Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:43


__ADS_3

Arvin telah meresmikan kelompoknya yang sebenarnya bertujuan untuk menjadi senjata Arvin melawan Tomi. Namun, karena tujuannya itu, mereka diharuskan untuk menjadi penguasa atau yang terkuat dari mafia lain, tentu saja semua itu dimulai dari menguasai kota mereka dan terus berkembang hingga ketitik yang maksimal.


Kelompoknya sendiri dinamakan sebagai "Crazy longhorn". Ya, sejenis serangga kecil yang tak lain adalah semut. Meski semut bisa dibilang serangga yang lemah, tetapi mereka memiliki sisi positif lainnya.


Yaitu, semut merupakan serangga yang memiliki kerja sama tim yang baik. Mereka selalu mengangkut makanan yang ukurannya lebih besar dari mereka untuk dibawa ke kandang mereka. Tentu saja, mereka akan bekerja sama dengan dibagi beberapa kelompok untuk mengangkut makanan tersebut.


Spesies semut "Crazy longhorn" merupakan semut berwarna gelap. Semut ini sering dianggap sebagai "Semut gila" karena mereka selalu berlari tak tentu arah. Namun, dibalik semua itu, mereka memiliki kerja sama yang sangat baik.


Ketika mereka sedang bekerja, mereka tidak akan pernah meninggalkan teman mereka dikala kesulitan. Bahkan pemimpin dari setiap kelompok akan turun tangan ketika melihat kelompok yang dipimpinnya terlihat kewalahan saat mengangkut beban.


Tidak hanya itu, mereka juga bisa menembakkan asam format dari perutnya saat diserang oleh serangga lain atau menyerang serangga lain. Meski asam ini tidak terlalu berpengaruh terhadap manusia.


Maka dari itu, Arvin memutuskan untuk memilih spesies tersebut sebagai nama dari kelompoknya. Dengan harapan solidaritas dari kelompoknya serupa seperti namanya. Meskipun saat ini anggota kelompoknya belum mencapai lima puluh orang, tetapi semua itu bisa ditingkatkan seiring berjalannya waktu.


Setelah tiba dirumahnya, Arvin disambut oleh Maria yang tampak gelisah. Namun, dia bisa mengetahui alasan dibalik kegelisahannya tersebut. Karena hal tersebutlah Arvin sedikit mengabaikan Maria dan juga mengganti sebutan untuk panggilannya, yang ternyata berefek lebih besar daripada perkiraannya.


"Kamu kenapa terus mengabaikan ku?" Tanya Maria sedikit menundukkan kepalanya ketika duduk saling berhadapan dengan Arvin.


Setelah pura-pura mengabaikannya dengan bermain ponsel, Arvin meletakkan ponselnya sebelum menjawab pertanyaan Maria. "Hmm, kenapa ya? Apa kau tau alasan dibaliknya? Lagipula, aku tidak menganggap jika tindakanku merupakan tindakan yang bertujuan untuk mengabaikan mu. Ya, anggap saja itu sesuatu yang pantas dilakukan… sudahlah, lebih baik tidak membahas ini, aku ngantuk, mau tidur. Daah!"


Arvin langsung bangkit dan berjalan ke arah ruangan yang digunakan untuk live streaming, dia berencana untuk tidur secara terpisah dengan Maria sebagai bentuk hukumannya. Juga, tindakannya tersebut tidak mencerminkan sebagai hukuman, tapi nyatanya itu tetap berhasil membuat Maria ketakutan.


Ketika Arvin telah masuk ke dalam ruangan pribadinya, terlihat Maria sedang ketakutan sambil mengigit giginya dengan wajah yang gelap. Sungguh, dia sangat khawatir jika Arvin akan meninggalkannya karena telah mengetahui tindakannya.

__ADS_1


"Kenapa… kenapa… kenapa… kenapa semua ini terjadi!? Apakah dia telah mengetahui tindakanku! Tapi dari siapa!? Siapa yang memberitahukan kepadanya…! Ah, aku tahu, pasti semua ini terjadi karena pria itu menipuku, dia menjebakku dengan alih-alih membantuku." Maria menyimpulkan semua yang terjadi dengan cepat.


Maria tampak begitu kesal, padahal sebelumnya dia telah membantu Tomi dalam melancarkan rencananya. Tetapi sekarang apa yang dihasilkan? Apakah ini semua pantas untuk diterima oleh Maria yang telah membantunya dengan sangat baik, bahkan dia yakin jika tindakannya telah berhasil membantu Tomi dalam kondisi yang tidak memungkinkan.


