Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
15. PSK 03_04. Gurun Taklamakan.


__ADS_3

~ 15 Tahun kemudian ~ sekitar. 617 M. Gurun Taklamakan ~


Wilayah Xinjiang Uyghur, China


Chil Sook melakukan pengejaran, sampai tersesat di gurun taklamakan. Ditengah kebingungannya, di tengah gurun tandus, hanya ditemani sinar bintang malam, Chil Sook bertemu dengan seorang anak muda bernama Deok man.


Deok Man sedang mengusir dinginnya malam dengan api unggun ketika Chil Sook menghampirinya. Chil Sook berbincang dengan Deok Man, kemudian menceritakan perjalanannya hingga tersesat di gurun taklamakan tersebut.


๐Ÿฅ—๐ŸŒน๐ŸŒบChil Sook flash back๐ŸŒบ๐ŸŒน๐Ÿฅ—


So Hwa terus berlari, berlari dan berlari, sampai di tengah padang ilalang sambil mengendong Putri Imyeong. So Hwa berlari pontang panting sampai memasuki hutan.


Pasukan berkuda terdiri dari beberapa orang Hwarang, berpacu mengejar So Hwa. Mereka melintasi padang rumput dan sampai di tepian hutan.


So Hwa memasuki hutan, karena lelah dia berhenti dan bersandar pada pohon sambil menimang putri Imyeong di gendongannya. Dengan gemetaran So Hwa memandang berkeliling, memastikan keadaan aman. Melihat sekelompok hwarang berkuda dari kejauhan, So Hwa langsung berlari kembali masuk ke dalam kedalaman hutan.


Sambil menangis dan terus mempererat gendongannya, So Hwa menembus kegelapan hutan. Para pengejar berkuda semakin dekat, mereka semakin bersemangat memacu kuda yang mereka tunggangi. Karena panik, So Hwa terjatuh. Untung saja putri Imyeong kecil tidak menangis.


Sepertinya putri kecil ini mengerti keadaan, putri Imyeong tertidur di pelukan So Hwa.


Tetapi, karena suara kuda kuda yang semakin dekat, membangunkan tidur putri Imyeong. So Hwa yang jatuh terduduk segera bangkit,


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


kuda kuda para pengejar semakin dekat, dan semakin dekat. Mereka memasuki hutan kemudian berhenti.


Hwarang Chil Sook memimpin beberapa Hwarang lainnya, mengawasi keadaan. Pandangan mata mereka menatap berkeliling. Mereka terus memandang berkeliling, sampai akhirnya terdengar suara bayi menangis. Hwarang Chil Sook terkaget kemudian memusatkan pendengaran, dari arah mana suara tangisan itu berasal.


"Lewat sini!" Perintah Hwarang Chil Sook memacu kudanya, memimpin para Hwarang bergerak.


๐Ÿฅ—๐Ÿฅ—๐Ÿฅ—๐Ÿฅ—๐Ÿฅ—


Putri Imyeong terus menangis, So Hwa berlari terus berlari, pasukan berkuda terus memacu kudanya mendekati suara tangis bayi. So Hwa terus berlari sampai akhirnya tiba di tambang yang sudah tidak terpakai.


Sambil menggendong putri Inmyeong yang terus menangis, So Hwa bergegas memasuki goa bekas tambang itu. Di dalam goa, So Hwa memandang berkeliling, tangis putri semakin terdengar keras di ruangan tertutup. So Hwa menyusuri goa itu untuk mencari tempat persembuyian yang tepat.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Dengan obor di tangan, pasukan berkuda yang dipimpin Chil Sook menyusuri hutan, sampai tiba di tambang yang sudah tidak di pakai.


"Ayo, bergerak." Chil Sook, memerintah pasukannya memasuki tambang tua itu.


"Baik." Mereka serempak menjawab, kemudian memacu kuda memasuki tambang tersebut.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


So Hwa menemukan tempat persembunyian yang tepat. So Hwa duduk bersila, kemudian dia menyusui bayi Inmyeong, untuk menghentikan tangis bayi kecil itu.


So Hwa menyusuinya sambil tetap memperhatikan sekitar. So Hwa melihat pasukan berkuda memasuki goa, kemudian So Hwa menggeser badanya menyamping di balik dinding goa untuk sembunyi.


