
Maria Theresa, seorang gadis yang memiliki kehidupan keras. Dimana keluarganya selalu berseteru, bahkan dengan masalah kecil. Semua itu terjadi ketika ibunya tertangkap basah sedang berselingkuh, bukan dengan pria simpanannya, melainkan selama ini dia selalu membuka jasa gelap seperti itu.
Melihat kondisi istrinya yang tak enak dipandang, tubuh yang bebas tanpa tertutupi satu kain, dan juga rambut yang acak-acakan membuat suami atau ayah Maria murka. Setelah bekerja dari pagi hingga pagi demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dan merasakan rasa lelah yang begitu hebat. Ternyata bayaran dari rasa lelah tersebut sangat menyakitkan baginya.
Dengan murka, ayahnya bertengkar, dia memukul, menghantam dan menendang tubuh si pria hingga babak belur. Setelah itu, baru dirinya bertengkar dengan istrinya yang terus mencoba untuk memberikan penjelasan. Namun, tanpa mendengar penjelasannya, dia langsung menampar wajah istrinya dan juga mengobrak-abrik seisi rumah dengan penuh amarah.
Maria yang pada saat itu masih kecil, terbangun ketika mendengar keributan diluar. Mencoba untuk mengintip, Maria bisa melihat kedua orangtuanya dan satu orang asing sedang bertengkar hebat, mereka beradu mulut dan tak sedikit pula memberikan pukulan atau tamparan keras.
Semua itu berlangsung hingga warga sekitar memisahkan mereka dan membawa mereka ke tempat dimana hukum bertindak. Dengan keterangan yang didapat, ternyata ayah Maria tetap mendapatkan hukuman atas tindakannya, namun kedua orang biadab itu terbebas dari hukuman.
Dengan berat hati ayah Maria menerimanya, dan juga sebelum dirinya benar-benar di lempar ke jeruji besi, ayah Maria sempat meminta pihak hukum untuk memberikan kesempatan kepadanya agar bisa bertemu dengan anaknya, meski itu hanya tiga detik.
Tentu saja mereka mengizinkannya, dan ayah Maria diberikan waktu beberapa menit untuk bertemu dengan anaknya. Merasa bahagia, ayah Maria langsung berlari ke arah Maria dan memeluknya penuh kasih sayang.
Maria yang pada saat itu masih kecil hanya bisa kebingungan, namun ketika mendengar tangisan dari ayahnya, ia pun ikut menangis dengan keras. Meskipun dirinya masih kecil, namun hatinya bisa memahami situasi yang sedang menimpanya.
Maria bukanlah robot, dia masih bisa merasakan sakit di hatinya, sehingga membuatnya menangis meskipun tidak tahu alasan dibalik tangisannya tersebut. Pada saat itu, ayahnya benar-benar menyesal telah bertindak mengikuti amarahnya sehingga tidak menyadari bahwa tindakannya tersebut bisa membuat Maria tersiksa.
"... Ayah berharap kamu tumbuh menjadi wanita yang baik. Jaga pandangan, ucapan dan juga tindakanmu, oke? Ayah tahu betul bagaimana kamu, nak. Pastinya kamu memahami maksud ayah, kan? Ayah sayang kamu, kita akan bertemu lagi di masa depan dan melakukan aktivitas bersama-sama lagi! Sekali lagi, ayah menyayangimu, selamat tinggal, nak…"
Itu adalah kata-kata terakhir yang pernah terucap dari mulut ayahnya, hingga beberapa tahun berlalu, dan begitu pula dengan hukuman ayah Maria yang telah selesai. Namun semua itu tak menutup kemungkinan jika segalanya menjadi lebih baik.
Maria yang telah tumbuh besar bisa memahami situasi ayahnya hanya dari raut wajahnya saja. Dia merasakan sayatan kecil di hatinya. Apalagi ketika melihat ibunya yang dengan seenaknya memarahi, menyalahkan, dan juga terkadang memukul ayahnya.
__ADS_1
Namun kali ini dia tak membalas, dia hanya diam dan terkadang juga meringis kesakitan. Matanya juga semakin hari semakin kehilangan harapan, sepertinya dia telah menyesal bisa keluar dari jeruji besi.
Meskipun sikapnya kepada Maria tak berubah, bahkan lebih mencintainya. Namun terkadang ayahnya melamun secara tiba-tiba, diajak bicara juga selalu tak nyambung. Kondisinya membuat Maria khawatir jika ayahnya akan melakukan hal yang sembrono lagi, dan kekhawatiran itu benar-benar terjadi.
Tak lama setelah kebebasannya, dia mengakhiri hidupnya dengan cara membakar dirinya di api besar yang telah ia sediakan sendiri. Sebelum meninggalkan dunia, dia sempat menulis sepucuk surat yang berisikan cintanya kepada Maria.
Surat tersebut membuat Maria menangis sejadi-jadinya, dia menyesal tidak pernah melakukan sesuatu untuk menghibur ayahnya, sehingga kejadian ini masih bisa dicegah. Namun mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dan bubur juga perlahan akan basi.
