Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:30


__ADS_3

Arvin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, berhubung jalan sedang sepi-sepi nya. Dia juga selalu memasang kesigapan tentang sesuatu yang akan terjadi, terutama ketika mendengar ucapan Timo sebelumnya.


'Aku baru mengingat sesuatu…' Batin Arvin ketika mengingat sesuatu yaitu berhubungan dengan sistemnya.


Dengan segera dia menepi kemudian mengecek fitur toko di sistemnya, namun lambat-laun ekspresi nya berubah menjadi kusut ketika menyadari jika dirinya tak memiliki uang yang cukup untuk membeli senjata di toko.


"Sial sekali nasibku! Ketika luka ku belum sepenuhnya mengering, aku harus diincar oleh seseorang! Tapi, semoga saja ucapan Tomi tak sepenuhnya benar. Aku masih belum siap jika harus mati di usia muda, apalagi aku belum menamatkan novel ini!" Ucap Arvin, kemudian kembali melajukan motornya dengan kecepatan sebelumnya.


Baru saja melaju kurang dari setengah kilometer, Arvin langsung menyadari sesuatu yang aneh. Di belakangnya tampak dua mobil melaju dengan kecepatan yang sama, dan sengaja untuk berjarak sekitar beberapa meter dari motor Arvin.


"Astagaa, kenapa harus seperti ini jadinya?" Gumam Arvin mencoba terus mengoceh pengendara mobil dibelakangnya, namun itu semua tak berguna karena mobil itu tetap mengikutinya kemanapun itu.


Dengan perasaan waspada, Arvin menaikkan kecepatannya hingga mencapai maksimum untuk meninggalkan mereka yang telah menguntitnya. Tentu saja dia melaju ke jalur yang bukan tempat tinggalnya, dikarenakan saat ini akal sehatnya masih berjalan. Dia takut jika mereka sampai mengetahui tempat tinggalnya, dan berakhir dengan teror-teror mengerikan.


"Sepertinya aku harus pulang terlambat, Maria!" Gumam Arvin yang kini sedang melaju ke tempat yang lebih sepi dan sempit.


Beberapa saat kemudian, dia mendengar dentuman keras dibelakangnya. Dengan spontan dia membelokan motor nya, dan ternyata keputusan itu sangat tepat, dikarenakan dentuman tersebut berasal dari senjata api salah satu dari mereka.


"Sekarang mereka mengeluarkan senjata pamungkasnya. Kalau begitu, maka aku yang lebih diunggulkan jika harus bertarung seperti ini!" Arvin menyeringai, kemudian secara tiba-tiba memutar balik motornya hingga membuat mereka terkejut.


Ketika dua mobil itu sedang oleng, Arvin langsung melajukan motornya melewati celah yany terdapat di antara mereka. Dengan tawa kemenangan dia mengangkat jari tengahnya ke arah mereka sambil terus mencoba menghindari peluru yang tak ada habisnya.

__ADS_1


"Sial! Jika kita membiarkan nya lolos seperti ini, bisa-bisa gajih kita di potong oleh bos!" Ucap salah satu penembak dengan kesalnya memaksa temannya yang sedang mengendarai untuk cepat-cepat mengejar Arvin.


"Kau berhenti mengoceh bajingan! Jangankan kau, aku saja sedang kesulitan!" Ucap temannya tersebut dengan nada bentak.


Sementara Arvin, kini dirinya masih dengan kecepatan yang sama dan seringai yang perlahan memudar, karena di depan sana terdapat beberapa mobil yang telah menutupi jalannya.


Dengan gelisah Arvin memikirkan rencana yang matang, namun tak satupun rencana bagus hinggap di kepalanya, sehingga membuat dia harus mengehentikan motornya secara paksa dan membuat tubuh sedikit terangkat.


"Astaga naga, pengalaman pertamaku dalam berkendara ternyata bisa seperti ini!" Umpat kesal Arvin menatap tiga mobil yang kini sedang terparkir di tengah jalan dengan enam pria menyeramkan berdiri tenang di depannya.


"Akhirnya aku bisa melakukan pertarungan dengan mu lagi! Dasar pengawal nona muda yang cacat!" Ucap salah satu pria yang membuat Arvin terkejut hingga membelalakkan matanya.


'Dia…' Arvin tak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat sosok yang setidaknya pernah ia lihat ketika sedang dalam situasi yang sama.


