Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
14. PSK 03_03. Putri Inmyeong.


__ADS_3

So Hwa terus berlari, berlari dan berlari, sampai di tengah padang ilalang sambil mengendong Putri Imyeong. So Hwa berlari pontang panting sampai memasuki hutan.


Pasukan berkuda terdiri dari beberapa orang Hwarang, berpacu mengejar So Hwa. Mereka melintasi padang rumput dan sampai di tepian hutan.


So Hwa memasuki hutan, karena lelah dia berhenti dan bersandar pada pohon sambil menimang putri Imyeong di gendongannya. Dengan gemetaran So Hwa memandang berkeliling, memastikan keadaan aman. Melihat sekelompok hwarang berkuda dari kejauhan, So Hwa langsung berlari kembali masuk ke dalam kedalaman hutan.


Sambil menangis dan terus mempererat gendongannya, So Hwa menembus kegelapan hutan. Para pengejar berkuda semakin dekat, mereka semakin bersemangat memacu kuda yang mereka tunggangi. Karena panik, So Hwa terjatuh. Untung saja putri Imyeong kecil tidak menangis.


Sepertinya putri kecil ini mengerti keadaan, putri Imyeong tertidur di pelukan So Hwa.


Tetapi, karena suara kuda kuda yang semakin dekat, membangunkan tidur putri Imyeong. So Hwa yang jatuh terduduk segera bangkit,


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


kuda kuda para pengejar semakin dekat, dan semakin dekat. Mereka memasuki hutan kemudian berhenti.


Hwarang Chil Sook memimpin beberapa Hwarang lainnya, mengawasi keadaan. Pandangan mata mereka menatap berkeliling. Mereka terus memandang berkeliling, sampai akhirnya terdengar suara bayi menangis. Hwarang Chil Sook terkaget kemudian memusatkan pendengaran, dari arah mana suara tangisan itu berasal.


"Lewat sini!" Hwarang Chil Sook memacu kudanya, memimpin para Hwarang bergerak.


πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—πŸ₯—


Putri Imyeong terus menangis, So Hwa berlari terus berlari, pasukan berkuda terus memacu kudanya mendekati suara tangis bayi. So Hwa terus berlari sampai akhirnya tiba di tambang yang sudah tidak terpakai.


Sambil menggendong putri Inmyeong yang terus menangis, So Hwa bergegas memasuki goa bekas tambang itu. Di dalam goa, So Hwa memandang berkeliling, tangis putri semakin terdengar keras di ruangan tertutup. So Hwa menyusuri goa itu untuk mencari tempat persembuyian yang tepat.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dengan obor di tangan, pasukan berkuda yang dipimpin Chil Sook menyusuri hutan, sampai tiba di tambang yang sudah tidak di pakai.


"Ayo, bergerak." Chil Sook memberi perintah kepada pasukan Hwarang.


"Baik." Mereka serempak menjawab, dan memacu kuda memasuki tambang tersebut.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


So Hwa menemukan tempat persembunyian yang tepat. So Hwa duduk bersila, kemudian dia menyusui bayi Inmyeong, untuk menghentikan tangis bayi kecil itu. So Hwa menyusuinya sambil tetap memperhatikan sekitar. So Hwa melihat pasukan berkuda memasuki goa, kemudian So Hwa menggeser badanya menyamping di balik dinding gua untuk sembunyi.


Dengan menggunakan obor yang diacung acungkan, para Hwarang menyusuri lorong lorong gua. Mereka terhadang tali bertulis - kan.~ (Geum) Dilarang lewat ~ Chil Sook memotong tali itu dengan pedang nya.


"Kita akan masuk." Chil Sook memberi perintah kepada pasukan Hwarang.


"Siap!." Hwarang menjawab dengan serempak.


Mereka segera berpencar, memeriksa seluruh ruang di dalam goa.

__ADS_1


("Aku mohon...") So Hwa membatin ketika seorang Hwarang mengacungkan obor mengecek dilobang di depannya. Tetapi Hwarang itu tidak melihat So Hwa, kemudian berlalu dari tempat itu.


("Bagus...") So Hwa membatin lagi ketika Hwarang meninggalkan tempatnya.