Dengan menggunakan obor yang diacung acungkan, para Hwarang menyusuri lorong lorong gua. Mereka terhadang tali bertulis - kan.~ (Geum) Dilarang lewat ~ Chil Sook memotong tali itu dengan pedang nya.


"Kita akan masuk." Chil Sook memberi perintah kepada pasukan, untuk memasuki goa.


"Siap!" Hwarang serempak menjawab, kemudian bergerak memasuki goa di tambang tua.


Mereka segera berpencar, memeriksa seluruh ruang di dalam goa.


("Aku mohon...") So Hwa membatin, ketika seorang Hwarang mengacungkan obor mengecek dilobang di depannya. Tetapi Hwarang itu tidak melihat So Hwa, kemudian berlalu dari tempat itu.


("Bagus...") So Hwa membatin lagi, ketika Hwarang meninggalkan tempat persembunyiannya.


Setelah memeriksa seluruh ruangan, dengan hasil nihil. Para Hwarang kembali berkumpul dan melapor pada Chil Sook.


"Bagaimana ini?" Hwarang bertanya kepada Chil Sook.


"Haruskah kita mengecek semuanya? Lagi?" Hwarang lainnya, memastikan langkah selanjutnya.


"Taruh api di setiap lubang." Chil Sook memberi perintah kepada seluruh Hwarang.


"Baik!" Seorang Hwarang menjawab perintah Chil Sook.


"Taruh api di setiap lubang gua!" Chil Sook mengulang perintahnya memastikan kepada Hwarang.


"Baik!" Mereka serentak menjawab dan segera bergegas membakar kayu di setiap celah goa.


Kemudian mereka mengumpulkan ranting ranting kering, ditaruh di setiap celah goa, setelah semua tersusun kemudian mereka membakar ranting ranting tersebut.


"Anakku..." So Hwa mengintip Hwarang membakar ranting, kemudian memeluk putri Inmyeong yang mulai menangis.


Asap mulai mengepul, memasuki tempat persembunyian So Hwa. So Hwa terbatuk batuk. Putri kecil terlihat sesak napas, kemudian langsung membantu pernapasan pada putri kecil Imyeong.


Sementara para Hwarang membakar ranting ranting di setiap celah gua, api semakin membesar. Secara samar Hwarang Chil Sook mendengar tangisan bayi. Hwarang Chil Sook menajamkan pendengarannya, dan memandang sekeliling gua memastikan sesuatu.


So Hwa terbatuk batuk, tetapi So Hwa tetap membantu pernapasan pada bayi kecil, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Chil Sook berjalan di samping persembunyian So Hwa.


Untuk memastikan asal suara, dia duduk berjongkok di depan celah persembunyian So Hwa. Pandangan matanya mengintip ke dalam celah gua tersebut.


So Hwa semakin tidak berdaya, ditengah asap yang semakin tebal dada semakin sesak. Kembali lagi naluri seorang ibu yang mementingkan putrinya daripada dirinya sendiri, kembali membantu Inmyeong kecil dengan napas buatan.


Putri Inmyeong mengis keras, So Hwa terbatuk batuk. Karena sudah tidak mampu menahan beban So Hwa menerjang bara api dan keluar dari tempat persembunyianya.

__ADS_1


Sesampai di luar celah gua, So Hwa jatuh terduduk. Dari mulutnya keluar asap, Chil Sook yang memperhatikan tempat itu dari tadi, segera memerintahkan bawahannya menangkap So Hwa.


So Hwa berteriak teriak kedua bahunya, di cengkeram 2 orang hwarang. Sementara kedua tangannya memeluk Inmyeong kecil dengan erat. So Hwa di paksa bangun dari duduknya.


"Tidak... Jangan... Jangan! Jangan lakukan." So Hwa berteriak, menangis sambil mempertahankan bayinya yang direbut paksa oleh Chil Sook.


Chil Sook yang berhasil merebut Inmyeong kecil segera menggendongnya dan menatap So Hwa.


"Anakku.. Lepaskan! Itu anakku!" So Hwa meronta ronta karena di pegang erat oleh 2 orang Hwarang.


Chil Sook membuka pelindung wajah putri Inmyeong kecil. Terdengar tangis bayi yang semakin mengeras.


"Jangan! Jangan! Jangan! Itu bayiku!" So Hwa berteriak sambil terus terusan meronta.


