
"Rena…" Arvin mengangkat kepalanya, melihat Rena yang tampak kebingungan dengan rambut acak-acakan. Melihatnya menyebabkan sebuah hantaman keras bagi hatinya.
Dengan perlahan Arvin mengangkat tangannya, hendak untuk menyentuh pipi Rena. Tetapi, sebelum melakukan itu, dia melihat raut wajah Rena yang seketika berubah, matanya membelalak sambil melihat ke arah belakang tubuh Arvin hingga membuatnya seketika menoleh dan melihat jika disana terdapat seorang pria sedang berlari sambil bersiap menghantam kepala Arvin dengan tongkat.
"... Awas Arvin!!" Teriak Rena mencoba untuk mendorong tubuh Arvin, tetapi dengan tenangnya Arvin menangkap tongkat tersebut sambil menatap dingin sosok di depannya.
"Apa yang kau lakukan, bajingan?" Suaranya terdengar begitu mengintimidasi, namun yang mengejutkan mereka bukanlah hal tersebut, melainkan tindakannya yang dengan cepat menahan serangan pria itu.
"A-apa!" Pria itu kembali dari keterkejutannya, melihat tangan Arvin yang masih mencengkram kuat ujung dari tongkatnya, mencoba untuk dihempaskan, tetapi itu percuma.
Merasa sangat terganggu, Arvin menghempaskan tubuh musuhnya hingga melayang beberapa meter ke samping. Sekarang, Arvin mulai merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang selalu baik dan murah senyum. Dengan aura gelap seperti merembes keluar dari tubuhnya, Arvin menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan tajamnya.
Meski tampilan luarnya begitu menyeramkan, namun di dalam benaknya dia terus bertanya akan situasi sebelumnya. 'Apa maksudnya semua ini? Kenapa sebelumnya aku merasa waktu sedang melambat, sehingga bisa dengan mudah menahan serangan itu? Apa yang telah terjadi kepadaku?'
Belum sempat mendapatkan jawaban yang bisa memberikan ketenangan kepadanya, Arvin diharuskan untuk bersiaga kembali dikarenakan masih banyak yang berusaha menumbangkannya.
Namun jumlahnya tak terlalu bisa membuat repot Arvin, dengan ekspresi yang masih menyimpan banyak pertanyaan, Arvin melayangkan serangan dengan tangan kosong nya hingga membuat beberapa orang terhempas bagaikan sehelai rambut yang tertiup angin.
Semua itu terjadi begitu cepat, bahkan Herman saja harus terdiam di tempatnya sambil memandangi gerakan Arvin yang tampak tidak memiliki beban sedikitpun. Dia yang telah selesai menumbangkan semua musuhnya, sekarang terlihat sedang menaruh konsentrasinya terhadap pertarungan tersebut.
'Bagaimana bisa gerakannya semakin terlatih hanya dalam kurun waktu beberapa hari? Apakah ini terjadi karena wanita itu? Hm… anak yang menarik.' Batin Herman terus bergumam atas pertanyaannya.
***
"Apa anda akan segera pulang saja?" Tanya Herman kepada Arvin yang sedang menggendong Rena yang telah kehabisan tenaga akibat serangan mental sebelumnya.
__ADS_1
Mendengarnya, Arvin mengehentikan langkahnya, menoleh ke arah Herman yang sedang berdiri tegap di sampingnya. "Tidak, sekarang aku akan membawa Rena ke rumah sakit. Memangnya kenapa?" Ucap Arvin sambil melirik ke arah Rena yang terlihat sedang memejamkan matanya mencoba untuk tenang.
"Begitu, ya? Baiklah, apakah anda tak akan menolak jika saya memberikan pengawalan kepada anda?" Tanya Herman sedikit ragu. Sejak pertarungan sebelumnya, dia semakin menaruh hormat kepada anak muda di depannya tersebut, sehingga membuat dirinya menjadi sedikit sungkan.
Tanpa diberitahu, Arvin telah berhasil melihat keraguan tersirat di wajah Herman. Dengan tenang Arvin berkata, "Mengawal? Aku tidak membutuhkan itu…" Ucapnya membuat Herman sedikit terkejut, dia menundukkan kepalanya pertanda jika dirinya sedikit kecewa.
"Baiklah jika sepe—" Kalimatnya harus terhenti ketika mendengar lanjutan dari perkataan Arvin sebelumnya.
"Aku tidak butuh pengawalan, karena kalian juga harus mengikuti ku supaya luka-luka yang kalian alami bisa segera sembuh. Tenang saja, aku akan membayar semua biaya pengobatan itu." Lanjutnya membuat semua orang yang ada di sana terkejut ketika mendengarnya, termasuk Herman yang kini telah kembali ke posisi sebelumnya.
