
Setelah semalaman Alle memikirkan perkataan Aksa tentang ungkapan hati pria itu kemarin dan belum juga bisa memutuskan, kini ia dihadapkan kembali pada mantan suaminya yang sangat ingin mengajak Chilla kembali menginap di rumah pria itu.
"Ayo, Sayang, Papa sudah nunggu itu," bujuk Alle pada Chilla yang terus saja memeluk dirinya seakan enggan berpisah.
"Bukannya dulu, Chilla seneng banget pas mau diajak Papa ke rumah besar Papa," imbuhnya.
Sejak tadi Chilla merajuk tak mau diajak Fadil untuk menginap di rumah mantan suaminya itu. Ketika ditanya, Chilla tak memberikan alasan, hanya bilang tidak mau menginap lagi di rumah papanya.
"Chilla, ayo, nanti Papa belikan Chilla mainan. Chilla mau 'kan beli mainan di mall seperti dulu," bujuk Fadil.
Chilla tetap menggeleng tidak mau ikut dengan Fadil meski sudah dibujuk dengan berbagai cara.
"Chilla di sini saja sama Mama," ucap Chilla menatap mamanya.
"Apa Chill nggak kangen sama kakek dan nenek. Bukannya Chilla seneng ketemu kakek sama nenek." Fadil masih berusaha membujuk putri kecilnya tersebut.
Chilla menggeleng.
Gelengan kepala Chilla membuat Fadil menatap tajam pada mantan istrinya. Dalam hati pria itu, ia berpikir jika ini pasti sudah direncanakan oleh Alle. Mantan istrinya itu pasti sudah meracuni pikiran Chilla agar tidak mau ikut bersama dengannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" ujar Fadil pada Alle.
Alle mengangguk. Ia pun memberikan Chilla pada Mbak Imas agar dibawa masuk ke kamar.
"Mau bicara apa?" tanya Alle setelah memastikan Chilla masuk ke kamar.
"Ini semua pasti rencana kamu, kan?" tuduh Fadil tanpa basa-basi.
"Apa! Maksud Mas Fadil apa?"
"Kamu pasti sudah mempengaruhi Chilla agar dia tidak mau ikut denganku, benar, kan?"
"Tuduhan Mas Fadil nggak berdasar!"
"Tidak berdasar dari mana, jelas-jelas kamu ingin menguasai Chilla sendiri. Kamu sudah mempengaruhi pikirannya agar dia menolak untuk ikut denganku karena kamu takut kalau Chilla akan jadi dekat dengan ku juga keluargaku, bukan."
Alle tersenyum sinis. "Aku tidak pernah punya pikiran licik seperti itu, Mas. Aku mengijinkan Chilla ikut denganmu dan juga dekat sama kamu karena aku menghargai kamu sebagai papanya. Aku tidak pernah ingin memutuskan hubungan antara ayah dan anak karena aku sadar jika hubungan kalian tidak akan pernah bisa dipisahkan."
"Alasan! Semua pasti sudah kamu rencanakan!"
__ADS_1
"Terserah Mas Fadil mau berpikir apa, tapi apa yang Mas Fadil tuduhkan itu semua tidak benar!" Sama kerasnya dengan Fadil Alle pun tak akan mau dituduh seenaknya.
"Kalau begitu, bujuk Chilla untuk ikut dengan ku. Kalau tidak, aku akan menjadikan ini alasan untuk memenangkan hak asuh atas Chilla, bahwa kamu menghalang-halangi aku untuk dekat dengan anakku sendiri."
"Benar-benar keterlaluan kamu, Mas!" Geram dengan sikap Fadil, Alle meninggalkan pria itu begitu saja dan masuk ke dalam kamar.
Di sana Chilla dan Mbak Imas sedang bermain boneka. Melihat Chilla rasanya tak tega jika harus memaksa anaknya itu, tapi mengingat ancaman Fadil ia tak mau jika Fadil menjadikan kejadian ini sebagai senjata nanti di pengadilan. Selama belum ada putusan, Alle masih harus berhati-hati dengan Fadil.
Segala bujuk rayu Alle kerahkan untuk membujuk putri kecilnya agar mau ikut Fadil dan menginap di rumah mantan suaminya itu semalam saja.
"Ayo, Sayang, besok Mama jemput. Ok. Semalam aja di rumah Papa, mau, ya. Kakek sama nenek udah kangen banget sama Chilla soalnya. Mau ya, Sayang," bujuk Alle.
Chilla menggeleng keras, tapi melihat mamanya yang begitu memohon membuat anak itu bimbang.
"Ayo Mama gendong." Alle menggendong Chilla dan membawanya ke ruang tamu. Di sana Fadil masih menunggu.
