Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:32


__ADS_3

Sudah satu minggu semenjak Arvin ditembak oleh musuhnya, dan hari ini adalah hari terakhirnya yang membuat dirinya bahagia tapi tak sempurna. Karena apa? Ya benar, karena dia mengetahui tentang apa yang terjadi sebelumnya.


Ketika melihat ingatan yang secara paksa memasuki benaknya, Arvin langsung terpuruk. Ingatan itu membuat kepribadian Arvin menjadi berubah total. Dia yang awalnya selalu tersenyum lembut dan berkata jika dirinya tidak apa-apa, kini berubah menjadi pemuda yang pendiam, tatapannya selalu kosong, nafsu makan pun berkurang.


Tak disangka olehnya jika selama ini Leila selalu menyembunyikan rasa rindu yang begitu besar, dan kini perasaan tersebut telah teralihkan kepada Arvin. Namun, Arvin bukanlah Leila, karena setiap kali dia merindukan sosok peri nya, tiba-tiba saja dia menangis karena merasakan rasa sakit di hatinya.


Tangisan Arvin membuat Maria yang selalu berada di sampingnya langsung panik, dengan cepat dia membawa sapu tangan, kemudian menyeka air matanya sambil sesekali mengelus punggung Arvin dengan lembut.


Melihat sosok yang dicintainya begitu terpuruk tanpa sebab, membuat Maria berpikiran yang tidak-tidak. Selama merawat Arvin, perasaan bencinya terhadap Sintia semakin meningkat. Bahkan setiap kali Sintia mengunjungi Arvin, Maria langsung mengusir nya dengan tegas hingga membuat wanita tersebut tertunduk bersalah dan kembali berjalan keluar dari kamar rawat Arvin.


Ketika mengetahui apa yang terjadi kepada Arvin, Sintia langsung bergegas menuju rumah sakit dimana Arvin di rawat. Namun, dia kembali tenang ketika melihat kondisi Arvin yang tampak sangat baik dan hanya terlihat kelelahan saja.


Tetapi ketika mendengar penjelasan dari Herman, Sintia sangat terkejut ketika mengetahui jika dalang dari semua ini adalah Tomi, bahkan dia sampai tak mempercayai jika Arvin sempat terkena beberapa tembakan di tubuhnya.


Tanpa diketahui oleh mereka, jika perbincangan mereka didengar oleh Maria yang mencoba untuk menguping. Mengetahui apa yang terjadi, Maria menunjukkan amarahnya dan berencana akan membunuh Sintia suatu saat nanti.


Namun ketika dokter yang merawatnya mencoba untuk membedah dan mengeluarkan peluru tersebut, ternyata memang benar jika di dalam kepala dan punggungnya terdapat peluru yang telah bersarang di dekat organ dalamnya. Tentu saja melihat kondisi Arvin, dokter yang merawatnya sangat terkejut dan bahkan mencoba untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya kepada Herman. 


Tak hanya dia, tetapi banyak dokter lain yang mencoba untuk mengetahui kejadian sebenarnya. Namun, ketika mendengar jawaban dari Herman yang menolak nya, para dokter itu langsung murung dan menyesal karena telah gagal untuk memahami sesuatu yang unik di dalam tubuh manusia.


Karena masih belum sepenuhnya menyerah, mereka mencoba untuk meneliti tubuh Arvin. Namun kali ini, mereka mendapatkan penolakan dari Maria yang dengan tegas memberi tahu mereka jika berani macam-macam kepada Arvin, maka nyawa mereka akan segera melayang.

__ADS_1


Kembali kepada Arvin yang kini telah siap dengan barang-barang miliknya. Saat ini dia akan segera pulang dari rumah sakit yang telah beberapa kali merawatnya. Dengan kondisi yang masih terpuruk, Arvin dituntun oleh Maria hingga mereka menaiki taksi yang telah dipesan.


Di dalam taksi, Maria mencoba untuk mengajak ngobrol Arvin, namun dia tak mendapatkan satupun balasan dan bahkan Arvin saja tak sampai menoleh ke arah Maria. Merasa tak ada gunanya melakukan itu semua, Maria langsung memeluk erat tubuh Arvin hingga mereka sampai di rumah.


Perlahan, Maria membawa Arvin masuk ke dalam rumah, dan membuatnya duduk di sofa keluarga. "Kamu tunggu di sini ya, aku akan membuat kamu susu hangat untukmu!" Ucap Maria kemudian pergi ke dapur.


