
Dengan langkah berat, Sintia memasuki rumahnya dan langsung menuju ke arah ruang tamu berada. Saat berada di sana, ia bisa melihat tiga orang sedang berbincang bersama, sambil sesekali tertawa. Namun, momen itu harus terputus ketika salah satu dari mereka menyadari kehadiran Sintia.
"Nak? Sejak kapan kamu pulang!?" Tanya seorang wanita yang langsung berjalan cepat ke arah Sintia. Ya, wanita itu adalah ibunya yang bernama Rima Hayati.
"Ibu? Aku baru saja kembali… dan kenapa pria itu datang lagi kesini!?" Sintia mengarahkan tatapan tajamnya ke arah pria yang sedang duduk berhadapan dengan ayahnya. Sambil melihat ke arah Sintia, pria itu tersenyum sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan jarinya, seperti sedang menyapa.
Melihat wajah anaknya yang begitu aneh, Rima kemudian berkata, "Dia datang kesini untuk melamar mu lagi, cuma sekarang dia memutuskan untuk membangun hubungan lebih dekat lagi dengan mu…" Ucap Rima sambil menatap Sintia, namun segera pandangannya teralihkan kepada Arvin yang baru saja kelihatan batang hidungnya.
"Nak, siapa yang kamu bawa?" Rima memutar paksa kepala Sintia hingga bisa melihat sepotong bayangan dari Arvin.
"Ooh, dia adalah kekasihku yang ingin aku perkenalkan kepada kalian, sekalipun penolakan ku kepada papah yang terus memaksaku untuk menikah dengan pria pilihannya!" Ucap Sintia dengan santai seperti tak ada beban, namun itu semua ditanggapi dengan amarah oleh ayahnya.
"Apa kamu bi—" Ayahnya yang sedari tadi sedang duduk, kini bangkit dan hendak untuk membentaknya. Namun, kehadiran Arvin yang telah sepenuhnya menampakkan diri membuat mereka sedikit bungkam.
Mereka bisa melihat Arvin yang begitu sempurna, dari wajahnya, postur tubuhnya, dan juga gayanya yang terlihat bisa menunjukkan kelebihan yang ia miliki. Perlahan, pria itu juga langsung berdiri dan terkejut karena sebelumnya ia juga mendengar jika Arvin merupakan kekasih dari wanita yang ia cintai.
"Salam Tante, Om, dan juga Kak… perkenalkan, nama saya Arvin. Seperti yang kalian dengar dari Sintia sebelumnya, saya adalah kekasih dari anak Om dan Tante…" Arvin tersenyum lembut ke arah mereka bertiga, sambil menggenggam erat tangan Sintia.
Sekarang, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Arvin, semua orang langsung percaya jika dia memang kekasihnya Sintia. Jika dilihat dari segi penampilannya, tak ada yang kurang, justru sangat berada jauh jika dibandingkan dengan pria yang hendak untuk melamar Sintia. Namun, yang ayahnya lihat bukanlah penampilan seseorang, melainkan hati dan juga harta.
"Kau kekasihnya anakku, nak? Apa Tante tak salah dengar?" Tanya Rima menghampiri Arvin yang masih memasang senyuman palsu.
Mendengarnya, Arvin menggelengkan kepalanya, kemudian mencium punggung tangan dari Rima. Setelah itu berkata, "Saya tidak bisa untuk berbohong kepada kalian yang kelak akan menjadi mertua saya…" Dengan percaya diri Arvin mengatakannya.
Dua pria yang masih berada di dekat sofa, seketika merubah wajahnya menjadi suram. Namun, salah satu dari mereka kemudian memasang senyum tipis dan berkata dalam hatinya, 'Hee… jika seperti itu, maka semuanya akan menjadi menyenangkan!' Batinnya membayangkan Arvin terpuruk ketika Sintia berhasil ia rebut.
"Tentu saja tidak! Justru Tante sangat bahagia ketika mengetahui anak Tante ini bisa memilih pria yang baik sepertimu!!" Jawab Rima sambil memainkan pipi Sintia.
"Tante terlalu menyanjung saya…" Arvin masih tersenyum, namun kali ini disertai kebahagiaan yang nyata. Sungguh, dia sangat bahagia ketika mengetahui jika Rima dengan cepat merestui hubungan mereka.
__ADS_1
"Jangan terlalu sungkan! Mari, daripada terus berdiri seperti itu, lebih baik kalian duduk bersama dengan kami!" Ajak Rima mempersilahkan mereka berdua untuk duduk bersama di sofa yang tersedia.
"Baiklah, maaf telah merepotkan!" Arvin berjalan menuju sofa, namun sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk menghampiri dua pria yang berada di sana.
"Arvin!" Ucap Arvin memperkenalkan diri kepada pria di depannya.
"Tomi." Balasnya sambil membalas senyuman Arvin.
Kemudian, setelah itu dia menghampiri Doni—ayah Sintia untuk melakukan sesuatu seperti yang ia lakukan kepada Rima. Namun, belum sempat ia menyentuh tangannya, tiba-tiba saja Doni menarik kembali tangannya dengan acuh.
