren Daren memberi pilihan kepada pedagang. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Pilih sei, dan kamu akan binasa!" Chen Daren mengancam pedagang itu. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Tuanku." Pedagang memohon sambil tetap berlutut. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Apa... Apa yang anda bicarakan?!" Pedagang bertanya, dirinya ketakutan. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Pilih!" Chen Daren berteriak marah. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


Pedagang terdiam ketakutan. Prajurit yang mengawalnya tadi mendekat, mencabut pedang dan menghunuskan pada leher pedagang.


"Aku bilang pilih!" Chen Daren berteriak dengan bengis. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


Dengan tangan gemetar karena ancaman, pedagang tersebut terpaksa mengambil salah satu giok di genggaman Chen Daren. Dan dibukalah genggaman tangan. Terlihatlah tulisan ~ Sei (Mati) ~.


Tangan pedagang gemetar, sampai giok bertuliskan Sei di tangannya terjatuh. Chen Daren tersenyum puas, kemudian berkata.


"Penggal dia!" Chen Daren tersenyum memberi perintah kepada kepala prajurit. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Baik, Bunuh dia!" kepala prajurit menjawab, lalu memberi perintah bawahannya. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Siap!" Para prajurit menjawab serempak. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Tuanku... Tuanku!" Pedagang memohon sambil berlutut. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


Dua orang prajurit bergerak menyeret pedagang tersebut.


"Kasihani hamba! Kasihani hamba!" Pedagang memohon dalam seretan para prajurit. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kasihani hamba, tuanku!!" Pedagang tersebut berteriak dalam keadan dilempar ke dalam tahanan. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]

__ADS_1


Chen Daren tersenyum, kemudian membuka kedua gegaman tangannya. Ternyata kedua giok tersebut bertuliskan. ~ Sei (Death) ~ Jadi tangan manapun yang dipilih pedagang tadi, hasilnya tetap sama yaitu mati.


"Mulai sekarang. Tidak ada daun teh yang boleh diperdagangkan di tempat ini! Apa kamu mengerti?" Chen Daren berucap kepada kepala prajurit yang bersiaga di depannya. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Siap, Tuanku!" Kepala Prajurit menjawab sambil mengangguk memberi hormat. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di kedai penginapan.


Deok Man, Paman Cartan dan beberapa pedagang terlihat masih berdiskusi tentang pelarangan jual beli teh.


"Masalahnya adalah setelah transaksi." Pedagang berkulit hitam berucap dalam pembicaraan tersebut. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Memang." Paman Cartan berkata kemudian meneguk teh. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kalau jadi, Kita akan berdagang dengan pedagang Sui." Paman Cartan berkata sambil memijat pelipisnya. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kita harus bisa melewati gerbang bagaimanapun caranya." Pman Cartan melanjutkan pembicaraannya. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Ajeosshi, Ajeosshi." Deok Man berkata kepada paman Cartan. [Bahasa Gyerim]


"Kita hanya harus melewati gerbang, iya kan?" Deok Man bertanya kepada mereka. [Bahasa Gyerim]


"Benar." Paman Cartan menjawab pertanyaan Deok Man. [Bahasa Gyerim]


"Kami punya banyak barang yang kemungkinan akan dilihat penjaga..." Paman Cartan menjelaskan situasi yang dihadapi kepada Deok Man. [Bahasa Gyerim]


"Aku... sebenarnya... Karena aku khawatir padamu." Deok Man berkata sambil mendekat pada paman Cartan. [Bahasa Gyerim]


"Kesinilah, aku punya cara." Deok Man berbisik pada paman Cartan. [Bahasa Gyerim]


"Apa?! Kamu memikirkan itu?!" Paman Cartan berbicara setelah mendengar bisikan Deok Man. [Bahasa Gyerim]


"Kenapa?!" Pedagang berjanggut panjang bertanya kepada paman Cartan. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Apa yang dia beritahukan?" Pedagang berjanggut panjang juga bertanya pada paman Cartan. [Bahasa China dialeg Guangdong/Kanton]


"Kamu tahu bagaimana caranya lewat?! Iya kan?!" Pedagang berjanggut panjang bertanya karena penasaran. [Bahasa Gyerim]


"Bagaimana kalian bisa bahasa Gyerim..." Deok Man terkejut mengetahui mereka semua menguasai bahass Gyerim.


Ternyata mereka semua menguasai bahasa Gyerim, bahasa Deok Man sehari hari.


"Hanya karena kamu dekat dengan Cartan" Pedagang berperut buncit berbicara kepada Deok Man.


"Kamu tidak boleh memperlakukan kami seperti itu!" Pedagang dari Mesir melanjutkan perkataan pedagang berperut buncit kepada Deok Man.


"Tentu saja, Cartan mungkin sudah menyelamatkanmu dan ibumu," Pedagang berkulit hitam berkata kepada Deok Man.


"Dan membuatmu bisa tinggal di sini." Pedagang berkulit hitam melanjutkan perkataannya.


"Jika tidak, Kamu pasti sudah mati." Pedagang berjanggut panjang memperjelas perkataan pedagang berkulit hitam.


"Kami tahu itu!" Pedagang berperut buncit tersenyum.


