
Malam telah tiba, kini mereka berdua sedang makan malam sebelum tidur. Juga, Arvin telah menyetujui Maria untuk tidur dengannya setelah beberapa kali mencoba untuk membujuknya agar tidak tidur bersama. Namun beberapa kali juga dia mendapatkan penolakan.
Dengan begitu mereka berdua tidur bersama di satu ruangan dengan ranjang yang sama. Arvin juga sebenarnya tak mempermasalahkannya, namun dia khawatir dengan Maria jika amit-amitnya dia dilecehkan oleh Arvin.
Namun tetap saja, Maria kekeuh dan tak mempedulikan semua yang akan dilakukan oleh Arvin kepadanya, karena mulai saat ini dan selamanya dia akan tetap milik Arvin seorang. Tentu saja dengan jawaban seperti Arvin tak bisa mengatakan apapun lagi, dia benar-benar bahagia, namun disisi lain tak ingin sesuatu terjadi kepada mereka.
Saat sedang makan malam penuh keheningan, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu depan. Serempak mereka menoleh, kemudian Arvin bangkit dan hendak untuk membukanya, namun Maria segera menghentikannya dan berkata, "Biar aku saja yang membukanya, kamu duduk saja!"
Melihat Maria yang bersikeras, Arvin menggangguk, setelah itu dia melihat Maria yang perlahan semakin mendekat ke pintu. Dia membukanya secara perlahan sambil sedikit mengintip, perlahan juga pintu terbuka lebar dan memperlihatkan seseorang dibaliknya.
Dia adalah Sintia, guru Arvin yang telah menjadi temannya. Dengan wajah datar seperti biasanya, dia berdiri di ambang pintu dan melihat Maria yang awalnya mengintip kini sedang berdiri di depannya sambil memindai dirinya.
Sintia mengerutkan keningnya ketika melihat tingkah dari Maria, namun sebelum membuka mulutnya, ia bisa mendengar suara seseorang sedang berteriak di dalam rumah. Mendengar itu Sintia langsung mengetahui siapa pemilik suara tersebut.
"Maria! Siapa itu!?" Tanya Arvin sambil berjalan menuju Maria berada. Setelah sampai, dia bisa melihat Sintia sedang berdiri sambil tersenyum lembut ke arahnya.
"Hai, aku mampir!" Ucapnya tampak seperti sedang bahagia.
Arvin membelalakkan matanya ketika melihat Sintia, dia terkejut dengan kehadiran tiba-tiba dari Sintia, apalagi sekarang sudah malam. "Bu Sintia? Kenapa anda bisa berada disini? Sekarang sudah larut loh, apa ga takut?"
__ADS_1
"Tidak, aku sengaja datang ke rumahmu hanya untuk melihat kondisimu yang telah bolak-balik dari rumah sakit karena kecelakaan. Apa kamu sudah mendingan?"
"Sebenarnya saya tak terluka, hanya lelah secara mental. Oh ya, mari kita masuk! Diluar sangat dingin, saya tidak tega jika harus melihat anda kedinginan!" Ucap Arvin mempersilahkan Sintia untuk masuk ke rumahnya, dia juga meminta Maria untuk segera kembali ke meja makan.
Dari awal Maria merasa aneh dengan kehadiran Sintia, namun ketika melihat jika wanita itu akrab dengan kekasihnya, Maria merasa cemburu dan terus menatap tajam Sintia dengan niat membunuh yang kuat.
Tentu saja Maria yang telah berpengalaman dalam hal ini bisa merasakan tatapan tajam dari Maria, namun dia tetap mengabaikannya karena tidak ingin merusak suasana. Lagipula dia juga telah mengetahui siapa itu Maria, jadi untuk saat ini dia masih mewajarkan sikapnya terhadap orang asing.
Ketika Arvin mempersilahkan Sintia untuk duduk dan ikut makan malam bersama, dia bisa merasakan lengannya dipeluk oleh seseorang yang tak lain adalah Maria. Dia benar-benar sangat khawatir jika Arvin akan direbut oleh Sintia yang baginya wajib untuk diwaspadai.
Setelah mereka bertiga duduk di kursi makan, Arvin menawarkan makan malam kepada Sintia, namun ditolak lembut olehnya. Dengan begitu, Arvin dan Maria tak melanjutkan makan malamnya, mereka masih menghargai seorang tamu.
Mendengarnya, Sintia mengangguk kemudian memberikan lembaran kertas yang berisikan tugas untuk dikerjakan oleh Arvin. Dengan senang hati Arvin menerimanya dan membacanya, begitupula Maria yang merasa penasaran dengan isi kertas tersebut.
