
"Vina? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Arvin tampak khawatir dengan kondisi Vina.
Butuh beberapa menit untuk Vina kembali tenang. Dengan ketenangan tersebut dia menatap Arvin dalam-dalam, kemudian tersenyum dan berkata, "Terimakasih Arvin, aku tidak tahu harus bagaimana jika kamu tidak berinisiatif saat itu. Mungkin saja aku akan diculik lagi. Sekali lagi terimakasih!"
Mendengarnya Arvin mengangguk, "Tak perlu berterimakasih kepadaku. Itu sudah semestinya kulakukan, meskipun aku tahu jika kekuatanku tak cukup untuk melawan mereka semua." Arvin menjawabnya dengan tenang menatap kembali Vina.
Rasa bahagia muncul seketika, Vina semakin mengagumi sosok Arvin, rasa kagum itu semakin tumbuh menjadi pohon yang memiliki banyak cabang. Dengan mata yang melebar, perlahan keluar air mata kebahagiaan melunturkan riasan tebal miliknya.
Semua orang tampak terkejut ketika melihat Vina menangis. Namun dengan senyuman lembut Vina memberi isyarat jika dirinya baik-baik saja. Dia menyeka air matanya dengan tangan, hingga menyebabkan kelenturan riasannya semakin melebar.
Saat itu juga Vina langsung membelalakkan matanya, dia baru menyadari jika riasannya terhapus ketika melihat tangannya penuh dengan bedak. Dengan gelagat aneh Vina melirik ke arah Arvin dan mendapati sosok Arvin yang sedang tercengang sambil melihat wajahnya.
"K-kamu melihatnya…" Lirih Vina perlahan wajahnya berubah menjadi kesedihan. Namun seketika kembali berubah ketika mendengar sahutan dari Arvin.
"Selama ini ternyata kamu menyembunyikan wajah secantik ini? Kenapa?" Tanya Arvin membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Mereka menatap heran Arvin, namun matanya tak menunjukkan kebohongan.
"Kamu!? Apa kamu tak menyadarinya?" Vina kembali bertanya dengan nada sedikit meninggi.
"Apa yang kamu maksud itu luka bakar? Tentu saja aku menyadarinya!"
"Lalu kenapa?" Vina tampak tak percaya dengan jawaban dari Arvin yang seolah tak mempedulikan wajah aibnya.
Mendengarnya, Arvin tersenyum kecut, kemudian menatap Vina penuh kehangatan. "Apa yang perlu ditanyakan lagi? Jelas saja aku tak mempedulikannya. Lagipula tak semua manusia yang memiliki kekurangan itu jelek, karena sekarang saja bisa dibuktikan jika kamu yang memiliki luka bakar itu, ternyata terlihat sangat cantik. Awalnya kupikir kekuranganmu itu merupakan kelebihan bagimu, tapi sepertinya aku tak salah, bukan?"
__ADS_1
Arvin menatap tiga wanita dibelakang Vina secara bergiliran. Mereka mengangguk menanggapinya. Melihat semua itu, sekarang Vina benar-benar tak bisa membendung air matanya yang kini telah mengalir deras disertai suara tangisan yang sedikit memilukan.
Mereka semua langsung memenangkan Vina dengan segala cara. Meskipun berakhir ketika Arvin mengelus-elus kepalanya dengan lembut sambil terus memberikan kata-kata dorongan baginya.
Setelah itu, mereka menghabiskan sedikit waktu bersama sambil menjelaskan hubungan antara Vina dan ke-tiga teman wanitanya itu. Tentu saja mendengar ungkapannya membuat Arvin terkejut, bahkan dia sampai membuka mulutnya karena tak percaya.
Ternyata Vina merupakan anak pengusaha yang lumayan besar, dengan begitu banyak pesain yang bisa menghalalkan segala cara demi membuat keluarganya jatuh.
Berbagai upaya telah dilakukan, namun tak satupun yang berhasil. Hingga pada akhirnya, salah satu dari mereka berniat buruk kepada Vina yang tak lain merupakan anak dari saingan mereka. Dengan cara menyemburkan air keras ke wajah cantiknya, semua rencana yang mereka inginkan telah terjadi.
Kejatuhan keluarga Vina mulai terlihat. Namun tak lama kemudian mereka kembali bangkit hingga mengejutkan semuanya. Dengan begitu, pelaku atas tindakan yang menyebabkan Vina terluka pun tertangkap dan diadili secara hukum.
