
Di luar istana, tepatnya di tempat berlatih Hwarang.
Gukseon Moon Noh melihat dan mengamati latihan para Hwarang. Kemudian Gukseon Moon Noh memandang ke arah langit malam.
Gukseon diam diam meninggalkan tempat tersebut. Setelah agak jauh, tanpa sengaja Gukseon melihat barisan pasukan tentara bergerak tergesa gesa.
Pasukan tentara itu bersenjata lengkap, mereka tiba ditempat pelatihan Hwarang. Pasukan itu dipimpin oleh Seol Won.
Seol Won dan pasukannya melakukan pengecekan, dan pencarian terhadap para Hwarang ditempat latihan.
Mereka mengawasi seluruh para pengikut setia Baginda Raja. Terutama Gukseon Moon Noh.
Gukseon yang mengetahui hal itu, segera mengambil kuda dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tampak Se Jong dan Seol Won berdiri di depan, mereka memerintahkan pasukan bersiaga dan mencari Gukseon.
"Aku akan mengumpulkan pasukan dan mencari Moon Noh." Seol Won berucap kepada Se Jong.
"Percepat, aku akan membawa Hwarang ke aula." Se Jong menjawab kepada Seol Won.
"Baik, jika Hwarang... mengetahui... bayi kembar ini mereka akan gempar." Seol Won bertutur kepada Sejong.
"Kita harus tetap menjaga rahasia ini." Se Jong memberi instruksi kepada Seol Won.
"Baik, jangan khawatir." Seol Won menjawab instruksi Se Jong sambil menganggukan kepala.
Mereka berdua berpandangan sebentar, kemudian berpencar menjalankan tugas masing masing. Seol Won di ikuti para tentara bergegas menyebar ke seluruh istana, sedangkan Se Jong mulai me kordinir *Hwarang.
[ *Hwarang \= Hwarang adalah resimen khusus dari Kerajaan Silla, suatu kerajaan kuno di Semenanjung Korea yang pertama kali mempersatukan kawasan semenanjung tersebut dibawah satu pimpinan. Prajurit resimen ini disebut dengan "Ksatria Hwarang". Uniknya, walaupun mereka selalu mendandani wajahnya layaknya wanita saat berperang, namun mereka adalah pasukan yang paling mematikan pada masanya. Mereka tidak mengenal kata mundur apalagi menyerah. Keberanian mereka terus digaungkan hingga lebih dari seribu tahun setelah kerajaan yang mereka bela itu runtuh. Bahkan, keberanian mereka menjadi pegangan bagi para pejuang Korea di modern ketika pejuang generasi baru itu berjuang merebut kembali wilayah semenanjung yang dulunya ditaklukkan oleh para Hwarang. Sumpah setia para Hwarang juga menjadi pegangan bagi para pejuang Korea di masa modern sebagai tanda nasionalisme mereka pada tanah air. Mereka terdiri dari para pemuda, mungkin di negara kita adalah resimen mahasiswa. ]
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di selasar istana menuju ruang bersalin.
Seju Mi Shil dan Mi Saeng ditemani Hwarang Chil Sook dan delapan orang dayang, berjalan melewati taman kolam ikan istana.
Seju Mi Shil berwajah tenang sedangkan Mi Saeng senyum senyum sendiri.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di dalam bilik bersalin kuil suci istana.
"Kamu luar biasa." Raja Jinpyeong berdiri di samping ranjang, tuan putri kecil dibaringkan di antara Permaisuri dan Raja.
"Yang Mulia, ini putri ke dua anda." So Hwa memandang putri ke dua Baginda Raja dan menyerahkannya pada Yang Mulia Raja.
Yang Mulia Permaisuri berganti posisi dari rebahan menjadi duduk bersandar di ranjang. Kemudian memandang ke arah putri ke duanya.
Yang Mulia Raja menatap Permaisuri kemudian menyerahkan putri ke duanya untuk di gendong. Dengan penuh kelembutan Permaisuri menerima bayi itu, kemudian menggendongnya.
Yang Mulia Raja mengambil belati kecil Raja Jinheung, yang di kaitkan tali emas dan digunakan sebagai kalungnya. Raja memandang belati tersebut.
