
Di saat Arvin dan Rena sedang melakukan live streaming, di ruangan lain yang di mana ada sosok Maria sedang duduk sambil menonton televisi. Tetapi tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu yang membuat Maria sedikit kesal dan terpaksa harus meninggalkan televisinya.
"Kenapa kesenanganku harus selalu terganggu!?" Gumam kesal Maria sambil melangkah berat hingga tiba di dekat pintu utama.
Awalnya dia gugup untuk membukanya, karena ini baru kali pertama dia melihat seorang tamu tanpa janji. Tetapi dengan keyakinan diri, Maria membukanya hingga menampilkan beberapa orang sedang berdiri di belakang pintu.
Maria mengerutkan keningnya, kemudian bertanya, "Kalian siapa?" Tanya Maria penuh selidik.
"Kita? Kita adalah teman kekasihmu~." Balas seorang pria dengan suara menyebalkan.
Mendengarnya, Maria semakin bingung. Pasalnya tidak mungkin jika Arvin memiliki hubungan pertemanan dengan pria yang Maria ketahui sudah merebut Sintia darinya.
"Jangan sesekali berani berbohong kepadaku… karena jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu saat ini juga!" Ucap Maria mengancam sambil menodongkan pisau dapur yang senantiasa ia bawa di balik bajunya, hingga membuat beberapa pengawal pria di depannya bergerak dan hendak menyerang Maria.
"Woo… woo… santai manis!" Tomi mencoba menyingkirkan pisau yang berada di dekat lehernya. "Baiklah, baiklah! Kita disini hanya ingin membuat penawaran denganmu. Tidak dengan Arvin, melainkan denganmu!" Dia mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat berhenti kepada para pengawalnya.
Maria mengerutkan keningnya lebih dalam, kemudian meletakkan kembali pisau dapur di balik pakaiannya. Setelah itu dia menatap Tomi penuh pertanyaan, "Tawaran tanpa melibatkan Arvin? Apa itu?"
Mendengarnya, Tomi menyeringai tipis, 'Hee… dia telah melahap umpanku karena rasa penasaran…'
Setelah itu Tomi menjelaskan tentang rencananya dan juga perjanjian yang jelas-jelas hanya menguntungkan satu pihak. Tetapi Maria dengan senang hati menerima tawaran tersebut sambil tersenyum lebar, tanpa mengetahui jika saat ini dirinya sedang dijadikan bidak catur oleh Tomi.
Tomi memberikan kartu namanya sebelum pergi dengan beberapa pria besar berjalan di belakangnya. Dengan merasakan sedikit keanehan, Maria menatap kartu nama yang sedang di pegang olehnya.
Tak butuh waktu lama hingga ekspresinya kembali berubah menjadi berseri. Dengan langkah ringan sambil melompat, Maria berjalan kembali ke ruang keluarga kemudian melanjutkan menonton filmnya.
***
"Haah… aku tidak berharap ini akan melelahkan…" Keluh Arvin sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia mengeluh setelah live streamingnya berakhir.
Rena terkekeh sambil melihat kondisi Arvin. "Begitulah. Kita diharuskan untuk merespon komentar dari para penonton agar mereka tetap setia untuk menonton kita. Tetapi aku kagum kepadamu yang telah meresponnya semua dengan baik! Bahkan para wanita saja sampai dibuat tidak berdaya oleh suara jantan mu itu, hihi!"
Arvin mengangkat alisnya ketika melihat senyuman Rena yang begitu mempesona. Tanpa sadar denyut jantungnya kembali tak terkontrol seperti sebelumnya. Sejenak dia tertegun, tetapi tak lama kemudian dia membetulkan posisinya.
"Kamu kagum dengan usaha awal ku? Berarti aku tidak salah jika harus merasa kagum terhadap dirimu yang telah masuk ke dalam lingkaran melelahkan ini!" Arvin menatap Rena penuh kekaguman dan kelembutan hingga membuat Rena tersipu.
__ADS_1
Momen itu berlangsung cukup lama, dan berakhir ketika mereka berdua tersadar dengan situasinya. Seketika suasana menjadi canggung, mereka berdua segera saling membuang muka dengan wajah merona.
"A-aku rasa ini tidak baik jika dilanjutkan!" Arvin membuka suara mencoba untuk membuat suasana kembali cair.
"Y-ya! Aku setuju dengan itu!" Rena menyetujui dengan suara yang tak kalah tinggi.
Sebelum Arvin membuka topik baru, fokusnya sejenak teralihkan kepada ponselnya yang terus bergetar sejak awal. Dengan rasa penasaran dia menyalakan ponselnya, dan tak lama kemudian matanya membulat tidak percaya.
Rena yang melihat itu cukup kebingungan. Dengan rasa penasaran dia mendekat kan tubuhnya ke arah Arvin dan bertanya, "Kalau boleh tahu. Kamu sedang melihat apa? A-aku hanya penasaran karena kamu terlihat begitu bahagia…"
Arvin baru tersadar jika dirinya sedang bersama dengan Rena setelah mendengar suaranya yang bergetar karena gugup.
"Ah… maaf. Aku hanya terkejut sekaligus bahagia karena channel ku sudah banyak subscriber nya!" Ucap Arvin memperlihatkan isi ponselnya yang sedang menunjukkan channel youtubenya dengan subscriber yang telah mencapai angka lima ratus ribu.
"... W-wooah! Kamu berhasil Arvin! Aku tidak menyangka jika semuanya terjadi begitu cepat!" Rena sama bahagianya dengan Arvin.