Meski begitu, banyak dari mereka yang masih belum menyerah. Dengan tekad membara, banyak dari mereka mulai menampakkan diri untuk memperlihatkan ketidaksukaan mereka terhadap kehadiran keluarga Vina yang semakin tersohor.
Mereka berempat sepakat memakai riasan tebal dan bersikap nakal untuk membuat mereka dibenci dan dijauhi hanya karena tidak ingin satupun dari mereka mendekati Vina. Keluarganya pun tak mencegah, sebab mereka juga menyetujui ide sembrono dari anaknya.
Namun suatu ketika ada seorang pemuda yang justru tak membenci kehadiran mereka, sehingga kehadirannya begitu menarik perhatian mereka. Pemuda itu tak lain adalah Arvin Faresta yang sebelumnya merupakan manusia suram.
***
Sudah tiga hari Arvin berada di rumah sakit karena menunggu kondisinya benar-benar pulih. Selama itu juga Arvin seringkali di datangi oleh orang yang kini telah menjadi teman Arvin.
Bahkan Sintia pun menyempatkan diri untuk berkunjung dan memberi semangat kepada Arvin. Meskipun itu lebih ke sebuah ancaman. Karena Sintia berkata akan menghukumnya jika tidak segera pulih.
__ADS_1
Tentu saja Arvin hanya mengangguk saja, karena bingung untuk menanggapinya seperti apa. Hingga hari-hari seperti itu berakhir, dan kini Arvin sedang berada di rumahnya sambil merebahkan diri di atas ranjang yang ia rindukan.
"Aku sungguh bahagia untuk tiga hari belakangan ini. Vina dan temannya datang mengunjungi ku, hingga memberikanku sebuah kenyamanan yang tak terhingga. Sungguh tak pernah terbayangkan jika aku bisa disuapi oleh empat wanita cantik seperti mereka." Arvin memasang seringai aneh sambil mengingat pengalaman sebelumnya.
"Tugas juga membuatku terkejut, karena anehnya tugas itu berhasil diselesaikan. Padahal bisa dibilang waktu itu merupakan kegagalan bagiku. Namun aku tak peduli juga sih, lagipula di sini aku yang diuntungkan."
Setelah itu Arvin membuka layar statusnya. Sambil berpikir keras, Arvin mencoba untuk meningkatkan stat pesonanya hingga menghabiskan poin miliknya. Setelah itu, dirinya membuka dua kotak yang sebelumnya ia dapatkan dari dua tugas yang diberikan oleh Leila kepadanya.
"Aku penasaran, apa hadiah yang terdapat di dalamnya, ya?" Gumamnya, setelah itu memencet gambar kotak kecil berwarna coklat yang tak lain merupakan hadiah tingkat biasa.
Muncul animasi seperti balon meledak setelah Arvin memencetnya, dan secara mengejutkan kotak tersebut memberikan hadiah fantastis kepada Arvin. Dengan mata terbelalak, Arvin membuka mulutnya lebar-lebar sebelum teriak bahagia.
Dia melompat kegirangan sambil tak menghentikan tawanya. Setelah beberapa menit berlalu, Arvin kembali tenang dan melihat layar hologram di depannya yang sedang menampilkan hadiah sebelumnya.
[Cincin Ajaib]
[Fungsi: Menambahkan +20 ke seluruh stat kecuali pesona selama dua jam. Dan akan memiliki cooldown selama 12 jam.]
[Cincin akan menyesuaikan dengan ukuran jari dari pemilik, bahkan bisa di pakai di Jempol kaki. Itu semua tergantung selera.]
"Gila, gila, gila, gila! Apakah dengan ini, aku bisa meningkatkan kekuatanku untuk menghindari sesuatu seperti sebelumnya!? Aaaah, bagaimana keberuntungan ini bisa terjadi kepadaku!!" Arvin tak tahu harus bereaksi seperti apa, namun yang jelas kini dirinya sedang mengalami kebahagiaan yang hebat.
Setelah memenangkan diri, Arvin kembali menatap hologram yang kini bertujuan untuk membuka kotak selanjutnya. Ketika kotak telah terbuka, mata Arvin terbuka sangat lebar, lebih dari sebelumnya. Dia berhenti bergerak hingga beberapa detik sebelum raut wajah kegembiraannya kembali terlihat.
__ADS_1