Setelah kematian ayahnya, kini Maria yang berubah. Semakin berjalannya waktu, dia mulai kehilangan kepercayaan diri, keberanian, bahkan untuk berbicara dia tak bisa. Karena selalu dihantui rasa bersalah akan kematian ayahnya, dan karena itu juga ia semakin membenci ibunya yang berlaku tak adil dan ingin menang sendiri.
Perlahan, penderitaan yang dialami oleh Maria semakin tertumpuk dan membentuk sebuah gunung besar di hati mungil milikinya. Hal tersebut mengakibatkan Maria berpikiran yang tidak-tidak, dia selalu mencoba untuk mengakhiri penderitaan dan hidupnya, namun beberapa kali masih bisa diselamatkan oleh akal sehatnya.
Hingga pada akhirnya, akal sehat Maria semakin menghilang. Dia berencana untuk melompat dari atap sekolahnya pada saat semua temannya sedang melakukan senam di lapangan. Dengan tekad yang sudah bulat, Maria berdiri di tepi atap, melihat lantai dasar dengan tatapan ketakutan.
Dengan begitu ia berlari menjauh dari atap dan mencari tempat sepi untuknya menangis. Namun secara mengejutkan, dia bertemu dengan seorang pemuda berwajah tampan yang senantiasa menatap lembut dirinya. Ya, pria itu adalah Arvin Faresta.
Saat pertamakali bertemu dengannya, Maria bisa melihat penderitaan Arvin hanya dengan menatap matanya. Di balik senyuman hangatnya, Arvin juga menyimpan penderitaan yang tak kalah besar dengan miliknya.
Melihat Arvin yang bisa menutup semuanya dan tetap mencoba untuk bangkit, Maria mencibir dirinya sendiri, dia merasa bodoh karena ingin berlari dari kenyataan. Dia sangat menyesal, namun penyesalan itu juga tak berarti dan tak akan menghilang hanya dengan terus berlari.
Perlahan, dengan kehadiran Arvin, dia mencoba untuk menggapai penderitaan itu sendiri dan mencoba untuk merobeknya dengan tekad yang selama ini ia simpan. Namun kenyataan tak seindah itu. Bukannya menghilang, penderita itu justru semakin menyelimutinya disaat dirinya mencoba untuk menghancurkannya.
Karena itu, semangat hidupnya semakin menurun hingga menyebabkan kondisinya berakhir seperti ayahnya. Dia tak sekolah selama beberapa hari hanya untuk meratapi nasibnya yang buruk hingga menyebabkan dirinya berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
__ADS_1
Namun sebelum melakukan itu, dia berencana sekolah untuk terakhir kalinya dan bertemu dengan Arvin. Pemuda yang sangat ia kagumi. Dia bertemu dengannya, bertukar cerita, hingga akhirnya rencananya semakin dekat.
Pada saat sekolah berakhir, Maria langsung berlari ke jembatan dan melompat dari atas sana. Dan pada saat dirinya mendengar dan melihat sosok Arvin yang tampak berlari ke arahnya dengan ekspresi khawatir, dia tersenyum bahagia karena menyadari jika di dunia ini masih ada yang membutuhkan kehadirannya.
Namun, meski begitu dia tetap tak menyesali tindakannya. Pada saat tubuhnya terjun dari atas sana, dia bisa mendengar suara teriakan pilu memanggil namanya. Ya, itu adalah Arvin yang berhasil membuat matanya kembali mendapatkan kehidupan.
"Arvin…?" Gumam Maria, kemudian kakinya merasakan ada sentuhan lembut, dengan segera dia menoleh dan melihat sosok Arvin yang sedang mencoba menggapainya meskipun harus rela ikut terjun dari atas jembatan.
"MARIA!! SADARLAH!!" Teriak Arvin menyadarkan Maria, dia tampak terkejut dengan kehadiran Arvin yang senantiasa menolongnya meskipun taruhannya adalah nyawa.
"Arvin!!" Maria menggapai tangan Arvin, dan pada saat itu juga mereka berpelukan dengan Arvin berada di bawah tubuh Maria. Dia bersedia untuk menjadi tempat pendaratan dari Maria.
"Hai! Tetap bersamaku, oke?" Arvin tersenyum, mengeratkan pelukannya hingga mereka berdua benar-benar terjatuh ke air yang tampak sedang tenang.
Aksi mereka disaksikan oleh ratusan pasang mata, beberapa dari mereka ada yang terkejut dan tak sedikit pula yang terkagum ketika melihat tindakan berani dari Arvin. Beberapa dari mereka juga merekam semua kejadian tersebut dan mengupload nya di beberapa platform tertentu.
****
Ini adalah bonus cerita saja, kalian jangan protes karena cerita Maria terlalu panjang. Tapi itu untuk melengkapi cerita agar kalian tak bingung juga dengan alasan dibalik tindakannya.
Satu kata dari saya:
Semoga kalian menikmatinya!
__ADS_1