Pesona Sekretaris

Pesona Sekretaris
Bab.37 Benar-Benar Serius


__ADS_3

Aksa terus mengejar Alle yang keluar dari rumah orang tuanya. Dengan cepat ia berhasil meraih tangan wanita itu untuk menghentikan.


"Lepaskan, Pak. Saya mau pulang!" Kali ini nada bicara Alle sedikit tinggi.


"Iya, aku tahu. Ayo aku antar."


Alle menghentakkan tangan Aksa. "Saya bisa pulang sendiri," ujar Alle ketus.


Tak terima dengan penolakan sekretarisnya, Aksa langsung menggandeng kembali tangan Alle dan membawanya masuk ke mobil. "Diam, dan jangan coba untuk kabur!" ancamnya. Lalu menutup pintu mobil dengan kasar hingga Alle terlonjak kaget.


Setelah Aksa berada di bangku kemudi, pria itu menjalankan mobil tanpa bicara apa pun.


"Saya ingin bicara sesuatu dengan Bapak," ujar Alle yang membuat Aksa langsung mengalihkan pandangan pada sekretarisnya.


"Ok," jawab pria itu. Aksa pun mengarahkan mobilnya ke sebuah cafe yang ia lihat di depannya.


"Lho, Pak, ngapain kita ke sini. Saya cuma mau bicara sebentar kok. Nggak perlu kita masuk." Menurut Alle mereka cukup bicara di mobil saja.


"Aku lapar, kita bicara sambil makan."


"Pak, nanti saya kemalaman pulangnya."


"Aku antar sampai rumah, dijamin selamat." Aksa pun turun dan membuka pintu untuk Alle.


Mau tak mau Alle mengikuti pria itu untuk masuk ke dalam cafe. Setelah menemukan tempat kosong, pelayan segera menghampiri dan menawarkan menu yang ada.


"Kamu mau makan apa?" tanya Aksa.


"Nggak usah, Bapak saja," tolak Alle halus.


"Kalau nggak makan aku juga nggak akan dengerin kamu ngomong." Pria ini selalu sukses mengancamnya. Meskipun sedikit kesal Alle pun akhirnya memesan makanan.


"Jadi begini, Pak ...." Alle memulai pembicaraan sembari menunggu pesanan mereka disiapkan, tapi belum juga ia memulai, Aksa menghentikannya dengan isyarat tangan.


"Nanti saja bicaranya, kita makan dulu."

__ADS_1


"Pak, pesanan kita sedang dibuat jadi saya ingin bicara dulu nanti baru kita makan terus pulang."


"Aku kalau lapar biasanya nggak bisa konsen," ujar Aksa beralasan.


Alle mendengkus kesal menghadapi pria satu ini. Benar-benar menguji kesabarannya hari ini.


Lain halnya dengan Alle yang jelas-jelas terlihat kesal, Aksa justru terlihat senang. Ia sengaja mengulur waktu karena ingin lebih lama bersama sekretarisnya itu.


Begitu pesanan mereka datang Alle dengan cepat menghabiskan makanannya. Ia tak mau mengulur waktu lagi. Ia ingin segera bicara agar bisa cepat pulang. Ia abaikan sopan santun di meja makan.


"Pelan-pelan saja makannya, tidak akan ada yang minta bagianmu," ujar Aksa melihat cara makan Alle.


Alle segera menelan makanannya, lalu berbicara, "Sebaiknya Bapak juga segera habiskan makanan Bapak agar kita bisa bicara. Saya tidak mau terlalu lama di sini. Chilla sudah nunggu saya."


Mengingat anak dari sekretarisnya itu membuat rasa tak enak hati Aksa muncul. "Ya sudah, bicaralah."


Segera Alle meletakkan garpu di tangannya dan meneguk minuman yang tadi ia pesan. Lalu mengusap mulutnya dengan napkin. Pandangan Alle fokus pada atasannya yang masih menyantap hidangan pesanannya.


"Saya ingin tahu, apa alasan Bapak sangat ingin menjadikan saya istri meski saya sudah menolak. Bahkan hubungan yang Bapak inginkan itu ditentang oleh orang tua Bapak sendiri?" tanya Alle serius.


Tentu Alle terperangah dengan jawaban itu. Sekaligus kesal akan jawaban Aksa yang seakan menjawab dengan sekadarnya.


"Apa Bapak punya suatu rencana yang saya tidak tahu?" Alle mulai menyelidik.