So Hwa memandang Yang Mulia Raja, kemdian tertegun, mulutnya menganga. Yang mulia Raja menyelipkan belati kecil itu pada baju, putri ke duanya.
"Belati ini akan melindungimu,... maafkan kami, karena tidak bisa merawatmu... kami melakukan yang terbaik... yang bisa kami lakukan, kami harus menyelamatkanmu." Baginda Raja menangis, memandang putri keduanya.
"Yang Mulia kumohon... tidak ... tidak... tidak... jangan." Yang Mulia Permaisuri menangis, mengetahui apa yang akan dilakukan Baginda Raja.
"Kita harus atau Mi Shil memisahkan kita lagi." Baginda Raja menangis, rasa sakit menembus dadanyam
"Yang Mulia." Permaisuri berkata pelan, air matanya kembali menetes di pipinya.
So Hwa kebingungan mendengar percakapan mereka, kemudian memandang mereka. Yang Mulia Raja memandang So Hwa lalu mendekatinya.
"Hanya kamu yang bisa melakukannya, bawa bayi ini dan larilah dari istana ini." Baginda Raja menangis, memberi amanatnya kepada So Hwa.
__ADS_1
"Apa, Yang Mulia." So Hwa terkejut matanya terbelalak, mendengar titah Baginda Raja.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di tempat yang lain.
Seol Won memerintahkan pasukannya mencari keberadaan Moon Noh.
"Cari Gukseon, dia pasti tidak pergi jauh, kalian mengerti." Seol Won memberi komando kepada para prajuritnya.
"Siap." Prajurit serentak menjawab, dan membubarkan diri bergegas berlari menyebar menjalankan tugas.
Belum selesai prajurit membubarkan diri, datanglah seorang utusan berkuda melapor pada Seol Won.
"Saya melihat Gukseon, dia menuju ruang bersalin kuil suci istana." Utusan itu, melapor kemudian menghormat menundukan kepala.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di Ruang bersalin kuil suci istana.
"Yang Mulia, aku hanya So Hwa... aku bodoh, kikuk, linglung, mudah gemetar, ceroboh... aku selalu jatuh dan menyakiti diri sendiri... bagaimana mungkin, anda mempercayakan hal sepenting ini padaku... mustahil... ini tidak mungkin... aku ini bodoh." So hwa memberi alasan pada Yang Mulia Raja.
Baginda Raja mendekat, memegang kedua pundak So Hwa.
"Tidak ada orang lain, yang dapat menolong kami kecuali kamu. aku tidak mengusirmu. kamu telah menghabiskan waktu di sisiku... lebih lama dari ibuku..." Baginda Raja menatap So Hwa benar benar memohon.
"Yang Mulia." So Hwa menunduk pasrah. So Hwa gemetaran, menangis, memberi hormat kemudian memeluk keduanya, Baginda Raja dan Permaisuri.
"So Hwa, kumohon. Lindungi putri kami, kumohon So Hwa." Baginda Raja memandang putri ke duanya.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di saat yang sama.
Karena kemampuan berkuda Gukseon di atas pasukan itu, dengan cepat Gukseon meninggalkan mereka. Kuda Gukseon melaju menembus keheningan malam.
"Berhenti." Penjaga berseru di gerbang istana.
Gukseon mempercepat laju kudanya, dua orang penjaga gerbang terlempar ditabrak kuda Gukseon. Karena ingin menghentikan - nya. Gukseon memasuki pelataran istana.
Mi Shil dan rombongannya kebetulan ada disana. Mereka melihat kuda dengan kecepatan tinggi melaju melintasi pelataran istana.
"Bukankah itu Moon Noh." Mi Shil melihat Moon Noh di pelataran istana.
"Benar itu Moon Noh." Mi Saeng, membenarkan perkataan Lady Mi Shil.
"Apa dia menuju kuil, apa yang akan di lakukannya." Mi Shil berkata pelan, kepada Mi Saeng.
"Ke kuil istana, para Hwarang akan berkumpul di sana." Mi Saeng menjelaskan, padangan matanya ke arah Gukseon Moon noh.