"Bawa dia." Chil Sook memberi perintah sambil menutup kembali pelindung wajah putri Inmyeong kecil.


"Siap!" 2 Hwarang serempak menjawab sambil menyeret So Hwa keluar goa.


"Anakku... Berikan anakku! Berikan!." So Hwa berteriak teriak seperti orang gila dalam pegangan ke 2 Hwarang.


Mereka semua keluar dari dalam goa, menuju ke tempat kuda diikat.


"Dia milikku! Berikan bayiku... Dia milikku!" So Hwa tetap berteriak meronta ronta.


Chil Sook menggendong Inmyeong kecil dan berjalan ke arah kuda dan bersiap menaikinya, seketika menoleh ke arah So Hwa setelah mendengar umpatannya.


"B@jing@n! Apakah kamu tidak tahu itu anak siapa?" Wajah So Hwa memelas, kedua lengannya sudah dilepaskan oleh ke 2 Hwarang.


"Tidak!" Chil Sook melengos, berlalu dengan sinis menatap So Hwa kemudian hendak menaiki kudanya.


Tiba tiba 2 anak panah melesat ke arah Chil Sook, dengan cekatan Chil Sook menghidarinya. Kedua panah itu terus melaju, setelah melewati Chil Sook dan mengenai dada ke 2 Hwarang yang tadi memegang lengan So Hwa. Ke 2 Hwarang tewas seketika, tubuhnya jatuh ke tanah. So Hwa terkejut dan berteriak.


Tampak seorang berbaju putih, memegang busur di atas kudanya, di tebing terjal atas, depan mereka. Ternyata itu adalah Gukseon.


Gukseon turun dari kudanya kemudian meloncat turun dari bukit, langsung membidikan 2 anak panah tersisa ke arah Hwarang. Sayang meleset.


Gukseon menarik pedangnya, gaya khas bertarung dengan pedang menjuntai ke bawah. Gukseon langsung meloncat dan berlari ke arah para Hwarang.


Para Hwarang melaju ke arah Gukseon dengan pedang di tangan, setelah mendapat perintah Chil Sook. Pertarungan pun terjadi.


Dalam sekali lompatan dengan 5 tebasan pedang, Gukseon menghabisi 5 Hwarang dalam hitungan detik.


Sambil terus berlari, kakinya mengait anak panah yang tergeletak di tanah, sementara tangan kiri menyambar busur, tangan kanan menyahut anak panah dari hail pengait kakinya tadi.


Gukseon langsung memanah Chil Sook secara cepat. Anak panah mengenai pinggang Chil Sook, dan putri Inmyeong terlempar ke udara dari gendongan Chil Sook.


Bayi tersebut langsung di sambar Gukseon sebelum jatuh ke tanah. Gukseon memeluknya, kemudian membuka pelindung wajah putri Inmyeong, memandangnya, mengambil tali dan mengikat erat putri Inmyeong kecil pada tubuhnya.


Chil Sook menatap tajam ke arah Gukseon, tangan kirinya mematahkan anak panah yang menancap di pinggangnya. Dan pertarungan pun tak terhindarkan.


Keduanya legenda Hwarang, mereka adalah peringkat terbaik 1 dan 2 dalam Hwarang. Petarungan sengit tak terhindarkan, namun tampak memang Gukseon lah yang memegang kendali.


Setelah beradu pedang beberapa kali, 2 tendangan memutar Gukseon mampu masuk menerjang di dada Chil Sook. Gukseon mengakhiri pertarungan dengan sabetan pedang di wajah Chil Sook.


Tampak garis berdarah menggores di pipi kanan Chil Sook. Chil Sook jatuh terkapar, Gukseon memandangnya sejenak untuk memastikan.


Gukseon berlari ke arah So Hwa dan melepaskan ikatan tali dengan sabetan pedang. Setelah terlepas, So Hwa segera mengambil Inmyeong kecil ke pelukannya.


So Hwa membuka pelindung wajah Inmyeong kecil, tampak wajah imut yang ceria. So Hwa memeluknya dengan erat. Kemudian dengan cekatan mengikuti arahan Gukseon, berjalan di samping Gukseon, menuju kuda.