"Tuh, Papa masih nungguin. Kata Papa, nanti mau dibeliin mainan yang banyak banget. Chilla suka 'kan belanja mainan."
Chilla tetap menggeleng.
"Ayo Chilla, nenek sama kakek juga tante Mira sudah menunggu Chilla, lho. Tadi katanya tante Mira masak spesial buat Chilla. Yuk Sayang, nanti keburu malam. Tuh di luar mendung juga. Ayo kita berangkat sebelum hujan." Fadil tak menyerah.
"Mas, lebih baik lain kali aja, mungkin mood Chilla lagi nggak bagus."
"Chilla, ayo, ikut Papa." Tidak mendengarkan apa yang Alle katakan, Fadil masih bersikeras membujuk Chilla.
"Ayo sayang, nanti kita mampir beli es krim dulu sebelum ke rumah Papa. Chilla mau, kan?" imbuh Fadil.
Chill justru melengos tak mau menatap Fadil.
"Assalamualaikum."
Suara seseorang yang Chilla kenali membuat anak kecil itu langsung menoleh.
"Om, Bos!" seru Chilla. Ia segera turun dari gendongan Mamanya dan berlari pada Aksa yang baru tiba.
"Lho ... lho ... kenapa ini, Om baru datang kok sudah main peluk aja. Kangen, ya, sama Om," gurau Aksa.
"Om, ayo bawa Chilla pergi. Chilla nggak mau ikut Papa, tapi Mama sama Papa maksa Chilla terus." ujar Chilla jujur.
__ADS_1
Aksa masih belum tanggap maksud omongan gadis kecil itu hingga ia menatap Alle dan bertanya melalui sorot matanya.
"Chilla, ayo sini Sayang sama papa." Fadil berusaha menarik Chilla.
Akan tetapi Chilla justru berpegangan erat pada kaki Aksa agar tak terlepas. Terlihat sekali jika Chilla benar-benar tak ingin ikut dengan papa kandungnya.
"Mas, sudah, jangan paksa Chilla. Dia tidak mau ikut sama kamu hari ini. Kamu bisa jemput dia lagi lain kali," Alle sedikit menaikkan nada bicaranya. Tak tahan melihat sikap Fadil yang seakan memaksa Chilla.
"Om, bawa Chilla pergi dari sini," pinta Chilla sekali lagi.
Kembali Aksa menatap Alle. Ia melihat raut kesal dari sekretarisnya itu. Pasti ditujukan untuk sang mantan. Mereka berdua terlihat sama-sama tegang.
"All, boleh aku bawa Chilla?" Bagaimanapun Aksa harus meminta ijin dari orang tua Chilla agar tak menambah masalah di kemudian hari.
"Ayo, Om, pergi," rengek Chilla.
Alle ragu untuk memutuskan karena ada Fadil di sana, tapi setelah memikirkan kebaikan Chilla, ia pun mengangguk setuju.
Fadil tak terima dengan persetujuan Alle. "Apa maksud kamu memberikan ijin Chilla pergi dengan dia. Aku yang lebih berhak karena aku adalah papanya!" protes Fadil.
"Pak Aksa, tolong jaga Chilla sebentar, ya."
Tak menunggu lama Aksa mengajak Chilla keluar dan naik mobil. Ia biarkan kedua orang tua Chilla itu menyelesaikan dulu masalah mereka.
"Bisa tidak Mas Fadil itu menjaga perasaan Chilla," ujar Alle setelah sebelumnya mengabaikan protes Fadil.
"Kamu memang kelewata! aku papanya Chilla, kamu bukannya membujuk Chilla agar ikut dengan ku malah menyuruh Chilla pergi dengan bosmu itu. Apa ini juga bagian dari rencanamu untuk mendekatkan mereka agar kalian bisa segera mensahkan hubungan gelap kalian."
"Mas Fadil!" teriak Alle tak mampu lagi menahan semua tuduhan.
"Kenapa, memang benar bukan kalau kamu itu hanya jadi simpanan bosmu!"
Tak bisa lagi terima, Alle melayangkan satu tamparan keras pada Fadil. Hingga wajah pria itu berpaling.
"Keluar, Mas. Dan jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi!" usir Alle.
Fadil masih memegangi pipinya yang terasa panas. Sorot matanya tajam menatap murka pada apa yang baru saja Alle lakukan. Ini pertama kalinya wanita yang dulu sangat ia kenal itu menamparnya.
"Keluar, aku bilang!" teriak Alle lagi.
__ADS_1
Fadil hanya bisa menatap marah meninggalkan rumah yang dulu ia beli ketika akan berumah tangga dengan Alle. Menahan panas dan perih di pipinya, juga sakit hati yang ia rasa.