"Begitupun denganku! Terimakasih Rena!!" Arvin tak bisa menahan kebahagiaannya, dia menggenggam tangan Rena sambil berterimakasih dengan tulus.
Rena kembali tersipu, tetapi kemudian dia mengangguk, "Ya! Aku juga berterimakasih kepadamu karena sudah mengajakku bermain bersama kali ini!" Balas Rena yang bahagia karena sebelumnya dia bisa bermain permainan dengan Arvin, hingga membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat kembali.
***
"Itu tidak perlu! Aku tidak ingin merepotkan mu lebih lama lagi…" Balas Rena yang sebenarnya ingin berlama-lama lagi dengan Arvin, tetapi dia juga tidak ingin merepotkan Arvin.
"Kenapa? Justru aku bahagia jika bisa mengantarkan mu pulang! Anggap saja itu untuk membalas budi kepadamu!" Arvin berkata sambil tersenyum menatap Rena.
"Begitu, ya? Baiklah… maaf sudah merepotkan mu…" Ucap Rena membuat Arvin sangat bahagia, dia langsung pergi ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci motor.
"Kamu? Akan kemana dengannya?" Tanya Maria ketika melihat Arvin sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Rena pulang.
"Maaf. Aku akan mengantar pulang Rena… bisakah kamu menunggu ku? Aku khawatir jika harus membiarkannya pulang sendirian…" Ucap Arvin sedikit tertunduk, tetapi itu justru yang membuat dirinya bisa menatap wajah Maria yang lebih pendek darinya.
"Hmm… tetapi setelahnya kamu akan menghabiskan waktu bersama denganku, kan?" Maria menatap Arvin dengan penuh harapan. Namun di dalam hatinya terdapat perasaan kesal karena waktunya harus direbut oleh Rena, wanita yang menurutnya lebih asing daripada Sintia.
"Ya, itu sudah pasti!" Arvin mencium kening Maria, kemudian berjalan keluar rumah mengabaikan Maria yang sedang menyeringai lebar sambil menatap punggungnya.
__ADS_1
"Justru itu yang aku inginkan… andai saja aku bisa mengucapkan permintaan maaf kepada wanita itu, hehehe!" Gumam Maria merasa sangat bahagia karena rencana mereka akan segera dilakukan.
Sementara di luar rumah, kini tampak Rena yang sudah menaiki jok belakang motor Arvin sambil melihat ke arah rumah pria itu dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.
'Meski aku sudah diberi tahu tentang hubungan diantara Arvin dan wanita itu. Namun entah kenapa, aku merasa hubungan itu terasa sedikit aneh.' Rena membatin ketika menyadari jika Maria sedang mengintip di balik celah jendela.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Arvin menyadarkan Rena.
"Ya, tentu saja!" Sahut Rena yang kemudian memeluk tubuh Arvin tanpa mempedulikan Maria yang sedang menggigit ujung kukunya dengan ekspresi penuh amarah.
Setalah itu, Arvin langsung menjalankan motornya dengan kecepatan rata-rata untuk menikmati waktu bersama wanita yang masih berada di dalam hatinya.
Namun waktu berlalu begitu cepat, dikarenakan mereka harus terpisah ketika mereka telah tiba di rumah Rena. Setelah berbincang sedikit, Arvin memutuskan untuk segera pergi dan menolak tawaran Rena yang menawarkan Arvin untuk mampir ke dalam rumahnya.
Meski merasa sedikit kecewa, Rena tetap masuk ke dalam rumahnya kemudian meletakkan tasnya di dekat sofa rumah. Saat ini dirinya sedang sendirian di dalam rumahnya, dikarenakan kedua orangtuanya memiliki bisnis di luar kota untuk beberapa hari.
Ketika baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Rena harus kembali bangkit ketika mendengar suara ketukan pintu. Sejenak dia berpikir dan berharap jika Arvin kembali lagi, tetapi ketika membuka pintunya, dia terkejut karena melihat beberapa pria sedang tersenyum ke arahnya dengan tatapan sinis.
"Halo, nona…?"
"S-siapa kali—" Sebelumya menyelesaikan pertanyaannya, mulut Rena langsung disumpal oleh kain hingga membuatnya pingsan dan terjatuh ke dalam pelukan pria di depannya.
"Hehe, siapa sangka ini akan begitu mudah? Dan juga… tubuhnya begitu menggoda untuk seukuran anak SMA! Bukankah begitu, teman-teman?" Ucapnya sambil menatap tubuh Rena penuh gairah, yang tak lama kemudian mendapatkan sahutan dari pria lainnya.
"Kau benar… sepertinya kita akan bersenang-senang malam ini!" Ucap salah satu pria sambil menjilati bibirnya.
"Hei! Tapi kalian tidak boleh melakukannya sekarang! Jika tidak bos akan marah kepada kita!" Lanjut satunya dengan sedikit berteriak.
"Ya, ya, kau benar. Aku sedikit kesal karena pria itu ingin menikmatinya lebih dulu, padahal kita yang menangkapnya!"
"Mau bagaimana lagi? Kita juga dibayar olehnya,"
Setelah percakapan itu, mereka langsung kembali ke dalam mobil hitam sambil mengangkat tubuh Rena yang sedang tidak sadarkan diri.
***
__ADS_1
Sekarang saya akan update setiap malam, tidak seperti sebelumnya yang selalu update chapter tengah malam.
Juga, besok saya akan update empat chapter, sekaligus menebus ganti rugi karena hari ini dan sebelumnya hanya update satu chapter.