Para pengejar mulai memasuki pelataran istana. Seol Won yang melihat Mi Shil menghentikan laju kudanya dan memberi hormat.
"Dia menuju kuil istana, ke ruang bersalin." Mi Shil berseru pada Seol Won.
"Hwarang tidak mengetahui tentang kelahiran si kembar, tolong perintahkan kami." Seol Won menunduk, memberi hormat.
"Tentu saja, cepat hentikan Moon Noh." Mi Shil memberi komando pada pasukan Seol Won.
Para prajurit bergegas melajukan kudanya menyusul Gukseon Moon Noh.
"Ayo, ayo cepat." Mi Saeng berdiri di samping Mi Shil, memberikan aba aba dengan tangannya.
"Tentu saja, Moon Noh akan membawa anak itu bersamanya. Gerakan tentara, jangan biarkan Moon Noh atau siapapun meninggalkan istana." Mi Shil memberi instruksi pada Mi Saeng.
"Nunim, tentu saja." Mi Saeng menjawab sambil menatap Mi Shil.
__ADS_1
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di dalam bilik bersalin kuil suci istana.
Yang Mulia Permaisuri memeluk kedua putrinya, So Hwa gemetaran, Raja berdiri disampingnya.
"Yang Mulia, Yang Mulia apa ada masalah," Pintu bilik diketuk ketuk dari luar, menambah kecemasan.
Baginda Raja bergegas ke tengah ruangan.
"Yang Mulia, Yang Mulia buka pintu." Pintu bilik di ketuk ketuk dari luar, menambah kecemasan.
Baginda Raja menarik dan menyobek tirai pelindung ranjang. Dengan gemetar menuju ke arah putri ke duanya.
"Yang Mulia, Yang Mulia buka pintu." Pintu bilik di ketuk ketuk dari luar, menambah kecemasan.
"Serahkan dia." Baginda Raja menyelimuti putri ke duanya dengan tirai penutup ranjang dan berkata pada Permaisuri.
"Tidak, jangan." Permaisuri menolak dan memeluk kedua putrinya.
"Harus diserahkan." Baginda Raja, memaksa mengambil putri keduanya.
"Bukankah dia darah dagingmu." Permaisuri menangis, melihat kenyataan takdir.
"Yang Mulia, Yang Mulia apa ada masalah," Pintu bilik diketuk ketuk dari luar, menambah kecemasan.
"Berikan padaku." Raja merebut putri ke dua nya.
"Jangan... jangan... tidak boleh." Permaisuri kembali menangis pasrah.
"Maafkan ayah putri kecilku, maafkan ayah." Raja memeluk putri ke duanya sambil menangis.
"Tolong... jangan... jangan." Permaisuri menangis berusaha menggapai putri ke duanya.
"Tolong mengertilah, sudah tidak ada jalan lain lagi." Yang Mulia Raja bersikap tegas.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di lain tempat.
Se Jong dan Mi Saeng sedang memimpin Hwarang. Dengan tergesa gesa mereka menuju ruang bersalin kuil suci istana.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di saat yang sama, Mi Shil, Hwarang Chil Sook didampingi para dayang juga sedang menuju ruang aula raja, menggunakan jalan lain.
🥢🥢🥢🥢🥢🥢🥢
Di dalam ruang bersalin kuil suci istana.
"Pergi sekarang." Bagina Raja bertitah sambil mendorong So Hwa.
"Kemana Yang Mulia." So Hwa membungkuk sambil menggendong putri ke dua Baginda Raja.
"Kemana saja, selamatkan dia." Baginda Raja memberi amanat terakhirnya kepada So Hwa.
"Jangan So Hwa, jangan." Yang Mulia Permaisuri menangis, tangannya berusaha menggapai So Hwa.
Baginda Raja mendorong dorong So Hwa, sementara So Hwa memandang Permaisuri dan Raja bergantian, air matanya meleleh.
Seketika itu, Permaisuri menjerit, bersamaan pintu ruang bersalin itu di pukul keras seperti mau di dobrak....
bersambung.
__ADS_1