
Dibawah langit sore, tampak Arvin sedang berjalan menuju bagasi atau sering dibilang sebagai gudangnya untuk mengecek hadiah yang telah ia dapatkan dari tugas yang telah di tuntaskan. Hadiah tersebut ada dua, yang satu saat menyelamatkan Maria, yang satu lagi di dapatkan ketika menyelamatkan Sintia.
Dan hadiah yang akan dia cek adalah imbalan dari tugas untuk menyelamatkan Sintia. Dia mendapatkan motor sport yang sama sekali tidak ia ketahui merek dari motor tersebut, pasalnya Arvin merupakan seorang pemula jika dalam dunia otomotif.
Namun, dia bisa mengetahui merek motor sport tersebut dari notifikasi yang mengatakan, "Vyrus Alyen 988" yang harganya sama sekali tidak diberi tahu. Namun, dia mendapatkan sedikit penjelasan tentangnya.
Dibangun di atas kerangka magnesium yang menampung mesin 1.285 cc, L-Twin berasal dari Ducati Panigale. Meski belum mengumumkan harga resmi, kuda besi berjuluk Alyen itu memiliki desain seperti kendaraan yang berasal dari luar angkasa, atau terlihat lazim di dalam film fiksi ilmiah.
Secara keseluruhan, tampangnya menyiratkan kuda besi masa depan. Karakteristik di badannya banyak dengan garis tegas dan sudut-sudut tajam. Ditambah serangkaian panel berserat karbon di sekujur tubuhnya. Menurut para desainer, ini adalah mahakarya dalam membangun sepeda motor.
bagian jantung mekanisnya mengambil dari Ducati Panigale versi lama. Dapur pacu dari konfigurasi mesin L-Twin dapat menghasilkan tenaga 205 Tk di 10.500 rpm. Dikawinkan dengan gearbox 6-kecepatan.
{Mohon koreksi saja jika ada kesalahan. Saya tak terlalu mengetahui sesuatu seperti ini, saya sama seperti Arvin yang sama-sama tidak mengerti mengenai Dunia otomotif}
Arvin terpukau ketika melihat sosok garang sedang terparkir dengan gagah di gudangnya. Perlahan Arvin menghampiri motornya, kemudian memeluknya penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka bisa mendapatkan sesuatu seperti ini di dalam kehidupannya. Dia menjadi tak sabar untuk menggunakannya.
Perlahan Arvin menaiki motornya, kemudian menyalakan mesinnya hingga terdengar suara gagah mengetuk gendang telinganya. Dengan berbekal kemampuan mengemudi yang ia dapatkan dari kotak hadiah, Arvin melajukan motornya mengelilingi komplek, kemudian kembali ke rumahnya.
Dia sangat puas dengan performa yang disuguhkan oleh motor barunya itu. Dengan wajah yang tampak bahagia, Arvin kembali ke dalam rumah, kemudian berganti pakaian menjadi lebih sopan dan elegan. Saat dirinya hendak untuk keluar, dia sempat di cegah oleh Maria hang seperti biasa tiba-tiba muncul di dekatnya.
__ADS_1
"Ada apa, Maria? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
Mendengar itu, Maria menggelengkan kepalanya. Tapi seketika ia mengendus tubuh Arvin seperti anjing pelacak, tubuh Arvin tercium aroma wangi dari parfum yang dipadukan oleh aroma khas miliknya. Dirasa ada yang tidak beres, Maria menatap tajam Arvin.
"Kamu... akan kemana!?" Tanya penuh selidik Maria membuat Arvin terpojok.
"Ahahaha, aku kan sudah bilang padamu. Aku akan kerja!" Ucap Arvin perlahan melangkah mundur ketika Maria terus mencoba untuk menyodorkan kepalanya.
"Bekerja? Dengan penampilan dan aroma seperti ini!? Apa kamu kira aku bodoh!" Maria berteriak kesal.
Dirasa situasi semakin memburuk, Arvin dengan cepat mencium mulut Maria kemudian berlari keluar mengabaikan kekasihnya yang sedang membeku di tempat. "Ingat! Aku kerja di minimarket!" Ucap Arvin kemudian menghilang dari ambang pintu.
