
Kemarin Aksa langsung mengantar Alle pulang, tapi dengan syarat hari minggu ini Alle harus datang ke apartemennya. Karena Chilla sedang tidak ada di rumah, Alle pun memutuskan untuk tugas lembur ini. Biasanya upah lembur yang diberikan bosnya ini sangat lumayan apa lagi jika dikerjakan di hari libur.
Pagi-pagi sekali Alle datang bersama petugas kebersihan yang ia sewa untuk membersihkan apartemen bosnya. Saat ini, Aksa sendiri sedang ada janji dengan kolega bisnisnya untuk bermain golf. Acara yang dulu sempat Alle agendakan tapi mendadak dibatalkan sendiri oleh Aksa karena saat itu Aksa justru memilih pergi berlibur bersama Alle dan Chilla.
"Semua sudah selesai, Mbak," lapor petugas kebersihan.
"Kamar mandi sudah?" tanya Alle memastikan.
"Sudah, Mbak."
"Ruang Gym?"
"Sudah semua, Mbak."
"Ok, aku cek lagi, ya." Alle harus memastikan jika semua yang dikerjakan sudah sesuai keinginan bosnya. Untuk itulah ia berada di apartemen ini. Mengawasi kerja para petugas kebersihan. Semua harus sempurna seperti yang Aksa inginkan.
"Silakan, Mbak."
Alle yang tadinya berada di dapur karena mengisi kulkas dengan makanan ringan dan minuman yang ia bawa sebelum ke mari beralih ke ruang tamu.
"Kita mulai dari ruang tamu, ya."
Dua petugas itu mengikuti Alle dari belakang. Semua hal Alle lihat. Ia mengusap sebuah Buffett, memeriksa apakah ada debu yang masih menempel atau tidak. Ia juga menepuk-nepuk sofa, memastikan jika sudah benar-benar bersih. Setiap furniture ia cek apakah ada kotoran atau posisinya bergeser. Setiap detail Alle perhatikan.
Kemudian beralih ke dapur, ruang gym, ruang kerja dan terakhir di kamar pribadi milik Aksa. Kalau di kamar pribadi Alle yakin semua beres karena tadi Alle meminta yang pertama dikerjakan adalah kamar pribadi bosnya. Ia sendiri yang mengawasi sampai selesai, barulah mereka pindah ke ruang kerja, dan disusul ruangan lainnya.
"Baiklah, semua sudah ok. Terima kasih, ya."
"Kalau begitu kami pamit dulu, Mbak," ujar salah seorang dari petugas kebersihan.
Kini tinggallah Alle sendiri. Tak disangka jika membersihkan apartemen ini membutuhkan waktu lebih dari setengah hari. Kini ia tinggal menunggu jasa laundry agar segera bisa menata baju-baju bosnya itu ke dalam walk in closet.
Ia menelepon binatu langganan yang biasa mengurusi semua baju-baju Aksa. Katanya mereka akan mengirimkan dalam waktu dua jam lagi. Selagi menunggu, Alle merasakan perutnya lapar. Maklum belum diisi lagi sejak sarapan tadi.
Karena Aksa juga belum pulang, Alle menyempatkan diri untuk memasak mie instan di dapur. Tepat saat ia menuangkan mie dari panci ke dalam mangkok, saat itu lah pintu terbuka.
Aksa yang baru saja masuk langsung mencium aroma nikmat yang menguar dari bumbu mie instan. Ia langsung menuju ke dapur.
"Kamu masak?"
Sedikit tersentak tapi Alle langsung tahu siapa yang bertanya. Tentu saja bosnya, karena tidak akan ada orang lain lagi yang masuk apartemen ini selain pemilikmya sendiri.
"Eh, Bapak, kok sudah pulang. Bukannya setelah main golf, masih lanjut untuk coffe break, ya?"
"Pak Herdiyan mendadak mengeluh sakit di dadanya dan pingsan jadi semua dihentikan lebih awal. Ini juga aku pulang setelah mengantar beliau ke rumah sakit."
__ADS_1
"Oh ...." Alle mengangguk paham. "Tapi sekarang Pak Herdiyan baik-baik saja, kan, Pak?"
"Ya, sudah lebih baik karena mendapatkan penanganan dengan cepat."
"Masak apa kamu?"
"Eh ... ini, Pak. Mie instan."
"Kenapa mie instan?"
"Ya karena saya lapar, Pak. Seharian ngawasi petugas kebersihan sampai lupa kalau saya belum makan siang jadi saya masak mie biar cepet."
"Bawa sini mienya," perintah Aksa yang duduk di meja makan.
"Bapak, mau?"
"Enggak, kamu bawa ke sini mienya dan makan di sini." Menunjuk bangku kosong di meja makan.
Alle pun membawa mie yang tadi ia masak ke meja makan. Ia juga mengambil minum untuknya sendiri dan juga Aksa. Ketika ia akan duduk untuk menyantap mie terdengar bel berbunyi.
"Biar saya buka, Pak." Alle mengurungkan makannya dan memilih membuka pintu untuk tamu Aksa.
Aksa yang tidak tahan dengan aroma mie instans menggeser mangkok mie tersebut. Berniat mencicipi aroma yang menggoda indera penciumannya.
