Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.12 Laura


__ADS_3

"Chilla?" Raut kaget sekaligus malu tergambar jelas di wajah Alle. Ia melirik kembali bosnya sembari nyengir, takut akan terjadi salah paham.


Anak kecil yang tak tahu arti dari kekagetan mamanya itu hanya menjawab dengan entengnya, "Chilla cuma mau papa untuk Cherry." Anak itu mengambil boneka Barbie yang ada di sampingnya dan menunjukkannya pada Alle juga Aksa.


Begitu melihat Cherry, Alle merasa tenang. Ternyata semua tak seperti yang ia pikirkan. Ketakutannya tentang sosok papa yang pasti akan Chilla tanyakan belum terbukti. Selama ini, Chilla hanya bertanya di mana papanya. Kenapa Chilla tak pernah melihatnya. Kenapa papanya tidak tinggal serumah seperti papa temannya. Masih seputar itu dan Alle masih bisa menjelaskan sebatas pemahaman anak seusia Chilla.


Meski membohongi anaknya tapi Alle tak pernah menyembunyikan seperti apa wajah mantan suaminya. Potret kebersamaan Fadil dan Chilla semasa bayi masih ia simpan sebagai kenangan untuk putrinya. Bagaimanapun Chilla berhak tahu soal Fadil.


"Chilla mau beli boneka lagi?" tanya Alle. "Nanti ya, kalau Chilla sudah sembuh kita beli boneka lagi."


Chilla hanya bisa mengangguk patuh.


"Maaf, Pak," ujar Alle. "Oh, ya, Bapak mau minum apa, biar saya belikan."


"Nggak usah," tolak Aksa. "Aku sudah mau pulang."


Aksa menatap Chilla yang juga memperhatikan dirinya. "Om pulang dulu, ya. Maaf, Om tidak membawa apa pun untuk kamu, tapi lain kali kalau kita bisa bertemu lagi, kamu boleh minta apa saja pada Om."


Mata Chilla berbinar mendengar apa yang Aksa ucapkan. "Beneran, Om?"


Aksa mengangguk. Pria itu kemudian berdiri dan mengusap kepala Chilla. "Cepet sembuh, ya, nanti Om ajak kamu jalan-jalan."


Kali ini bukan hanya mata Chilla yang berbinar, senyumnya juga merekah. "Terima kasih, Om."


Aksa pamit pada Alle sebelum meninggalkan ruang perawatan Chilla. Tadinya Alle mau mengantar Aksa sampai ke parkiran tapi pria itu menolaknya dengan alasan menjaga Chilla lebih penting.


Dari rumah sakit Aksa putuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Mamanya sejak pagi menelepon agar anaknya pulang malam ini.


Sampai di rumah orang tuanya, Aksa disambut oleh mamanya yang terlihat bahagia. "Aksa, Mama pikir kamu bakalan pulang malam, tapi Mama seneng sih kamu udah pulang." Sekar memeluk putranya tersebut.


"Papa, mana?"


"Biasa, main badminton sama Pak Surya." Raut Sekar berubah kesal seketika mengingat kepergian suaminya tadi. Padahal sudah dilarang karena nanti akan ada tamu, tapi suaminya itu nekat pergi tanpa ijinnya. "Ayo duduk, biar Mbok yem ambilkan minum."


"Ma ... Itu rendangnya sudah matang, ma_____" Laura yang muncul dari dapur kaget ketika melihat ada Aksa di ruang tamu. Ia bahkan langsung terdiam.


Sama dengan Laura, Aksa juga sama kagetnya mendengar suara wanita yang akan dijodohkan dengannya mendadak muncul dari dapur mamanya. Dan, apa dia bilang tadi, rendangnya sudah matang?


"Apa maksudnya ini, Ma?" Aksa mendelik menatap Sekar.

__ADS_1


"Nanti aja ceritanya," elak Sekar. "Laura, kamu buatkan minuman dulu untuk Aksa, ya."


Laura yang masih berdiri di dekat dapur mengangguk mengiyakan.


Kini Aksa yang kesal. Pasti mamanya sudah mengatur semuanya. Bersikap tak acuh, Aksa langsung meninggalkan mamanya dan naik ke lantai atas menuju kamar.


"Aksa, mau ke mana, kamu?"


"Tidur," jawab Aksa asal.


Sekar menggeleng-gelengkan kepala. Tidak percaya. Putranya itu tidak mungkin tidur di jam seperti ini.


"Ini, Ma, minumnya." Laura datang dengan nampan dan segelas minuman dingin.


"Kamu antar ke kamar Aksa, ya. Kamu sudah tahu 'kan, kamarnya?"


