Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:39


__ADS_3

Di jalan raya yang cukup besar, terlihat ada satu rombongan yang dipimpin oleh motor dengan dua orang menumpangi nya. Mereka berjalan secara teratur, tetapi suasana mencekam menyelimuti di antaranya.


Arvin, pengendara motor yang memimpin mobil-mobil dibelakang untuk pergi ke tempat selanjutnya. Raut wajah begitu menakutkan, kerutan dimana-mana, urat menonjol di leher dan keningnya. Dia sungguh sedang menahan amarah, tidak seperti Herman yang terlihat sedikit lebih baik darinya.


'Aku bisa bersantai karena kartu as sudah ku pegang. Meski begitu, sekarang situasi sedang mempertaruhkan keselamatan seseorang, apalagi orang itu adalah temannya dia. Kuharap semuanya bisa selesai dengan baik…' Herman membatin sambil sesekali melirik ke arah spion, melihat wajah Arvin yang tak enak dipandang.


Sementara di tempat lain, terlihat banyak sekali orang berkumpul di satu titik. Saat ini mereka telah membunuh salah satu diantara kelompok mereka yang diduga sebagai mata-mata. Mayat orang tersebut telah dibuang ke gudang belakang, dimana terdapat mesin giling yang umumnya digunakan untuk menghancurkan sampah.


"Bagaimana ini? Barang bagus mana bisa kita sia-siakan, bukan?" Salah satu pria berkata sambil menatap penuh nafsu wanita di depan nya yang sudah dalam keadaan sadarkan diri.


"Kau benar… aku yakin bos juga sudah menikmatinya…" Sahut temannya memiliki nafsu yang sama.


Mendengar kata-kata itu, salah satu dari mereka berjongkok, menghadap Rena dengan ekspresi mesum. Dia menjilati bibirnya sambil memandangi tubuh Rena dari atas hingga bawah.


"Kau benar-benar mahakarya hidup. Sayang jika tidak langsung dinikmati…" Pria itu perlahan bangkit, kemudian mengangkat tubuh Rena yang lemas untuk dibanting ke meja yang terbuat dari besi tipis.


Pria itu menoleh, menatap yang lainnya dengan seringai di wajah. "Kalian tidak protes jika aku yang duluan, kan?" Pertanyaannya mendapatkan anggukan serempak, meski di dalam hati mereka terus mengumpat karena ketidakadilan ini. Juga, mereka tidak diunggulkan dalam segi kekuatan jika dibandingkan dengan pria itu.


"Bagus. Baiklah, mari kita lakukan sekarang, sayang…" Pria itu berbalik, membuka celananya, menampakkan benda kecil yang diperkirakan sudah bangkit dengan prima.


Melihat benda miliknya, orang-orang tertawa. Namun itu hanya bisa diluapkan dalam hati mereka, sambil terus mengejek dan mengatakan kalimat yang sama, 'Bendanya kecil sekali, pfft'


Tak menyadari apa yang sedang dipikirkan oleh teman-temannya, pria itu tersenyum, membungkukkan tubuhnya untuk menelusuri setiap inci tubuh Rena yang kini kondisinya sudah tidak memungkinkan.


Wajahnya suram, mata yang kehilangan cahaya, dengan ekspresi datar terus diperlihatkan. Sungguh dia sudah kehilangan harapan dalam situasinya saat ini. Mengingat sebelumnya dia dipermainkan dengan buas oleh Tomi, itu benar-benar kenangan buruk yang perlahan memakan kewarasannya.

__ADS_1


Setelah semua persiapan telah selesai, pria itu perlahan menempelkan miliknya dengan milik Rena. Tubuh wanita itu begitu molek, membuat gairah semua orang menjadi menggebu.


"Kita mulai, sayang!" Ucapnya, kemudian perlahan memasukan miliknya.


Namun itu tidak terjadi, karena secara mengejutkan kepalanya langsung bolong dan mengucurkan darah segar yang membasahi tubuh Rena. Belum sempat menikmati kenikmatan di depannya, pria itu harus terkapar di atas tubuh Rena, namun kemudian terhempas karena di dorong olehnya.


"A-apa!?" Semua orang terlihat terkejut, telinga mereka juga terasa berdengung mendengar suara tembakan yang menggelegar bagaikan petir yang menghantam tong besar.


Sesaat mereka tertegun, membeku di tempat, sebelum berbalik dan melihat sosok Arvin dengan gagahnya sedang mengangkat senjata api miliknya. Wajahnya yang menyeramkan membuat bulu kuduk mereka berdiri dan berdansa.


