
Mereka bertiga sibuk berbincang bersama-sama, terkadang mereka juga tertawa karena lawakan yang diberikan oleh Arvin bisa membuat tawa mereka lepas. Namun, meski begitu, tanpa sepengetahuan Arvin mereka berdua melakukan pertandingan yang di mana mereka selalu mencoba untuk menempel ke Arvin dan menggosok dua buah milik mereka.
Meskipun merasa aneh dengan tindakan dua wanita di dekatnya, Arvin tetap tersenyum dan mencoba untuk tidak peduli selagi mereka berdua tak membuat keributan. Di sela-sela pembicaraan, Sintia membuka suara untuk menanyakan kejadian yang terjadi tiga hari lalu.
"Arvin, kudengar kamu melompat dari jembatan " Hynu"? Tapi kenapa tubuh manusia bisa bertahan setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 15 meter tersebut. Memang jika kamu dan Maria mendarat di atas air, namun itu juga bisa menyebabkan luka fatal, loh! " Sebenarnya susah sejak lama dia penasaran dengan hal tersebut. Kondisi Maria yang tak terlalu parah masih bisa di wajarkan , namun jika Arvin, itu telah di luar nalar manusia.
Mendengarnya Arvin terkekeh pelan. Dia sadar jika yang dilakukan olehnya memang tak masuk akal. Mungkin jika tidak ada bukti rekaman, semua orang pasti tidak akan percaya dengan pengalamannya tersebut.
Sebenarnya Arvin juga merasa takjub dengan kekuatannya sendiri, terutama untuk cincin yang ia gunakan. Sungguh, entah keberuntungan datang dari mana, sehingga dirinya bisa menikmati kenikmatan yang selalu datang bergiliran. Meskipun lebih banyak penderitaannya.
"Anda penasaran dengan itu, kan? Bukan hanya anda, tapi saya juga sangat penasaran kenapa bisa tubuh lemah milik saya selamat dari kejadian maut seperti itu. Mungkin jika dinalar, ini hanyalah keberuntungan saja. " Arvin menjelaskannya sambil mengelus-elus kepala Maria yang mencoba untuk terus bermanja kepadanya.
Sintia mengangguk-angguk ketika mendengar penjelasan Arvin , sesekali ia juga melirik ke arah Maria yang tampak sangat nyaman dengan perlakuan Arvin kepadanya. Sejujurnya dia sangat cemburu dengan Maria, apalagi ketika perasaannya kepada Arvin perlahan mulai tumbuh sendirinya.
Sebelum membalas perkataan Arvin, dia menggeser tubuhnya kemudian menyandarkan kepalanya di atas pundak Arvin. Keterkejutan bisa terlihat di wajah Arvin, namun ketika mendengar perkataan Sintia, dia mendengus dan merelakan pundaknya untukmu menjadi tempat sandaran.
'Dia benar-benar bersikeras! Apa aku harus membunuhnya saja, ya?' Maria membatin sambil melihat Sintia yang mulai memanjakan dirinya kepada Arvin.
"Memang masuk akal dengan penjelasanmu. Tapi, jika dihitung berarti keberuntungan mu telah terpakai sebanyak dua kali, ya?" Keberuntungan yang dimaksud oleh Sintia tak jauh dari kejadian yang menyebabkan Arvin terbaring di ranjang rumah sakit.
"Anda benar... " Balas Arvin, namun tak lama kemudian dia sedikit terheran dengan sikap Sintia yang tiba-tiba berubah menjadi kesal. "Anda kenapa? Apakah pundakku terasa tidak nyaman?" Lanjut Arvin tanpa mengetahui penyebab kesalnya Sintia.
Sambil menatap Arvin, Sintia berkata, "Kamu ini! Padahal sebelumnya meminta hubungan pertemanan denganku, tapi kamu sendiri seperti tak menganggap ku sebagai temanmu!" Sintia menggembungkan pipinya memperlihatkan ketidaknyamanannya.
Sejenak Arvin berpikir, mencoba untuk memahami maksud dari perkataan Sintia. Lalu tak lama kemudian dia menaikkan alisnya dan terkekeh pelan sebagai tanggapan dari ketidaknyamanannya Sintia kepadanya. "Oh... maksud anda itu tidak nyaman ketika saya memakai panggilan yang formal ini untuk berbicara dengan anda? Haha, baiklah. Mulai saat ini, aku akan memanggilmu Sintia, bagaimana?"
Tanpa basa-basi dan berpikir panjang Sintia mengangguk-angguk dengan cepat, dia sangat setuju akan usulan dari Arvin. Dengan begitu, hubungan mereka tak akan terasa begitu jauh lagi. Meskipun rasanya aneh untuk melakukan hubungan pertemanan dan bahkan sampai menyukai muridnya sendiri, namun Sintia tak mempedulikan nya selagi itu tak mengganggunya.
"Aku sangat suka dengan itu! Tapi ingat, kamu tidak bisa memanggil aku dengan itu ketika kita berada di lingkungan sekolah! Hanya ketika di luar sekolah saja kamu diperbolehkan untuk memakai panggilan itu!" Ucap Sintia memberi peringatan kepada Arvin agak tak terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan.
