
"Kemana kita akan pergi, Arvin?" Tanya Maria saat sedang memakai helm miliknya sendiri yang telah ia siapkan untuk jaga-jaga ada momen seperti ini.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, kita akan berbelanja kebutuhan seperti persediaan makanan, pakaian, dan juga aku berencana membeli peralatan untuk memulai karir ku sebagai content creator!" Ucap Arvin setelah menyalakan mesin motornya.
"Begitu, ya… tapi dimana kamu memiliki uang sebanyak itu? Aku tdak ingin sampai merepotkan mu…" Maria tertunduk ketika mengatakannya, membuat Arvin sedikit gemas dengan tingkahnya.
Tangan Arvin mencapai pucuk kepala Maria, kemudian mengelus-elus lembut sambil berkata, "Tak perlu mengkhawatirkan apapun. Jika kamu tidak percaya dengan uangku, maka tinggal pikirkan saja hari-hari kita yang selalu bersama! Apa mungkin aku bisa melakukan tindakan ilegal ketika bersama denganmu?"
Mendengarnya, Maria mengangguk dan memahami maksud Arvin. Karena dirasa ucapan kekasihnya itu masuk akal, Maria segera menaiki jok penumpang. "Baiklah jika seperti itu. Kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu untuk kita berdua, hehe!"
Meskipun dia sedikit penasaran dengan ucapan Maria, namun tanpa membuang waktu lebih lama lagi Arvin langsung melesat menuju mall yang terdapat di pusat kota. Butuh beberapa puluh menit hingga mereka sampai ke tempat dimana pusat pembelanjaan berada.
Ketika selesai memakir kan motornya. Arvin dan Maria berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra. Tentu saja Arvin tak mempermasalahkannya, lagipula ia juga menyukai perasaan tersebut.
Mengabaikan pandangan orang-orang sekitar, Arvin dan Maria berjalan ke toko baju yang rencananya akan membelikan pakaian untuk Maria, dikarenakan stok baju yang tersisa baginya sudah tinggal sedikit. Tak mungkin jika harus di cuci, dan dipakai secara berulangkali.
Saat kaki mereka menginjak toko tersebut, dapat terlihat berbagai jenis pakaian yang tertata rapi, dan juga kebersihan di sini sangat diperhatikan hingga membuat tempatnya menjadi mengkilap.
Masih berjalan bersama, Arvin mengikuti langkah Maria yang menuntunnya ke suatu tempat dimana piama tidur terdapat. Setelah sampai di sana, Maria melepaskan pegangan tangannya dan berlari menuju piyama couple yang berwarna biru langit, serta ada juga yang berwarna merah muda.
__ADS_1
"Cepat kesini!" Pinta Maria sambil melambaikan tangannya, dan di angguki oleh Arvin yang langsung meningkatkan kecepatan langkahnya.
"Ada apa? Apa kamu menyukainya? Tinggal pilih saja yang kamu suka, aku akan membayarnya!" Ucap Arvin sambil melihat secara bergantian piyama yang dipegang oleh kedua tangan Maria.
Mendengarnya, Maria justru cemberut, dia sedikit marah ketika mengetahui Arvin yang tampak acuh dengan pilihannya. "Hmmmh, aku juga tahu itu, karena sebelumnya kamu sudah mengatakannya! Tapi, yang aku inginkan itu, coba pilih diantara dua pilihan ini mana yang lebih cocok untuk kita!?"
"Owh… baiklah." Arvin melihat dengan seksama sambil membayangkan sosok Maria ketika menggunakan dua jenis piyama tersebut. Hingga berakhir pada pilihan warna merah muda yang menurutnya sangat cocok jika dikenakan oleh Maria.
"Bagaimana jika warna merah muda saja? Aku pikir itu sangat cocok untuk menonjolkan keimutan yang kamu miliki!" Usul Arvin membuat wajah Maria menjadi tersipu.
Tak lama kemudian Maria mengangguk bahagia karena pilihan Arvin mirip seperti yang dia inginkan. "Itu ide yang bagus! Jika seperti itu, maka kamu lebih cocok dengan piyama yang biru ini!" Ucap Maria sambil mengangkat piyama tersebut.
