Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.

Pertarungan Si Kembar The King'S Wasted Princess.
16. PSK 03_05. Penginapan.


__ADS_3

Mereka mempercepat langkah, tidak berapa lama, tibalah mereka di pintu gerbang perkampungan tersebut. Sambil menuntun onta, mereka memasuki gerbang tersebut. Chil Sook menghentikan langkahnya tepat di tengah gerbang, sedang Deok Man tetap berjalan mengikuti jalan menurun yang dilaluinya. Deok Man memanggil Chil Sook untuk mengikutinya.


Tibalah mereka di sebuah penginapan berlantai 3. Di lantai dasar penginapan terdapat kedai makan, penginapan berada di lantai 2, sedangkan di lantai teratas digunakan oleh pengelola penginapan.


Suasana dalam penginapan tersebut cukup ramai, banyak para pedagang dari berbagai negara singgah bermalam di penginapan itu. Hilir mudik para pelayan melayani permintaan para tamu restoran.


Dalam kedai sederhana itu, ada berbagai permainan judi. Mulai kartu sampai dadu. Riuh para pemenang judi terdengar, wajah sedih kalah judi juga tidak sedikit.


Deok Man memasuki penginapan itu dengan menyibak tirai bambu penutup pintu masuk.


"Aku datang, tunggu!" Deok Man menyibak tirai di pintu masuk.


Chil Sook mengikuti Deok Man, sambil memperhatikan suasana ramai kedai makan.


"Ibu!" Deok Man memanggil ibunya, berbahasa China.


"Aduuh..." So Hwa mengaduh karena terjatuh, kakinya tersandung.


Karena menengok ke arah Deok Man. So Hwa terjatuh, kakinya tersandung. Untung bakpao di baki yang di pegangnya, tidak jatuh ke tanah. Sifat kikuk So Hwa ternyata belum berubah. Deok Man melihat ibunya terjatuh berteriak.


"Hati-hati." Deok Man menghampiri ibunya, dalam bahasa China.


"Apa Ibu baik-baik saja?" Deok Man memegang bahu So Hwa, membantu ibunya berdiri, berbicara dalam bahasa china.


"Tidak apa-apa." So Hwa menjawab pertanyaan Deok Man, berbicara dalam bahasa China.


So Hwa melihat ke arah Chil Sook, menggangguk memberi hormat. Chil Sook cuma menatapnya dengan dingin. Deok Man berjalan menghampiri Chil Sook.


"Dia Ibuku." Deok Man berkata pada Chil Sook, sambil tersenyum.


"Dia sering terjatuh." Deok Man berkata lagi, senyum tak pernah lepas dari wajahnya.


"20 tael satu kali makan, 50 untuk tiga kali, dan 50 untuk penginapan." Deok Man menengadahkan tangan, meminta bayaran pada Chil Sook.


"Sudah kukatakan padamu, aku tidak mau pergi ke pondok untuk menginap." Chil Sook menjawab kepada DeokbMan dengan dingin.


"Bukankah anda berkata ingin bergabung dengan pedagang Roma?" Deok Man menurunkan tangannya, sambil tetap menatap Chil Sook.


"Ibu! Kita punya pelanggan." Deok Man berteriak, menenggok ke arah ibunya. berbicara dalam bahasa China.


"Iya..." So Hwa menjawab sambil melayani tamu kedai.


Seseorang berpakaian merah berselimpang putih memakai tutup kepala khas eropa, berjalan di belakang Deok Man. Matanya menatap ke arah Deok Man memastikan, terus memanggil.


"Ohh... Deokman!" Panggil orang asing itu.


Merasa dipanggil Deok Man berbalik arah, kemudian menengok ke arah Chil Sook.


"Ikut saja dengan ibuku." Deok Man berkata kepada Chil Sook.


"Cartan Ajeosshi!" Deok Man berteriak, kemudian berlari ke arah paman Cartan dan memeluknya.


"Bisakah anda ikut denganku." So Hwa menyapa sambil membawa lampu kecil, berbicara dalam bahasa China.


Chil Sook yang memandang Deok Man, kemudian memutar tubuhnya mengikuti So Hwa.


"Quomodo te habuisti? Quare tantum tarda habuisti?" Paman Cartan bertanya sambil tersenyum. [Bahasa Latin (Sudah berapa lama? Kenapa kamu sangat terlambat? )]


"Super monticulum vade dictum, cotidie te expectavi!" Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan. [Bahasa Latin (Aku menunggu anda di Bukit setiap malam)]


"Ego etiam, te videre volebam." Paman Cartan berucap kepada Deok Man. [Bahasa latin (Aku juga merindukanmu.)]