Menanggapi perkataan Sintia, Arvin mengangguk ringan kemudian kembali melakukan obrolan santai sambil menikmati waktu yang semakin terbuang dengan sendirinya. Semua itu berjalan hingga berakhir ketika Sintia memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah semakin larut. Dia juga merasa tak nyaman dengan kehadiran Maria yang mengganggu kesenangannya.
"Baiklah, aku akan pulang. Kamu jangan tidur terlalu larut, oke? Istirahat dengan cukup agar lusa nanti kamu bisa kembali ke sekolah. Tenang saja, aku telah mengatur semuanya, jadi tak perlu mengkhawatirkan apapun dan tetaplah beristirahat. " Ucap Sintia ketika sudah beres menyiapkan barang-barangnya kembali.
__ADS_1
"Apa kamu tidak apa-apa jika harus pulang sendiri? Aku khawatir jika kamu pulang sendiri! Bagaimana jika aku antar saja kamu, kebetulan aku memiliki sepeda di gudang yang telah lama tak dipakai. " Arvin menunjukkan kekhawatirannya dan mengusulkan sesuatu, namun itu ditolak lembut oleh Sintia yang merasa tak nyaman jika harus membuat repot muridnya itu.
"Tak apa. Aku masih bisa pulang sendiri. Kebetulan aku telah memesan taksi! Jangan terlalu dipikirkan, aku akan baik-baik saja, kok!" Ucap Sintia meyakinkan Arvin yang kini tampak sangat gelisah.
Untung saja saat ini Maria telah tertidur, jadi suasana mereka tak hancur karena kehadiran Maria yang sedikit mengganggu. Setelah cukup lama meyakinkan diri, Arvin mengangguk sebagai jawaban, kemudian mengantar Sintia ke pintu depan.
"Setidaknya aku bisa mengantar mu sampai sini, bukan?" Ucap Arvin mendapat anggukan dari Sintia.
"Terimakasih. Selamat malam, Arvin!" Sintia berjalan menjauh sambil melambai-lambaikan tangannya dengan senyuman indah terpampang jelas.
Merasa tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, Arvin kembali masuk ke dalam rumahnya setelah tak melihat lagi sosok Sintia. Dengan perasaan tak menentu, Arvin menggendong Maria untuk dipindahkan ke kamarnya. Setelah itu dia kembali ke ruang keluarga sambil menatap layar hologram di depannya.
[Status]
Nama: Arvin Faresta
Usia: 18
Tinggi: 181
Kekuatan: 25
Kepintaran: 16
Kecepatan: 17
Ketampanan: 19
Pesona: 29
Kemampuan:
-Memasak tingkat sedang
__ADS_1
-Bela diri tingkat tinggi
Hubungan:
-Sintia Mona (Teman) (20%)
-Maria Theresa (Kekasih) (100%++)
Poin Pesona: 10
Penyimpanan:
-Kotak hadiah tingkat sedang
"Hmmm, aku sedikit memahami cara kerja sistem ini. Mungkin aku harus mendapatkan banyak pengalaman demi meningkatkan stat selain pesona. Bisa terlihat, Kecepatan ku semakin meningkat setelah aku berlari sebelumnya, namun stat yang lain tetap stuck di angka itu." Gumam Arvin yang mencoba untuk memahami. Namun dirinya selalu dibuat bingung dengan status Maria yang tampak melebihi angka 100%.
"Dia memiliki perasaan sebesar apa kepadaku? Padahal aku hanya menolongnya dari maut saja, bukan berarti dia harus menyimpan cinta sebesar ini, kan?" Arvin selalu tak bisa menebak masa depan, bahkan Maria yang pikirnya hanya menaruh rasa kepercayaan, ternyata bisa mengembangkan perasaan itu menjadi berkali-kali lipat lebih besar dalam kurun waktu dekat.
Ketika sedang dibuat bingung oleh Maria. Mata Arvin kembali teralihkan ke layar hologram yang menampilkan sebuah notifikasi tugas. Melihatnya, mata Arvin melebar besar, tanpa basa-basi dirinya langsung melesat keluar dari rumah dan berlari ke gudang untuk mengambil sepedanya.
Segera, dia melesat ke arah tujuan hanya dengan menggunakan sepeda tua nya. Kebetulan saat ini jalan sedang kosong dikarenakan sudah larut, sehingga dirinya bisa leluasa dalam mengendarai sepedanya. Tampak wajahnya begitu gelisah ketika mengetahui jika kekhawatirannya ternyata bukan hanya sekedar kekhawatiran biasa. Itu adalah sebuah pertanda akan masa depan!
[Notifikasi!]
[Tugas terpicu ketika seseorang yang berhubungan dengan tuan dalam masalah!]
[Tugas tingkat tinggi: Selamatkan Sintia Mona dalam tindakan percobaan pemerksaan ketika taksi yang ditumpangi nya dibegal!]
[Durasi: 00:14:34]
[Hadiah: 20 Poin pesona, satu hadiah tingkat tinggi dan cinta dari Sintia Mona.]
__ADS_1
[Semoga anda berhasil!]