Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:25


__ADS_3

Setelah cukup lama menggowes sepedanya, dia berhasil sampai di jalanan besar yang cukup sepi. Alisnya sedikit berkedut ketika menyadari jika jalan yang dituju olehnya bukan mengarah ke tempat tinggal milik Sintia. Dengan perasaan gelisah dia berhasil menemukan taksi kuning yang dimana di dekatnya terdapat sekelompok begal tertawa ketika melihat Sintia yang tak berdaya sedang dipermainkan oleh mereka.


Melihat itu, Arvin sangat marah. Dengan kecepatan tinggi dirinya berlari ke arah mereka, sambil mencoba untuk melemparkan benda-benda yang ia lewati ke arah mereka. Dia berharap aktivitas itu akan terhenti ketika Arvin menganggunya.


Tepat seperti pikirannya, aktivitas mereka terhenti ketika Arvin berhasil menganggunya dengan lemparan benda yang asal dia lempar. Tak butuh waktu lama, dia berhasil sampai di dekat mereka dan tak membiarkan mereka untuk membuka mulut ketika melihat sosok Arvin semakin mendekat penuh amarah.


"Sialan kalian semua, Bajingan!!!!" Arvin berteriak kemudian memukul satu pria hingga menyebabkannya terhempas jauh.


"Kau!? Siapa ka-" Lagi-lagi Arvin tak membiarkan satupun membuka suara, dengan tendangan kuat dia menghempaskan satu pria lagi.


Melihat dua temannya kalah hanya dalam sekejap, ditambah dengan gerakan cepat Arvin membuat sisa dari mereka terkejut, bahkan ada juga yang gemetar ketakutan ketika melihat sosok Arvin yang tampak seperti babi liar kelaparan. Dia selalu mendengus sambil menatap tajam ke arah mereka.


Namun ketika mendengar suara lemah di dekatnya, Arvin menoleh ke samping dan mendapati sosok Sintia yang sedang dalam keadaan lemah tak berdaya. Meskipun dirinya belum dinikmati sepenuhnya oleh mereka, tapi bisa terlihat jika tindakan mereka telah membuat wanita itu ketakutan setengah mati.


"Arvin... apa itu kamu?"


"Sintia... " Tanpa mempedulikan begal yang tersisa, Arvin mendekati Sintia yang sedang duduk dalam keadaan lemas.


Seakan masih tak terima dengan tindakan Arvin yang telah mengacaukan keseruan mereka. Salah satu begal berlari sambil membawa cerulit yang siap memback Arvin hingga mati. Namun dengan cepat Arvin menghindari nya dengan cara melompat ke samping, kemudian menangkap tangan musuhnya.

__ADS_1


Saat Arvin hendak untuk melayangkan pukulannya, tiba-tiba dia merasakan hembusan angin berasal dari belakangnya. Saat dia menoleh, tampak dua pria sedang melayangkan pedang milik mereka hingga menyebabkan salah satunya mengenai pundak Arvin, namun satu lagi berhasil ia gagalkan dengan tendangan cepat miliknya.


"Mati kau!!" Teriak pria yang telah berhasil melayangkan serangan kepada Arvin. Namun dia terkejut karena Arvin tak melakukan respon apapun, seakan tidak merasa sakit akan serangannya yang berhasil membuat tubuh Arvin terluka hingga mengeluarkan darah.


"Hmmm... ternyata bertarung dengan penuh amarah memiliki plus minusnya juga. Aku menyesal telah melawan kalian yang selemah ini dengan amarah!" Arvin bergumam, kemudian dirinya melakukan tendangan lurus tertuju ke perut pria di belakangnya. Lalu setelah itu ia menarik tangan pria yang sedari ia pegang karena telah melayangkan cerulit ke arahnya.


"Sekarang, bagian kalian yang merasakan apa yang kurasakan!" Arvin menyeringai kemudian melakukan gerakan memutar dan membanting tubuh pria tersebut. Setelah itu, seperti biasa Arvin akan merebut senjata milik musuhnya yang membuat kedua tangannya masing-masing dilengkapi oleh senjata.


Namun dia memilih untuk memakai senjata yang telah melukainya, dan membuang cerulit karatan tersebut. Dengan tatapan tajam tertuju kepada sisa dari musuhnya, dia berkata, "Apakah hanya ini saja kekuatan kalian? Padahal unggul empat orang, tapi kenapa justru kalah!! " Arvin menyeringai lebar ke arah mereka.


"K-kau! Siapa kau! Apa yang kau telah perbuat!" Teriak salah satu dari dua musuh yang tersisa. Dia berteriak sambil mencoba untuk merogoh pistol yang berada di saku belakangnya.


