Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:41


__ADS_3

"Hmm… sekarang pemandangannya terlihat lebih menyegarkan. Terimakasih Herman, aku telah berhutang banyak kepadamu."


"Tidak masalah, tuan. Karena mulai saat ini, saya beserta teman saya akan berada dibawah perintah anda!"


"Apa?"


Bisa terlihat di dalam ruangan pengap dengan cahaya remang-remang terdapat Arvin dan Herman sedang mengobrol di hadapan para pria mesum yang hampir mencelakai Rena, namun saat ini mereka terlihat sedang tergantung dengan tangan diikat dan tubuh yang tlanjang bulat.


Sebelumnya, Arvin telah melaporkan semua kejadian yang menimpa Rena dengan sejujur-jujurnya, dan tentu saja kejujuran itu mendapatkan sebuah perlakuan tidak mengenakkan.


Yang dimana kedua orang tua Rena langsung pergi ke rumah sakit tempat anaknya berada, dan kebetulan saja mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah beberapa hari berada diluar kota.


Setelah mereka sampai di rumah sakit tersebut, Arvin langsung menghampiri kedua orang tuanya Rena dan meminta maaf kepada mereka atas semua yang telah terjadi kepada anak mereka.


Melihat itu ibu Rena merasa tidak tega, dia segera memaafkan Arvin yang lagipula tidak melakukan kesalahan fatal. Dia hanya tidak beruntung bisa mendapatkan kesialan seperti itu.


Meski begitu, ayah Rena memiliki respon yang berbeda. Beliau langsung mendorong tubuh Arvin dan memukulnya dengan keras. Namun Arvin tak mengelak, dia menerima semua itu dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Semua itu berlangsung singkat, hingga pada akhirnya pertengkaran sepihak itu dilerai oleh ibu Rena dan beberapa orang yang ada di sana.


Karena tindakannya tersebut, ayah Rena terpaksa harus ditahan sementara untuk menjenguk putrinya karena telah membuat keributan. Namun, itu semua dihentikan oleh Arvin yang menjelaskan jika ayah Rena tidak bersalah, dan pria setengah baya itu tetap harus bertemu dengan anaknya.


Setelah cukup lama berdebat, akhirnya pihak rumah sakit mengizinkannya. Namun, setelah itu Arvin langsung pamit kepada mereka berdua dan segera melesat ke tempat yang telah diberitahukan oleh Herman.

__ADS_1


Tempat itu terlihat normal-normal saja seperti rumah pada umumnya, tetapi ketika memasuki ruang bawah tanah, Arvin bisa melihat penjara dan ruang penyiksaan yang telah diatur sedemikian rupa. Tempat tersebut dikatakan sebagai markas Herman dan teman-temannya setelah keluar dari kelompok mafia milik Tomi.


Kesampingkan hal itu terlebih dahulu, keterkejutan Arvin akan ucapan Herman lebih penting daripada kondisi mereka. Dia sungguh terkejut dengan kata-kata yang masuk kedalam telinganya. Memang benar jika Herman sudah memutuskan untuk menjadi bawahannya sejak lama, tetapi kenapa sekarang jumlahnya bertambah?


"Apa maksud dari perkataan mu itu?" Tanya Arvin dengan ekspresi penuh pertanyaan.


"Maksud dari perkataan saya, mulai saat ini kita memutuskan untuk menjadi bawahan anda! Apakah itu tidak masalah, tuan?" Sekarang Herman terlihat sedikit ragu atas jawaban yang akan diberikan oleh Arvin, meski dia juga merasa sedikit bahagia karena berhasil membuat Arvin terkejut.


Diperlihatkan dengan kondisi di depannya, Arvin benar-benar dibuat bingung harus bagaimana. Itu semua jika dia terima, maka keuntungan yang akan didapatkan tidak sedikit, mengingat saat ini dirinya sedang berada di dalam kondisi yang memungkinkan keselamatannya terancam.


"Y-ya, itu tidak masalah… tetapi, untuk saat ini aku ingin fokus terhadap mereka yang sepertinya telah mempersiapkan diri." Setelah berunding dengan pikirannya, Arvin berakhir dengan keputusan yang menurutnya lebih baik. Sekarang dia telah mengalihkan pandangannya ke arah kelompok pria mesum yang terlihat seperti daging pasar.


Menggantung dengan kondisi tak tertutup sehelai benang. Sungguh pemandangan yang bisa membuat Arvin bahagia, sekarang dia telah memegang sebuah cambuk berduri yang siap mencambuk tubuh mereka.


