Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:31


__ADS_3

Saat langit sudah gelap, di jalan yang begitu sepi, tampak dua orang sedang bertarung sengit. Kedua nya saling jual beli serangan, hingga membuatnya tampak seimbang. Meski begitu, keduanya justru menikmati sambil tersenyum lebar.


Pukulan demi pukulan diberikan hingga membuat wajah mereka meninggalkan bekas lebam, begitu pula dengan perut mereka yang kini sudah berbekas merah. Tetapi, karena waktu yang dibuang sudah semakin banyak, keduanya semakin mencapai puncak pertarungannya.


"Tak kusangka kau begitu kuat untuk seukuran anak muda!" Ucap Herman tak bisa menyembunyikan kekagumannya.


"Begitu, ya? Tak perlu mengkhawatirkan apapun, aku akan segera menyelesaikannya dengan kemenangan pastinya!" Ucap Arvin kemudian berlari dan melancarkan pukulan menyamping, namun berhasil ditahan oleh Herman dengan sisa tenaganya.


Tak ingin kalah, Herman juga melakukan serangan balik dengan cara mendorong kembali serangan Arvin, dan menendangnya hingga terhempas begitu jauh. Sementara Arvin, dia meringis kesakitan hingga mulutnya mengeluarkan segumpal darah.


"Akkh…" Arvin meringis kesakitan sambil menatap tajam Herman yang sedang menyeringai ke arahnya.


"Astaga, ternyata hanya sampai sini akhirnya? Sungguh membosankan…" Ucap Herman mencoba memprovokasi Arvin.


Provokasi tersebut tak digubris oleh Arvin. Perlahan dia kembali ke posisinya, mencoba menenangkan dirinya yang kembali dikuasai oleh hasrat bertarung. Matanya terpejam, merasakan energi hangat yang perlahan mengalir ke seluruh pembuluh darahnya.


Ketika selesai mendapatkan kembali ketenangannya, Arvin membuka matanya dan langsung menahan pukulan Herman yang begitu keras. Namun sekarang, itu tak bisa membuatnya kesakitan.


Dengan fokus yang tinggi, Arvin menendang perut Herman hingga membuatnya sedikit terdorong. Tak sampai disana, Arvin melompat kemudian melakukan gerakan memutar dan menendang keras kepala Herman, meskipun masih berhasil ditangkis olehnya.


Herman sedikit terkejut dengan perubahan pola serangan yang dilakukan oleh Arvin. Bahkan dia saja sampai tidak diberikan kesempatan untuk bernafas, karena terus menerus harus menahan dan bahkan menerima serangan Arvin yang tanpa ampun.

__ADS_1


Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Arvin menemukan sedikit celah di pertahanan Herman yang tanpa basa-basi langsung ia eksekusi hingga bisa membuat musuhnya terhempas begitu jauh dan menghantam tiang lampu jalanan.


Masih menerapkan pola serangan seperti sebelumnya. Arvin kembali menerjang Herman dengan tangan memegang benda tumpul yang telah ia ambil dari salah satunya musuhnya yang sedang pingsan.


"Jangan tidur dulu, brengsek!" Arvin menghantarkan benda tumpul tersebut ke arah kepala Herman hingga beberapa kali.


Tanpa diketahui olehnya, saat dia sedang melakukan itu, perlahan empat orang keluar dari dua mobil. Sebelumnya mereka sedang menunggu suatu momen untuk melakukan serangan, karena yang mereka bisa lakukan hanyalah menembak saja dan tak terlalu percaya diri dalam ilmu bela diri.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka melesatkan peluru yang tertuju kepada Arvin yang masih sibuknya dengan Herman. Tapi, Arvin sempat bereaksi ketika mendengar suara tembakan, namun reaksinya tersebut telah selama beberapa sekian detik sehingga membuatnya harus tertembak di beberapa titik tubuhnya.


"Arghhhhh!" Satu, dua, tiga, tembakan berhasil menembus tubuh Arvin. Dan salah satu dari peluru tersebut berhasil melesat masuk ke dalam kepala Arvin, hingga membuatnya langsung terkapar tak sadarkan diri.


Leila yang selalu tertidur mendapatkan sinyal bahaya dari Arvin, sehingga membuatnya terbangun dan langsung keluar dari tubuh Arvin. Dia terkejut, menangis, dan sakit hati ketika melihat kondisi Arvin yang tampak begitu mengerikan.