"Hee... kau bodoh atau pura-pura bodoh?" Arvin melesat ke arah mereka berdua sambil melayangkan katana nya dan menebas tangan pria yang mencoba untuk merogoh sakunya.


Setelah mendapatkan kemampuan bela diri yang didapatkan dari hadiah kotak miliknya, Arvin berhasil dengan mudah menumbangkan hingga membuat mereka semua tak berdaya. Tak hanya kemampuannya, tapi mentalnya pun semakin terlatih, hingga menyebabkan dirinya menjadi beringas ketika sedang dikuasai oleh amarah.


Ketika semuanya selesai, Arvin menghampiri Sintia yang sedang mengigil ketakutan melihat penampakan sebelumnya. Meski dia telah mencoba untuk menutup matanya, namun tetap saja dia bisa mendengar jeritan dari orang-orang yang disiksa oleh Arvin. Perlahan Arvin menyentuh tubuh lemah Sintia dengan lembut, tatapannya berubah menjadi sendu dan iba ketika melihat kondisi Sintia saat ini.


"Apa kamu tidak apa? Aku telah datang untuk menyelamatkanmu. Sekarang semuanya telah berakhir, mari kita kembali ke rumah!" Ajak Arvin namun tak mendapatkan jawaban, dan bahkan Sintia tak berani untuk menatap Arvin karena merasa ketakutan dengan kejadian sebelumnya.

__ADS_1


"... Sekarang, kamu takut ketika melihat ku. Tapi setidaknya berdiri lah, aku akan mengantarkanmu ke rumah menggunakan sepeda tua ku. Atau mungkin kamu tetap ingin pulang sendiri?" Arvin terus mengajaknya berbicara, tapi tetap tak mendapatkan jawaban, hingga pada akhirnya Arvin mengangkat tubuh Sintia dan membawanya ke dalam taksi milik supir yang telah menghilang entah kemana.


"A-apa!? T-tolomg turunkan aku, Arvin!!" Teriak Sintia sambil memukul lemah dada Arvin. Namun Arvin tak menggubris, dengan segera dia menyalakan mesin mobil yang kuncinya masih tergantung utuh.


Setelah itu ia putar balik untuk kembali ke rumahnya, meski tangannya terasa sangat sakit karena terlukanya, tapi dia berpikir keselamatan Sintia lebih penting dari yang lainnya. Sepanjang perjalanan ia selalu mendengar ocehan Sintia yang semakin lama semakin kesal karena telah diabaikan oleh Arvin.


***


Sesampainya di rumah Arvin, dia langsung keluar kemudian membantu Sintia untuk membukakan pintunya. Dengan lembut dia memapah Sintia yang sebenarnya bisa berjalan sendiri, namun Arvin tetap merasa khawatir dengan kondisinya. Perlahan mereka memasuki rumah, dan mendapati sosok Maria yang sedang berdiri di dekat pintu sambil menatap tajam Sintia.


"Kamu, kenapa membawanya kembali!?" Tanya Maria dengan intimidasi.


"Aku hanya menolongnya dari kelompok bajingan. Kamu sendiri kenapa tidak tidur? Apa kebangun karena ingin buang air?" Arvin bingung ketika melihat Maria yang tiba-tiba telah terbangun, padahal sebelumnya terlihat begitu pulas.


Sebelum menjawab pertanyaan Arvin, dia sempat melihat luka parah yang terdapat di bahu kekasihnya. Dengan cepat dia menghampiri Arvin dan bertanya mengenai lukanya. Namun Arvin hanya membalas dengan senyuman saja, dia meminta Maria agar tak terlalu mengkhawatirkan kondisinya tersebut.


Namun Maria tak mendengarnya, dengan cepat ia mengambil kotak obat-obatan dan membantu Arvin untuk mengobati lukanya tersebut. Tanpa penolakan, Arvin merelakan tubuhnya untuk di obati oleh Maria. Dengan begitu mereka berdua tampak begitu serasi untuk beberapa saat, terkadang Arvin melontarkan candaan ketika dirinya sedang di obati, sehingga membuat Maria merasa kesal karena kekasihnya tak pernah serius dalam segala hal.


Setelah Arvin dan Sintia kembali tenang, Arvin mulai bertanya kepada Sintia tentang kejadian sebelumnya. Dia penasaran kenapa orang yang terkenal hebat dalam ilmu bela diri, terkaya bisa terjebak dalam kondisi seperti itu.

__ADS_1


****


Sekali lagi maaf untuk kalian, karena saya yakin chapter ini tampak sangat hancur ya? Itu karena saya mencoba untuk membuat stok chapter ketika saya sedang dilanda rasa kantuk. Mweheheh. Tapi tak apalah, yang penting imajinasi saya telah tersampaikan meskipun tak terlalu sempurna.


__ADS_2