"Me videor patruum mori." Deok Man menjawab paman Cartan. [Bahasa Latin (Aku pikir akan mati karena menunggu lama.)]


"Tantum tempus te expectavi, etiam hodie ex quo venio, unde venis?" Deok Man tersenyum terus bertanya. [Bahasa Latin (Aku sudah menunggu hari ini, Anda dari mana saja?)]


"Maafkan, Aku berdagang di Mongol, Jadi aku mengambil rute Dunhuang*." Paman Cartan menjawab pertanyaan Deok Man.


[*Dunhuang adalah Provinsi Gansu, oasis terkenal dan salah satu rute utama jalur sutra.]


"Wow! Bahasa Gyerim mu sudah meningkat!" Deok Man memuji paman Cartan.


"Benarkah?!" Paman Cartan tertawa kegirangan.


"Ibumu mengajariku dengan baik." Paman Cartan berucap dan tertawa lagi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di lantai 2


Chil Sook mengikuti So Hwa naik ke lantai 2, Sambil membawa lilin So Hwa menunjukan tempat untuk beristirahat.


"Lewat sini." So Hwa memandu Chil Sook menuju ruang istirahat, So Hwa memakai bahasa China.


"Baik." Chil Sook menjawab So Hwa, menggunakan bahasa China.


"Silahkan ini ruangan anda." So Hwa mempersilakan Chil Sook beristirahat. So Hwa berucap dalam bahasa China.


"Bisa berikan aku teh." Chil Sook meminta teh dalam bahasa Gyerim.


"Ahh..." So Hwa kaget mendengar bahasa Gyerim Chil Sook.


"Anakmu berbicara dengan bahasaku, Jadi aku pikir..." Chi Sook menjelaskan kepada So Hwa dalam bahasa China.


"Aku ingin segelas teh." Chil Sook berucap lagi dalam bahasa China.


"Baik." So Hwa menjawab dalam bahasa China.


So Hwa segera meninggalkan Chil Sook menuju lantai dasar. Chil Sook memperhatikan tingkah laku So Hwa.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di lantai dasar.


Deok Man membuka buku hadiah dari paman Cartan. Kemudian menunjukan catatan catatan yang dia tandai pada paman Cartan.


~ Bioi Paralleloi (Parallel Lives) ~ Karya Plutarch


"Aku menulis semuanya, jadi aku bisa bertanya padamu.." Deok Man menyerahkan bukunya pada paman Cartan.


"Aiyoo... Kamu membaca semuanya?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man.


"Sudah berapa kali kamu baca?" Paman Cartan membolak balik buku Deok Man.


"Jika anda membukanya seperti itu, nanti rusak!" Deok Man merebut bukunya dari tangan paman Cartan.


"Ini adalah hartaku." Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan.


"Aku pikir Dunia hanya terdiri dari pasir dan bintang." Deok Man berkata sambil tersenyum.


"Tapi, sejak anda membacakan buku-buku ini..." Deok Man memandang paman Cartan.


"Kenapa?!" Paman Cartan bertanya lalu tersenyum.


"Dadaku rasanya menjadi tak terkendali." Deok Man menjawab sambil memegang dadanya.


"Dadamu?! Kenapa?" Paman Cartan bertanya kepada Deok Man.


"Aku tidak tahu." Deok Man menjawab paman Cartan sambil menggelengkan kepala.


"Aku hanya berpikir ada Kerajaan besar di seberang gurun dan mereka memiliki matahari dan bintang yang sama dengan kita..." Deok Man tersenyum menggelengkan kepala.


"Lalu membuat buku, dan mengolah lahan, menakjubkan." Deok Man berkata dan tersenyum.


"Ahh... Ajeosshi. Ini... ini. Jika anda baca di sini..." Deok Man menunjukan kepada paman Cartan.


"Pria ini, Pria ini.. ceritanya sangat menarik!" Deok Man berceloteh dan tersenyum lebar.


"Ehh... tapi dia terbunuh." Paman Cartan mengelus buku itu.


"Tetap saja! Pahlawan yang berjuang untuk melindungi negaranya, Itu sangat hebat!" Deok Man menjawab dengan menggerakan tangannya.


"Kamu menghabiskan seluruh hidup di tempat ini. Kelihatannya kamu menikmati hal-hal seperti ini." Paman Cartan tersenyum.


"Bukan begitu. itu Tidak sehebat yang kamu bayangkan." Paman Cartan tersenyum mengusap kepala Deok Man.


"Anda hanya takut kalau aku meminta untuk di bawa kesana? iya kan?!" Deok Man tersenyum sambil mengangguk angguk bersemangat.