So Hwa di dudukan di pelana kuda, tangannya memeluk erat putri Inmyeong kecil. Gukseon duduk di belakang So Hwa. Kemudian memacu kuda meninggalkan gua tersebut.


Chil Sook berusaha berdiri namung kembali terjatuh karena lukanya. So Hwa melihat ke arah Chil Sook sambil berlalu bersama Gukseon dan putri kecil Inmyeong.


Setelah melihat Gukseon memacu kudanya, Chil Sook berusaha bangkit. Chil Sook berjalan ke arah kudanya, mengendarainya mengikuti jejak kuda Gukseon.


Terjadilah kejar kejaran antara Chil Sook dsn Gukseon walaupun terpaut jarak yang amat jauh.


๐Ÿฅ—๐ŸŒน๐ŸŒบChil Sook flash back off๐ŸŒบ๐ŸŒน๐Ÿฅ—


"Dan akhirnya, aku kehilangan mereka." Chil Sook berujar kepada Deok Man sambil merenggangkan tangannya.


"Jadi, apakah anda menyerah?" Deok Man bertanya, tangannya melempar ranting ke api unggun.


"Tidak..." Chil Sook menjawab dengan datar.


"Aku menemukan mereka lagi saat bulan purnama. Tapi sekali lagi aku terlambat, Mereka sudah berlayar dengan kapal menuju Hangzhou*." Chil Sook memperjelas jawabannya, menoleh kepada Deok Man.


[*Hangzhou adalah propinsi di China, Provinsi Zheijiang.]


"Jadi itu yang membawa anda kesini?!" Deok Man bertanya kepada Chil Sook.


"Waktu itu, satu-satunya yang bisa kupikirkan hanya menangkap dia." Chil Sook memainkan ranting di tangannya pada api unggun.


"Lalu?!" Deok Man bertanya kembali kepada Chil Sook.


"Anda menghabiskan waktu 15 tahun untuk mencari wanita yang sama?" Deok Man bertanya lagi, wajahnya penuh rasa ingin tahu.


"Tidak." Chil Sook menjawab dan tersenyum.


"Aku berjalan 2 tahun di negeri ini untuk mencarinya. Dan kampung halamanku semakin menjauh." Chil Sook menatap ke arah Deok Man.

__ADS_1


"Aku menghabiskan bertahun-tahun dalam pencarian ini. Aku tidak bisa kembali ke kampung halaman, Dan membuat malu tuanku." Chil Sook menarik napas panjang dan tersenyum kembali.


"Ahh... Benar." Deok Man mengangguk angguk mendengar cerita Chil Sook.


"Ini wilayah perdagangan International, iya kan?" Chil Sook bertanya kepada Deok Man dengan tenang.


"Iya. Kenapa?" Deok Man menjawab sekaligus bertanya kepada Chil Sook.


"Apakah Anda ingin berdagang di sini?" Deok Man bertanya kepada Chil Sook penasaran.


"Bukan... Aku mendengar pedagang Daebullimguk cukup murah hati." Chil Sook menjawab pertanyaan Deok Man lagi.


[*Daebullimguk: Sebutan lama orang korea untuk Kekaisaran Romawi Timur, bahasa dari China]


"Benarkah? Kalau begitu, Anda sudah bertemu orang yang tepat!" Deok Man menjawab kemudian berdiri, tangannya ditepukan di dadanya.


Chil Sook hanya memicingkan mata menatap


ke arah Deok Man.


[~ Deokman ~ Putri Inmyeong anak Raja Jinpyeong, Ratu Seondeok di masa depan, So Hwa sengaja mengganti namanya untuk menutupi identitas asli mereka.]


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju perkampungan terdekat. Masing masing menuntun onta yang membawa perbekalan mereka.


Deok Man memimpin di depan, sambil membawa tongkat kayu bercabang 2 sebagai tumpuan berjalan. Perlahan namun pasti mereka menembus pekatnya malam di tengah gurun.


"Anda harus bersyukur karena bertemu denganku, Ajeosshi. Jika tidak bertemu aku, Anda mungkin bisa tersesat." Deok Man menjawab sambil tersenyum. Sambil menuntun ontanya, matanya bergerak kesana kemari memperhatikan pasir gurun.


"Iya kan?!" Deok Man tersenyum bangga.


"Tapi.. Bagaimana kamu bisa berbahasa Gyerim* dengan lancar, tapi tidak pernah kesana?" Chil Sook bertanya dengan tenang.