Sebelum mereka melakukan transaksi, Arvin meminta Maria untuk membeli pakaian lainnya. Meski awalnya dia menolak, tetapi ketika didesak lebih keras, Maria langsung pergi memilih pakaian yang dia inginkan.
Setelah beberapa jam Arvin menunggu, ternyata Maria hanya memilih tiga gaun sederhana yang tampak begitu polos. Arvin yang awalnya kesal karena harus menunggu lama hanya untuk membeli beberapa pakaian saja, langsung tersenyum karena dia merasa bahagia ketika Maria mengetahui kriteria favoritnya.
"Totalnya lima juta dua ratus lima puluh ribu saja, kak! Mau bayar pakai apa? Kartu atau cash?" Ucap kasirnya ketika selesai menghitung harga belanjaan Arvin.
Mendengar nominal tersebut, Maria sedikit terkejut, meski tak terlalu banyak untuk Arvin. Tetapi baru kali pertama Maria mendengar nominal tersebut hanya untuk membeli barang pribadinya. Dia menarik-narik kain pakaian Arvin, namun dibalas dengan senyuman lembut.
__ADS_1
"Pakai kartu saja, kak! Mohon." Arvin memberikan kartu kredit miliknya yang dia dapatkan secara gratis dari bonus pembelian pertamanya untuk membeli uang.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar!" Setelah itu kasirnya mulai melakukan seperti yang Arvin inginkan.
Ketika transaksi berhasil dilakukan, Arvin mengajak Maria untuk pergi ke tempat lain untuk membeli stok makanan yang telah menipis. Dan hanya butuh beberapa puluh menit saja hingga mereka selesai berbelanja kebutuhannya.
Karena merasa belanjaannya akan sangat banyak dan tak akan muat jika diangkut oleh motornya. Segera Arvin menelfon Herman yang sebenarnya telah membangun hubungan pertemanan dengannya. Bahkan Herman entah karena alasan apa, dia menawarkan diri untuk sebagai pengikut Arvin yang senantiasa menolongnya dan terus berada di dekatnya.
Setelah telfonnya diangkat, Arvin langsung meminta Herman ke tempatnya saat ini juga. Dengan segera Herman mengiyakan, dan langsung pergi menuju mall sambil membawa mobil yang memiliki ruang untuk menyimpan barang-barang belanjaan Arvin.
Dengan begitu Arvin bisa bernafas lega. Namun, ketika dia dan Maria hendak untuk ke tempat selanjutnya. Secara tidak sengaja ia melihat Sintia sedang berjalan bersama dengan pria yang tentu saja dikenali oleh Arvin.
Melihat penampakan itu, Arvin tersenyum kecut dan membatin penuh kekecewaan, 'Ternyata benar yang dikatakan oleh Herman. Sintia telah bertunangan dengan Tomi… huh, mungkin dia tertekan oleh kehadiran Maria, atau mungkin merasa muak dengan permintaan orang tuanya. Apa yang kamu lakukan Sintia, padahal aku sangat mencintaimu seperti cintaku kepada Maria. Tetapi, tunggulah sebentar lagi, aku akan mendapatkan mu kembali!'
Setelah cukup banyak menghabiskan waktu di dalam mall. Arvin pun langsung pergi keluar dengan Herman yang telah meletakkan semua barang belanjaannya di bagian belakang mobil.
Ketika mereka berada di dalam mobil, Arvin berbicara kepada Herman, "Seperti yang kau katakan sebelumnya. Dia telah bersama dengannya. Kira-kira kapan lembaran kebahagiaan itu akan disebarkan?" Ucap Arvin tak jelas. Namun itu sengaja, karena dia tidak ingin Maria sampai mengetahui pembicaraannya dengan Herman.
Memahami maksud dari Arvin, Herman mengangguk kemudian berkata, "Mungkin minggu lusa. Karena baru kemarin mereka melakukan acara pemasangan. Anda tenang saja, waktu masih tersisa banyak. Lagipula saya juga tak sudi jika pria itu sampai bahagia!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Herman, Arvin tersenyum karena merasa bahagia ketika mendapatkan teman yang sejalan pemikirannya dengan dirinya. Setelah pembicaraan selesai, mereka bertiga pun segera pergi menuju rumah Arvin.