***
Kini, tampak sosok gagah Arvin sedang menunggu di depan rumah Sintia untuk menunggu kehadirannya. Karena seperti sebelumnya, mereka berencana untuk pergi ke rumah Sintia dan memberikan penjelasan kepada kedua orangtuanya jika Sintia telah memiliki seorang kekasih.
Meski itu tidak benar, namun mereka berdua sama-sama telah memastikan hubungan tanpa status terlebih dahulu. Apalagi ketika mengetahui jika Maria adalah orang yang agresif, mungkin saja wanita itu akan menerkam Sintia hidup-hidup jika mengetahui bahwa kekasihnya berselingkuh.
Sosok yang telah dinantikan kehadirannya oleh Arvin, perlahan menunjukkan penampilannya yang kini tampak lebih mempesona dari sebelumnya. Dengan pakaian yang tidak terlalu terbuka, dia menunjukkan sosok wanita feminim yang memiliki gaya rambut tergerai bebas.
__ADS_1
Arvin terpaku ketika melihat sosok bak bidadari tersebut. Namun dia kembali tersadar ketika Sintia mulai menepuk-nepuk dirinya. "Arvin, kenapa kamu malah melamun seperti itu disaat kita akan pergi!?"
"Aah... maafkan aku, cepat naiklah. Keburu Maria menyadari kejanggalan!" Arvin mempersilahkan Sintia untuk naik di jok belakang, dia juga memintanya untuk cepat-cepat karena sekarang dia mulai memahami jika Maria memiliki ketertarikan secara berlebihan kepadanya.
Dia mengetahui itu ketika mereka berada di sekolah. Maria selalu berada di sampingnya, kapan pun dan dimanapun. Kecuali ketika waktu pelajaran dimulai, mereka berdua harus berpisah karena sudah beda kelas dan bahkan berbeda angkatan.
Saat sedang berada diperjalanan, kehadiran Arvin begitu mencolok, mereka selalu diperhatikan oleh orang-orang sekitar karena motornya terlalu keren untuk berjalan di jalan raya seperti ini!
Namun Arvin tetap tak peduli, dia justru merasa bahagia ketika ada sesuatu yang menyentuh punggungnya, apalagi ketika Sintia mulai memeluk erat dirinya. Sepertinya dia masih menyimpan sedikit trauma tentang kejadian sebelumnya, sehingga ditatap seperti itu bisa membuatnya ketakutan.
Butuh beberapa waktu yang cukup lama untuk sampai di rumah kedua orang tua Sintia. Tidak hanya karena jaraknya yang jauh, tapi Arvin juga mengendarainya penuh kehati-hatian karena takut ditilang, meskipun dia bisa ngebut karena telah membawa bekal kemampuan berkendara.
"Apakah ini rumah orang tua kamu?" Tanya Arvin sambil melihat wujud dari rumah Sintia yang cukup besar. Memiliki tiga tingkat dan juga halamannya tampak begitu luas, rumahnya lebih cocok untuk dikatakan sebagai mansion daripada rumah biasa.
"Ya, rumah ini telah menjadi milik orang tua ku selama puluhan tahun lamanya." Jawab Sintia ketika sudah turun dari motor dan menyodorkan helm kepada Arvin.
"Begitu ya... semoga rencana kita berjalan dengan lancar." Arvin menunggu Sintia untuk membuka gerbangnya dengan cara meminta tolong ke satpam yang menjaga. Setelah itu Arvin melakukan motornya ke dalam halaman, kemudian memarkirkannya di dekat mobil mewah yang sepertinya harganya tak jauh beda dengan motor milik Arvin.
Disaat Arvin berpikir positif, Sintia justru mengerutkan keningnya ketika melihat mobil tersebut. Sambil berdecak kesal dia masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Arvin yang tampak bingung dengan tingkah Sintia.
__ADS_1
'Semoga dia marah bukan karena sesuatu yang buruk...' Arvin membatin sambil melihat Sintia berjalan dengan langkah berat yang cepat.