[* Gyerim adalah Ibukota Gyeongju dan Pendiri Shilla sejak 65 M (Raja Talhae ke-6)]


"Aku tinggal di wilayah perdagangan... Kebanyakan pedagang yang datang kesini bisa beberapa bahasa." Deok Man menjawab pertanyaan Chil Sook.


Di tengah perjalanan Deok Man menghentikan langkahnya, tangannya memberi tanda pada Chil Sook agar berhenti.


"Tunggu! Jangan bergerak!" Deok Man berteriak kemudian tangannya menunjuk ke arah sesuatu.


"Kenapa?" Chil Sook bertanya keheranan.


"Itu pasir hisap." Jawab Deok Man.


"Pasir hisap?!" Chil Sook berhenti kemudian berjalan mendekati Deok Man.


"Lihat. Di padang pasir, Anda akan menemukan pasir seperti itu sesekali. Jika jatuh kesana, Anda tidak akan bisa lari." Deok Man menjelaskan secara detil kepada Chil Sook.


"Ayo. Jalan." Deok Man segera memimpin di depan.


Lalu mereka kembali berjalan di tengah gelap malam. Tidak lama kemudian Deok Man menghentikan kembali langkahnya, dan memberi tanda kepada Chil Sook seperti sebelumnya.


Seekor ular berbisa merayap di depan mereka.


"Tunggu! Jangan berjalan di atasnya. Jika ini menggigitmu, akan sangat sakit. Tapi yang satu ini kelihatannya bagus untuk di dagangkan." Deok berkata sambil tersenyum.


Dengan menggunakan ujung tongkatnya yang bercabang 2, Deok Man menjepit kepala ular dan menangkapnya. Kepala ular dipegang erat dan Deok Man memasukannya ke dalam kantong yang tergantung di punggung onta.


Deok Man mengambil tongkat tadi yang diletakan waktu menangkap ular, kemudian kembali memimpin jalan.


"ini..." Ucap Deok Man kebingungan, menoleh ke semua arah. Dia kehilangan arah.


"Ahh!" Deok Man tertawa, setelah kebingungan. Dia mendongak ke arah langit.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.


'Apa kamu yakin ke sini jalannya?!" Chil Sook bertanya sambil memperhatikan sekitar.


"Orang-orang mudah tersesat di padang pasir. Tapi itu hanya untuk orang yang memakai peta." Deok Man menjawab sambil tersenyum.


"Kalau aku..." Deok Man berjalan dan menatap ke arah Chil Sook.


"Aku dipandu oleh itu." Deok Man menunjuk ke arah rasi bintang pembajak / ursa mayor/ orion.


"Dan juga, Aku sudah mengingat banyak Rasi bintang. Kalau aku pikir lewat sini! pasti benar. Atau kalau aku bilang lewat sana, berarti memang di sana!?" Deok Man bicara panjang lebar sambil tertawa.


"Dulu, aku pernah berjalan di Gurun, dan ternyata aku tersesat. Jadi aku hanya menunggu sampai malam. Lalu aku melihat langit, dan bintang yang memanduku." Deok Man tetap tertawa.


"Alhamdulillah, aku selamat sampai di rumah. Bahkan Ibu memujiku." Deok Man berkata dengan bangga.


Setelah lumayan jauh berjalan, terlihat lampu lampu menghiasi perkampungan. Deok Man dan Chil Sook mempercepat langkah mereka. Setelah terlihat jelas Deok Man menunjuk ke arah perkampungan di tengah gurun.


"Ajeosshi, itu... di sana. Baguskan? Ayo cepat." Deok Man menujuk perkampungan dengan jari telunjuknya.


Mereka mempercepat langkah, tidak berapa lama, tibalah mereka di pintu gerbang perkampungan tersebut. Sambil menuntun onta, mereka memasuki gerbang tersebut.


Chil Sook menghentikan langkahnya tepat di tengah gerbang, sedang Deok Man tetap berjalan mengikuti jalan menurun yang dilaluinya.


"Ajeosshi! Ayo turun! Cepat! Kita masih lumayan jauh." Teriak Deok Man dari bawah kepada Chil Sook yang masih mematung, lalu bergegas menyusuri jalan menurun tersebut.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2