Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:22


__ADS_3

Melihat Arvin dan Maria terjatuh secara bersamaan, semua orang yang menyaksikan itu berteriak, mereka panik dan khawatir dengan kondisi kedua sejoli tersebut. Namun tak sedikit pula yang tersenyum karena mereka yakin jika video itu akan laris di media sosial.


Sedangkan di dalam air, tampak Arvin menahan rasa sakit karena telah menghantam air dari ketinggian yang tak pendek. Namun, dia juga merasa bahagia ketika melihat kondisi Maria yang baik-baik saja, justru saat ini Maria tampak tenang dan memeluknya dengan erat.


Buih-buih bermunculan dari mulut mereka, hingga pada akhirnya mereka kehabisan nafas dan mencoba untuk segera mencapai daratan. Tentu saja, kehadiran mereka di daratan membuat semua orang gempar, mereka tak menyangka jika manusia bisa bertahan ketika terjatuh dari ketinggian ini.


Itu semua karena Arvin yang kebetulan daya tahan tubuhnya meningkat setelah menggunakan cincin miliknya. Meski begitu, dia masih merasakan sedikit rasa perih di bagian belakang tubuhnya.


Sesampainya di daratan setelah berenang cukup lama, Arvin menggendong Maria ke daratan yang lebih tinggi. Dia membaringkan tubuh gadis itu, kemudian duduk disampingnya. Kondisi Maria saat ini begitu memprihatinkan, tidak disangka jika gadis secantik dirinya bisa memiliki penderitaan yang dalam.


Arvin tersenyum sambil mengelus kepalanya dan sesekali dia membenarkan rambut Maria. "Kamu terlalu gegabah. Untung saja aku ada di dekat sini, ketika mendengar seorang siswi hendak untuk melompat, aku langsung berlari kesini dan melihat jika siswi tersebut adalah kamu. Sungguh, nyali berapa yang kamu miliki? Bahkan aku saja sempat ragu untuk melompat."


Mendengarnya, Maria tersenyum tipis meski kini sekujur tubuhnya terasa tak bertenaga. "... Tapi, kamu tetap datang menolongku, kan?" Ucap Maria begitu lembut di dengar membuat Arvin tak tega untuk memarahinya.


"Emm, yaa. Kamu benar. Itu semua karena aku tidak ingin kehilanganmu, aku mengetahui penderitaan yang kamu alami, jadi dengan begitu mungkin kamu ingin membagikan penderitaan mu kepadaku?" Arvin terus mengajak Maria untuk berbicara agar tidak terjadi sesuatu yang tak mengenakan.


"Apa itu sebuah lamaran?" Tanya Maria membuat Arvin sedikit tersentak ketika melihat senyumannya yang indah.


Namun, setelah itu Arvin semakin terkejut ketika melihat notifikasi tentang penyelesaian tugasnya dan juga notifikasi baru? Dia tampak tak percaya, sampai sesekali melirik ke arah Maria yang masih menatap lemah dirinya.


'A-apa? Ini? Kenapa?' Arvin membatin mencoba untuk menyegarkan akal sehatnya.


[Notifikasi]


[Selamat! Anda berhasil menyelesaikan tugas: Menolong Maria dari maut.]

__ADS_1


[Anda mendapatkan 10 pesona dan Hadiah acak tingkat sedang.]


[Notifikasi!]


[Pemberitahuan mendadak! Ketertarikan Maria melebihi 50% dan kini dia telah menaruh hati kepada anda sepenuhnya!]


[Apa anda ingin memastikan hubungan kalian?]


[Ya/Tidak]


Sejenak Arvin berpikir, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Apakah harus senang atau sebaliknya? Semua ini terjadi karena waktu yang tidak tepat!


Melihat kondisi Arvin yang tampak kebingungan, Maria sedikit mengerutkan keningnya, dia mencolek lemah tubuh Arvin sambil mencoba untuk bertanya kepadanya. Tentu saja itu berhasil, karena tak lama setelah itu Arvin mengangguk kemudian menatap Maria penuh kasih sayang.


Perlahan dia membungkukkan tubuhnya, kemudian mengecup kening Maria hingga membuatnya terkejut, matanya melebar ketika merasakan sensasi dingin dan lembut menyentuh keningnya yang basah.


"Seperti yang kamu katakan sebelumnya. Aku melamar mu! Tapi, apakah kamu ingin untuk hidup bersama denganku?"


