Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:37


__ADS_3

Setibanya Arvin di rumah, dia langsung pergi ke dalam kamar mandi setelah bertukar sapa dengan Maria yang telah berganti pakaian menjadi piyama. Melihat itu Arvin tersenyum, dia mengetahui apa keinginan Maria.


Ketika berada di dalam kamar mandi, Arvin membasuh wajah, tangan, dan kakinya sebelum berganti pakaian menjadi piyama biru. Kebetulan dia juga sudah merasa ngantuk, karena hari ini telah bekerja lebih keras dari sebelumnya.


"Apa kita akan segera tidur saja?" Tanya Arvin kepada Maria. Dia ingin memenuhi janji sebelumnya, di mana Arvin sudah berjanji akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Maria.


"Emm… sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu!" Maria berucap sambil tertunduk malu.


Melihatnya membuat Arvin membayangkan sesuatu yang akan terjadi. Tetapi dengan segera dia menggelengkan kepalanya, dan berpikir jika anak muda sepertinya tidak akan melakukan itu sebelum hubungan yang sudah pasti.


"Apa itu? Menonton film? Bermain permainan? Atau mungkin ingin aku untuk membantu pekerjaan rumah mu?" Tanya Arvin yang masih mencoba untuk berpikiran positif.


Sejenak suasana menjadi hening, sayup-sayup terdengar hembusan angin masuk melewati ventilasi udara. Tetapi tak lama kemudian Arvin mengerutkan ketika melihat tindakan Maria yang perlahan membuka satu persatu kancing piyamanya.


Merasa situasi sudah tidak benar, Arvin menahan tangan Maria sambil menatap tegang wanita itu, "Hentikan itu sekarang juga!" Tegur Arvin membuat Maria tertegun, kemudian menatap Arvin penuh pertanyaan.


"Kenapa?" Tanya Maria dengan wajah polosnya membuat Arvin tak berdaya dan hanya bisa menghela nafas berat.


"Haah… kamu bertanya kenapa? Tidakkah kamu berpikir jika yang akan kita lakukan itu tidak mencerminkan hubungan sempurna? Apa kamu ingin kesucian mu menghilang begitu saja hanya karena ini?" Arvin benar-benar tidak tega jika harus melakukannya dengan Maria saat ini juga.


Mendengarnya, Maria tertunduk, dia merenung tentang tindakannya. Tetapi itu tidak disebabkan oleh ucapan Arvin, melainkan karena dia berpikir jika Arvin tidak menyukainya. Dengan wajah kecewa dia kembali mengancingkan piyamanya, dan membuat Arvin bahagia.


"Begitu, do—!" Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tubuh Arvin sudah terdorong jatuh ke atas ranjang empuk. Dia tertegun, menatap Maria yang kini sedang berada di atas tubuhnya dengan ekspresi yang tampak bergairah.


"Eh? Apa yang akan kamu lakukan!?" Arvin berteriak, dia mencoba mendorong tubuh Maria untuk menjauh. Tetapi dirinya takut jika Maria akan terluka olehnya.


"Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja untuk melakukan ini…" Perlahan Maria membuka kembali kancing hingga menampakkan dua buah semangka yang sangat matang.

__ADS_1


Meski awalnya menolak, bagaimanapun juga Arvin merupakan pria yang masih bisa merasa hasrat ketika melihat sesuatu seperti ini. Dia menelan saliva nya, perlahan tangannya terangkat dan menyentuh dua buah milik Maria hingga membuatnya mendsah.


"A-ah… Arvin… terus lakukan itu!" Ucap Maria sambil menekankan tangan Arvin yang sedang menyentuh miliknya.


Tetapi seketika Arvin menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap udara kosong yang sebenarnya sedang menunjukkan notifikasi tentang tugasnya.


Maria melihat Arvin dengan kebingungan. 'Apakah dia tidak menyukainya?' Batin Maria kebingungan, namun tak lama kemudian tubuhnya terhempas kesamping oleh kekuatan kecil.


"Maaf Maria, aku ada urusan mendadak!" Ucap Arvin tergesa-gesa, kemudian berlari keluar menuju garasi rumah untuk mengeluarkan motor nya.


"Kenapa ini bisa terjadi, sialan!" Umpat Arvin sambil sesekali melirik ke arah hologram di depannya yang masih menampilkan notifikasi atas tugasnya.


[Notifikasi!]


[Tugas tingkat sulit terpicu!]


[Hadiah: 20 poin pesona, satu hadiah acak tingkat tinggi, dan uang sebesar seratus miliar.]