Saat mereka sedang membaca isi kertas tersebut, Sintia berkata, "Sebenarnya kedatangan aku kesini juga bermaksud untuk menjenguk mu. Sudah dua kali kamu masuk ke rumah sakit, dan itu membuatku menjadi khawatir. Tapi syukurlah ternyata kamu baik-baik saja, dan dia kah yang telah kamu selamatkan itu?" Sintia bertanya sambil menatap Maria yang masih bermanja di dekat Arvin.
"Ya, anda benar. Dia adalah gadis yang saya selamatkan. Apa anda mengenalnya?" Tanya Arvin kepada Sintia, namun di balas gelengan kepala. Begitu pula saat Arvin menatap Maria yang sama-sama tidak mengenal satu sama lain.
"Haah… kukira kalian saling mengenal, padahal satu sekolah juga." Arvin menghela nafas, kemudian mengenalkan Maria kepada Sintia, begitu pula sebaliknya. "Perkenalkan, dia adalah Maria Theresa yang kini telah memutuskan untuk tinggal bersama dengan saya. Dan beliau adalah Sintia Mona, guru sejarah yang dikenal tegas di sekolah kita! Semoga kalian bisa akrab, meskipun berbeda status."
__ADS_1
Dengan begitu keduanya saling bertukar senyum, setelah itu Arvin bangkit dan pergi ke dapur untuk membuat minuman. Dia merasa tak enak jika harus mengabaikan tamu tanpa diberi setidaknya sesuatu untuk di makan atau di minum.
Sedangkan, kedua wanita yang ditinggal oleh Arvin kini sedang saling bertatapan. Awalnya suasana masih terasa normal, namun ketika Maria membetulkan posisi duduknya, seketika suasana menjadi lebih berat.
Sambil menatap tajam ke arah Sintia, Maria berkata, "Saya lihat-lihat anda begitu dekat dengan kekasih saya. Namun, saya harap anda tidak melewati batas! Jika tidak, saya tidak akan segan-segan kepada anda, meskipun anda lebih tua dari saya! Apakah anda memahami perkataan saya?" Maria masih mencoba untuk sopan, meskipun hatinya sedang menahan amarah karena sedari awal dia melihat jika Sintia tampak begitu dekat dengan Arvin.
Mendengarnya, Sintia sedikit melebarkan matanya. Baru kali ini ada seseorang yang menantangnya, dan yang menantangnya adalah orang yang jauh lebih muda dan bahkan masih berstatus sebagai murid dari sekolah yang dia ajar. Hanya dengan melihat wajah Maria, Sintia langsung memahami apa yang sedang dirasakan oleh gadis tersebut.
Dia menyeringai, kemudian berkata, "Hee~, begitu pula denganku yang tidak akan memberikan Arvin kepadamu…"
Setelah Sintia mengatakan itu, suasana semakin berat, atmosfer sekitar menjadi tak enak untuk dirasakan. Namun, dengan segera suasana itu kembali normal ketika melihat Arvin telah kembali sambil membawa nampan dengan piring kecil serta tiga gelas berada di atasnya.
Arvin terhenti sejenak ketika melihat dua wanita di depannya sedang bertukar senyuman. Melihat itu tentu saja Arvin merasa bahagia, apalagi untuk Maria yang beruntung bisa berteman dengan salah satu guru di sekolahnya.
"Kalian sedang apa? Kenapa hanya tersenyum saja? Mari, aku sudah membawakan makanan ringan dan minuman untuk kalian! Oh ya, apa anda tidak masalah jika harus berdiam sejenak di sini?" Tanya Arvin kepada Sintia yang pikirnya masih memiliki kegiatan lain.
"Emm? Aku sebenarnya sedang luang, makanya bisa berkunjung ke rumahmu. Memangnya kenapa?"
"Jika begitu, mari kita berbincang sedikit lebih lama lagi sambil menikmati makanan yang telah saya sediakan!" Arvin mengajak dua wanita itu untuk pindah ruangan. Tanpa bantahan, kedua wanita itu mengangguk, lalu mengikut Arvin dari belakang.
__ADS_1
Begitu mereka berjalan, Sintia yang kebetulan berada di samping Maria memasang seringai kemenangan seolah sedang merendahkannya. Melihat itu, tentu saja Maria merasa terprovokasi. Dia sangat kesal hingga membuatnya tak tahan untuk tidak memukul wajah arogan dari Sintia.