Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Wanita berwajah topeng


__ADS_3

Seperti tak ada masalah apapun, Arvin melanjutkan sekolahnya dengan tenang tanpa mengetahui jika Kevin dan teman-temannya sedang berada di rumah sakit.


Beruntung untuk ketiga temannya Kevin yang tidak memiliki luka fatal dan hanya mengalami sedikit guncangan di kepalanya.


Berbeda nasib dengan Kevin yang justru berada beberapa tingkat di atas kesialan, dan kini dirinya harus dirawat intensif karena keretakan yang terjadi terhadap tengkoraknya serta pendarahan otak yang cukup parah.


Sungguh nasib yang sangat sial, tetapi itulah yang akan terjadi jika seseorang yang arogan bertemu dengan lawan yang tidak sepadan dan tak mengenal kata ampun seperti Arvin.


Disamping hal itu, keluarga Kevin yang memiliki nama besar di kota ini masih mencari pelaku dari kasus yang menyebabkan anaknya sampai harus dirawat intensif seperti itu.


Namun mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan informasi mengenai pelaku dari kasus tersebut. Semua itu terjadi karena tidak adanya saksi mata, serta tempat yang tidak tersorot oleh kamera cctv membuat kasus ini menjadi sulit untuk ditangani.


Satu-satunya jawaban yang pasti adalah menunggu teman-teman Kevin untuk sadar dari pingsan. Namun, itu akan sedikit sulit jika saja mereka mengalami trauma yang mendalam, dan takutnya pertanyaan yang mendesak akan semakin memperburuk kondisi mereka.


Mereka tidak tahu, bahwasanya orang yang mereka anggap sebagai pelaku itu sedang berada di kelasnya dan menyimak penjelasan dari gurunya dengan seksama.


Ya, orang itu adalah Arvin Faresta, seorang pemuda yang tiba-tiba memiliki kekuatan layaknya seorang mutan karena sistem hebat yang menyatu dengan tubuhnya.


Lupakan soal itu.


Waktu terasa begitu cepat, hingga secara tidak sadar bell istirahat telah berbunyi. Arvin yang jarang pergi keluar kelas ketika istirahat, untuk kali pertama dia memutuskan pergi ke kantin dan menikmati makanan yang katanya sangat enak dan juga terjangkau.


"Apa mereka baik-baik saja, ya? Sejujurnya aku sedikit khawatir dengan kondisi orang itu yang sepertinya terluka lebih parah dari teman-temannya. Tapi ya, mungkin sebentar lagi bangkai akan segera tercium jelas."


Setelah menghabiskan sedikit waktunya dengan merenung, Arvin pun beranjak dari kursinya, kemudian berjalan keluar kelas untuk menuju ke kantin.


Namun, ketika dirinya berada di ambang pintu, tiba-tiba saja dia dihadang oleh dua orang siswi dengan riasan makeup yang begitu tebal menutupi wajah mereka.


"Hei, Berhenti!" Sergah wanita yang rambutnya diikat menjadi dua cabang.


"Hmm? Apa kalian ada perlu denganku?" Tanya Arvin mengangkat satu alisnya.


"Tentu saja begitu! Kalau tidak, ngapain juga kami melakukan ini! Asal kau tau ya, kami sudah berada disini selama sepuluh menit hanya untuk menunggumu keluar dari kelas!" Lanjut wanita sebelumnya.


"Tapi… apa aku pernah meminta itu pada kalian? Asal kalian tau ya, aku aja ga kenal sama kalian!"


Mendengar suara Arvin yang tiba-tiba saja mengikuti gaya bicaranya, wanita itu merasa sedikit malu dengan rona merah terlihat di kedua pipinya.


"Hmm, sekarang kalian malah terdiam. Jadi, ada perlu apa? Aku akan pergi ke kantin, mari bicara disana saja!" Ajak Arvin langsung pergi tanpa mempedulikan mereka berdua.


Sementara itu, wanita yang tadinya sedang tertunduk malu, kini berbisik kepada teman wanitanya.


"Bukankah ini berbeda dari yang kita rencanakan? Bukankah ini akan memecahkan rekor 'Ditolak secara beruntun' yang telah kita miliki selama satu tahun penuh ini?"

__ADS_1


Mendengar perkataan temannya yang sedikit ngawur, wanita itu hanya menghela nafas berat, kemudian menarik tangan temannya untuk segera mengikuti Arvin yang telah berada jauh di depan.


Setelah berada di kantin yang cukup luas, mereka bertiga duduk di meja yang sama dan kebetulan sedang kosong, sehingga terasa lebih nyaman karena tidak ada orang asing yang bisa mendengarkan obrolan mereka.


"Kita akan pesan makanan dulu atau membicarakan keperluan kalian dulu?" Tanya Arvin ketika sudah duduk di seberang mereka.


"Kita aka-"


"Lebih baik untuk memesan terlebih dahulu, kebetulan keperluan kami tidak terlalu penting juga."


Sebelum wanita kepang dua menyelesaikan kalimatnya, wanita berwajah dingin itu segera memotongnya tanpa rasa bersalah.


"Haha, baiklah."


Setelah itu, Arvin dan mereka berdua segera memesan makanan favorit mereka masing-masing.


Namun Arvin yang baru pertamakali datang ke kantin awalnya kebingungan dalam memilih menu makanan, tapi karena ada menu nasi goreng kesukaannya, pada akhirnya Arvin memesan itu dengan porsi jumbo.