"Iya, sebentar," teriak Alle saat bel kembali berbunyi. Betapa terkejutnya ia tatkala mendapati Sekar berdiri angkuh di depan pintu.
Tak kalah kagetnya. Sekar juga kaget melihat ada sekretaris Aksa di apartemen ini. "Kamu! ngapain kamu di sini?" tanya Sekar ketus.
"I-itu, Buk ... saya mendapatkan tugas untuk mengawasi petugas kebersihan yang ditugaskan Pak Aksa," jawab Alle gugup.
Antara percaya dan tidak, tapi Sekar mengabaikan jawaban Alle. Ia langsung masuk begitu saja. Melihat ada putranya di dapur Sekar segera menyusul.
"Aksa, apa yang kamu makan itu?" pekik Sekar saat melihat Aksa memakan makanan yang dianggapnya tak sehat.
"Mama, kok nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini." Aksa mengabaikan pertanyaan Mamanya.
"Mama cuma mau ketemu kamu aja, habisnya kamu itu diajak ketemu susahnya minta ampun. Eh ... itu apa yang kamu makan?" tanya Sekar lagi.
"Ini?" Aksa mengangkat mangkok mie dan menunjukkannya pada Sekar.
"Iya, itu."
"Ini mie, Ma, masak sih Mama gak tahu."
"Iya, Mama tahu itu mie, tapi mie apa. Mie instan, kan?"
__ADS_1
"Hmmm." Aksa menyendok lagi mie tersebut. "Mama, mau. Biar Alle buatin buat Mama," ujar Aksa yang melihat muka Mamanya.
"All, buatin Mama mie kayak gini," teriak Aksa.
"Eh ... siapa yang minta. Mama nggak mau makanan kayak gitu, makanan nggak sehat kok di makan!" Sekar berwajah sinis.
"Kamu, juga!" Sekar menunjuk sekertaris putranya. "Belum jadi suami kamu aja kamu kasih anakku makan makanaan begitu, bagaimana kalau jadi istri pasti kamu kasih makan dia sama garam dan ikan asin!"
Aksa langsung tersedak mendengar ucapan Mamanya. Alle pun tak bisa menyembunyikan kekagetannya atas ucapan ibu dari bosnya.
Apa korelasinya semua ini. Mie instan dan suami?
"Maksud Mama apa, sih? Mama nyuruh aku nikahin Alle? Ok, kalau yang ini Aksa setuju." Aksa nampak sumringah.
"Ish ... siapa yang nyuruh kamu nikah sama janda ini. Mama itu pengennya kamu nikah sama yang sepadan dengan kita, bukan sama ...." Sekar tak melanjutkan kalimatnya tapi lirikan mata yang tertuju pada Alle sudah membuat Alle sadar diri.
Ia tak sakit hati dengan ucapan Sekar, sebab ia tahu persis bagaimana menjadi seorang ibu. Semua ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Mungkin saja jika Alle di posisi Sekar ia pun akan bersikap sama, jadi ia tak mau menghakimi sikap Sekar yang tak bisa menerimanya.
"Memang kenapa dengan Alle, Ma. Dia wanita baik-baik, dia terhormat dengan status jandanya. Lalu apa masalahnya? Kalau hanya karena harta, nanti Aksa kasih Alle harta yang banyak biar bisa setara dengan kita. Bagaimana?" ujar Aksa serius tapi dibalut dengan kelakar.
"Dasar bocah gemblung!"
Mendengar ucapan Mamanya dalam bahasa jawa Aksa tertawa saja.
"Lah, kan, Mama tadi yang bilang kalau Alle jadi istri Aksa dia akan kasih Aksa makan sama ikan asin terus. Tidak apa sih, Ma, makan sama apa pun kalau hati kita seneng rasanya tetap akan nikmat. Iya, kan?"
"Ish ...." Sekar mulai kesal.
"Ok, mumpung Mama ada di sini, Alle juga. Aksa mau bilang sesuatu." Pria itu memutar posisi duduknya agar bisa lebih nyaman menatap ibunya. Ada Alle yang berdiri di dekat Sekar.
"Ma, Aksa suka sama Alle. Kalau mama ijinkan, Aksa mau nikahin Alle."
Sekar dan Alle sama-sama tercengang. Kalau Alle membuka mulutnya lebar saking tidak percayanya, Sekar langsung memegangi kepalanya yang mendadak terasa berat dan berputar.
"Aduh ... aduh ... aduh ... kepalaku."
"Buk ... Ibu, nggak apa-apa?" Alle langsung memegangi tubuh Sekar agar tidak terjatuh.
"Mama, kenapa?"
Sekar tak menjawab tapi ia terus saja mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya.
"Mungkin tekanan darah Ibu naik, Pak," ujar Alle menebak.
"Ya udah, kita bawa Mama ke kamar saja," ujar Aksa.
__ADS_1
"Enggak, Mama mau pulang saja. Antar Mama pulang!" Meski kesakitan Sekar masih bisa berbicara tegas.
Menuruti Mamanya, Aksa dan Alle bekerja sama membawa Sekar turun dari apartemen.