Sintia yang melihat itu langsung bangkit untuk memberikan teguran kepada Doni. Namun, Arvin menggelengkan kepala sambil tersenyum ke arahnya sebagai isyarat jika dirinya baik-baik saja.
Setelah itu, Arvin duduk di samping Sintia dan mulai menyimak obrolan yang tentu saja tak mengikut sertakan dirinya. Kini, Doni yang seolah tak menganggap kehadiran Arvin pun mulai melakukan obrolan dengan Tomi tentang pekerjaan, kegiatan sehari-hari, dan juga penghasilan setiap bulannya.
Ketika mereka berdua sedang mengobrol, Sintia yang memahami apa pemikiran ayahnya pun langsung menoleh dan melihat Arvin dengan ekspresi khawatir. Namun, lagi dan lagi Arvin menanggapinya dengan senyuman saja.
'Dia sungguh pria yang baik dan aku juga mencintainya. Tapi kenapa. Kenapa takdir seolah tidak merestui hubungan kita?' Batin Sintia ketika memikirkan usia nya yang terpaut lumayan jauh dengan Arvin.
"Nak, sekarang kamu sedang sibuk dengan apa?" Tanya Rima kepada Arvin dan didengar oleh dua pria lain yang juga menaruh rasa penasaran dengan hal yang sama.
Mendengar itu, Arvin membelalakkan matanya karena belum mempersiapkan jawaban yang pasti. Namun, ketika melihat notifikasi sistem di depannya, dia tersenyum tipis dan mulai berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
[Notifikasi!]
[Tugas akan terpicu ketika anda menjawab pertanyaan orang tua kekasih anda!]
[Anda bebas menjawab pertanyaannya, kecuali jika menjawab "Tidak memiliki kesibukan", maka tugas tidak akan terpicu dan hubungan anda dengan Sintia akan menjadi semakin rumit!]
[Durasi: 00:00:50]
__ADS_1
Sejenak Arvin berpikir keras. Dengan cepat ia menguraikan ingatannya tentang cita-cita masa lalunya, hingga berakhir dengan satu jawaban yang menurutnya sangat mudah untuk dilakukan.
"Emm, saya sebenarnya tak terlalu dibuat sibuk oleh pekerjaan saya. Namun, jika anda bertanya, selama ini saya sedang sibuk untuk membuat konten saja." Jawab Arvin tak pernah luput dengan senyumannya.
Mendengar itu, Sintia dan Rima mengerutkan keningnya. Mereka menatap Arvin penuh pertanyaan. Namun, reaksi mereka berdua berbeda dengan kedua pria itu yang kini sedang tertawa kecil ketika mendengar pekerja Arvin.
Tanpa mempedulikan tawa suaminya yang tak menaruh rasa sopan, Rima bertanya kembali kepada Arvin tentang jawabannya, "Emm, nak? Kesibukan apa yang kamu maksud? Membuat konten? Jika Tante boleh tahu, konten apa itu? Bukan yang aneh aneh, kan?"
Arvin terkekeh ketika mendengar ucapan dari Rima, dia langsung mengetahui tentang isi pikiran dari wanita paruh baya tersebut. "Tidak, Tante. Saya hanya membuat konten seperti bermain game, vlog, live streaming, dan masih banyak lagi. Saya tidak pernah terpikirkan untuk membuat konten seperti yang anda pikirkan…"
Mendengar jawaban Arvin, Sintia terkekeh ketika melihat ibunya menahan rasa malu dengan ucapan sebelumnya. Sedangkan untuk Doni dan Tomi, mereka telah berhenti tertawa dan justru menatap kesal, terutama untuk Doni yang sejak awal tak menyukai Arvin.
[Notifikasi!!]
[Tugas terpicu ketika anda memutuskan untuk menjadi seorang Youtuber!]
[Tugas tingkat menengah akan berlangsung dari sekarang hingga satu minggu kedepan. Anda harus mencapai 2 juta subscriber dalam kurun waktu yang ditentukan!]
[Hadiah: Poin pesona 10, hadiah acak tingkat menengah, dan kepercayaan ayah Sintia!]
[Durasi: 167:59:25]
[Semoga anda berhasil! Dan jangan lupa untuk upgrade versi sistem agar saya tidak selalu merasa lelah seperti ini!!!!]
****
Sekarang saya akan mengubah tingkatan tugas, yang awalnya: Biasa, Sedang, dan Tinggi.
Menjadi: Mudah, Menengah, Sulit.
__ADS_1
Dan juga, saya ingin berterimakasih kepada kalian semua yang telah memberikan dukungan, hingga saya bisa merasakan like seribu lebih!!!
Untuk hari ini, saya akan update tiga chapter untuk perayaan ini. Awalnya saya ingin update empat chapter, sih. Hanya saja saya tidak menyukai angka ganjil. Jadi, lebih baik sisanya saya simpan saja untuk minggu depan agar bisa update lima chapter sekaligus!