
Di kediaman Mi Shil.
Hajong berdiri di tengah ruangan sambil tertawa tawa, berjalan mendekat kearah meja. Mi Saeng duduk tenang menyaksikan keponakannya, tangannya mengambil kipas bulu merak lalu di kipas kipaskan.
"Ketiga pangeran itu sekarang telah lenyap." Ha Jong mendekat ke meja sambil tertawa.
"Jadi sekarang apa yang akan terjadi?" Ha Jong duduk di depan Mi Saeng, kemudian menepuk tangannya.
[~ Hajong ~ (Putra Mishil & Sejong, Pungwolju ke-11)]
"Uh?! Keponakanku." Mi Saeng mengipaskan bulu meraknya.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kita harus menghormati ini." Mi Saeng berkata dengan tenang.
"Kenapa, Anda tidak gembira dengan hal ini?" Ha Jong bertanya sambil mendekatkan kepalanya ke Mi Saeng.
"Yang Mulia mungkin punya rencana dengan menyembunyikan kembar yang lainnya." Mi Saeng berucap kepada Ha Jong.
"Tapi tidak semua garis keturunan suci meninggal?!" Mi Saeng berkata melanjutkan.
"Iya kan?!" Ha Jong bertanya kepada Mi Saeng.
"Kamu juga gembira kan?!" Mi Saeng bertanya kembali kepada Ha Jong.
"Iya kan, hahaha?!" Ha Jong menjawab sambil tertawa.
Ha Jong dan Mi Saeng berpandangan sesaat. Kemudian mereka tertawa bersamaan.
"Seonggol... Namjin!" Mi Saeng berkata sambil tertawa.
Ha Jong tertawa sambil menepuk nepukan tangannya.
Di tengah tawa mereka, Mi Shil memasuki ruang di ikuti Se Jong, kedua pengawalnya berhenti langsung berjaga di pintu masuk.
"Ibu!" Ha Jong memanggil Mi Shil.
Ha Jong berdiri mendekat kepada Mi Shil.
"Bahkan hingga pangeran ketiga..." Ha Jong berkata sambil tertawa.
"Istana sedang berkabung." Mi Shil memotong perkataan Ha Jong.
"Bagaimana bisa kamu menghina." Mi Shil menatap tajam Ha Jong
"Upacara sakral ini dengan tertawa seperti itu?!" Mi Shil memarahi Ha Jong.
Mendapat teguran ibunya Ha Jong terdiam.
"Ahh... apa yang kubilang tadi?!" Mi Saeng tertawa, kipas menunjuk Ha Jong.
__ADS_1
"Kamu juga sama." Mi Shil melirik tajam Mi Saeng.
Misaeng terdiam. Ha Jong menahan tawa melihat Mi Saeng. Mi Saeng melotot ke arah Ha Jong.
Mereka berempat duduk tenang melingkari meja.
"Haruskah kita mencalonkan putra mahkota?" Se Jong bertanya pada Mi Shil.
Ha Jong masih menggoda Mi Saeng dengan menjulurkan lidahnya. Mi Saeng meresponnya dengan gerakan menggigit.
"Tidak perlu tergesa-gesa." Mi Shil menjawab sambil menatap Se Jong.
"Kita akan melakukannya setelah Upacara." Mi Shil berucap menjelaskan.
"Ohh... Tapi, Seju." Se Jong bertanya kepada Mi Shil.
"Akankah Maya, melahirkan anak laki-laki lagi?!" Mi Shil tersenyum memotong perkataan Se Jong.
Mereka manggut manggut mendengar kata kata Mi Shil.
"Seorabeol sekarang... tidak memiliki pangeran dari garis keturunan suci." Mi Shil tertawa penuh kemenangan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Di dalam kuil istana.
Permaisuri duduk di depan memimpin upacara, Putri Cheonmyeong bersila di belakang, mengikutinya. Permaisuri menangis terisak isak, begitu pula putrinya.
Dua orang dayang berdiri di pintu masuk, menjaga ketenangan ruang meditasi. Setelah beberapa saat bersedih, akhirnya mereka dapat menenangkan diri.
"Ibu. Apakah kematian ke-3 saudaraku... Itu karena aku?" Putri Cheonmyeong bertanya memecah kesunyian ruang meditasi kuil suci istana. Dengan sisa air mata yang masih menetes, dia menatap ibundanya yang masih tertegun di hadapannya.
"Apa yang kamu bilang? Itu omong kosong. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Apakah seseorang mengatakannya padamu?!" Permaisuri Maya terdiam, menoleh ke arah Putri Cheonmyeong. Permaisuri terkejut mendengar perkataan putri sulungnya. Wajah sedihnya perlahan berubah menjadi tegang.
"Tidak ada yang mengatakannya. Aku hanya terus memikirkannya." Putri Cheonmyeong menunduk, air mata yang ditahannya perlahan mulai mengalir. Putri Cheonmyeon kembali menatap wajah ibundanya, dia terharu, tampak kasih sayang di wajah yang basah oleh air mata tersebut.