"Tapi, Ma. Laura ...."


"Sudah, tidak apa-apa, antar saja. Pasti Aksa sudah menunggu."


Tak bisa lagi membantah, Laura ikuti apa yang Sekar mau. Ia mulai meniti tangga untuk sampai ke kamar yamg tadi siang Sekar tunjukkan sebagai kamar Aksa.


Satu tangannya mengetuk pintu kamar bercat hitam tersebut.


"Ma-maaf, Kak, aku nggak tahu kalau Kakak sedang ganti baju." Laura memutar tubuhnya agar tak melihat penampakan tubuh atletis Aksa.


"Ada apa?" tanya Aksa setelah memakai kaus hitam menggantikan kemejanya.


"Ini, aku bawa minuman buat Kak Aksa."


"Taruh saja di meja."


Hati-hati Laura memutar tubuhnya. Aman. Aksa sudah memakai kausnya. Ia pun berjalan menuju meja yang di maksud oleh Aksa.


"Aku permisi, Kak," ujar Laura setelah menaruh minuman itu.


"Tunggu," sergah Aksa ketika Laura hampir membuka pintu.


"Apa mama yang memintamu kemari?"

__ADS_1


"Iya, Kak." Laura terlihat takut dengan sorot mata Aksa yang selalu berhasil mengintimidasinya.


"Untuk apa?"


Laura bingung. Haruskah ia jujur. Tapi tadi Sekar melarangnya untuk memberitahu Aksa.


"Ehm ... itu, Kak ... Ehm ...."


"Untuk membuat hubungan kita semakin dekat, begitu?" tebak Aksa tepat sasaran.


Tak ada pilihan. Laura mengangguk.


"Keluarlah!"


Gadis belia itu keluar dengan raut sedih. Belum juga menjadi istri, tapi sikap Aksa sudah begitu dingin. Pria itu seolah tak memberi Laura kesempatan untuk mendekatkan diri. Aksa memasang benteng yang kokoh yang tak bisa Laura tembus.


Lalu, bagaimana ia akan menjalani pernikahannya nanti. Laura sadar benar jika dirinya bukanlah tipe wanita idaman seorang Aksara Bumi, tapi paling tidak ia ingin diberi kesempatan untuk membuat pria itu melihatnya.


Laura bahkan sudah bisa menerima Aksa dengan segala pemberitaan tentang pria itu. Sebab itulah ia tidak menolak ketika akan dijodohkan dengan Aksa.


Tidak terasa, air mata gadis itu meleleh di pipi. Namun ia segera menghapusnya saat dering ponselnya berbunyi.


"Halo," sapa Laura pada orang di seberang.


"Aku baik," jawab Laura ketika orang di sana menanyakan kabar.


"Aku belum tahu kapan akan kembali, sekarang aku sedang berada di rumahnya. Tante Sekar mengatur pertemuan keluarga ini untuk membicarakan perjodohan kami."


"Aku sudahi telponnya, ada Tante Sekar." Laura buru-buru mematikan panggilan ketika melihat kedatangan Sekar.


"Lho, Sayang, kok kamu masih di sini. Mama pikir kamu nemenin Aksa di dalam," ujar Sekar yang melihat Laura berdiri di depan pintu kamar Aksa.


"Enggak, kok, Ma. Kak Aksa sibuk dengan pekerjaannya," bohong Laura.


Sekar menghela napas kasar. "Dasar anak itu, tidak bisa sedetik saja lepas dari urusan pekerjaan. Ya sudah, kita turun saja. Kita siapkan semuanya sebelum orang tua kamu datang."


Laura mengikuti Sekar yang kembali turun ke dapur. Ia mempersiapkan segala menu yang tadi ia masak bersama Sekar. Sejujurnya Laura paham betul apa yang diinginkan Sekar dengan acara masak bersama ini. Sekar ingin membuat citra diri Laura di depan Aksa meningkat. Bukan gadis manja seperti yang dulu Aksa kenal.


Laura bukanlah orang baru dalam hidup Aksa. Mereka kenal bahkan sejak Laura kecil. Dulu, sikap Aksa tidak sedingin ini pada Laura tapi sejak muncul ide perjodohan di antara mereka Aksa justru mulai membuat jarak. Pria itu sejak awal tidak pernah setuju dengan perjodohan ini, tapi Laura malah mengiyakan apa yang orang tua mereka inginkan.

__ADS_1


Katanya demi menjaga persahabatan agar semakin kuat terjalin. Dari hubungan pertemanan lalu menjadi besan.


Ah, tapi Aksa tidak sebodoh itu untuk mengatakan setuju.


__ADS_2