
Setelah tiba dirumahnya, Arvin membantu Herman untuk memasuki barang-barang belanjaannya ke dalam. Selesai dengan semua itu, Arvin mempersilahkan Herman untuk duduk terlebih dahulu, kebetulan dia juga ingin berbicara dengannya.
Herman mengangguk, kemudian duduk di sofa sambil melihat dua sejoli yang kini sedang berbincang bersama sambil berjalan menuju dapur. Melihat itu Herman tersenyum tipis, dia sungguh bahagia ketika melihat tuannya yang tampak tidak masalah dengan masalah Sintia.
"Sungguh, entah kenapa semakin lama aku berada di sampingnya, aku merasa seperti sedang bersama dengan saudara dekat. Tak pernah sekalipun aku merasakan perasaan ini ketika bersama Tomi, padahal dia adalah sahabatku…" Gumam Herman sambil mengingat kenangan masa lalu ketika dia dan Tomi bermain dan berjuang bersama.
Arvin dan Maria telah kembali dari dapur, mereka berdua masih berbincang bersama tanpa mempedulikan kehadiran Herman. Namun, ketika kopi sudah diletakkan Maria di atas meja. Suasana menjadi sedikit serius.
Awalnya Arvin membuka percakapan dengan obrolan ringan seperti, apa kabar hari ini dan sebagainya. Namun, lambat laun percakapan semakin masuk ke topik utama. Arvin menatap Herman dengan serius dan bertanya kepadanya.
"Sebenarnya aku telah lama penasaran dengan alasanmu ingin menjadi bawahan ku, secara aku ini hanyalah anak sekolahan yang sebentar lagi akan lulus. Berbeda denganmu yang telah seumuran dengan Tomi."
Herman yang sudah mengetahui percakapan akan seperti ini hanya tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Arvin, "Tak bisa dikatakan dengan pasti. Hanya saja saya sudah tak tahan ketika harus melakukan segala yang diinginkan oleh Tomi. Bahkan teman anda bernama Vina itu juga terluka karena dia yang meminta anak buahnya untuk menyiramkan air keras ke wajahnya."
Arvin mengangguk karena dia juga telah mengetahui kebenaran tersebut, tetapi ada satu hal yang mengganjal di dalam hatinya, tanpa basa-basi Arvin bertanya, "Jika seperti itu, apakah kau juga ikut melakukan tindakan tidak terpuji itu?"
"Tidak. Saya berani menegaskan jika saya tidak melakukannya, bahkan saya saja terkejut ketika mengetahui kabar jika anak dari salah satu pengusaha tersohor terluka karena Tomi. Tetapi sialnya, dia membuat bukti palsu yang dimana dirinya berhasil terbebas dari segala tuduhan. Hal tersebut juga dilakukan ketika anda terluka olehnya, dia membuat anak buahnya sebagai kambing hitam dengan alasan hukuman yang pantas karena gagal menjalankan tugas."
Arvin mendengarkan penjelasannya dengan seksama, dia bisa melihat kesungguhan dari dalam mata Herman. "Berarti alasanmu pindah kepimpinan itu dikarenakan kau takut jika nasibmu sama seperti kawanmu yang lain? Sungguh pintar sekali…" Arvin sedikit bercanda dalam kalimatnya tersebut, tetapi justru di anggap serius oleh Herman.
"T-tidak! Saya mana berani menggunakan anda sebagai tameng saya. Lagipula memang kenyataannya saya sudah tidak tahan dengan sikap Tomi yang seolah menganggap kita semua sebagai permen karet. Terlepas dari semua itu, saya juga masih memiliki hati nurani yang selalu merasa iba dengan korban-korban dari tindakan Tomi. Tetapi, ketika bertemu dengan anda dan bertarung bersama, saya seperti tak merasakan apapun kecuali kebahagian atas kebebasan yang selama ini saya idam-idamkan."
__ADS_1
Setelah merasa puas dengan jawaban Herman, Arvin pun mempersilahkan nya untuk segera meminum kopi yang takutnya akan segera dingin. Selepas dengan topik sebelumnya, mereka berdua kembali berbincang, namun percakapannya tak terlalu serius.
***
Kini, tampak Arvin sedang menghela nafas bersyukur ketika melihat kamar kosong yang berhasil disulap menjadi ruangan untuknya melakukan live streaming dan membuat konten lainnya.