"Emm, kita belum berkenalan. Rasanya tidak enak jika harus memanggil dengan kata 'Kau'secara terus-menerus…" Usul Arvin memakai cara yang sama seperti sebelumnya ketika bersama Maria.


"Ide menarik! Namaku Vina dan wanita boneka ini Sonia. Salam kenal, Arvin!" Sahut Vina dengan riang layaknya anak kecil yang sedang bahagia karena mendapatkan seorang teman.


"Salam kenal. Tapi, kenapa kalian bisa mengetahui namaku? Mungkinkah kalian stalker?" Tanya Arvin penuh kecurigaan.


"Haha, aku hanya bercanda. Mana mungkin juga ada seseorang yang menyukaiku." Canda Arvin dibarengi dengan tawa canggung.


"Tidak, menurutku kau itu cukup tampan." Puji Vina tanpa kebohongan sedikitpun.


"Aku setuju dengan hal itu!" Sambung Arvin sambil tersenyum percaya diri seperti orang narsis.


"Heeh, ternyata kau itu cukup narsis…"


"Ya, bukan berarti seperti itu. Toh, sebelumnya kau mengatakan 'Cukup tampan' bukan 'Sangat tampan'. Jadi hal wajar jika aku setuju dengan hal itu, lagipula itu kenyataannya!"


Saat itu, candaan Arvin benar-benar diterima oleh mereka berdua yang kemudian tertawa bersama-sama.


Perbincangan itu terus berlanjut seperti air mengalir hingga makanan pesanan mereka pun datang.


Sesaat sebelum memakan nasi gorengnya, Arvin menyempatkan diri untuk berbicara, "Kita keasikan ngobrol sampai-sampai lupa mengenai tujuan awal kalian untuk bertemu denganku. Tapi, mari kita bahas itu di kesempatan lainnya."


"Ahaha, kau benar. Kita malah melupakan itu, maafkan kami telah membuang waktumu." Ucap Vina membuat Arvin sedikit terkejut.


"Kau tak perlu meminta maaf, dari awal waktuku selalu ku buang dengan sia-sia. Justru aku harus berterimakasih pada kalian karena telah menemaniku untuk menghabiskan waktu bersama."

__ADS_1


"Baiklah. Sebaiknya kita segera memakan makanannya sebelum dingin dan bell masuk berbunyi."


"Benar juga. Selamat makan!"


Setelah itu, mereka menghabiskan makanannya dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melakukan perbincangan ringan yang selalu membahas tentang hobi, trend, makanan favorit, atau bahkan masalah percintaan.


Tentu saja Arvin kebanyakan tak mengetahui informasi-informasi itu, tapi dirinya tetap meladeni Vina dengan topik yang dia inginkan. Lagipula mendengarkan itu lebih baik daripada berbicara.


Ditambah dengan Vina yang terus mengoceh, menandakan bahwasanya dirinya tak merasa keberatan atau tak terima dengan sikap Arvin yang selalu kebanyakan menyimak daripada berbicara.


Dengan begitu, waktu kembali berlalu, bell masuk pun telah berbunyi kembali. Dan terpaksa mereka bertiga harus berpisah karena berbeda kelas.


"Itu semua cukup menyenangkan, bagaimana kalau kapan-kapan kita melakukan itu lagi?" Usul Vina kepada Arvin yang sedang membayar tagihan makanannya.


"Itu menarik. Aku sih setuju-setuju aja." Sahut Arvin dengan ekspresi tak keberatan.


"Bagus! Kalau begitu, mari kita bertukar nomor telepon. Kau punya Wta?"


(Sejinis WhatsApp. Eh, bukan sejenis lagi sih, tapi emang maksudnya WhatsApp, wkwkwk.)


"Iya, nih cek aja sendiri!" Arvin memberikan ponselnya kepada Vina.


Setelah itu, dengan tatapan serius Vina melihat nomor Arvin, kemudian dia salin ke ponsel miliknya.


"Nih, makasih." Ucap Vina sambil memberikan kembali ponsel Arvin.


Arvin menerimanya sambil tersenyum lembut, "Tentu."


Setelah itu, mereka benar-benar berpisah dengan lambaian tangan sebagai salam terakhir, dan benar saja, mereka tidak bertemu lagi ketika jam pelajaran telah berakhir.


Walaupun begitu, Arvin tak menyayangkan hal tersebut, mengingat dirinya juga masih memiliki keperluan lain, dan ini lebih penting karena menyangkut dengan masa depannya.


"Jadi, kita akan memulainya dari mana, Bu?" Tanya Arvin kepada Sintia yang sedang duduk disampingnya.


"Jangan banyak bertanya, kerjakan soal yang sudah tersedia di halaman satu sampai dua puluh dalam kurun waktu dua jam, dimulai dari sekarang!" Titah Sintia membuat Arvin terkejut tak tertolong.


"A-apa? Itu sangat tib-"


"Cepat kerjakan!!"


"Baik!"


Melihat Sintia yang terlihat tidak seperti sedang bercanda, Arvin pun melakukan semuanya sesuai perintah dari Sintia tanpa sedikitpun keluhan keluar lagi dari mulutnya.

__ADS_1


Ya, saat ini Arvin sedang melakukan pembelajaran tambahan yang diawasi langsung oleh Sintia, atas dasar melunasi hukuman yang sebelumnya pernah ia lakukan.


__ADS_2