Beberapa pedagang masuk ke kedai makan, mereka menyibak tirai bambu di pintu masuk kedai. Ketiganya, memandang berkeliling. Setelah menemukan sosok yang dicari kemudian berteriak.


"Cartan!" Pedagang berperut buncit berteriak memanggil paman Cartan memakai bahasa China.

__ADS_1


Mereka berjalan mendekat ke arah Cartan dan Deok Man.


"Kamu!" Paman Cartan menjawab menggunakan bahasa China.


"Tidak ada waktu untuk bersantai di sini. Sebuah dekrit Pelarangan perdagangan Teh sudah diterbitkan!" Berucap pedagang berperut buncit dalam bahasa China.


"Apa? Benarkah?" Paman Cartan bertanya dalam bahasa China.


"Tentu saja benar." Pedagang berperut buncit. menjawab pertanyaan paman Cartan menggunakan bahasa China.


"Benar, Teh sudah dilarang." Berucap pedagang berjanggut panjang memakai bahasa China.


"Deokman." Paman Cartan berbalik menghadap Deok Man.


"Kenapa ada dekrit seperti ini?!" Paman Cartan bertanya pada Deok Man menggunakan bahasa Gyerim.


"Di sini ada tuan tanah baru, Sejak datang, dia langsung memerintahkan agar pedagang teh di penggal." Deok Man menjawab pertanyaan paman Cartan dalam bahasa Gyerim.


"Apa?!" Paman Cartan terkejut memegang kepalanya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di lantai 2 di dalam kamar Chil Sook.


"Ini teh anda." So Hwa membawa teh sambil mengetuk pintu, menggunakan bahasa China.


"Masuklah." Jawab Chil Sook dari dalam kamar, sambil membenahi tas perbekalan miliknya, memakai bahasa China.


"Aku membawakan teh anda." So Hwa menaruh teh ke atas meja, dalam bahasa China.


"Baik." Chil Sook menjawab, dengan tenang meletakan tas perbekalan ke atang ranjang, menggunakan bahasa China.


"Kalau begitu, Aku harap anda tidur dengan nyenyak." So Hwa menunduk, merasa mengenali Chil Sook. [Bahasa China]


"Terima kasih banyak." Chil Sook memandang So Hwa. [Bahasa China]


So Hwa segera keluar dari kamar Chil Sook. Kemudian menutup pintu kamar. Chil Sook menatap So Hwa, merasakan ada sesuatu yang dia kenali. Chil Sook tersenyum dingin.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di lantai 1 di kedai penginapan..


Deok Man, paman Cartan dan ketiga pedagang duduk mengelilingi meja. Mereka membahas fenomena terbaru pelarangan perdagangan teh keluar daerah.


"Kenapa dia mengeluarkan perintah seperti itu?" Tanya pedagang berkulit hitam, dalam bahasa China Daratan.


"Menurut Chen Daren*, Tuan yang baru ingin memonopoli semuanya." Deok Man menjawab dalam bahasa China.


[*Daren adalah Pangkat kehormatan]


"Jadi, untuk menguasai perdagangan teh di daerah ini." Teriak pedagang berjanggut panjang memakai bahasa China Daratan.


Cartan mengambil teh dan meneguknya, pedagang berperut buncit menyimak perkataan dengan seksama, pedagang berkulit hitam mengaruk garuk kepalanya.


"Dia melarang orang lain untuk berdagang." Deok Man menjelaskan dengan cermat, dalam bahasa China.


"Apa?! Tidak mungkin Ini tidak bisa diterima!" Pedagang berjanggut memukul meja, memakai bahasa China Daratan.


"Dia melakukan itu karena ingin mendapat lebih banyak prajurit." Deok Man, menjawab dalam bahasa China.


"Jadi, apa?! Dia melarang perdagangan teh untuk meningkatkan tentaranya?!" Paman Cartan, mentranslate bahasa Deok Man ke bahasa China daratan.


"Kami menghabiskan 12 bulan untuk sampai di sini. Jika kita tidak mendapatkan teh, kita habis! Tamatlah! Kita harus menentang dia!" Pedagang berperut buncit marah.


"Tentu saja! Harus begitu!" Lanjut pedagang berjanggut panjang, menggunakan dialeg Kanton.


"Dia tidak bisa lolos dari ini." Pedagang dari Mesir berteriak, berbahasa Latin.


"Aku setuju!" Pedagang kulit hitam, berbahasa China.


Mereka kemudian serentak mengambil cangkir dan bersulang teh bersama sama. Deok Man hanya memandang mereka dengan tertegun.


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2