
Masing masing dayang melayani satu orang anggota dewan. Setelah kotak kotak kayu selesai di bagikan pada anggota sidang, sepuluh dayang meninggalkan ruang sidang tersebut.
"Sekarang saatnya Dewan Bangsawan menyampaikan keinginan kita." Bangsawan Noribu mengumumkan, setelah menarik napas.
Raja Jinpyeong menundukan wajahnya pasrah, sedangkan Mishil tetap tersenyum. Eul Jae Dae deung memandang Raja Jinpyeong penuh rasa bersalah.
"Seperti yang anda tahu, suara bulat di perlukan. Bahkan jika salah satu dari kita menentang.. Musyawarah akan berlanjut sampai kita mencapai kebulatan suara." Bangsawan Noribu berdiri.
"Jika ada anggota dewan yang ingin menentang hal ini, letakkan papan kalian di depan.." Sambil melirik dengan ekspresi wajah menghina pada Eul Jae Dae deung, Bangsawan Noribu melanjutkan perkataanya.
Setelah mendengar aba aba dari Bangsawan Noribu, sepuluh anggota dewan mengambil papan kayu lencana kecil dan memegangnya di tangan.
Dua orang Menteri yang ingin mendukung Eul Jae Dae deung, menolak pernikahan kerajaan. Namun tangannya terhenti setelah mendapat tatapan tajam dari Bangsawan Noribu. Dengan ragu ragu, mereka menggagalkan niatnya membantu Eul Jae Dae deung, menolak pernikahan kerajaan.
Suasana hening, dengan geram Eul Jae Dae deung mencengkeram mendali kayu bertuliskan tidak setuju.
("Mereka benar benar licik.") Eul Jae berucap dalam hati.
"Kalau begitu, tanpa pikir panjang...." Dengan senyum kemenangan, Bangsawan Noribu berkata.
Tiba tiba ada teriakan keras dari luar ruang sidang terbuka.
"Hentikan....." Seseorang berlari dengan berteriak.
Semua orang yang hadir dalam sidang terbuka, menoleh ke arah suara tersebut. Tampaklah seorang berbaju putih berlari mendekati Yang Mulia Raja.
"Hentikan semua ini." Dia mengulangi teriakannya.
Raja Jinpyeong menengok, wajahnya berubah kaget. Orang yang berteriak itu, perlahan lahan mendekat ke arah bagida Raja.
Mi Saeng yang menyaksikannya terkejut, tubuhnya gemetaran dan kipas bulu merak yang dipegangnya terjatuh. Dia tertegun.
("Gukseon Moon Noh, bukankah kamu sudah mati di tebing neraka.") Mi Saeng berucap dalam hatinya.
"Yang Mulia." Orang itu memberi hormat pada Baginda Raja.
"Gukseon." Raja Jinpyeong terkejut.
Mi Shil tertegun, Seol Won Rang merasa cemas, apa yang mereka rencanakan bisa hancur berantakan. Mereka berdua diam, berusaha menguasai keadaan.
"Apa maksudmu menyela acara ini, Gukseon!" Bangsawan Noribu berteriak marah.
__ADS_1
"Lagipula Tidak ada yang boleh mencampuri dewan ini kecuali anggotanya! bahkan untukmu Gukseon, Beraninya kau melakukan penghinaan ini!" Bangsawan Noribu marah.
Dengan tenang Gukseon memandang Bangsawan Noribu kemudian memutar badannya, pandangannya menatap ke arah luar ruang sidang terbuka.
"Anda semua harus berdiri!, Yang Mulia Permaisuri akan segera hadir!" Gukseon berbicara dengan penuh wibawa.
Para anggota sidang terdiam, mereka saling berpandangan. Tak terkecuali Eul Jae Dae deung, wajah kusutnya mulai tampak cerah.
Mi Saeng gemetaran gelisah, Mi Shil yang terbiasa senyum, terlihat pucat, senyum di wajahnya menghilang, demikian juga dengan Seol Won.
Tak seberapa lama, sebuah tandu masuk ke dalam ruang sidang terbuka. Tandu tersebut dikawal dua belas pengawal.
Para tamu yang hadir dalam sidang terbuka, secara otomatis memberikan jalan pada tandu itu. Raja Jinpyeong terus melihat ke arah tandu sampai berhenti, dan keluarlah seseorang yang dia rindukan. Permaisuri Maya turun dari tandu dengan anggun namun dipenuhi kemarahan.
Seluruh hadirin yang ada dalam sidang terbuka, berdiri serentak menyambut kehadiran Permaisuri Maya. Semuanya berjajar kemudian berlutut di sepanjang sisi jalan sang Permaisuri.
