Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab. 46 Tak Akan Lagi Mengusik


__ADS_3

Hari sudah cukup larut ketika Fadil sampai di rumah Alle. Tepat ketika Alle diantar pulang oleh Aksa.


Alle kaget melihat kedatangan Fadil dengan istrinya. Seketika banyak tanya bergelut dalam otak. Bukankah seharusnya Chilla pulang besok.


"Ada apa dengan Chilla, Mas?" tanya Alle panik. Ia takut terjadi sesuatu dengan putrinya sebab itulah Fadil memulangkan Chilla lebih cepat.


"Tidak ada apa-apa," jawab Fadil menggendong Chilla yang sudah tidur. Matanya melirik pada Aksa yang berdiri bersama mantan istrinya.


Alle menarik napas lega mendengar Chilla baik-baik saja.


"Tolong bukakan pintu, aku akan menidurkan Chilla."


"Iya, Mas." Alle segara membuka pintu dan mempersilakan semua masuk.


Fadil dengan sigap membawa Chilla ke kamar. Ia merebahkan anak kecil itu di atas ranjang. Mencium kening Chilla berkali-kali sebab tidak tahu kapan lagi bisa bertemu dengan putri kandungnya itu.


Ucapan maaf lirih terucap di bibir Fadil. Rasa bersalah karena tak bisa mempertahankan Chilla untuk tinggal bersama bergelayut dalam hati. Namun, Fadil segera menepis semua dan meninggalkan kamar Chilla sebelum ia semakin emosional.


"Kami akan menyerahkan Chilla padamu, setelah hari ini kami juga akan mencabut tuntutan atas hak asuh Chilla. Kami tidak ingin memperpanjang lagi urusan hak asuh atas Chilla," ujar Mira begitu Fadil keluar dari kamar.


Ucapan istri Fadil itu membuat Alleyah tercengang. Antara senang dan tidak percaya.

__ADS_1


"Mas Fadil tidak lagi menginginkan hak asuh atas Chilla, jadi kamu bisa hidup tenang mengasuh chilla. Iya, 'kan, Mas?"


Alle menatap Fadil. Mencari kebenaran kata-kata Mira.


"Iya, All. Aku tidak akan lagi mengusik hak asuh Chilla. Chilla memang lebih pantas tinggal denganmu dan kamu lebih berhak juga atas Chilla. Maaf sudah membuat hidupmu terganggu."


"Maksud Mas Fadil?" Alleyah masih tidak percaya.


"Pengacaraku akan mengurus semua berkas di pengadilan. Kamu bisa hidup tenang mulai sekarang," jawab Fadil.


"Ini serius, Mas?"


"Tentu saja. Kami tidak akan lagi mengganggu hidupmu," sambung Mira meyakinkan.


"Pak ...." Alle tak bisa berkata-kata tapi sorot bahagia tak mampu Alle sembunyikan.


Aksa tersenyum. Turut bahagia mendengar kabar yang disampaikan mantan suami Alle tersebut.


Fadil menyaksikan semua. Melihat bahwa hubungan sang mantan istri dengan bosnya bukan sekadar hubungan atasan dan bawahan. Binar yang terpancar dari keduanya menyiratkan jika mereka berdua memiliki sebuah ikatan yang lebih.


Mira yang melihat kecemburuan di mata suaminya segera mengajak pulang. "Ayo, Mas, kita pulang. Semua sudah selesai."

__ADS_1


Fadil menurut saja apa kata Mira. Setidaknya Mira telah menyelamatkan hati Fadil dari api cemburu.


Konyol memang ketika Fadil masih memiliki rasa cemburu pada mantan istri. Terlebih sampai dilihat oleh Mira.


"Tolong jaga Chilla baik-baik," pesan Fadil sebelum meninggalkan Alle.


Alle mengangguk. "Tentu, Mas."


"Mas ...," panggil Mira. Menyadarkan Fadil agar menyudahi tatapan untuk sang mantan istri.


"Kami pulang dulu," pamit Fadil akhirnya.


"Doa saya terkabul, Pak. Chilla tetap akan ada bersama saya. Chilla tidak akan meninggalkan saya," ujar Alle setelah Fadil dan Mira meninggalkan rumahnya.


"Setelah ini saya akan berbagi sedikit rejeki ke panti asuhan. Saya ingin berterima kasih untuk mereka yang sudah membantu mendoakan saya agar tetap bisa bersama Chilla."


Diam-diam Alle sering mengunjungi panti asuhan. Meminta doa dari anak-anak penghuni panti agar ia tetap bisa bersama Chilla.


"Aku juga akan ikut. Aku juga mau berbagi rejeki karena akhirnya aku bisa menaklukkan wanita dingin sepertimu."


Alle mendongak. Mendelik menatap Aksa.

__ADS_1


"Bercanda. Aku ingin berbagi juga karena akhirnya kita akan menikah." Aksa memberikan sebuah pelukan diujung kalimat.


Mereka berdua sama-sama tersenyum. Bahagia dengan takdir Tuhan hari ini.


__ADS_2