Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:38


__ADS_3

Arvin telah tiba ditempat yang ditunjukkan oleh Herman. Baru saja dia menunggu beberapa menit, Herman sudah datang bersama dengan teman-temannya yang tidak sedikit. Melihatnya tentu saja membuat Arvin terkejut, dia membelalakkan matanya, namun kemudian tersenyum senang karena masih ada yang bisa membantunya.


"Kalian sudah datang? Apa harus kita berangkat langsung?" Arvin sudah tidak sabar akan menyelamatkan teman sekaligus wanita yang masih ia cintai dari lubuk terdalam.


"Karena kita memakai mobil, mungkin kecepatan kita akan lama untuk tiba disana. Tetapi, bolehkah saya untuk berangkat bersama dengan anda?" Tanya Herman yang sama tidak sabar nya untuk menghajar orang yang pernah menjadi bos nya.


"Kenapa tidak? Justru itu yang kuinginkan!" Ucap Arvin kemudian menyalakan kembali mesin motornya pertanda jika dia sudah siap untuk berangkat.


Dengan begitu semuanya bersiap, Herman menaiki jok belakang motor Arvin, sedangkan teman-temannya kembali ke mobil dan berjalan mendahului mereka berdua. Tetapi tak lama kemudian Arvin sudah menyusul mereka dan kini berjarak lebih dari puluhan meter, karena saat ini Arvin selalu meningkatkan kecepatannya tidak peduli jika harus di tilang.


Jika memang dia dikejar oleh polisi, maka itu lebih baik, dikarenakan Arvin membutuhkan saksi kuat untuk membuktikan kejahatan Tomi. Ini semua bagaikan membunuh dua burung dengan satu batu.


Arvin terus fokus ke depan sambil sesekali melakukan atraksi, walaupun itu terpaksa dikarenakan saat ini jalanan sedang dipadati oleh kendaraan. Mau tidak mau Arvin harus menunjukkan kemampuannya dalam berkendara, dan melewati satu persatu kendaraan yang menghalanginya dengan gaya.


Dengan bantuan Herman yang menunjukkan jalan, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Tampak begitu besar, luas, dengan tanah yang sepertinya masih tersisa beberapa hektar. Namun Arvin berhenti di kejauhan agar tidak membuat kebisingan yang membuat mereka menyadari keberadaannya.


"Ini adalah pabrik mainan yang sebelumnya terbakar habis oleh Tomi dikarena pemiliknya memiliki hutang besar kepadanya dan tidak mampu untuk membayar semua itu. Sehingga dia merelakan pabriknya untuk dibakar habis tanpa bisa menyelamatkan satu pun aset yang dimilikinya." Jelas Herman ketika sudah turun dari motor.


Arvin yang mendengar itu hanya bisa mengangguk dan berpikir jika Tomi merupakan pria menyeramkan. Tetapi kenapa dirinya sampai terobsesi untuk membuat Arvin menderita? Dia sendiri tidak bisa menjawabnya.


Setelah rombongan yang lain telah tiba, Arvin dan Herman berjalan lebih awal dengan langkah senyap tetapi cepat. "Anda harus memegang ini! Takutnya kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi." Ucap Herman sambil menyodorkan senjata api miliknya kepada Arvin.


"Tapi kau bagaimana?" Arvin tak bisa menerima pemberian orang jika itu menyebabkan orang tersebut sengsara. Namun tak lama kemudian dia tersenyum ketika melihat Herman mengacungkan dua pistol sambil menyeringai seperti bocah.


Ketika mereka sampai di dekat pintu utama. Arvin lebih dulu menempelkan telinganya untuk mendengar apa Yang terjadi di dalam. Namun sayangnya Arvin tidak bisa mendengarkan apapun selain suara angin yang terus berhembus tak tahu arah.


'Kenapa tempat ini begitu sunyi? Jika memang mereka sedang bersembunyi, pasti ada suara nafas yang terdengar olehku…' Arvin membatin sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Herman yang melihat reaksi Arvin, dengan segera meminta pemuda itu untuk menyingkirkan telinganya. Tak lama kemudian, Herman mengangkat kakinya untuk menendang keras pintu besar itu hingga menyebabkan dentuman keras yang menggema bagaikan siulan.


"Benar-benar kosong…" Gumam Herman ketika sudah berada di dalam pabrik bekas tersebut.


"Kau benar. Dimana mereka sebenarnya?" Arvin merasa kebingungan sambil tak henti-henti untuk mengedarkan pandangannya, takut-takut jika ada sesuatu yang terlewat.


Sebelum mereka melanjutkan pencariannya di tempat yang sama, sempat terdengar nada dering ponsel yang menandakan ada seseorang yang menelfon. Tanpa pikir panjang Herman langsung mengangkatnya, hingga tak lama kemudian dia mengerutkan keningnya dan urat-urat tampak menonjol keluar.


"Sialan! Mereka berhasil melarikan diri ke tempat lain!" Kesal Herman kemudian mereka semua langsung keluar dari pabrik tersebut dengan Arvin yang kini amarahnya semakin memuncak.


Namun, sebelum Herman sepenuhnya pergi meninggalkan pabrik, dia sempat mengambil sesuatu yang berada cukup jauh dari pintu utama. Ketika benda tersebut sudah dia pegang, Herman tersenyum tipis dan kembali berjalan mengikuti Arvin.