"Kalian… semua… bajingan…" Gumam Arvin dalam keheningan, suaranya mengeluarkan hawa dingin yang kemudian menyelimuti tempat tersebut.


"..." Herman dan teman-temannya membelalakkan mata ketika melihat sosok Arvin yang begitu berbeda dari sebelumnya. Sosoknya kali ini memancarkan perasaan seperti seorang penguasa yang marah karena istrinya menangis.


"Siapa kau!?" Teriak salah satu pria menyadarkan teman-temannya. Tatapannya bergetar ketika melihat Arvin yang sedang menatap tajam kehadiran mereka.


"Aku? Kalian benar-benar bertanya tentang itu?" Arvin tak bergeming, di tempatnya, dia masih mengangkat senjata apinya yang sejajar dengan pundaknya.


Mendengar kata-kata itu, entah mengapa muncul perasaan enggan di dalam diri mereka yang menyebabkan suasana menjadi hening. Mulut mereka tidak bisa terbuka untuk mengatakan isi hati mereka, hal itu menyebabkan Arvin menjadi sedikit kesal.


Bem! Bem! Bem!


Tembakan terdengar kembali, begitu menggelegar sampai membuat gendang telinga mereka kesakitan. Tetapi, tembakan tersebut bukan bertujuan untuk memberi peringatan, melainkan untuk melayangkan tiga nyawa manusia yang kini tubuh mereka sudah terkapar dengan wajah masih berekspresi ketakutan.


Melihat kejadian yang sama terulang kembali, mereka mulai merasa murka. Ketakutan di dalam diri seketika menghilang, dan diganti oleh perasaan marah akan kematian yang belum siap mereka terima.

__ADS_1


"Sialaan! Kau kira bisa seenaknya kembali!?" Ucap salah satu dengan kemarahan yang besar. Tak hanya dia, tetapi teman-temannya juga merasakan hal yang sama


Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka berlari ke arah Arvin sambil memegang benda tumpul keras yang siap memukul tubuh musuh mereka. Mereka melakukan itu karena sudah tidak memiliki harapan untuk bersembunyi dan bermain tembak-tembakan dengan Arvin.


Dengan begitu, mereka menyimpan senjata api di balik pakaiannya. Jaga-jaga jika celah pertahanan Arvin dan kelompoknya terbuka lebar. Anggap saja senjata api digunakan untuk memastikan kemenangan meski persentase kemungkinannya kecil.


"Serang!!" Teriak Herman mengerahkan teman-temannya untuk segera menyerang mereka. Dia juga ikut dalam pertarungan tersebut setelah bertukar beberapa kalimat dengan Arvin.


Terjadi pertarungan antar dua kubu yang berlari dari arah berlawanan. Dengan jumlah yang banyak, mereka menerjang bagaikan ombak yang saling bertemu. Pertarungan juga berlangsung intens, tak ada satupun yang mencoba untuk mengalah meski sebelumnya mereka pernah membangun hubungan pertemanan.


"Sekarang bagiku untuk menyelamatkan Rena…" Gumam Arvin sambil menatap sosok Rena yang masih berada di atas meja besi itu dengan kondisi tak enak untuk dipandang.


Melihatnya, Arvin merasakan tusukan bertubi-tubi di hatinya. Dia tersenyum kecut, kemudian melangkah menghampiri Rena sambil sesekali menembak kaki musuhnya tanpa melihat.


Saat itu, waktu terasa seperti melambat. Arvin menyadarinya, dia juga pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Tetapi itu tidak penting, karena saat ini prioritasnya adalah Rena. Dia sudah tidak tahan dengan kondisi mantan kekasihnya tersebut.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku," Kata-kata itu terus keluar dari mulut Arvin, dengan diikuti oleh air mata yang perlahan menyusuri pipinya.


Rena tentu saja melihat sosok Arvin, tetapi dia terus menatapnya dalam kekosongan. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, namun itu seakan tertutupi oleh perasaan yang tak bisa dideskripsikan.


Setelah mencapai langkah terakhirnya, Arvin langsung memeluk tubuh Rena dengan erat. Dia menangis, nafasnya juga tak beraturan dengan mulut yang terus mengeluarkan kata-kata sebelumnya.


Perlahan kehangatan Arvin mengalir masuk ke dalam tubuh Rena, sampai membuat matanya lambat-laun kembali memancarkan cahaya. Hal itu terus terjadi hingga membuat Rena kembali sadar sepenuhnya, dia melirik ke arah Arvin yang masih menangis di pundaknya.


"... A-arvin? Sedang apa kamu?" Kalimat pertama yang dikeluarkan oleh Rena merupakan pertanyaan disertai ekspresi linglung.

__ADS_1


__ADS_2