[Durasi: Sedang berlangsung]


[Peringatan! Jika Anda tidak bisa menuntaskan tugas ini, maka masa depan Anda maupun target akan berubah menjadi sulit!!]


Ketika Arvin sudah menyalakan mesin motornya dan melaju tanpa berpamitan seperti sebelumnya, di dalam kamar, kini masih terdapat Maria yang tampak terkejut dengan sikap Arvin yang tiba-tiba berubah.


'Apakah dia pergi untuknya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa tebakan pria itu tepat sasaran?' Maria membatin dengan perasaan yang gelisah.


Setelah mencoba untuk menenangkan diri, Maria kembali mengancingkan piyamanya dan merebahkan dirinya di atas ranjang empuk yang masih meninggalkan aroma Arvin. Dia mengendusnya penuh kenikmatan.

__ADS_1


"Aha… aroma tubuhnya masih tertinggal disini, aah… begitu menggairahkan!" Ucapnya sambil mengendus setiap inci dari ranjangnya, namun setelah itu dia terhenti sejenak kemudian berpikir, "Tidak mungkin jika dia menyadarinya! Aku yakin dia hanya pergi ke suatu tempat untuk membeli sesuatu atau bertemu dengan teman baru nya itu! Aku sangat yakin!"


"Jika pun memang begitu… aku bisa membunuh wanita itu jika dia berhasil di selamatkan olehnya!" Gumam Maria penuh amarah.


***


Ketika sedang melaju di jalanan, tiba-tiba terbesit tebakan di dalam benaknya yang membuat Arvin menepi. "Aku yakin jika dalang dari semua ini adalah Tomi. Ya, itu tidak mungkin keliru. Sebelumnya dia berada di kantin bersama denganku dan Rena."


Arvin menyalakan ponselnya setelah yakin dengan tebakannya. Dia langsung menghubungi seseorang yang pernah berada di bawah perintah Tomi. Ya, dia adalah Herman yang tak membutuhkan waktu banyak telfonnya langsung di angkat.


(Halo? Ada perlu apa anda menelfon saya? Apakah ada sesuatu yang terjadi?) Ucap Herman di seberang sana dengan tebakannya yang tepat sasaran.


"Ya, dan aku membutuhkan bantuan mu untuk mencari markas kelompok Tomi yang setidaknya berada di benakmu!" Arvin tanpa basa-basi langsung mengatakan tujuannya untuk menghemat waktu.


(Tomi lagi, kah? Tunggu sebentar, ada banyak sekali markas yang dimiliki oleh dia untuk bersembunyi atau mungkin melakukan sesuatu yang sadis. Saya akan meminta bantuan kepada teman saya yang lainnya untuk mencari keberadaan pasti tentang teman anda, kan?) Sahut Herman yang lagi-lagi tebakannya sangat tepat sasaran.


"Benar, dia adalah wanita seumuran denganku. Jika seperti itu, aku akan menunggu jawaban mu! Tolong percepat, aku akan memberikan berapapun uang yang kamu inginkan jika berhasil menemukan keberadaan pastinya!"


Terlihat di sebrang sana Herman memasang senyumannya setelah mendengar ucapan Arvin. (Tidak perlu! Saya akan membantu anda dengan sepenuh hati. Tolong tunggu beberapa menit lagi, saya akan segera mendapatkan informasi tentang itu secepatnya!)


Tak lama kemudian muncul suara jika telfon sudah ditutup. Setelah itu Arvin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya sembari menunggu jawaban dari Herman yang katanya hanya membutuhkan beberapa menit.


Masih dengan kekhawatirannya, Arvin mencoba menyalakan kembali motornya kemudian melaju dengan kecepatan minim. Ketika sedang seperti itu, kembali benaknya mendapatkan perkiraan yang menurutnya sangat janggal.


"Maria yang tak pernah seagresif itu tiba-tiba melakukannya dengan sepihak. Tak lama kemudian muncul notifikasi tugas. Hmm, ini semua tidak cocok untuk disebut sebagai kebetulan biasa. Ya, ini sangat masuk akal mengingat jika aku memahami jalan pemikiran keduanya…" Gumam Arvin sambil menatap jalanan yang kini masih diramaikan oleh kendaraan.


Tak lama kemudian saku jaketnya bergetar, Arvin mengetahui apa yang sedang terjadi. Dia langsung mengangkat telfon yang selama ini dinantikan olehnya. Ketika mendengar ucapan di sebrang telfonnya, Arvin memasang senyuman yang kemudian meminta semuanya untuk berkumpul di tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2