"Ternyata sekarang kau bekerja demi orang lain setelah berhasil melarikan diri sebelumnya…" Ucap Arvin penuh kekesalan di dalam matanya.


Mendengar ucapan Arvin, Herman terbahak-bahak dengan puas sebelum mengatakan sesuatu, "Hahaha! Aku, berkerja demi orang lain setelah berhasil melarikan diri? Kau bodoh atau memang beneran bodoh! Aku tidak akan meninggalkan tuanku, meskipun itu taruhannya nyawa!"


"Ternyata begitu…" Gumam Arvin lalu tak lama kemudian dia memasang kuda-kuda bertarung ketika melihat anak buah Herman berlari menuju ke arahnya.


Saat itu juga terjadi pertarungan yang lumayan intens, dimana kini Arvin tak seperti sebelumnya yang kekurangan pengalaman maupun ilmu beladiri. Karena sekarang, Arvin tak ingin kalah oleh mereka.

__ADS_1


Dia berhasil memimpin jalannya pertarungan, puluhan serangan berhasil ia hindari dan gagalkan. Arvin sendiri tak berani untuk menepis serangan mereka yang penuh dengan senjata berat dan juga tajam.


Namun, meski begitu ia berhasil memimpin pertarungan dengan berhasil mendaratkan pukulan atau tendangan tepat di wajah mereka. Tentu saja, kejadian tak terduga itu membuat Herman sangat terkejut.


'Bagaimana bisa anak itu berhasil berkembang dalam waktu singkat!?' Herman membatin ketika melihat gerakan lincah yang dilakukan oleh Arvin kepada anak buahnya.


Beberapa saat kemudian, muncul dua mobil hitam yang sebelumnya mengejar Arvin. Mereka juga sama terkejutnya ketika melihat pertarungan yang berada tepat di depan mereka. Pertarungan itu bisa terlihat jelas, apalagi ketika lampu mobil menyoroti hingga membuat pertarungan tersebut menjadi lebih indah. Bagi Arvin.


Karena saat ini, dia sedang menyeringai lebar sambil memberikan musuhnya dengan serangan yang tak kalah kuat seperti senjata yang mereka pegang. Kini, kondisi sebelumnya terulang kembali, dimana Arvin semakin dikuasai oleh hasrat nya ketika sedang bertarung melawan musuhnya.


Ya, hasrat tersebut bagaikan sebuah anugerah baginya. Karena dengan adanya hasrat tersebut, serangan yang dimiliki pasti akan menimbulkan luka berat bagi musuhnya. Bukan hanya serangannya, tapi kekebalan tubuhnya pun semakin meningkat, sehingga membuat berbagai serangan yang menghantamnya tak berarti apa-apa.


"Apakah dia monster!?" Herman semakin dibuat terkejut ketika satu persatu anak buahnya berjatuhan dengan kesadaran yang sepenuhnya hilang.


"Hahaha!! Lagi, lagi, lagi, tolong serang aku lagi!!" Teriak Arvin tak memberikan ampun kepada musuh terakhirnya yang semakin menderita karena terus dipukuli ketika kesadarannya semakin menghilang.


Merasa situasi semakin diluar dugaan, Herman memutuskan untuk ikut turun tangan sebelum kejadian seperti sebelumnya kembali terulang. Selain memiliki harga diri yang tinggi, ternyata Herman juga tak ingin gajinya kembali dipotong.


"Berhenti sampai disitu!" Teriak Herman kepada Arvin yang sedang asik memukuli samsak tinjunya.


"Hmm?" Arvin menghentikan gerakannya, kemudian melirik Herman dan kembali menyeringai. "Apakah kau yang selanjutnya?" Ucapnya sambil melemparkan tubuh musuhnya yang telah diambang kematian.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan Arvin, Herman sempat melirik ke arah anak buahnya, kemudian sedikit meringis ketika melihat wajah anak buahnya yang telah kehilangan bentuk aslinya. Baru pertama kali ia melihat siksaan kejam seperti itu hanya dengan menggunakan tangan kosong.


Setelah meyakinkan dirinya kembali, Herman menatap Arvin sambil perlahan berjalan ke arahnya. "Bagaimana aku bisa menolaknya ketika semua ini semakin menarik untuk dilakukan!?" Ucapnya dengan nada tinggi, penuh kepercayaan diri.


__ADS_2