"Dengan ini, aku akan melakukan protes kepadanya. Tapi, sebelum melakukan itu aku harus tidur." Ucap Maria kemudian melangkah menuju ranjangnya dan duduk di atasnya. Dia termenung, menatap ranjangnya sambil mengelus-elus bagian yang sering Arvin gunakan.


"Sebelumnya aku akan selalu tidur disampingnya, tapi sekarang… " Maria bergumam sedih sebelum berbaring di atasnya dan terlelap dengan air mata yang mengalir keluar.


***


Di pagi hari yang cerah, Arvin dan Maria telah tiba di sekolah dengan motor yang senantiasa mengantar mereka. Kedatangan mereka menyebabkan kericuhan yang lumayan mengganggu, karena tidak hanya pesona yang dimiliki oleh mereka, tetapi mereka juga terkenal sebagai murid yang sering bolos.


"Dia Arvin, kan? Kenapa dia sekolah? Bukankah dia telah keluar sekolah?"


"Entahlah, aku hanya mendengarnya ketika sedang makan di dekat wc…"


"Kau aneh, makan di dekat wc, jelas-jelas tempat itu bau."


"Hehe, aku hanya penasaran dengan suara "Plok Plok" yang terdengar mengasyikkan!"


"Apa?"


Mengabaikan perbincangan tersebut, Arvin berjalan seorang diri menuju kelasnya dan mengabaikan Maria yang masih mencoba untuk melepaskan helmnya. Biasanya dia akan dibantu oleh Arvin dalam membuka helm, tetapi saat ini dirinya harus berusaha sendiri tentunya dengan perasaan gundah.

__ADS_1


Setelah melepaskan helmnya, Maria pergi ke tempat sepi yang ada disekolah tanpa memperdulikan jika dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan karena hubungannya terlihat tidak seperti biasanya.


Namun, ada juga wanita yang justru merasa bahagia karena dengan begitu mereka bisa mencoba untuk mendekati Arvin yang sepertinya tidak akan sulit. Karena tidak hanya tampan, tetapi Arvin juga sangat rendah hati dan mudah akrab dengan semuanya.


"Bukankah ini kesempatan yang bagus?" Ucap salah satu wanita kepada temannya.


"Tentu saja! Apalagi kita sekelas dengannya!" Sahutnya antusias.


Dirasa tak berguna untuk tetap diam, mereka berdua langsung pergi menghampiri Arvin yang masih berjalan menuju kelasnya. Ketika mereka berada di dekatnya, mereka langsung menyapa Arvin dengan senyuman dan dilanjutkan dengan perbincangan ringan hingga berakhir ketika sampai di kelas.


Sementara itu, Maria masih berada di tempat yang sepi, dia mengedarkan pandangannya memastikan jika tempat tersebut sedang sepi dan tak ada orang. Dirasa semuanya aman, Maria merogoh ponselnya kemudian menelpon nomor asing yang tak lain merupakan nomor Tomi.


(Ada apa?) Terdengar suara pria di dalam ponsel yang langsung dijawab oleh Maria.


"Aku akan segera ke tempatmu!" Ucap Maria yang tak ingin berbasa-basi.


(Wooah, suaramu terdengar seperti sedang marah? Ada apa? Apakah Arvin telah mengetahui semuanya? Hahaha… Tapi kenapa tidak kau katakan sekarang saja?) Tanya Tomi sedikit terheran.


"Tidak perlu, aku lebih senang jika kita langsung bertemu secara empat mata. Ingat! Hanya berdua, tidak ada siapapun lagi. Oke?" Maria berkata dengan suara yang ditekan.


(Ohh, baiklah. Tenang saja. Tapi, jika seperti itu, maka temuilah aku di salah satu pabrik terbengkalai di daerah S) Ucap Tomi bersuara tenang.


"Baiklah, waktu istirahat aku akan segera ke sana!" Setelah itu, Maria langsung mematikan ponselnya dan berlari menuju kelasnya tanpa mengetahui jika tindakannya tersebut akan berbahaya baginya.

__ADS_1


Namun, yang saat ini berada di pikiran Maria hanyalah pembalasan atas tindakan Tomi yang telah menyebabkan kerenggangan dalam hubungannya. Dia melakukan semua itu tanpa sepengetahuan Arvin yang jelas-jelas akan mengkhawatirkan kondisinya jika terjadi sesuatu yang berbahaya.


__ADS_2