Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.26 Berenang


__ADS_3

Alle segera menarik tangannya. Ia tak ingin menimbulkan apa pun termasuk fitnah. Untung saja makanan pesanan mereka segara datang dan Alle bisa berpura-pura tak terjadi apa pun dengan menyibukkan diri menyuapi Chilla.


Usai makan siang, mereka keluar dari kebun binatang. Perjalanan berikutnya menuju ke sebuah tempat wahana bermain air.


Baru juga sampai, Alle sudah dibuat kaget ke mana Aksa membawanya. Pasalnya tiket masuk ke wahana ini tidaklah murah. "Pak, Bapak serius ngajak kami ke sini?" Alle seakan tak percaya.


"Kenapa?"


"Sebaiknya kita pulang saja, Pak. Saya dan Chilla tidak usah berenang di sini," ajak Alle. Ia bahkan sudah menarik tangan Aksa, yang mana Aksa menggandeng Chilla.


"Memangnya kenapa?" Aksa bingung.


"Sudah kita pulang saja. Ayo, Chilla," kekeuh Alle.


"Tunggu!" Aksa menghentikan langkah mereka yang baru berjalan tiga langkah. "Kenapa kita harus pulang. Chilla ingin berenang. Iya, kan, Chilla?"


"iya, Ma, Chilla mau berenang," rengek Chilla.


"Chilla, lain kali saja kita berenangnya, ya. Nggak di sini. Di sini tiketnya mahal, Sayang," ujar Alle jujur.


Aksa mengembuskan napas kasar. Jadi yang dipikirkan sekretarisnya sejak tadi adalah biaya masuknya.


"Aku tidak menyuruhmu membayar jadi tenang saja," ujar Aksa.


"Tapi, Pak, tetap saja di sini harga tiketnya mahal. Sayang uangnya kalau hanya untuk berenang. Nanti saya ajak Chilla berenang ke tempat biasanya saja. Di sana tiketnya lebih murah. Toh, sama-sama cuma mau main air," Alle bersikeras.


Aksa menepuk jidatnya sendiri. "Aku tidak keberatan membayar tiket masuk. Lagi pula kalau aku harus menyewa tempat ini hanya untuk Chilla aku juga mampu. Kamu jangan punya pikiran seolah-olah aku ini pria tidak punya uang saja."


"Loh, kok Bapak jadi marah. Harusnya Bapak senang karena uang Bapak tidak habis hanya untuk membeli tiket yang sangat mahal ini."


"Alleyah! Dengar, ya! uangku tidak akan habis dan aku tidak akan jatuh miskin hanya karena membeli tiga tiket masuk ke wahana ini! camkan itu!" Aksa sampai menunjuk muka Alle.


Pria itu kemudian berlalu meninggalkan Alle dan mengajak Chilla untuk segera membeli tiket. Mau tak mau Alle pun berlari mengejar keduanya agar bisa masuk.

__ADS_1


Alle dan Chilla langsung menuju tempat ganti baju. Sebelumnya mereka membeli baju yang akan mereka pakai untuk berenang kali ini sebab dari rumah Alle tidak mempersiapkannya. Begitu pun dengan Aksa.


Tujuan pertama mereka adalah wahana seluncur air. Chilla sangat ingin naik ke sana, padahal Alle tidak dapat berenang. Alhasil, Aksa lah yang menemani Chilla untuk bisa main seluncur air.


Raut bahagia terlihat jelas di wajah Chilla ketika anak itu meluncur dari ketinggian. Teriakan suka cita menjadi ekspresi yang membuat Aksa turut bahagia. Sebelumnya ia tidak pernah sedekat ini dengan anak kecil.


"Mama ... Mama harus coba naik ke atas sana. Seru, Ma." Chilla bercerita dengan antusias.


"Enggak, ah ... Mama takut." Alle beralasan.


"Yah, Mama penakut. Padahal kan seru. Iya, kan, Om."


Aksa mengiyakan omongan anak kecik itu.


Capek bermain seluncur air, Chilla memilih menghabiskan waktunya sebelum pulang untuk main-main air di kolam yang tidak terlalu dalam. Sedangkan Alle memilih mengawasi putrinya tersebut dari pinggiran kolam ditemani oleh Aksa.


"Terima kasih, Pak," ujar Alle. Tatapannya tak beralih dari mengawasi Chilla yang bermain sendirian.


