
~ Seorabeol ~(Istana Kerajaan)
Di dalam Ruang sidang istana, Raja Jinpyeong mengadakan pertemuan, dengan dewan Bangsawan dan para Menteri. Yang Mulia Raja Jinpyeong duduk di Singgasana, sedangkan para Mentri dan dewan Bangsawan duduk menghadap meja masing masing. Meja ditata berjajar saling berhadapan, di sisi jalur, sepanjang jalur tengah di hadapan Sang Raja.
"Yang Mulia. Mungkin anda ingin memikirkannya lagi!" Menteri Sejong membungkukan tubuh ke arah Baginda Raja, kedua tangannya menyatu memberi penghormatan sambil memegang tanda Kementriannya.
"Apa maksudnya ini?!" Raja Jinpyeong bergunam sendiri, padangan matanya menatap Menteri Sejong dan para Bangsawan yang hadir dalam ruang pertemuan tersebut.
"Yang Mulia, mungkin anda ingin memikirkannya lagi!" Para Menteri dan Bangsawan yang hadir serentak berpendapat sambil membungkukan badan ke arah Baginda Raja. Seperti Menteri Se Jong. Mereka menyatukan tangan sambil memegang tanda kehormatan masing masing.
"Memberikan tahta kepada Tuan Yongsu*?! Itu adalah usulan yang tidak layak, Yang Mulia. Pikirkanlah." Menteri Se Jong berdiri di tengah jalur berjalan, sambil menundukan kepala.
[*Kim Yongsu, Putra tertua Raja Jinji. Suami putri Cheonmyeong]
"Di masa lalu, Yang Mulia Chachaung dari Namhae*... Menurunkan tahta kepada iparnya." Raja Jinpyeong bertitah di Singgasananya, namun Menteri Se Jong memotong pembicaraannya.
[*Park Yu (pemerintahan: 4~24 A.D.), putra dari Hyeokgeose (Chachaung \= peramal kuno Korea)]
"Meski begitu, Tuan Yongsu... adalah anak Raja Jinji yang dilengserkan itu, telah dilepas pangkatnya... dan bukan lagi garis keturunan suci." Menteri Se Jong berkata memberikan pendapatnya, memotong pembicaraan Yang Mulia Raja.
"Hanya garis keturunan suci yang bisa mendapatkan tahta kerajaan kita! Atas dasar apa Tuan Yongsu pantas untuk memimpin kita semua?!" Mi Saeng berdiri menghadap meja tugasnya, kepalanya menunduk sambil melirik ke arah Baginda Raja.
"Dia adalah pasangan dari Cheonmyeong, Jadi jika kamu bertanya karena apa, maka itulah jawabannya." Dengan tenang Baginda Raja, menatap ke arah Bangsawan dan Menteri yang hadir.
"Bagaimanapun, Tuan Yongsu tidak memiliki prestasi apapun, Bukan hanya karena bukan keturunan suci, tapi dia juga seorang Jingol, Jadi bagaimana bisa dia pantas mewarisi Takhta?!" Mi Saeng dengan tegas menentang keputusan Yang Mulia Baginda Raja.
[*Jingol, hanya satu orang tua yang berasal dari garis keturunan suci, atau tulang murni / kasta kedua di bawah Seonggol sebagai penerima tahta kerajaan.]
"Belum lagi dia lahir hanya karena nafsu birahi Raja Jinji. Bagaimana mungkin langit akan menyetujui hal ini?! Anda harus membatalkan penghinaan ini, Yang Mulia." Menteri Se Jong berbicara tenang, mengamini pendapat Menteri Mi Saeng.
"Mohon dipikirkan, Yang Mulia!" Menteri Se Jong menundukan kepala. Kemudian semua yang hadir memekik bersamaan.
"Mohon dipikirkan, Yang Mulia! Mohon dipikirkan, Yang Mulia!" Semua Anggota sidang, Para Menteri dan Dewan Bangsawan istana, berseru bersamaan sambil menundukan kepala.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Di Halaman ruang sidang istana.
Lady Mi Shil berjalan menuju ruang sidang istana didampingi tujuh orang dayang yang berjalan mengikutinya bersama sepasukan Hwarang.
Mereka tiba dihalaman istana ketika sidang sedang di gelar. Lady Mi Shil bergegas menaiki tangga berundak kemudian memasuki ruang sidang.
🌺🌺🌺
"Mohon dipikirkan, Yang Mulia! Mohon dipikirkan, Yang Mulia!" Seluruh anggota sidang berjajar menundukan kepala di sepanjang sisi jalur berjalan.
Lady Mi Shil memasuki ruang sidang di ikuti dua orang pengawal, dan ke tujuh dayang pribadinya.
"Yang Mulia." Lady Mi Shil berdiri di depan pintu masuk memandang Baginda Raja. Para pengawal dan Dayang Lady Mi Shil segera memisahkan diri, bergerak ke kiri dan kanan, berdiri di belakang para Menteri.
