Pesona Sang Pemilik Sistem

Pesona Sang Pemilik Sistem
Chapter:26


__ADS_3

Sebelumnya, pada saat Sintia naik ke taksi yang ia pesan secara online. Dia bisa mencium aroma tak sedap saat sedang duduk di kursi penumpang. Namun, Sintia tak mempedulikannya dan tetap berfokus pada jalanan yang kini telah sepi kendaraan.


Semuanya semakin menegang ketika taksi berhenti di pinggir jalan, awalnya Sintia melakukan protes kepada supir taksi tersebut. Namun tak lama kemudian muncul beberapa pria menghampiri taksi yang sedang ditumpangi olehnya. Dia semakin terkejut ketika pintu taksinya di buka dengan mudahnya oleh mereka.


Tak siap untuk bertarung, Sintia langsung di berikan pil secara paksa. Ketika pil tersebut tak sengaja tertelan olehnya, Sintia baru bisa lepas dari kekangan tersebut, kemudian memasang kuda-kuda bertarung. Namun, tak lama kemudian tubuhnya semakin kehilangan tenaga dan semakin memanas, yang pada saat itu dipikirkan olehnya hanyalah hasrat akan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.


Dengan begitu, dirinya dipermainkan oleh mereka, tubuhnya diraba dan bahkan mulutnya hampir dicium oleh mereka. Namun, dengan kesadaran yang masih tersisa sedikit, Sintia mencoba untuk terus memberontak, hingga pada akhirnya muncul Arvin yang berhasil menghabisi mereka semua.


Melihat kehadiran Arvin, tentu saja membuat hatinya bahagia. Dia tidak pernah membayangkan jika dirinya akan diselamatkan oleh seseorang ketika masih menyandang gelar sebagai pesilat yang hebat. Meski begitu, ini kali pertama dia melihat pembantaian sepihak seperti yang dilakukan oleh Arvin. Begitu kejam dan tanpa ampun.


"Lalu, kenapa kamu pulang ke arah yang salah?" Tanya Arvin membuat Sintia menjadi sedikit gelisah, namun ketika dibujuk beberapa kali, akhirnya dia berkata jujur.


"Emm... jadi sebelumnya, aku selalu di telfon oleh ayah yang terus-menerus memintaku untuk segera pulang dan menemui pria yang akan dia kenalkan kepadaku. Ini bukan kali pertama dia melakukan semuanya, bahkan aku saja sampai muak mendengarnya.


Niat aku untuk pulang tak lain karena ingin menegaskan jika aku masih belum ingin menikah, dan jika memang akan menikah, aku ingin memilih pria idamanku sendiri. Namun sesuatu yang tak terduga tejadi, bukan hanya akan kehilangan kesucian, tapi aku pastinya akan kehilangan akal sehat jika kamu tak tepat waktu untuk menyelamatkan ku... Anu... terimakasih."


Mendengar penjelasan dari Sintia, lambat laun Arvin memahami kondisinya. Semua itu ternyata tak jauh dari perkiraannya, ayah Sintia tak kalah egois dengan mendiang ibunya. Dengan lembut Arvin memegang tangan Sintia, kemudian tersenyum lembut kepadanya.


"Tenang saja, aku akan membantumu jika kamu mau!" Ucap Arvin sambil menggenggam erat tangan Sintia.


Untung saja saat ini Maria sedang berada di kamar mandi, sehingga momen romantis mereka tak terganggu. Melihat senyuman Arvin, entah kenapa hati Sintia sangat berdebar, dia ingin segera mengalihkan pandangannya, namun sayang jika harus melewatkan momen ini.


"B-begitu, ya...? Apakah itu tidak apa? Dan juga... bagaimana caranya kita melakukan semua itu?" Pertanyaan Sintia merujuk pada masalah utamanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus berpikir keras? Kenapa tidak kita buktikan saja kepada ayahmu jika kamu telah menemukan pria yang telah kamu cintai!" Arvin tersenyum lebar saat mengungkapkan itu.


Memahami apa maksud dari Arvin, perlahan wajah Sintia berubah menjadi merah merona. Mulutnya hampir berteriak, namun segera Arvin menempelkan mulutnya dengan mulut Sintia. Hal ini wajib dilakukan untuk sebagai tanda jika Arvin telah menerima wanita itu sebagai kekasihnya.


Itu karena dia melihat notifikasi bahwa Sintia telah sepenuhnya mencintainya, karena itu juga Arvin berani melakukan hal seperti ini kepadanya. Dengan kondisi yang benar-benar kacau dalam artian baik, Sintia menerima tindakan Arvin dengan lapang dada, meskipun dia merasa tersiksa karena hatinya terus berdebar.