Budget yang telah ia keluarkan untuk peralatan semuanya sebesar 1 miliar lebih beberapa juta, itu juga belum ditambah dengan belanjaan lainnya. Namun, Arvin tak menyesal karena dia masih memiliki uang sisa sekitar 2 miliar.
Uang sebesar itu bisa ia dapatkan ketika dirinya menukar tiga puluh poin pesona menjadi uang. Untuk satu poin pesona bisa ditukar menjadi seratus juta rupiah. Dengan begitu, dia mendadak menjadi orang kaya baru.
"Fiuuh, aku tak menyangka untuk membeli semua ini butuh uang yang banyak. Ya, itu juga karena aku telah membeli barang dengan kualitas terbaik sih…" Setelah dirasa puas dengan semuanya, Arvin keluar dari ruangan tersebut dan pergi untuk tidur.
Dia juga tak perlu mengkhawatirkan akun YouTube, karena sudah sejak lama ia membuat akun khusus untuknya melakukan semua itu. Tetapi cita-citanya baru saja terwujud hari ini. Sungguh waktu yang lama.
"Jelas! Aku ingin segera memakai piyama ini, bersama dengan… waah! Ternyata kamu juga sudah memakainya!" Maria begitu antusias ketika melihat Arvin yang telah memakai piyama berwarna biru langit.
"Hehe, tentu saja! Kalau begitu, mari kita tidur! Besok sudah mulai masuk sekolah lagi. Tidak enak jika harus mengambil cuti, bukan begitu?" Arvin berjalan sambil menggendong tubuh Maria.
"Ya! Apalagi sebentar lagi kamu akan lulus… rasanya aku tidak siap jika harus berpisah denganmu…" Maria tampak cemberut ketika membayangkan kehidupan sekolahnya tanpa Arvin.
"Apa yang kamu katakan? Itu tidak masalah, karena kita masih hidup dibawah atap yang sama! Makanya, segera lulus, karena nanti aku akan melamar mu!" Perlahan Arvin membaringkan tubuh Maria ke atas ranjang, dan diikuti olehnya yang sudah berbaring di sisi Maria.
__ADS_1
"Hihi, aku jadi tidak sabar untuk menunggunya!" Maria tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.
Arvin tersenyum melihatnya, kemudian memeluk tubuh Maria dengan erat sebelum mereka berdua terlelap dalam mimpi masing-masing.
***
"Dadah!" Maria melambaikan tangannya sambil berjalan menuju kelasnya.
"Iya, dadah!" Arvin membalas lambaian tangan nya, meski rasanya sedikit malu karena diperhatikan oleh banyak orang. Namun tak masalah jika bisa membuat Maria bahagia.
Arvin berjalan dengan perlahan sambil sesekali melirik suasana sekolah yang tampak begitu ramai. Melihat semua itu, Arvin merasakan sedikit perasaan aneh, antara malu karena sudah lama tak masuk sekolah, atau mungkin rindu dengan suasana ramai ini.
Saat sedang berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba dia mendengar suara wanita berteriak. Sesaat dia melihat seseorang sedang terpeleset, namun ada sesuatu yang berbeda.
'Kenapa semuanya melambat?' Batin Arvin bingung ketika melihat waktu yang seolah melambat, dan karena itu juga dia dengan mudahnya menangkap tubuh wanita yang hendak terpeleset itu.
"Waa!" Waktu kembali berjalan normal membuat Arvin semakin terkejut, namun itu semua teralihkan ketika dia melihat wanita yang diselamatkan olehnya memiliki wajah yang tak asing baginya.
"Rena?" Tanya Arvin secara tidak sengaja, membuat wanita itu terbelalak ketika melihat sosok Arvin.
"Apa? Arvin?" Dengan cepat Rena membetulkan posisinya, dan melihat sosok Arvin yang sudah berubah seperti rumor nya.
__ADS_1
Kini, tampak dua orang sedang saling bertatapan dengan ekspresi tercengang, terutama untuk Rena yang sangat terkejut karena bisa melihat kembali sosok yang dicintainya setelah harus berpisah karena jarak. Dan saat ini, seakan tali takdir kembali menyatu, mereka dipertemukan kembali di sekolah yang sama, tetapi dengan penampilan yang berbeda.