Setelah memeriksa seluruh ruangan, dengan hasil nihil. Para Hwarang kembali berkumpul dan melapor pada Chil Sook.


"Bagaimana ini?" Seorang Hwarang bertanya kepada Chil Sook.


"Haruskah kita mengecek semuanya? Lagi?" Hwarang lainnya memperjelas kepada Chil Sook.


"Taruh api di setiap lubang." Chil Sook memberi perintah kepada Hwarang.


"Baik!." Seorang Hwarang menjawab sambil membungkuk memberi hormat.


"Taruh api di setiap lubang gua!." Chil Sook memastikan, kepada seluruh Hwarang.


"Baik!." Mereka serentak, menjawab dan bergegas menjalankan perintah.


Kemudian mereka mengumpulkan ranting ranting kering, ditaruh di setiap celah goa, setelah semua tersusun kemudian mereka membakar ranting ranting tersebut.


"Anakku..." So Hwa mengintip Hwarang yang membakar ranting, kemudian memeluk putri Inmyeong yang mulai menangis.


Asap mulai mengepul, memasuki tempat persembunyian So Hwa. So Hwa terbatuk batuk. Putri kecil terlihat sesak napas, kemudian langsung membantu pernapasan pada putri kecil Imyeong.


So Hwa terbatuk batuk, tetapi So Hwa tetap membantu pernapasan pada bayi kecil, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Chil Sook berjalan di samping persembunyian So Hwa, Untuk memastikan asal suara, dia duduk berjongkok di depan celah persembunyian So Hwa. Pandangan matanya mengintip ke dalam celah gua tersebut.


So Hwa semakin tidak berdaya, ditengah asap yang semakin tebal dada semakin sesak. Kembali lagi naluri seorang ibu yang mementingkan putrinya daripada dirinya sendiri, kembali membantu Inmyeong kecil dengan napas buatan. Putri Inmyeong menangis keras, So Hwa terbatuk batuk. Karena sudah tidak mampu menahan beban So Hwa menerjang bara api dan keluar dari tempat persembunyianya.


Sesampai di luar celah gua, So Hwa jatuh terduduk. Dari mulutnya keluar asap, Chil Sook yang memperhatikan tempat itu dari tadi, segera memerintahkan bawahannya menangkap So Hwa.


So Hwa berteriak teriak kedua bahunya, di cengkeram 2 orang hwarang. Sementara kedua tangannya memeluk Inmyeong kecil dengan erat. So Hwa di paksa bangun dari duduknya.


"Tidak... Jangan... Jangan! Jangan lakukan." So Hwa berteriak, menangis sambil mempertahankan bayinya yang direbut paksa oleh Chil Sook.


Chil Sook yang berhasil merebut Inmyeong kecil segera menggendongnya dan menatap So Hwa.


"Anakku.. Lepaskan! Itu anakku!." So Hwa meronta ronta karena di pegang erat oleh 2 orang Hwarang.


Chil Sook membuka pelindung wajah putri Inmyeong kecil. Terdengar tangis bayi yang semakin mengeras.


"Jangan! Jangan! Jangan! Itu bayiku!." So Hwa berteriak sambil yerus terusan meronta.


"Bawa dia." Chil Sook memberi perintah sambil menutup kembali pelindung wajah putri Inmyeong kecil.


"Siap!." ke 2 Hwarang menjawab serempak sambil menyeret So Hwa keluar goa.

__ADS_1


"Anakku... Berikan anakku! Berikan!." So Hwa berteriak teriak seperti orang gila dalam pegangan ke 2 Hwarang.


Mereka semua keluar dari dalam goa, menuju ke tempat kuda diikat.


"Dia milikku! Berikan bayiku... Dia milikku!" So Hwa tetap berteriak meronta ronta.


Chil Sook menggendong Inmyeong kecil dan berjalan ke arah kuda dan bersiap menaikinya, seketika menoleh ke arah So Hwa setelah mendengar umpatannya.


"B@jing@n! Apakah kamu tidak tahu itu anak siapa?" Wajah So Hwa memelas, kedua lengannya sudah dilepaskan oleh ke 2 Hwarang.