Setelah melakukan itu, Arvin kembali ke posisi semula. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah cepat menuju ke arahnya.


Belum sempat untuk menoleh, Arvin telah diterjang oleh Maria yang melompat dan memeluknya penuh kehangatan. Sungguh, dia sangat ketakutan jika Arvin sampai di rebut oleh Sintia.


"Maria? Kamu selalu mengejutkan ku, tau!" Ucap Arvin sambil menerima pelukan dari Maria.


"Hehe... maafkan aku! Tapi aku benar-benar mengantuk, bagaimana jika kita tidur sekarang saja!?" Tanya Maria begitu antusias.


Merasa tak ada salahnya juga, Arvin mengangguk, "Baiklah. Tapi apakah kamu mengizinkan Bu Sintia untuk bermalam di sini?"


Pertanyaan Arvin tak hanya mengejutkan Maria, namun Sintia juga ikut terkejut. Dia tak pernah mengatakan akan bermalam di rumah Arvin, tapi kenapa?


"Ummm..." Maria menatap intens Sintia, lalu dirinya kembali menatap Arvin, "Apa dia akan tidur bersama dengan kita?" Tanya Maria begitu menggemaskan bagi Arvin.


Sambil terkekeh, Arvin mengelus kepala Maria sambil berkata, "Tidak... Dia akan tidur di kamar yang satunya lagi! Aku juga tak ingin ada seseorang yang mengganggu malam kita!" Kalimat terakhir Arvin sengaja untuk berbisik, tapi suaranya masih terdengar jelas oleh Sintia yang seketika merubah ekspresinya menjadi datar.


"Hei, kalian jangan tertawa ketika membicarakan ku secara terang-terangan seperti itu, ya!" Sintia merasa sedikit kesal ketika melihat Arvin dan Maria terkekeh sambil menatapnya.

__ADS_1


Setelah itu, mereka bertiga secara bergiliran masuk ke kamar mandi untuk membasuh kaki, tangan, dan juga menggosok gigi sebelum tidur. Meskipun Maria telah melakukannya, tapi dia tetap masuk ke kamar mandi untuk mengekor kepada Arvin.


Setelah bertukar "Selamat malam" mereka pun masuk ke kamar dan tidur dengan pulas. Bahkan bisa terlihat Arvin yang merasa nyaman ketika dirinya dan Maria saling berpelukan untuk melewati malam. Sungguh, pemandangan itu tak cocok untuk pelajar seperti mereka.


***


Matahari terangkat ke atas, menunjukkan eksistensi nya sambil memancarkan cahaya hangat yang berhasil menembus sela-sela jendela dari kamar Arvin. Dia terbangun, matanya belum terbuka sepenuhnya, namun dia bisa merasakan jika Maria masih berada di dalam pelukannya.


"Selamat pagi, sayang!" Ucap Maria ketika melihat Arvin telah terbangun, dia mencium kening Arvin sebagai ciuman selamat pagi.


"Selamat pagi juga, Maria." Dengan lemah Arvin menjawab, setelah itu dia duduk dan menggosok keduanya matanya. Butuh waktu yang cukup lama untuk Arvin selesai dalam pengumpulan nyawanya.


Setelah itu mereka berdua keluar kamar, begitu juga dengan Sintia yang sama-sama baru terbangun. Mereka berpapasan di depan pintu masing-masing, kemudian kembali bergiliran untuk ke kamar mandi. Selesai dengan itu, Arvin dibantu oleh Maria membuat sarapan untuk dimakan oleh mereka bertiga sebelum berangkat sekolah.


Sebenarnya Sintia ingin untuk membantu, namun dia jelas mendapatkan penolak dari mereka berdua. Apalagi Maria yang tak terima ada pengganggu ketika dirinya menikmati waktu bersama dengan kekasihnya.


Selesai sarapan, mereka langsung pergi bersama menuju sekolah. Namun sebelum itu, Arvin sempat melakukan perjanjian dengan Sintia untuk pergi sepulang sekolah. Tentu saja Sintia mengetahui tujuan dari Arvin, pasalnya mereka berdua telah sepakat untuk pergi ke rumah orang tua Sintia.


Arvin berencana untuk pergi tanpa diketahui oleh Maria. Namun dirinya sempat izin kepada Maria untuk bekerja paruh waktu di mini market milik pamannya. Dia juga baru sadar telah lama meninggalkan pekerjaannya tanpa memberikan sedikitpun kabar kepada pamannya itu.


****


Chapter ini sudah saya revisi, jika memang masih ada yang typo atau keliru. Mohon beritahu saja. Sungguh, kalian ini terlalu baik karena tak pernah memberikan kritikan kepada saya. Emmm, terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2