Sementara Arvin, dia masih memandang udara dengan tatapan kosong. Namun, matanya kembali mendapatkan kehidupan ketika dirinya melihat notifikasi sistem yang telah lama tidak muncul. Membaca isi notifikasi tersebut membuat Arvin menangis, tetapi setelahnya dia tersenyum tipis dan berkata:


"Hehe, sungguh wanita yang baik hati dan menggemaskan. Tak salah aku mencintainya dari kehidupan sebelumnya sampai saat ini. Terimakasih, Leila…" Gumam Arvin penuh kebahagiaan dengan kepercayaan diri yang telah kembali.


[Notifikasi!!]


[Karena aku yakin kamu pasti tidak akan bisa menuntaskan tugasmu. Maka, dengan baik hati aku akan memberikan kemudahan kepadamu. Saat ini anggap saja tugasmu telah selesai, bahkan hadiah tugas saja sudah aku simpan di penyimpanan!]


[Hmp! Kurang baik apa aku kepadamu! Maka dari itu, jangan sampai sekalipun kamu menyia-nyiakan kesempatan ini, karena meskipun aku telah menghilang, namun hatiku masih menyatu dengan mu. Jadi, jangan sampai kamu membuat kecewa diriku yang manis ini!]


[Salam hangat dari Leila!]


Setelah notifikasi tersebut selesai dibaca, tiba-tiba saja muncul notifikasi selanjutnya berisikan sesuatu yang membuat Arvin terkekeh pelan. Dia semakin dibuat gemas dengan tingkah laku Leila, meskipun saat ini dirinya tak bisa melihat kembali peri tersebut.


[Notifikasi!!]

__ADS_1


[Jadi gini, emm anu. Sebenarnya aku lupa menjelaskan sesuatu kepadamu. Mungkin kamu sudah mengerti dengan cara kerja Sistem, tapi ada satu hal yang tak diketahui olehmu padahal begitu penting untuk kedepannya!]


[Poin pesona bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang terdapat di toko Sistem! Tak perlu mengkhawatirkan apapun, karena di dalam toko terdapat banyak hal yang bisa kamu beli, bahkan uang saja bisa kamu beli jika memiliki Poin yang cukup. Tapi… pastinya kamu bisa membeli uang, sih. Karena harganya saja hanya satu poin pesona, hehe.]


[Jika orang-orang menganggapnya sebagai harga kawan, mungkin aku akan menyebutnya sebagai harga kekasih. Hahaha!!]


[Salam hangat kedua dari Leila!]


Saat Arvin sedang terkekeh dengan isi notifikasi tersebut, tanpa disadari olehnya jika Maria telah selesai membuat susu hangat untuknya. Dia yang melihat jika kekasihnya sedang terkekeh, membuat hatinya menjadi sangat bahagia, dia tersenyum tipis sebelum berjalan menghampiri Arvin.


"Ooh, jadi kamu sekarang sedang tertawa. Padahal sebelumnya kamu mengabaikan ku!" Ucap Maria menggoda Arvin.


"Hahaha! Tentu saja tidak! Kamu kemarilah, aku ingin memelukmu sebelum meminum susu yang telah kamu buat!" Pinta Arvin diiyakan oleh Maria yang segera duduk di sampingnya.


Setelah itu, Arvin langsung memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada Maria dan perlahan dia menangis sesenggukan hingga membuat Maria terkejut dengan perubahan nya. Dia berpikiran jika penyebab Arvin menangis karena merasa sesak dengan dadanya.


"H-hei, apakah kamu merasa sesak!? Jika seperti itu, lebih baik lepaskan! Jangan memaksakan diri untuk membujukku!!" Ucap Maria sambil mencoba untuk mendorong tubuh Arvin, namun dia mendapatkan sebuah tanggapan yang mengejutkan.


"Tidak apa, biarkan aku seperti ini lebih lama lagi…" Sahut Arvin sambil menggelengkan kepalanya.


Merasa tak tega dengan Arvin, Maria memeluk erat tubuhnya hingga menghabiskan beberapa menit hanya untuk menunggu Arvin kembali pulih. Setelah suasana menjadi normal, Arvin meminum susu hangat buatan Maria kemudian mengajak nya berbelanja ketika dia sudah membeli uang di dalam toko.

__ADS_1


__ADS_2