Sementara di tempat yang lain, tampak di ruangan yang tak begitu luas terdapat kelompok dengan anggota yang tidak sedikit sedang mengerumuni satu orang pria yang sudah tidak berdaya. Salah satu dari mereka adalah Tomi yang terus menendang pria itu hingga menyebabkan satu persatu giginya terlepas.


"Sialan! Sialan! Sialan! Ternyata kau yang telah menyebarkan tempat persembunyian kita sebelumnya? Dasar tidak tahu diri, bangsat!" Tomi semakin mempercepat gerakan kakinya dan menambahkan tenaga di setiap tendangannya.


Beberapa puluh menit sebelumnya, mereka yang masih berada di pabrik bekas tampak sedang bersenang-senang dengan seorang wanita yang tidak berdaya di permainkan seperti apapun itu.


"Selamat malam, bos!" Serempak mereka mengatakan itu, dibalas dengan lambaian tangan.


"Bagaimana pekerjaan hari ini?" Tanya Tomi dengan nada datarnya, membuat bulu kuduk mereka berdansa. Karena jika salah menjawab, maka nyawa mereka akan langsung melayang.


"Kita berhasil membawa nya tanpa cacat! Anda bisa mengeceknya di sebelah sana!" Ucap salah satu pria masih membungkuk, namun tangannya menunjukkan sosok wanita yang kini masih dalam keadaan pingsan dengan pakaian yang sudah terkoyak.


"Kalian sudah memainkannya?" Tanya kembali Tomi dengan nada yang sama seperti sebelumnya.


Mendengarnya, semua orang yang berada di sana semakin merinding, kecuali pengawal Tomi yang senantiasa berada di dekatnya. Dengan reaksi mereka yang begitu ketakutan, Tomi bisa menyimpulkan bahwa tebakannya benar.

__ADS_1


Tanpa mempedulikan, Tomi berjalan menuju Rena yang sedang dalam posisi duduk menyadar di sebuah tong bekas. Tampak beberapa kancing seragamnya telah terbuka menampilkan pakaian dalam miliknya. Rok nya sudah sobek hingga menyisakan beberapa centi sebelum sepenuhnya robek.


Tomi berjongkok di depannya, mengangkat kepalanya kemudian menyatukan mulutnya dengan mulut Rena. Setelah itu dia menyipitkan matanya, dan langsung menoleh ke arah anak buahnya.


Dia meraih satu batu kerikil, kemudian menjentikkan nya ke salah satu dari anak buahnya hingga membuat pria itu terjatuh seketika dengan kesadaran yang sudah melayang. Sungguh serangan kecil yang menakutkan.


Melihat salah satu teman mereka yang langsung terkapar tidak berdaya, membuat bulu kuduk mereka sampai terasa seperti akan memisahkan diri dari kulit mereka.


"Kalian kira bisa membodohi ku?" Tanya Tomi sambil menatap satu persatu anak buahnya secara bergantian. "Sudah ku bilang sebelumnya jika wanita ini jangan sampai DISENTUH!!" Tomi mengakhiri kalimatnya dengan suara tinggi menyiratkan amarahnya, tak lupa juga dia menendang pondasi hingga membuatnya terlihat retak.


"M-maafkan kami bos! Itu semua salah kami!" Semuanya serempak mengakui kesalahan mereka, meskipun tak semua melakukannya.


Tomi dia di tempatnya sambil menatap kembali anak buahnya secara bergiliran. Dia kembali berbalik, berjalan menuju tempat Rena, kemudian berjongkok di depannya.


"Sekarang kau akan menjadi milikku hingga beberapa hari kedepan setelah aku puas dengan tubuh indahmu ini…" Gumam Tomi sambil menyentuh tubuh Rena secara menyeluruh dan berhenti ketika sampai di buah semangka miliknya.


Tomi tersenyum ketika mengetahui jika ukurannya sangat besar, dia meremasnya dan hendak untuk membuka seragam Rena, tetapi tindakannya harus terhenti ketika ponselnya bergetar.


Dengan kesal Tomi mengangkatnya, "Ada apa? Kenapa harus menggangguku disaat-saat terakhir ini?" Tanya Tomi masih mencoba untuk tetap tenang.


(Kau harus segera pergi dari sana sebelum mereka datang!) Ucap suara misterius membuat Tomi terkejut.


"Hee… begitu, ya? Baiklah…" Ucap Tomi kemudian mematikan ponselnya. Setelah itu dia melirik ke seluruh anak buahnya, dan menyeringai penuh nafsu membunuh.


'Ternyata di sini ada pengkhianat? Hee… menarik." Batin Tomi kemudian mencium Rena sebelum mengangkatnya dan membawanya ke dalam mobil sambil memerintahkan semuanya untuk segera pindah tempat.


Pada saat di dalam mobil, Tomi memainkan tubuh Rena dengan sesuka hatinya, tetapi belum sampai melakukan lebih dari sentuhan dan ciuman saja.

__ADS_1


****


Huff… tolong kasihanilah saya yang menderita pada saat menulis cerita ini!! Tetapi ini demi keberlangsungan cerita, demi keberlangsungan cerita, demi keberlangsungan cerita!!


__ADS_2