Mendengarnya, Maria semakin dibuat terkejut. Ia ingin untuk bangkit dan melompat kegirangan, namun karena tubuhnya telah kehilangan tenaga, dia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk pelan untuk menanggapi pertanyaan Arvin.


"... Ya, aku akan hidup bersama denganmu, selama-lamanya." Ucap Maria sebagai balasan bagi pertanyaan Arvin.


"Aku senang mendengarnya…"


Setelah itu, tak lama kemudian muncul beberapa pihak medis untuk melakukan perawatan lebih lanjut terhadap mereka berdua. Tentu saja mereka hanya bisa pasrah, karena jika harus jujur, saat ini mereka sangat menderita karena tubuh mereka harus kehilangan tenaga karena serangan mental tersebut.

__ADS_1


Mereka pikir kejadian sebelumnya akan menyebabkan kematian. Namun tuhan berkehendak lain. Benar kata Leila jika hadiah yang diberikan oleh sistem tidak akan merugikan bagi Arvin, dan justru akan sangat berguna untuk beberapa kejadian seperti saat ini.


***


Dua hari telah berlalu, kini Maria dan Arvin telah diperbolehkan untuk kembali. Mereka akan melakukan pemulihan di rumah secara mandiri karena merasa tidak nyaman jika harus berbaring di tempat asing seperti rumah sakit.


Mereka berdua juga telah bersepakat untuk hidup bersama, apalagi Arvin yang tak mengizinkan Maria untuk kembali ke rumahnya. Dia tak ingin terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan seperti sebelumnya itu. Dengan begitu, keduanya kini hidup berdampingan di bawah satu atap.


Kabar tentang mereka berdua menyebar di sekolah. Namun mereka merasa bingung dengan sosok Maria yang tak terlalu dikenal oleh mereka, apalagi ketika mendengar jika Maria merupakan siswi di sekolah yang sama.


Kasus Maria ini sama seperti Arvin yang sebelumnya. Dia tak terlalu dikenal oleh kelas lain, bahkan di kelasnya sendiri tak semuanya mengenal Arvin. Selain memiliki kehadiran yang tipis, Arvin juga tak terlalu mencolok, sehingga membuat dirinya tak mudah untuk dikenal dan diingat.


Kabar mereka berdua memicu beberapa komentar yang sekiranya cukup menarik, seperti; "Memalukan nama sekolah." Dan juga "Meskipun aku tak mengenal mereka, tapi setidaknya aksi mereka cukup romantis dan bisa membuat hati kita berdenyut hanya karena melihatnya."


Dua komentar itu mendapatkan beberapa respon yang menyetujuinya, dan tentu saja ada yang berseteru hanya karena tidak terima dengan salah satu pendapat yang diberikan.


Selepas dari semua itu, Arvin dan Maria tak mempedulikannya. Setidaknya mereka telah memberikan keterangan yang jujur kepada pihak kepolisian tentang apa yang terjadi. Bahkan ketika mendengar itu, mereka ingin jika Maria mengetes kejiwaannya, takut-takut jika ada sesuatu yang bermasalah.


Namun dengan tegas dia menolak, karena saat ini dirinya tak memerlukan semua itu, kecuali berada terus disamping Arvin. Dengan begitu kepolisian menyerah untuk memberikan saran dan lebih memilih untuk segera menutup kasusnya karena itu juga keinginan Maria.


"Waaah, apa ini rumahmu? Cukup besar dan bersih!" Maria terpukau dengan kebersihan yang dimiliki oleh rumah Arvin, dia berlari dan mencoba untuk meneliti setiap sudut ruangan untuk mengecek kebersihannya.


"Yaa, beginlah rumahku. Oh ya, berhubung di rumahku hanya ada tiga kamar. Kamu bisa memakai yang satunya, bebas mau pilih yang mana, kecuali kamarku!" Arvin mengusulkannya sambil meletakkan tas yang berisikan pakaian milik Maria yang telah diambil dari rumahnya ketika ibunya pergi.


Mendengarnya, Maria berpikir sejenak, dia menggoyangkan kepalanya sambil meletakkan jarinya di dagu. Setelah beberapa detik kemudian, Maria tersenyum lebar, dia memandang Arvin penuh harapan dan berkata,

__ADS_1


"Bagaimana jika kita tidur bersama!?"


__ADS_2