"Opps, aku lupa jika mulut kalian telah disumpal! Haha, maafkan aku atas kesalahan itu… apakah dengan ini kalian akan memaafkan ku!?" Ucapnya diakhiri dengan cambukan keras yang langsung tertuju ke arah perut salah satu dari mereka.


"Ayolah, kenapa kau harus menangis? Apakah permintaan maaf ku terlihat tidak tulus? Aah, baiklah, aku akan meminta maaf dengan lebih tulus lagi!" Arvin kembali melayangkan cambuknya hingga darah segar terus berhamburan kemana-mana.


Pemandangan itu membuat semua orang yang ada di sana langsung bergidik ngeri. Terutama dengan ekspresi Arvin yang terlihat begitu puas sambil ditemani seringai lebar membuat mereka semakin ketakutan, bahkan ada yang tak bisa menahan air kencingnya karena ketakutan.


"Haah… kau ini bagaimana sih? Setelah mendapatkan ketulusan dariku, kenapa kau harus tertidur dengan wajahmu yang terlihat seperti kesakitan? Sungguh tidak tahu di untung!" Arvin semakin menjadi, dia terlihat seperti orang yang berbeda dengan sebelumnya, kepribadiannya telah berubah drastis semenjak memegang cambuk itu.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Arvin menoleh ke arah Herman sambil menepuk-nepuk bajunya yang tampak kotor dengan bercak darah. "Maaf Herman, aku ingin merepotkan mu lebih banyak lagi. Tolong ambilkan sesuatu yang tajam, kemudian lepaskan ikatan pria sekarat itu dan potong satu persatu anggota tubuhnya. Kalau bisa, sekalian dengan organ dalamnya agar bisa dijual. Apa kau bisa melakukan itu semua?"


Kata-kata yang keluar dari mulut Arvin terdengar begitu kejam, dia benar-benar telah berubah dari Arvin yang baik hati dan polos. Bahkan Herman saja hanya bisa mengangguk, kemudian mengikuti keinginan Arvin dengan tenang meskipun di dalam dirinya dia terus mengatakan sesuatu.


'Bahkan dia lebih kejam daripada Tomi…' Batin Herman dengan perasaan campur aduk.


Setelah Herman pergi ke ruangan lain sambil membawa tubuh pria itu, Arvin kembali menyeringai ke arah pria lainnya yang terlihat telah putus asa karenanya. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa setelah dihadapkan dengan jelmaan malaikat maut, yang mungkin saja lebih kejam dari malaikat maut itu sendiri.


"Lihatlah wajah kalian, terlihat seperti anak kecil saja. Huhu, apakah itu karena nasib kalian?" Arvin bertanya, namun lagi-lagi tak ada yang menjawab, dia hanya bisa mendapati reaksi mereka yang semakin ketakutan.


"Kalian begitu kejam mengabaikan ku seperti ini… sejujurnya aku juga tidak ingin melakukan sesuatu seperti sebelumnya, tetapi itu harus dilakukan karena dia adalah barang testimoni!" Ucap Arvin sambil mencoba mengambil sajam, kemudian berjalan menghampiri salah satu pria yang ada.


Dia membungkuk, mengangkat tangannya dan menodongkan ujung senjata tajam itu ke arah pria tersebut. "Sebenarnya aku akan memberikan kalian kesempatan untuk selamat, tetapi sebelum itu kalian harus menjawab semua pertanyaan ku dengan jujur, apakah bisa?"


Setelah mengatakan itu, Arvin bisa melihat mata pria di hadapannya yang sedang menunjukkan perasaan ragu. Dirasa tidak ada gunanya untuk bertanya lebih lanjut, Arvin berjalan ke pria lainnya dan melakukan hal yang sama, hingga pada akhirnya dia mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.


Melihat pria dihadapannya, Arvin tersenyum tipis, kemudian melepaskan kain yang menutupi mulut pria itu. "Kau, jelaskan semua yang kau ketahui! Tenang saja, aku akan memberikan kebebasan kepadamu jika kau mengikuti perkataan ku."


Pria itu terdiam, menatap Arvin yang kini sedang menunjukkan ekspresi santainya. "Apa itu benar…?" Tanya pria itu dengan suara bergetar.


"Untuk apa aku berbohong? Aku bukanlah orang yang akan melakukan tindakan kejam kepada orang baik sepertimu. Mungkin?"

__ADS_1


"A-apa maksudnya itu?" Pria itu kembali menunjukkan keraguannya.


"Haha, tidak. Aku hanya bercanda. Jadi, sekarang jelaskan apa yang kau ketahui, jika masih menyayangi kepalamu ini!?" Arvin berkata sambil meletakkan bilah tajam ke arah leher pria di depannya.


__ADS_2