"Pikiran seperti itu... Hanya akan membuat waktu dan pikiranmu." Permaisuri memandang wajah Putri Cheonmyeong, kesedihan di wajah putrinya secara tidak langsung menguatkan Permaisuri Maya. Dia harus terlihat kuat di depan putrinya.
Putri Cheonmyeong mengalihkan pandangan, menggeser pelan duduknya, pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu, di waktu kematian Pangeran ke empat, adik lelaki lainnya.
๐บ๐นPutri Cheonmyeong flash back๐น๐บ
Putri Cheonmyeong muda berlari meninggalkan 2 orang dayang pengasuhnya. Dia belari menuruni tangga berudak kuil suci istana. Dua orang dayang pengasuh kesulitan mengejar Putri Cheonmyeong.
"Yang Mulia! Yang Mulia! Yang Mulia!" Kedua dayang pengasuh Putri Cheonmyeong, kesulitan mengejar.
Lady Mi Shil di dampingi dayang memasuki pintu gerbang kuil suci istana. Lady Mi Shil berkunjung untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Pangeran ke empat. (Anak ke 5 Raja Jinpyeong, bila Deokman ikut dihitung.)
Sampai di halaman kuil, Putri Cheonmyeong berhenti. Tepat di depannya, Lady Mi Shil berdiri tersenyum.
__ADS_1
Kedua dayang pengasuh Putri Cheonmyeong tiba di belakangnya. Wajah Putri Cheonmyeong berubah, wajah sedih berubah jadi tegang.
"Yang Mulia Putri Cheonmyeong. Apa yang membawa Anda ke sini selarut ini?!" Lady Mi Shil mendekati Putri Cheonmyeong yang berhenti di tengah halaman kuil suci istana.
"Apa karena saudara bayi Anda?" Lady Mi Shil berjalan mendekati Putri Cheonmyeong.
Putri Cheonmyeong mengangguk, air mata menetes membasahi pipinya.
"Yang membuat pangeran lain meninggal... adalah.... anda! Lalu pangeran berikutnya, Pangeran setelah dia..." Lady Mi Shil menurunkan tubuhnya, sejajar dengan tinggi Putri Cheomyeong.
"Mereka semua akan... mati karena anda." Lady Mi Shil memeluk Putri Cheonmyeong dan mengelus punggungnya, kemudian berbisik di telinga Putri Cheon Myeong.
๐น๐บPutri Cheonmyeong flash back off๐บ๐น
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Di kediaman Lady Mi Shil.
Putri Cheonmyeong mengunjungi kediaman Lady Mi Shil. Lady Mi Shil menyeduh teh, Putri Cheonmyeong duduk dengan tenang, menanti Lady Mi Shil.
"Yang Mulia Putri. Kenapa anda tidak mengunjungi saya untuk berunding?" Lady Mi Shil bertanya pada Putri Cheonmyeong. Lady Mi Shil duduk di depan Putri Cheonmyeong setelah menyajikan teh.
"Yang Mulia." Lady Mi Shil dengan tenang menatap ke arah Putri Cheonmyeong mencoba membaca pikiran tamunya tersebut.
"Seju." Putri Cheonmyeong gelisah, mendapat tatapan mata dari Lady Mi Shil.
"Iya. Silahkan, katakan pada saya." Lady Mi Shil tersenyum anggun, menganggukan kepala memandang Putri Cheonmyeong penuh kelembutan.
"Hari saat saudara kedua ku meninggal, Kamu mengatakan sesuatu saat merangkulku. Semua ini terjadi karena aku. Semua saudaraku mati karena aku." Putri Cheonmyeong memandang datar ke arah Lady Mi Shil. Lady Mi Shil mulai menyimak perkataan Putri Cheonmyeong, dengan seksama.
"Aku memikirkan tentang hal itu, karena itu aku ke sini." Putri Cheonmyeong memandang Lady Mi Shil, wajah datarnya berubah menjadi tegang.
"Yang Mulia." Lady Mi Shil menarik napas.
"Tidak ada satu hal pun. Yang harus anda lakukan." Lady Mi Shil mematap tajam Putri Cheonmyeong.
Wajah tenang Putri Cheonmyeong berubah tegang, napasnya mendadak sesak, dia tidak menyangka mendapat jawaban yang mengejutkan.
"Itu akan membuatmu tetap hidup." Lady Mi Shil melanjutkan perkataannya, tenang penuh dengan penekanan.
Putri Cheonmyeong menundukan wajahnya, air matanya kembali mengalir. Dia menarik napas panjang kemudian memandang Lady Mi Shil kembali.
"Tidak... melakukan apapun... Akan menyelamatkanmu." Lady Mi Shil menarik napas, kemudian menengok kesamping.
Tanpa sepengetahuan Putri Cheonmyeong, wajah manis yang diperlihatkannya berubah menjadi kejam.
bersambung.
__ADS_1