"Ayolah bantu kami!" Pedagang dari Mesir memohon kepada Deok Man.


"Selamatkan kami juga!" Ucap pedagang berjanggut dan pedagang berkulit hitam.


"Apa yang bisa kamu lakukan!" Pedagang berperut buncit bertanya kepada Deok Man.


"Kami semua ada di situasi yang sama." paman Cartan berkata setelah melihat, teman temannya memohon pada Deok Man.


"Maksudku... Bukan begitu... Aku juga tidak yakin..." Deok Man berbicara, memandang mereka pesimis.


Para pedagang itu kemudian saling berbisik. Pedagang berkulit hitam mengambil buku dan menyerahkannya pada Deok Man.


"Apa ini?" Paman Cartan bertanya langsung memeriksa buku tersebut..


"Bukankah ini Zhenguanli*?!" Paman Cartan berkata memperjelas kepada pedagang berkulit hitam.

__ADS_1


[*Zhenguanli adalah Wei Dinasti Utara\N(386-534 A.D.) Kalender bintang]


"Benarkah?!" Deok Man memastikan sambil merebut buku itu dari tangan paman Cartan.


"Apakah ini kalender yang terkenal dari Wei itu?" Deok Man bertanya dengan gembira.


"Bagaimanapun... Jika itu buku, dia pasti tidak bisa menolak." Paman Cartan tertawa melihat tingkah Deok Man.


Deok Man membuka buku itu lembar demi lembar, senyumnya terus terkembang.


"Kami juga punya sesuatu!" Pedagang berperut buncit mengangkat sebuah kantong. Kemudian meneguk sedikit cairan dari kantong, mengambil obor dan meniupnya.. Jadilah nafas naga api.


Semua yang hadir segera bertepuk tangan mengira ada pertujukan sirkus. Segera pedagang berperut buncit kembali duduk di tempat semula. Deok Man menggelengkan kepala tidak tertarik.


"Ehh... Lalu bagaimana caranya Deokman melakukan itu?!" Paman Cartan bertanya menyadari sikap Deok Man yang tidak membutuhkan barang seperti itu.


Ketiga pedagang yaitu pedagang berperut buncit, pedagang dari Mesir dan pedagang jangkung, mendekat saling berbisik. Kemudian pedagang berperut buncit berkata.


"Kalau begitu... Kami juga punya ini." Pedagang berperut buncit melanjutkan perkataannya.


"Ini menakjubkan kaca pembesar." Pedagang berperut buncit berucap lagi.


"Benarkah?" Deok Man bertanya dengan kagum.


"Ini kaca yang bisa membakar kertas melalui sinar matahari?" Deok Man bertanya memastikan.


"Anda akan memberikannya padaku?!" Deok Man bertanya memastikan lagi.


"Tidak bisa kalau malam." Pedagang berperut buncit menjelaskan kepada Deok Man.


"Di siang hari, kamu fokuskan sinar matahari..." Pedagang jangkung melanjutkan.


"Di Rumput kering... lalu wuuusshhh!" Pedagang jangkung menjelaskan.


"Kalau begitu, kita sepakat." Deok Man bersepakat dengan pedagang jangkung.


"Tapi, ini bukan karena aku mengiginkan kaca pembesar atau bukunya..." Deok Man mengangkat kedua benda di kedua tangannya.


Pedagang dari Mesir bergerak hendak mengambil kaca pembesar dari tangan Deok Man. Tapi Deok Man buru buru menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.


"Jangan....jangan!" Deok Man tersenyum ceria.


"Besok akan kuberitahu cara melewati penjagaan dengan aman." Deok Man berkata sambil tertawa.


"Kalau begitu kita ketemu di pos perbatasan!" Deok Man berbicara kemudian berdiri.


Para pedagang melanjutkan pesta minum teh nya, sedang Deok Man berlari meninggalkan mereka. Bergegas menaiki tangga menuju lantai ke 3. Di lantai ke 2 Deok Man di hentikan oleh Chil Sook.


"Hey... anak kecil." Chi Sook di tengah tangga.


"Bagaimana dengan pekerjaanku?!" Chil Sook bertanya kepada Deok Man.


"Ahh... benar! aku lupa." Deok Man menjawab pertanyaan Chil Sook.


"Tapi jangan khawatir. Anda lihat, yang tadi?" Deok Man memutar tubuhnya memandang paman Cartan. Paman Cartan dan para pedagang melambaikan tangan pada Deok Man.


"Anda tahu, Yang bergam... Ahh. Lihat, orang yang itu." Deok Man memutar tubuhnya menghadap Chil Sook.


"Dia pedagang Roma. Aku akan meminta padanya, dia pasti mau..." Deok Man menjawab pertanyaan Chil Sook.


Chil Sook memandang ke arah para pedagang, kemudian kembali menatap Deok Man.


"Ahh... Sudah kubilang jangan khawatir! Besok, aku akan beritahu dia." Deok Man tersenyum pada Chil Sook.


"Salam." Deok Man mengucapkan salam kepada Chil Sook.


"Salam." Chil Sook menjawab salam Deok Man.


Deok Man meninggalkan Chil Sook menuju lantai 3. Chil Sook memandang kepergian Deok Man.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2