Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:29


__ADS_3

"B-begitu, kah? Maafkan Tante karena sudah berpikiran yang aneh-aneh…" Ucap Rima sedikit menunduk, ditanggapi oleh tawa renyah dari Sintia yang kemudian memeluknya dengan semangat.


"Hahaha! Bunda memang selalu imut, meski sudah tua seperti ini!" Ucap Sintia membuka Rima semakin malu. Ia mencoba untuk melepaskan pelukan anaknya karena tidak kuat untuk menahan rasa malu ini lebih lama lagi


"Sintia… bunda malu dilihat oleh kekasihmu yang sedang menertawai kita!" Bisik Rima ke telinga anaknya, namun tanpa diketahui olehnya, Arvin bisa mendengarkan bisikkan tersebut.


"Kita? Aku tidak malu kok! Justru aku harus berbangga diri karena telah memiliki orang tua se imut bunda. Andai saja aku memiliki papah yang sama sepertimu!!" Ucap Sintia disertai sindiran ke Doni yang merasa kelakuan anaknya tak bisa dibiarkan terlalu lama.


"Hei, kau tidak sopan berbicara seperti itu ketika ada nak Tomi disini! Jika kau tak berniat bertemu dengannya, setidaknya hargai dia meski itu hanya sedikit!" Tegur Doni membuat Sintia menjadi Tak nyaman.


Dengan perlahan Sintia membetulkan posisinya, kemudian kembali memasang ekspresi tegas di wajahnya. Tatapan tajam tertuju kepada Tomi yang tetap tersenyum seperti Arvin, namun Sintia menanggapinya berbeda.


"Papah bilang untuk menghargai nya!? Papah benar-benar mengatakan itu!? Jika memang iya, aku hanya ingin mengatakan satu hal kepada papah dan terutama kau!" Sintia menatap Doni kemudian beralih ke Tomi dan menunjukkan penuh amarah.


"Tidak hanya sekarang, tapi aku telah memintamu untuk menjauhiku selamanya! Namun, kau masih berani untuk bertemu denganmu, maka aku akan membunuhmu meski itu menyebabkan diriku dipenjara! Sungguh muak aku melihat wajahmu!" Ucap Sintia menaikkan nada nya sambil mencoba mengintimidasi pria di depannya.


Namun, intimidasi Sintia tak berpengaruh. Justru kini senyuman Tomi semakin terlihat hingga membuat Sintia semakin marah. Tetapi, sebelum dia bertindak lebih jauh lagi, Doni langsung bangkit dari duduknya kemudian berusaha menampar wajah anaknya itu.


Tentu saja Sintia menyadari nya dan bisa menghindari atau bahkan melakukan perlawanan balik. Namun ia tak bisa melakukan itu juga lawannya adalah ayahnya sendiri. Karena itu juga, ada seseorang yang menggantikan peran nya, yaitu Arvin yang kini sedang menahan tangan Doni dengan cengkeraman keras.


"A-apa! Siapa kau berani mengurusi urusan keluarga!?" Teriak Doni sambil menatap penuh amarah kepada Arvin.

__ADS_1


Mendengarnya, Arvin berdecak, "Anda bilang kekerasan itu bentuk dari kekeluargaan? Heh, jika seperti itu maka saya berhak untuk ikut campur, karena mulai saat ini saya termasuk ke dalam keluarga!" Tegas Arvin mengejutkan semua orang, bahkan dirinya saja sampai terkejut sendiri karena telah mengatakan sesuatu diluar kendalinya.


'Ah sial, aku telah bertindak gegabah kali ini…' Arvin membatin sebelum dirinya dan Doni terkena tamparan keras secara bersamaan.


Dengan spontan Arvin melepaskan genggamannya kemudian memegangi pipinya yang sedikit memerah, berbeda dengan Doni yang dimana pipinya tampak sangat merah hingga membuatnya mirip seperti tomat.


"Awch." Arvin memegangi pipinya dan dibantu oleh Sintia yang terlihat sangat khawatir dengan kondisinya.


"Arvin kamu tidak apa?" Tanya Sintia memiliki suara gemetar. Menyadari Sintia yang khawatir, Arvin justru terkejut, dia membelalakkan matanya sambil memikirkan sesuatu yang terjadi sebelumnya.


'Apa? Jika dia khawatir kepadaku, lalu siapa yang menampar kita!?' Arvin membatin dengan bingung, hingga pada akhirnya dia melihat sosok Rima yang sedang berdiri dengan tangan terangkat.


Melihat penampakan itu, Arvin tercengang. Kemudian secara bergantian dia melirik Sintia dan kembali menatap Rima dengan ekspresi tercengang nya. Sedangkan Sintia hanya terkekeh ketika melihatnya, dengan senyum tipis terukir di wajahnya, dia berkata menjelaskan.