Lady Mi Shil berjalan maju ke depan. Berjalan ke arah Baginda Raja, Lady Mi Shil berhenti di belakang Menteri Se Jong, kemudian memberi hormat.
"Yang Mulia Dalam festival Dano.* Yang kami adakan, Hwarang akan memperlihatkan kemampuan mereka. Semoga anda berkenan hadir." Lady Mi Shil membuka pembicaraan setelah tiba, sambil tersenyum ke arah Baginda Raja.
[*Dano \= Tradisi Perayaan setiap tanggal 5 bulan 5 (Kalender perbintangan)]
"Upacara Dano bukan masalah. Yang Mulia sekarang..." Menteri Mi Saeng Berbicara penuh emosi sambil memandang ke arah Lady Mi Shil.
"Sekarang, Seju sedang berunding dengan Yang Mulia! Bagaimana bisa daedeung* berani..." Lady Mi Shil berucap penuh emosi melirik ke arah Menteri Mi Saeng.
[*Dae deung \= Anggota Dewan Menteri / Dewan Bangsawan.]
"Ahh... Bukan itu maksudku..." Menteri Mi Saeng terdiam, mendapat gertakan Lady Mi Shil.
"Yang... Yang Mulia. Yang Mulia berkata ingin memberikan Takhta kepada Tuan Yongsu..." Menteri Se Jong memotong perkataan Menteri Mi Saeng, sambil menatap ke arah Lady Mi Shil.
"Ini hari suci Dano. Kenapa Udara di Aula Dewan ini bisa sangat menyesakkan?! Kalian semua pergi!" Lady Mi Shil berkata pelan, menyindir para Bangsawan yang berada di situ.
Mata Lady Mi Shil melirik sinis ke arah Menteri Se Jong.
"Yang Mulia. Semoga anda berkenan hadir. Jika Yang Mulia menolak untuk hadir di Upacara yang telah dipersiapkan dengan baik oleh Hwarang, Bagaimana cara anda untuk berurusan dengan mereka?!" Lady Mi Shil berkata tenang penuh kelembutan, pandangan matanya teduh, menatap ke arah Raja Jinpyeong.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan segera kesana." Baginda berucap pelan, tanpa berkedip Baginda Raja menatap ke arah Lady Mi Shil.
"Kalau begitu, Hamba... Akan menunggu anda." Lady Mi Shil berkata pelan, menunduk sebentar kemudian mengundurkan diri.
Dengan tajam Menteri Mi Saeng menatap Lady Mi Shil.
Lady Mi Shil keluar dari ruang sidang diikuti para Pengawal dan para Dayang pribadinya. Menteri Se Jong memandang kepergian Lady Mi Shil.
Setelah kepergian Lady Mi Shil. Ruang Sidang menjadi tenang dan sidang hari itu segera dibubarkan.
🌺🌺🌺🌺🌺
Di Taman istana, sebelah ruang sidang istana.
Lady Mi Shil berjalan pelan, berhati hati menyusuri tangga berundak, tatapan matanya mengarah ke bawah, memandang ke arah kakinya berpijak.
Tidak berapa lama, Menteri Se Jong dan Menteri Misaeng dengan berjalan menyusul lady Mi Shil.
"Nunim! Kenapa dengan kelakuanmu! Hanya beberapa bulan sejak Yongsu menjadi anggota dewan, dan menjadi suami dari putri, dia berani menggertak kita!" Mi Saeng berkata meledak ledak penuh emosi, tangannya menganyun ayunkan kipas bulu merak kesayangannya.
Mereka berjalan bersama menuruni jalan di tangga berundak menuju jembatan hias di tengah taman.
"Belum lagi fakta mengenai Ayahnya. Haruskah ia naik takhta, Kita semua gerah dengan hal itu." Menteri Se Jong berjalan di belakang Lady Mi Shil, berbincang serius dengan Menteri Mi Saeng.
Lady Mi Shil hanya diam, sambil tersenyum, mendengar pembicaraan kedua orang kepercayaannya itu.
"Gerah?! Siapa yang menerima hal ini! Yang Mulia sudah benar-benar gila. Langit sudah merebut 3 putra mahkota darinya, dan dia ingin mengangkat orang seperti itu!" Menteri Mi Saeng menyahut perkataan Menteri Se Jong, tangannya bergerak menganyun ayunkan kipas bulu meraknya.
Mereka menghentikan langkahnya, setelah tiba di tempat datar di bawah tangga berundak.
"Ini adalah hari Dano. Sebaiknya kita menghindari perkataan seperti itu." Lady Mishil tersenyum dan memutar tubuhnya menghadap Menteri Se Jong dan Menteri Mi Saeng di belakangnya.
Menteri Mi Saeng dan Menteri Se Jong terdiam mendangar perkataan Lady Mi Shil, mereka kemudian berpandangan. Tanpa menghiraukan mereka berdua, Lady Mi Shil melanjutkan perjalanannya.
Bersambung.
__ADS_1