"B-benarkah itu, tuan…?" Tanya salah satu teman Herman kepada Arvin.
"Tentu saja, maka dari itu cepatlah, aku tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dan untukmu Herman, sebelumnya aku ingin berterimakasih kepadamu, tetapi untuk sekarang aku ingin mengatakan satu permintaan lagi kepadamu…"
Dengan seksama Herman mendengarkan permintaan Arvin yang membuat dirinya sedikit terkejut. Namun kemudian dia memasang senyuman tipis dan mengangguk sebelum membawa sebagian temannya yang baik-baik saja untuk memenuhi permintaan Arvin.
Untuk motornya sendiri, dia meminta Herman untuk membawakannya kepada Arvin setelah semua pekerjaannya selesai. Sementara saat ini, Herman masih berada di dalam tempat tersebut sambil mengikat satu persatu pria yang sebelumnya menjadi musuhnya dan Arvin.
"Sangat disayangkan jika kalian harus membangkitkan monster di dalam diri pemuda itu dan sekarang kalian akan menjadi batu loncatan baginya…" Gumam Herman dengan perkataan yang sulit dimengerti.
***
Kini, di dalam ruangan yang didominasi warna putih, terdapat Arvin sedang menatap sendu ke arah Rena yang tengah terlelap di dalam mimpinya setelah bergelut dengan situasi buruk sebelumnya.
Arvin yang sangat merasa bersalah, hanya bisa menjaga Rena dengan sepenuh hati, meski perasaan bersalah itu belum tentu bisa berakhir. Meski begitu, dia akan mencoba yang terbaik untuk membuat Rena kembali pulih, tetapi sebelum itu dia harus melakukan sesuatu untuk sekarang.
__ADS_1
"Aku yakin orang tuanya pasti akan khawatir dengan kondisinya, walaupun mereka sedang berada diluar kota. Akan tetapi, aku tidak bisa membiarkan ini semua seolah tidak terjadi. Aku harus menelfon kedua orang tuanya untuk menjaga Rena selagi aku pergi menyelesaikan urusan yang lain…" Gumam Arvin, kemudian mengambil ponsel Rena dan membuka kata sandinya yang untung saja dia ketahui.
"Huff… aku harus berterimakasih kepadanya karena telah memberi tahukan kata sandinya kepadaku," Sesaat Arvin melirik ke arah Rena, kemudian kembali menatap ponselnya sambil menulis nomor telepon ayahnya Rena.
Setelah semuanya selesai, Arvin termenung sejenak sambil menatap ponselnya, dia khawatir akan sesuatu yang terjadi setelahnya jika dia harus mengabari orang tua Rena. Tetapi, dia juga tidak bisa berlari dari tanggung jawabnya setelah membuat Rena kembali ke dalam kondisi seperti itu.
"Tidak ada yang perlu aku takutkan, ini semua demi kebaikannya. Lagipula aku sudah mengalami pengalaman seperti ini sebelumnya…" Setelahnya, Arvin langsung menekan tombol hijau di ponselnya hingga beberapa saat kemudian muncul suara berat keluar dari ponselnya.
(Halo, siapa ini?)
Hanya mendengarnya sudah membuat Arvin merinding, dan secara tiba-tiba benaknya menunjukkan ingatan masa lalunya yang sedang dimarahi oleh ayah Rena. Namun, dengan tekad yang kuat, Arvin langsung menempelkan ponselnya di telinganya.
"Selamat malam om…" Ucap Arvin yang mencoba untuk tetap tenang.
(Ya, selamat malam juga. Sebelumnya, ini dengan siapa dan ada perlu apa dengan saya?)
Mendengarnya, Arvin langsung terdiam sejenak, ketakutan kembali muncul di dalam dirinya. Tetapi kemudian, dia mendapatkan tekadnya kembali dan langsung menjawabnya dengan suara yang rendah.
"Maaf om, saya Arvin Faresta, teman anak om waktu smp dulu. Disini saya ing—" Sebelumnya menyelesaikan kalimatnya, Arvin langsung menjauhkan ponselnya sambil menekan tombol volume untuk merendahkan suara yang keluar.
"Astaga, beliau menjadi semakin menakutkan saja…" Gumam Arvin dengan wajah kusutnya.
****
Hai hai hai! Apakah dari kalian ada yang menunggu kelanjutan ceritanya? Oho, sungguh baik sekali!!
__ADS_1
Oh ya, sebelumnya saya meminta maaf karena telah tidak update salam beberapa hari, tetapi itu terpaksa dilakukan karena saya tiba-tiba sakit dan harus terkapar di atas ranjang. Meski saya masih bisa memainkan ponsel, namun waktu pemakaiannya jadi lebih dikurangi.
Sekali lagi maafkan saya…