
Sebelumnya, pada saat Arvin sedang pergi menuju tempat kedua dari persembunyian Tomi, pria itu sempat mendapatkan telfon yang mengatakan jika Arvin sedang menuju ke tempatnya, dan karena hal itu juga dia memutuskan untuk segera pergi sebelum menikmati tubuh Rena lebih banyak lagi.
Dia takut jika Arvin akan benar-benar datang kepadanya. Bukan karena takut kalah dalam bertarung, jelas dia sangat percaya akan hal tersebut. Tetapi, Tomi sangat takut jika rencana pernikahannya dengan Sintia akan hancur karena Arvin yang bisa saja melaporkan semua tindakannya beserta buktinya kepada Rena.
Mendapatkan bukti kejahatannya juga tidak terlalu sulit, Arvin bisa memberitahukan secara langsung atas tindakan Tomi yang selama ini ditutupi olehnya, atau mungkin bisa juga Arvin melakukan rekaman yang langsung terkirim kepada Rena sebelum Tomi mendapatkan bukti tersebut.
Ya, dia hanya waspada dengan segala kemungkinan yang tentunya tidak pasti. Dengan begitu, Tomi langsung pergi setelah berhasil membunuh teman Herman yang telah menjadi mata-mata selama ini, dan juga secara berat hati dirinya memberikan tubuh Rena kepada anak buahnya.
Karena tak mungkin juga jika dia harus membawa Rena ke kantor atau mungkin ke rumahnya. Karena balik lagi kepada alasan utama, yaitu dirinya takut jika semua itu bisa diketahui oleh Sintia yang sangat ia cintai selama ini.
"Hmm… meskipun dia bajingan, tetapi cintanya kepada Sintia bukan sesuatu yang bisa diremehkan." Arvin merenung setelah mendengar penjelasan dari pria di depannya, kemudian dia melanjutkan, "Yaa, aku tidak peduli juga, intinya dia harus mendapatkan konsekuensi karena telah membuat Rena dalam bahaya. Kau mengerti, kan?"
Ditatap oleh Arvin membuat pria itu sedikit gugup. Dengan keberanian yang tersisa beberapa cuil, pria itu mengangguk untuk menanggapi ucapan Arvin. Dia masih khawatir jika ucapan Arvin tentang kebebasannya tidak akan ditepati, padahal dirinya sudah memberanikan diri untuk bercerita sejujur-jujurnya.
"Bagus." Arvin tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak pria tersebut, dan kemudian dia baru mengingat sesuatu, "Oh ya, karena kau telah mengatakan semuanya dengan jujur, maka mulai saat ini kau akan bebas. Tetapi sebelum itu, siapa namamu?"
Mendengarnya pria itu merasa sangat bahagia, tampak wajahnya berubah menjadi sumringah. "Namaku? Mama saya Haikal, tuan…" Ucapnya dengan suara rendah.
"Haikal? Nama yang bagus. Oke Haikal, pergilah kepada Herman, pria yang mengobrol denganku sebelumnya! Dan katakan kepadanya jika mulai saat ini kau resmi menjadi bawahan ku dengan persetujuan langsung dariku! Selamat!" Kata-kata itu diiringi dengan senyuman lebar yang terlihat begitu menyilaukan.
"A-apa!?" Haikal tampak terkejut, kebahagiaannya langsung menyusut dan diganti oleh keterkejutan yang tercampur dengan ketidaksukaan.
"Hmm? Kenapa kau begitu terkejut? Apa kau tidak menyukai keputusanku?" Tanya Arvin pura-pura bingung.
__ADS_1
"B-bukan seperti itu… tapi kenapa aku harus menjadi bawahan anda, padahal sebelumnya anda mengatakan akan membebaskan ku…" Sahut Haikal gugup.
"Kenapa kau harus mempertanyakan itu? Aku memang menepati janjiku sebelumnya, kan? Sudahlah, kau segera pergi kepada Herman, sebelum aku menarik kembali ucapan ku!" Tegur Arvin membuat Haikal ketakutan, dia tidak bisa melakukan protes, karena saat ini nyawanya lah yang paling penting.
"B-baiklah!" Herman mengangguk, mencoba melepaskan ikatannya, tetapi itu sangat sulit hingga pada akhirnya Arvin membantunya dengan memotong ikatannya.
Ketika Haikal sedang berjalan cepat menuju keluar ruangan, Arvin sempat menghentikan langkah Haikal dan mengucapkan sesuatu yang membuat pria itu ketakutan setengah mati.