Mendengarnya, Arvin mengangguk paham dan terkagum. Namun pikirannya langsung teralihkan ketika tidak mendapati sosok Tomi yang telah menghilang di ruangan. Arvin bertanya kepada Sintia, namun dia juga tidak mengetahuinya.


Tak lama kemudian, muncul kembali Tomi dengan wajah cerahnya. Tak lupa juga dia tersenyum ke arah Sintia dan Arvin, hingga membuat mereka berdua curiga. Dengan perasaan yang tak mengenakan, Arvin mencoba untuk tetap tenang.


Di saat Doni sedang sibuk dengan omelan istrinya, Tomi mengucapkan sesuatu yang membuat aktivitas mereka terhenti sejenak. "Maaf Om, Tante. Sepertinya saya harus pamit terlebih dahulu, karena ada rapat mendadak tentang bisnis saya dengan para investor."


Rima yang mendengar itu kemudian berbalik dan membetulkan posisinya sama seperti Doni yang merasa tak enak jika harus membiarkan tamu pergi tanpa sedikitpun sikap sopan.

__ADS_1


"Begitu ya? Kalau begitu, maaf telah menunjukkan kejadian yang tak enak dipandang. Dan maafkan anak Om yang masih kekeuh dengan pilihannya, yang palingan sebentar lagi akan berpisah. Kamu tinggal tunggu saja waktunya, oke?" Ucap Doni sengaja meninggikan suaranya agar bisa didengar oleh anaknya dan Arvin.


Sintia yang mendengar itu hendak untuk bangkit karena merasa marah dengan ucapan papahnya tersebut. Namun, Arvin dengan sigap menahannya dan mengembalikan posisinya seperti semula.


"Aah… Om tak perlu mengkhawatirkan itu, saya tak mempermasalahkan sikap Sintia kepada saya. Juga, tentang hubungan mereka berdua, mungkin kata om benar. Sebentar lagi mereka akan berpisah, tentu saja dengan kejadian yang tragis. Tapi saya tak tega jika itu sampai terjadi, semoga saja yang saya katakan sebelumnya tidak benar-benar terjadi." Sahut Tomi dengan arogannya dan ditanggapi oleh senyuman Doni.


Saat mengatakan itu, Tomi sengaja merendahkan suaranya hingga mereka bertiga tidak dapat mendengar. Namun sekali lagi, itu semua sia-sia karena Arvin bisa mendengarkan semuanya. Saat ini, dirinya sedang menaikkan alisnya sebelum tersenyum tipis.


'Hee… begitu ya. Tampaknya awal yang tidak merepotkan belum tentu berakhir dengan hal yang sama… aku menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.' Arvin membatin dengan percaya diri.


Setelah beberapa menit Tomi pamit pergi, selanjutnya Arvin yang berencana untuk pulang. Namun sekarang, dia tidak bisa melihat keberadaan Doni lagi yang menghilang setelah kepergian Tomi. Meski begitu, Arvin tak mempedulikannya, dan dia juga sedikit bersyukur karena konflik sebelumnya tidak terjadi seperti novel-novel yang pernah dia baca.


Saat sudah berada di luar rumahnya, Sintia kini sedang berdiri di dekat Arvin yang sudah menyalakan mesin motornya. "Apa pipimu tak terasa perih lagi? Bunda bilang porsi yang kalian berdua terima itu sama rata, loh. Ketika melihat pipi papah, aku pikir kamu juga pasti merasa kesakitan." Ucapnya penuh kekhawatiran.


"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, mungkin saja Tante berbohong kepadamu. Aku tidak merasa sakit apapun, kok. Lebih baik aku segera pergi saja ya, aku tak nyaman dengan tatapan ayahmu yang sedang mengintai di atas sana…" Ucap Arvin sambil mengelus-elus kepala Sintia, kemudian dirinya melajukan motornya keluar dari halaman rumah Sintia.


Sedangkan untuk Sintia, dia yang merasa penasaran dengan ucapan Arvin mencoba untuk mendongak dan melihat ke arah jendela atas. Namun, dia hanya melihat tirai yang sedang terbuka seperti tertiup angin.


"Dasar papah yang aneh…" Gumam Sintia kemudian melangkah masuk ke rumahnya dan bersiap untuk berdebat dengan papa nya kembali.


****

__ADS_1


Maaf sebesar-besarnya untuk kalian semua. Saya selaku author benar-benar tidak pandai menulis konflik yang panas seperti penghinaan dan sebagainya. Sebenarnya saya ingin melakukan itu, tetapi saya khawatir jika novelnya menjadi sedikit aneh karena kekurangan saya. Namun, kedepannya saya akan mencoba untuk memasukkan konflik tersebut supaya suasana menjadi lebih panas dan menegangkan.


__ADS_2