Dengan wajah marah dan tegang Permaisuri Maya berjalan menuju ke arah Raja Jinpyeong. Lirikan tajam penuh kemarahan dia tujukan ke arah Mi Shil dan sekutunya.
Yang Mulia Raja Jinpyeong melompat dari tempat duduknya, langsung memeluk istri tercintanya.
"Maya, Maya." Raja Jinpyeong berucap sambil memeluk Permaisurinya.
"Yang mulia." Ucap permaisuri di pelukan sang Raja.
Kemudian meraih tangan Permaisuri Maya. Air mata membasahi pipi Raja Muda itu.
"Putri Maya, Bisakah anda menjelaskan semua ini?" Menteri Se Jong menutupi kekecewaannya dengan pura pura bertanya..
"Saat aku sedang menuju ke tempat tinggal keluarga ku.. Orang tak dikenal menyerang ku." Tanpa curiga permaisuri Maya mulai bercerita.
"Siapa yang berani melakukan hal itu?" Eul Jae Dae deung bertanya dengan penuh emosi, tidak dapat disangkal begitu besar kesetiaan keluarga Eul Jae Dae deung kepada keluarga Raja.
"Tuan Munno dan aku berusaha mencari tahu, Tapi tidak ada jejak.." Sambil terisak Permaisuri Maya menjawab.
"Aku dilempar ke tebing bersama dengan Tuan Munno, kaki dan tangan kami diikat." Sambil melirik Mi Shil.
Mi Shil salah tingkah, karena lirikan tajam Permaisuri Maya, dengan cepat menunduk berusaha menguasai keadaan.
"Gukseon. Kamu menyelamatkan Maya. Aku berterima kasih." Raja Jinpyeong mengalihkan pandangan ke arah Moon Noh, kemudian bertanya,
"Bukan saya Yang Mulia, Anda lah yang menyelamatkan kami Yang Mulia.." Gukseon Moon Noh mencoba menjelaskan pada yang mulia.
__ADS_1
Dengan heran Raja Jinpyeong memutar tubuhnya menghadap permaisuri Maya.
"Benar Yang Mulia, Anda lah yang menyelamatkan kami." Permaisuri Maya menambahkan.
"Apa maksudmu." Raja Jinpyeong kebingungan.
"Dengan ini, aku memotong tali yang mengikat kami." Sambil menangis Permaisuri Maya berkata dan mengambil belati kecil Raja Jinheung.
"Ini." Raja Jinpyeong memandang belati kecil Raja Jinheung di tangan Permaisuri.
"Apakah benar ini yang membawamu kembali ke sini?!" Dia mengambil belati itu dari tangan Permaisuri Maya, memegangnya dengan erat.
"Bukan hanya aku." Permasuri Maya mengambil tangan Raja Jinpyeong.
"Itu juga menyelamatkan anak kita. Anak Yang Mulia, dan garis keturunan kerajaan." Meletakan tangan Raja ke perutnya.
Eul Jae Dae deung tersenyum, terlihat jelas kegembiraan di wajahnya. Menteri Se Jong terlihat kikuk, Mi Shil menahan marah dalam senyumannya.
"Ini... Anak kita juga berhasil selamat?! Kamu menyelamatkannya?!" Raja Jinpyeong mengelus perut Permaisuri Maya yang mulai membesar.
"Iya, Yang Mulia." Permaisuri Maya tersenyum menjawab Yang Mulia Raja.
"Bagaimana bisa..., Bagaimana bisa.. Terima kasih... Terima kasih...Terima kasih... Permaisuriku." Sambil menangis Raja Jinpyeong memengang kedua bahu Permaisuri Maya.
Raja memeluk Permaisuri sekali lagi. Kemudian terdengar teriakan.
"Hidup Yang Mulia Raja!, Hidup Yang Mulia Permaisuri!" Pengawal bersorak.
Sorakan itu diikuti oleh seluruh para tamu dan anggota Dewan yang hadir.
Mi Shil juga ikut, terlihat jelas dalam wajahnya, dia benar benar kecewa. Mi Saeng melirik penuh dendam ke arah Gukseon Moon Noh.
Seol Won menundukkan pandangan, Hwarang Chil Sook menatap tajam para pendukung Yang Mulia Raja.
Mereka semua terpaksa mengikuti hadirin yang lain, meneriakan yel yel hidup Raja, hidup Permaisuri walaupun dengan mimik wajah yang tidak nyaman dipandang mata.
bersambung
🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵
ikuti Balada Perjaka Tua (Old Virgin Ballad Guild), Gusku Suamiku (Robb Maafkan Aku Menikung Cinta MU) dan Legenda Ponorogo (The Legend of Reyog City).
__ADS_1