Melanjutkan langkahnya, Haikal berjalan menyusuri lorong untuk pergi ke ruangan yang dimana disana terdapat Herman. Tentu saja dia dituntun oleh seseorang yang terlihat menakutkan. Dengan perasaan yang tak menentu, Haikal terus bergumam di dalam hatinya.
'Apa-apaan ini? Dia membebaskan ku, kemudian menyuruhku untuk menjadi bawahannya dan dia juga mengatakan jika aku tidak akan bisa lepas darinya!? Apa dia menyukaiku? Tapi itu tidak mungkin, karena dia mengancam akan membunuhku jika berani melarikan diri! Ah sial!'
Setelah berjalan cukup singkat, akhirnya Haikal tiba di depan ruangan dimana Herman sedang melakukan sesuatu yang diminta oleh Arvin. Namun, ketika Haikal hendak memasuki pintu itu, tiba-tiba saja muncul sosok pria di belakang pintu yang berhasil mengejutkan Haikal.
Pria itu tidak lain adalah Herman yang telah menyelesaikan permintaan Arvin. Dia mengernyit heran ketika melihat sosok asing di depannya, namun setelah melihat temannya, Herman bertanya dengan gestur tubuh nya.
Mendengarnya, Herman tertegun, dia melirik ke arah Haikal yang lebih pendek darinya dengan kebingungan terpancar di wajahnya. 'Kenapa tuan harus meminta dia untuk menghadap ku? Apakah ini berarti jika tuan telah mempercayaiku sepenuhnya? Semoga saja asumsi ku tidak salah…'
"Kau, siapa namamu?" Tanya Herman kepada Haikal dengan tegas.
"S-saya? Saya Haikal."
"Oke Haikal, sekarang kau telah resmi menjadi bawahan tuan Arvin. Sekarang, kau akan diberikan pelatihan dan penertiban diri denganku sebagai mentor mu!" Herman berkata sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Bukannya bahagia, Haikal justru kebingungan dengan ucapan Herman, "Tapi, apakah itu memang penting?" Tanya nya sedikit meragukan ucapan Herman.
Mendengar itu, sesaat Herman termenung, namun kemudian dia kembali menatap Haikal dengan tegas, "Sebenarnya tidak, tapi kau tak boleh menolaknya! Karena mulai saat ini, itu merupakan kewajiban! Ikutlah denganku dan persiapkan mental mu!"
'Sekarang apa lagi?' Batin Haikal sambil terpaksa mengikuti langkah Herman dari belakang.
***
Terdengar deru mesin yang perlahan memasuki pekarangan rumah, dengan langkah cepat Maria segera berlari menuju pintu depan untuk melihat seseorang yang sangat dia rindukan meski baru beberapa jam tidak bertemu.
Ketika melihat Arvin yang sedang memarkirkan motornya, Maria menghela nafas lega karena Arvin tidak terluka sedikitpun. Namun, ketika melihat banyak noda darah di pakaian Arvin, Maria langsung berlari keluar dan menghampiri Arvin dengan ekspresi khawatir.
"Arvin!" Teriak Maria yang masih berlari.
Suara itu sampai ke dalam telinga Arvin yang segera mengalihkan pandangannya setelah mencabut helmnya. "Maria? Kenapa kau belum tidur?" Tanya Arvin bingung.
Namun, pertanyaan tersebut berhasil membuat langkah Maria langsung terhenti. Tatapan getarnya menatap Arvin yang sedang kebingungan. Dengan perasaan yang tidak nyaman, Maria bertanya di dalam hatinya.
'... "Kau?" Apa yang terjadi…?' Batin Maria sambil membeku ditempatnya.
Melihat Maria yang membeku ditempatnya, perlahan Arvin turun dari motornya setelah mencabut kunci motornya. Dia melangkah menuju Maria, kemudian menepuk-nepuk pundaknya setelah gagal menyadarkan Maria dengan suara.
"Maria? Kau kenapa?"
__ADS_1
Setelah tersadar dari lamunannya, Maria terperanjat ketika melihat wajah Arvin yang sangat dekat dengannya. "A-aaah aku tidak apa-apa! Lebih baik kita segera masuk ke dalam! Ya, kedalam! Ayo, kemari!" Maria terlihat salah tingkah untuk menutupi perasaan gelisah di dalam hatinya.
"Ya, baiklah…" Arvin mengikuti Maria dengan acuh tak acuh, dia juga telah kehilangan rasa hormat kepada Maria yang telah berani mencelakai Rena, wanita yang masih ia cintai.