"Tidak!." Chil Sook melengos, berlalu dengan sinis menatap So Hwa kemudian hendak menaiki kudanya.


Tiba tiba 2 anak panah melesat ke arah Chil Sook, dengan cekatan Chil Sook menghidarinya. Kedua panah itu terus melaju, setelah melewati Chil Sook dan mengenai dada ke 2 Hwarang yang tadi memegang lengan So Hwa. Ke 2 Hwarang tewas seketika, tubuhnya jatuh ke tanah. So Hwa terkejut dan berteriak.


Tampak seorang berbaju putih, memegang busur di atas kudanya, di tebing terjal atas, depan mereka. Ternyata itu adalah Gukseon. Gukseon turun dari kudanya kemudian meloncat turun dari bukit, langsung membidikan 2 anak panah tersisa ke arah Hwarang. Sayang meleset.


Gukseon menarik pedangnya, gaya khas bertarung dengan pedang menjuntai ke bawah. Gukseon langsung meloncat dan berlari ke arah para Hwarang. Para Hwarang melaju ke arah Gukseon dengan pedang di tangan, setelah mendapat perintah Chil Sook. Pertarungan pun terjadi.


Dalam sekali lompatan dengan 5 tebasan pedang, Gukseon menghabisi 5 Hwarang dalam hitungan detik. Sambil terus berlari, kakinya mengait anak panah yang tergeletak di tanah, sementara tangan kiri menyambar busur, tangan kanan menyahut anak panah dari hasil pengait kakinya tadi.


Gukseon langsung memanah Chil Sook secara cepat. Anak panah mengenai pinggang Chil Sook, dan putri Inmyeong terlempar ke udara dari gendongan Chil Sook. Bayi tersebut langsung di sambar Gukseon sebelum jatuh ke tanah.


Gukseon memeluknya, kemudian membuka pelindung wajah putri Inmyeong, memandangnya, mengambil tali dan mengikat erat putri Inmyeong kecil pada tubuhnya. Sementara Chil Sook yang terbangun, segera mengambil pedang dan bersiap dengan kuda kuda tengah.


Gukseon mencabut pedangnya, kemudian memutar pedangnya kearah luar, dengan gaya pedang khas Gukseon. Chil Sook menatap tajam ke arah Gukseon, tangan kirinya mematahkan anak panah yang menancap di pinggangnya. Dan pertarungan pun tak terhindarkan.


Keduanya legenda Hwarang, mereka adalah peringkat terbaik 1 dan 2 dalam Hwarang. Petarungan sengit tak terhindarkan, namun tampak memang Gukseon lah yang memegang kendali.


Setelah beradu pedang beberapa kali, 2 tendangan memutar Gukseon mampu masuk menerjang di dada Chil Sook. Gukseon mengakhiri pertarungan dengan sabetan pedang di wajah Chil Sook.


Tampak garis berdarah menggores di pipi kanan Chil Sook. Chil Sook jatuh terkapar, Gukseon memandangnya sejenak untuk memastikan.


Gukseon berlari ke arah So Hwa dan melepaskan ikatan tali dengan sabetan pedang. Setelah terlepas, So Hwa segera mengambil Inmyeong kecil ke pelukannya.


So Hwa membuka pelindung wajah Inmyeong kecil, tampak wajah imut yang ceria. So Hwa memeluknya dengan erat. Kemudian dengan cekatan mengikuti arahan Gukseon, berjalan di samping Gukseon, menuju kuda.


So Hwa di dudukan di pelana kuda, tangannya memeluk erat putri Inmyeong kecil. Gukseon duduk di belakang So Hwa. Kemudian Gukseon memacu kuda meninggalkan gua tersebut.


Chil Sook berusaha berdiri namung kembali terjatuh karena lukanya. So Hwa melihat ke arah Chil Sook sambil berlalu bersama Gukseon dan putri kecil Inmyeong.


Setelah melihat Gukseon memacu kudanya, Chil Sook berusaha bangkit. Chil Sook berjalan ke arah kudanya, mengendarainya mengikuti jejak kuda Gukseon. Terjadilah kejar kejaran antara Chil Sook dsn Gukseon walaupun terpaut jarak yang amat jauh.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2