Namun, bukannya jawaban, dia justru harus diperlihatkan dengan wajah Arvin yang tampak begitu kesakitan. Matanya sudah sepenuhnya memutih, mulutnya terbuka lebar dan juga suhu tubuhnya semakin rendah.


Kondisi Arvin tersebut membuat tubuh Leila semakin menghilang. Seolah memahami dengan kondisi yang sedang terjadi, Leila beranggapan jika kini Arvin sedang diambang kematian.


Dengan rasa takut, Leila mencoba mencari cara untuk membuat kondisi Arvin kembali pulih. Namun tak satupun dia temukan titik cerah dalam masalahnya. Masih dalam perasaan takutnya, Leila mencoba mengingat-ingat sesuatu hingga pada akhirnya dia mengingat salah satu cara untuk memulihkan kondisi Arvin.


"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi! Intinya saat ini, aku harus membuatnya pulih!" Ucap Leila kemudian memejamkan matanya sambil komat-kamit bahasa asing.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, saat Leila sedang membaca mantra. Empat pria yang sebelumnya menembak Arvin perlahan berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar, karena kali ini ia bisa menyelesaikan tugas tanpa sedikitpun kesulitan.


Dia juga berterimakasih kepada Herman yang kini sedang tak sadarkan diri di bawah tiang lampu jalanan. Dengan perasaan bahagia, mereka berempat tersenyum dan menepuk-nepuk tubuh Herman untuk menyadarkannya.


Sementara untuk Leila, kini dirinya telah berhasil membacakan mantra yang sebenarnya hanya bisa dilakukan ketika tuan mereka sedang dalam ambang kematian.


Ya, benar. Karena selama ini Leila bisa dianggap seperti menumpang hidup di dalam tubuh Arvin, dia bisa menyimpan energi kehidupannya tanpa digunakan sekalipun. Dan kali ini, ia akan mentransfer kan energi kehidupannya untuk memulihkan kondisi Arvin seperti sedia kala. Meskipun itu berarti dia harus merelakan kehidupannya.


"Kamu tak perlu mengkhawatirkan apapun, aku sudah menyediakan beberapa tugas untukmu jika tugas yang sekarang berhasil dituntaskan. Sungguh, aku sebenarnya merasa tak tega jika harus meninggalkanmu. Tapi, aku lebih tak tega jika harus melihatmu dalam kondisi seperti ini.


Dengan mentransfer energi kehidupan milikku, kamu bisa mendapatkan ingatan yang kumiliki selama ini. Aku berharap kamu bisa merasakan perasaan nostalgia ketika melihat ingatanku… Terimakasih untuk segalanya, kali ini, tolong hiduplah dengan lebih baik lagi…


Selamat tinggal, sayang…" 


Setelah mengatakan itu, Leila mencium kening Arvin dan perlahan tubuhnya memudar hingga menyisakan cahaya kecil bulat sedang memancarkan energi kehidupan yang melimpah. Mungkin karena peri bisa dikatakan sebagai makhluk yang abadi, sehingga energi yang dimiliki bukan main-main.


Cahaya itu melayang mengelilingi tubuh Arvin sebelum masuk ke dalam tubuhnya, dan seketika luka yang Arvin derita langsung pulih tanpa menyisakan satu pun belas. Hal itu juga menyebabkan tubuhnya merasakan kehangatan, dia bisa merasakan itu meski dalam keadaan yang tidak sadar.


Perasaan tersebut seperti menyimpan rasa rindu yang begitu besar, hingga membuat Arvin menangis dalam diam. Air mata terlihat mengucur dari matanya, dan itu disadari oleh salah satu musuhnya yang kemudian menendang keras tubuh Arvin hingga sedikit terguling.


"Dia menang—" Sebelum menyelesaikan kalimatnya, mulut pria itu langsung dibungkam oleh tangan besar yang kemudian mendorong kepalanya hingga membentur aspal jalanan dengan keras.

__ADS_1


Melihat kejadian cepat itu, tiga pria lainnya tercengang, dan secara spontan mengangkat senjata api nya, bersiap untuk menembak pria yang sebelumnya diduga sedang pingsan.


Namun dengan ketenangan yang tak bisa dijelaskan, pria itu mengatakan sesuatu tanpa menoleh, "Hmm, sepertinya hubungan pekerjaan kita akan segera berakhir…" Gumamnya kemudian menyerang ketiga pria yang tersisa.


__ADS_2