"Maksud kamu apa?" Aksa masih tak beralih dari piring di hadapannya.


"Misalnya saja, Bapak ingin menutupi hubungan Bapak dengan wanita lain yang pasti tidak akan disukai oleh Ibu Sekar. Jadi Bapak ingin menjadikan saya tameng."


Aksa tertawa mendengar tebakan sekretarisnya. "Kalau aku pakai kamu buat tameng, kira-kira Mama percaya nggak. Mama aja nggak suka sama kamu."


"Ish ...." Alle bertambah kesal, tapi memikirkan perkataan bosnya benar juga. Masak iya Aksa membuatnya jadi tameng sementara dia saja tidak disukai Sekar.


"Jadi, apa alasan Bapak. Jangan bilang karena Bapak kasihan dengan status saya kemudian Bapak ingin menikahi saya," desak Alle.


"Bisa jadi itu salah satunya."

__ADS_1


"Apa!" pekik Alle kaget. "Saya tidak mau dikasihani, Pak. Lagi pula saya belum ingin menikah. Saya menikmati kehidupan saya bersama Chilla."


"Aku tahu."


"Kalau tahu kenapa masih saja mendesak saya untuk menerima Bapak?"


Aksa yang sudah menyelesaikan makannya, meletakkan garpu juga pisau di tangannya. Kemudian menatap Alle dengan tatapan serius setelah ia minum.


"Aku tidak bisa bilang apa alasanku kenapa aku ingin menjadikanmu istri, karena aku sendiri tidak punya alasan kuat, aku hanya mengikuti kata hatiku jika kamu adalah wanita yang tepat untukku."


Alle justru terdiam. Tak mampu berkata-kata mendengar apa yang Aksa katakan. Dalam pikirannya ia berusaha menolak ucapan manis pria ini. Ia bukan lagi remaja yang akan luluh jika dirayu dengan kata-kata yang melenakan seperti apa yang Aksa ucapkan baru saja.


Alle tersenyum kecil. "Pak Aksa ... Pak Aksa, saya ini bukan ABG, saya sudah pernah menjalani pahitnya hidup berumah tangga. Saya juga sudah sering mendengar rayuan seperti apa yang Bapak ucapkan tadi. Saya tidak tertarik. Saya tetap menolak menikah dengan Bapak, jadi tolong jangan persulit hidup saya."


Aksa tertawa lagi. "Apa selama ini aku mempersulit hidupmu. Tidak, kan. Aku justru ingin membantumu. Menjagamu juga Chilla."


"Terima kasih atas bantuan Bapak, tapi jujur saja saya berharap Bapak melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharap apa pun dari saya."


"Tentu saja aku melakukannya dengan ikhlas, aku tahu kamu tidak punya apa pun untuk membalas semua kebaikanku."


Alle mencebik mendengar kesombongan Aksa.


Melihat bibir manyun sekretarisnya,Aksa justru makin terpesona. "Aku tidak akan mempersulit semuanya. Aku juga tidak akan memaksamu untuk menerimaku, tapi jika hatimu sudah terbuka untukku, aku minta jangan pernah mengingkarinya. Karena saat itu, aku pasti akan memaksamu."


Alle yang tadinya percaya diri untuk menolak pria di depannya ini, mendadak nyalinya menciut. Ia tahu bagaimana seorang Aksara Bumi. Bekerja dengan pria ini membuatnya mengerti sifat Aksa, jika ia punya keinginan, dengan cara apa pun pasti akan diusahakan.


"Bapak ngomong, apa sih," elak Alle. Tak ingin ketakutannya dilihat oleh Aksa.


"Hanya mengutarakan apa yang ada di hatiku supaya kamu tahu kalau aku benar-benar serius."


Semua terlihat biasa saja bagi Aksa tapi tidak bagi Alle. Ucapan Aksa justru membuatnya semakin takut. Ia tak pernah berpikir jauh tentang bosnya itu, apa lagi harus menjadi istri dari pewaris perusahaan tempatnya bekerja. Itu tidak pernah terlintas dalam mimpinya sekalipun.


Ia hanya ingin hidup tenang bersama Chilla. Tidak mau punya musuh, terlebih harus bermusuhan dengan Sekar. Sangat mustahil menang. Namun pernyataan Aksa kali ini tak bisa ia anggap angin lalu. Meski tak siap Alle harus berusaha membentengi dirinya sendiri jika ingin semua aman.


Aksa dan mamanya adalah masalah serius bagi Alle selain mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2