"Untuk?" Aksa menoleh menatap Alle.


"Maaf," ujar Aksa yang membuat Alle sekejap mengalihkan perhatiannya dari Chilla pada Aksa.


"Kenapa minta maaf?"


"Aku pasti sudah membuat waktu kebersamaan kalian terbuang. Aku selalu memintamu lembur tanpa peduli jika kamu punya seorang anak yang juga butuh perhatianmu." Rasa bersalah terdengar dalam ucapan Aksa.


"Itu bukan salah Bapak. Saya yang memilih menjalani semua. Kalau saya tidak mengambil jadwal lembur, saya tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan kami. Saya punya banyak tanggungan, Pak. Dari membayar angsuran rumah, memenuhi kebutuhan Chilla, membayar sekolahnya juga membayar pengasuh Chilla. Semua saya yang menanggungnya. Kalau saya tidak bekerja keras dan tidak mengambil lembur, saya tidak akan mencukupi semuanya." Alle bercerita dengan datarnya. Seolah kisah ini sudah sering ia ceritakan, sehingga tak ada ratapan atau tangis dalam ucapannya.


Justru Aksa yang baru menyadari betapa kisah hidup sekretarisnya tak seperti bayangannya. Dulu, ia tak pernah peduli dengan urusan pribadi wanita ini. Ia hanya terus memberi tugas dan Alle selalu menyanggupinya.


Aksa bahkan tidak pernah bertanya apakah pekerjaannya membebani sekretarisnya atau pun tidak. Yang ia ingin tahu adalah setiap ia memberi tugas, Alle harus bisa menyelesaikannya.


Ia pikir status janda atau lajang sama saja. Tak ada beda dalam pekerjaan hingga ia tak pernah memandang status. Baginya, siapa yang bisa ia ajak kerja sama tak peduli apa statusnya pasti akan ia hargai.

__ADS_1


Rupanya, status janda beranak satu yang disandang sekretarisnya sangatlah berbeda. Alle punya tanggung jawab yang besar pada dirinya dan juga Chilla. Wanita itu berjuang sendiri tanpa bantuan dari seorang pria atau pun mantan suaminya.


Cerita Alle membuka mata Aksa untuk bisa melihat Alle dari sisi yang berbeda. Jika dulu ia hanya melihat Alle yang patuh hanya karena uang, kini ia tahu kenapa sekretarisnya begitu mengejar uang. Rela bekerja lembur sampai malam dan mau melakukan apa pun yang Aksa minta tanpa keluhan. Semua demi Chilla— putrinya.


"Pak ... Pak Aksa!" Alle mengguncang bahu Aksa yang nampak melamun.


"I-iya, kenapa?" sontak Aksa kaget.


"Bapak mikirin apa, kok sampai melamun gitu?"


"Mikirin kamu," jawab Aksa jujur.


Alle justru mencibir. Tak percaya pada apa yang Aksa ucapkan.


"Serius, aku memang mikirin kamu." Aksa meyakinkan. Kini pria itu lebih lekat menatap Alle yang berada di sampingnya.


Beberapa saat Alle diam. Lama-lama tidak tahan juga dilihat oleh bosnya dengan tatapan yang tak biasa.


Kesal karena Aksa tak segera mengalihkan perhatian, Alle mengambil air dalam kolam dan menyipratkannya ke wajah pria itu.


"Kamu!" Aksa menunjuk Alle yang berani membasahinya.


"Habisnya Bapak nggak berhenti melamun."


"Melamun kamu bilang!"


Alle mengangguk, karena seperti itulah yang Alle lihat.


"Ok, kamu sudah berani sama bos kamu. Sekarang kamu rasakan ini!" Aksa yang tak terima membalas apa yang Alle lakukan. Ia pun mengambil air dan memercikkannya pada Alle. Mereka bak dua anak kecil saja. Saling membasahi dengan air tanpa ada yang mau mengalah. Hingga teriakan seseorang menghentikan apa yang mereka lakukan.


"Ada yang tenggelam!"


Mendengar kata itu, spontan Alle berhenti. Matanya langsung mencari keberadaan Chilla. Tidak ada!

__ADS_1


Alle bangun. Panik, berlari menuju sumber suara yang masih terus memanggil bantuan. Matanya membelalak sempurna melihat anak kecil yang sedang berjuang agar tidak semakin masuk ke dalam air.


"Chilla!" teriak Alle.


__ADS_2